
Dirumah Ane yang sedang bermain dengan Amar tampak tidak fokus pada anaknya, hingga Amar terjatuh
"Hua.. hua... " tangis Amar membuyarkan lamunan Ane
"Amar, kamu tidak apa-apa sayang" ucap Bu Imah menghampiri Amar yang terjatuh
"Amar, maafin mama ya" Ane menangis melihat Amar kakinya berdarah
"Cepat berisikan lukanya"ucap bu Imah
Ane segera menggendong dan membersihkan luka Amar. menggendong dan menidurkan Amar. saat putranya tertidur Ane melihat menatap lekat putranya. sungguh pikiran Ane sedang tidak tenang cemas dengan ribuan nasib karyawan.
"Ane, apa yang sedang mengganggu pikiranmu? sampai kamu tidak menyadari saat anakmu terjatuh?" Tanya bu Imah pelan takut Amar terbangun
"Ma, maafin Ane ya ma. karena lalai menjaga Amar" ucap Ane meneteskan air mata
"Mama tau, kamu selalu menjaga Amar dengan baik. kalau sampai hari ini kamu lalai pasti ada suatu hal yang sangat mengganggu pikiran kamu. cerita sama mama kalau kamu ingin bercerita nak" bu Imah memegang bahu Ane
"Ma, mama tau kan perusahaan sedang dalam kondisi tidak baik"
"Iya, mama tau. papa sudah menceritakan keadaannya" bu Imah menarik nafas
"Ma sebenarnya kemarin Ane nekat mendatangi mbak Irma" Ane ragu menceritakan pada mertuanya. tapi hatinya juga tidak tenang memikirkan sendiri
"Irma? untuk apa kamu kesana?" bu Imah membulatkan matanya seakan heran Ane datang ke rumah Irma
"Ane tidak bisa untuk pura-pura baik-baik saja, Ane tau kenapa mbak Irma memutuskan kontrak secara sepihak. itu karena mbak Irma menginginkan bang Arif"
"Lalu apa yang kamu lakukan disana?"
"Ane hanya mau mencoba berbicara sama mbak Irma, siapa tau dengan Ane berbicara dari hati ke hati sesama perempuan, akan berubah pandangan nya"
"Lalu apa yang Irma katakan?" tanya bu Imah
"Mbak Irma meminta Ane meninggalkan bang Arif" Ane menundukkan kepalanya sedih
__ADS_1
"Sudah gila tu Irma, dari awal kedatangannya kesini. mama sudah curiga ada maksud yang tidak baik. ternyata benar ini maksudnya. tapi mama tidak menyangka dia akan senekat ini" ucap bu Imah
"Itulah ma, Ane juga tidak habis pikir. bagaimana bisa orang secantik dan sepintar mbak Irma menginginkan suami orang. secara terang-terangan mbak Irma seperti meminta bang Arif dari Ane"
"Sudahlah nak, kamu tidak perlu memikirkan itu semua. semisal perusahaan sudah tidak mampu lagi beroperasional, ya sudah kita tutup saja. tidak masalah bagi kami kehilangan perusahaan dari pada harus menjual harga diri kami. mama juga tidak akan pernah mau memiliki menantu seperti itu. lebih baik kita hidup sederhana tapi hati tenang. dari pada hidup serba ada tapi tidak ada ketenangan jiwa"
"Ma"
"Sudah anakk, jangan katakan apa-apa lagi percayakan lah semua ini pada Arif. mama yakin Arif mampu keluar dari semua persoalan ini" timpal bu Imah
"Iya ma, tapi bagaimana dengan nasib karyawan yang segitu banyaknya?" Ane menggigit bibir bawahnya
"Ane kamu tidak perlu cemas dengan semua itu. jika memang perusahaan akan tutup, kita akan memberi mereka pesangon. tapi percayalah, mama yakin Arif mampu bangkit dari keterpurukan ini. kita akan bersama menghadapi semua masalah ini. yang penting tugas kita sebagai seorang istri harus menguatkan dengan menjadi istri yang baik saja. itu sudah menjadi kekuatan terbesar bagi seorang suami tidak perlu kita terjun langsung dalam masalah yang bukan ranahnya seorang istri. cukup menghibur suami, menyenangkan hatinya. percayalah Arif mampu keluar dari ini semua" ