
Bu Risma mendengar para pelayat yang bergunjing tentang anaknya. sebagai seorang ibu yang melahirkan Sasa, hatinya sakit tapi kenyataan yay dibicarakan para pelayat juga tidak salah.
"Malang sekali nasibmu nak, kenapa kamu harus mengalami nasib seperti ini? sejak kecil kamu tumbuh jadi anak yang manis dan penurut tidak pernah sekalipun kamu membuat mama kecewa. tapi sekarang, lihatlah bahkan saat kamu sudah dikebumikan. tega-teganya mereka menggunjingkan mu" ucap bu Risma meratapi pusaran Sasa dan menatap ibu-ibu yang bergunjing tentang Sasa
"Ma, sudah ma. jangan berkata seperti itu di depan makam Sasa!" Saka berusaha menenangkan mamanya
"Maaf Bu Risma bukan maksud kami untuk bergunjing. sekali lagi maaf Bu Risma, kami pamit pulang ya Bu. semoga almarhum diampuni dosa-dosanya dan keluarga diberikan ketabahan
"Baik, terimakasih ibu-ibu sudah ikut mengantarkan adik saya ke peristirahatan terakhirnya. sekali lagi mohon maafkan adik saya Sasa jika ada salah" ucap Saka
Semua pelayat satu persatu berpamitan untuk pulang.
Tinggal Saka dan mamanya disana, langit terlihat gelap, petir menyambar-nyambar, angin bertiup kencang seolah langit ikut bersedih mengiringi kepergian Sasa. hujan perlahan jatuh membasahi bumi
Glur.. glur...
Suara petir menyambar-nyambar
"Ma, ayo pulang ma. hujan semakin deras" Tetiak Saka ditengah hujan meminta mamanya pulang
"Sasa... Sasa... " tangis Bu Risma memeluk pusaran Sasa
"Sudah ma, ayo kita pulang. kita pulang dulu ma!" teriak Saka
"Tidak, mama tidak mau pulang. mama mau menemani Sasa disini" Bu Risma histeris
"Ma, tolong jangan seperti ini. kasian Sasa jika mama seperti ini. sama halnya mama menyiksa Sasa. sudah ma iklaskan Sasa" bujuk Saka
Perlahan Bu Risma bangkit dari duduknya menurut sama Saka untuk meninggalkan pusaran Sasa.
Sepanjang perjalanan didalam mobil. Bu Risma terus memandang luar dari jendela mobilnya.
"Saka, apa Sasa mengatakan sesuatu sebelum dia pergi?" ucap bu Risma dengan tatapan mata menerawangmenerawang jauh
"Sasa memohon untuk bisa bertemu mama. Sasa ingin minta maaf sama mama. tapi ternyata sampai ajal menjemput, keinginan Sasa tidak terkabul." Ucap Saka berusaha menahan kesedihan dan fokus pada jalan.
"Andai mama tau, ini hari terakhirnya, mama pasti akan menemaninya. mama menyesal Saka, mama menyesal tidak bisa memenuhi keinginan terakhirnya"
"Ma, sekarang biarkan Sasa istirahat dengan tenang. maafkan Sasa, ini semua dosa yang harus kita bayar karena sudah menyakiti Nur dimasa lalu."
__ADS_1
"Mungkin kamu benar Saka. mama orang yang jahat. mama sekarang tau bagaimana rasanya menjadi orang tua Nur saat itu" Air mata bu Risma membasahi pipi
Sesampainya dirumah, bu Risma membaringkan tubuhnya dikasur, pikiran menerawang membayangkan saat Sasa merintih kesakitan.
Sikapnya yang begitu keras membutakan mata hatinya hingga tak bergerak untuk menemani Sasa. kini semua itu tinggallah penyesalan. penyesalan yang akan dirasakan seumur hidup.
"Sasa maafkan mama ya nak, mama menyesal" gumam Bu Risma
Ane dan Nia yang masih berada dirumah Saka untuk mengucapkan bela sungkawa ikut menangis melihat anak Sasa yang terus menangis. sepertinya tidak mau minum susu
"Kasian kamu nak" Ane menggendong bayi itu dan mencoba memberi susu formula. namun bayi itu terus menangis dan tidak mau berhenti. semua orang yang ada disana ikut menangis seolah merasakan apa yang dirasakan bayi ini.
"Biar tante yang coba" ucap Bu Risma dan Ane memberikan bayinya pada Bu Risma
Setelah beberapa lama digendong Bu Risma Kini bayi itu tertidur digendongan neneknya. seolah tangis itu sebagai ucapan permohonan maafnya pada sangat nenek.
Bu Risma membawa nya kekamar
"Saka, apa rencana kalian dengan bayi itu?" tanya Nia
"Aku akan mengangkatnya sebagai anakku dan memasukkan nya dalam kartu keluargaku" Jawab Saka
"Bukan aku tak mau, tapi untuk apa? hanya akan membuat luka." jawab Saka
"Maksudku, setidaknya kamu tau siapa ayahnya jangan sampai terlalu lama akan sulit mencarinya. kalau sekarang kamu bisa mendatangi kota adik kamu kuliah dan bertanya pada teman-temannya siapa pacar adik kamu" saran Nia
"Untuk apa? semisal pun aku tau, tidak akan merubah apapun, Sasa sudah tidak ada lagi didunia ini. dan anak itu akan aku jadikan anakku. dia tidak perlu atau siapa ayah kandungnya"
"Baiklah kalau seperti itu"
"Mbak Nia, mbak Ane terimakasih ya kalian sudah menyempatkan diri untuk kemari dan melihat keadaan anak Sasa." ucap Tika yang baru keluar dari kamar
"Iya Tia" jawab keduanya
"Almira mana Tik?" tanya Nia
"Almira Alhamdulillah sudah tidur, dari tadi rewel mbak. seperti ketakutan karena banyak orang menangis" ucap Tika
"Kamu hebat Tik, begitu telaten sama anak kecil. dan sekarang kamu juga harus menjaga satu bayi lagi. dan aku tau itu bukan hal yang mudah" ucap Ane
__ADS_1
***
Dirumah Arif
Ane yang baru saja pulang dari rumah Saka dikejutkan dengan seorang Tamu wanita yang bisa dikatakan cukup cantik, sexy dan bisa dilihat dari penampilan nya, dia buka bukan wanita sembarangan.
"Kamu" Irma memandang Ane dari atas sampai bawah dengan tatapan seolah meremehkan
"Saya Ane, istri Bang Arif. anda siapa?" tanya Ane
"Ane dia bu Irma rekan bisnis Arif diperusahaan. mereka sepertinya sedang ada proyek bersama" sahut Bu Imah
Irma hanya tersenyum menyeringai
"Oow.. senang berkenalan dengan anda" ucap Ane mengulurkan tangannya namun Irma pura-pura tidak melihat bdan memilih untuk tidak membalas uluran tangan Ane.
"Ane kamu sebaiknya mandi dan ganti baju saja dulu" ucap Bu imah
"Iya ma, Ane masuk dulu, oya ma, kalau Amar kemana?"
"Amar lagi sama mbak sam ditaman belakang" jawab Bu imah
"Ya sudah, Ane mandi dulu ya ma"
"Iya sayang" jawab Bu Imah membuat Irma merasa sakit hati melihat ibunya Arif begitu menyayangi Ane
"Aku yang lebih layak mendapatkan kasih sayang dari ibunya Arif" batin Irma
"Tante, tante biasanya kalau weekend kemana?" tanya Irma
"Dirumah saja, tante lebih suka dirumah kalau weekend" jawab Bu imah
"Tapi untuk orang seusia tante, Jalan-jalan juga perlu lho tan. bagaimana kalau minggu depan kita belanjakan bareng?"
"Tidak bisa nak Irma. minggu depan Arif sama Ane mau kerumah orang tua Ane. jadi tanty gak bisa kemana-mana. kasian kan om kalau tante tinnggal?" Bu imah senyum
"Menantu tante itu kayake sengaja membuat tante biar gak bisa kemana-mana"
"Maksudnya?" bu imah memandang Irma. sepertinya tau kalau Irma ada maksud tersembunyi dibalik dirinya yang tiba-tiba datang kerumah
__ADS_1
Bu imah justru mulai tidak suka dengan Irma karena seperti terang-terangan ingin mendekati Arif.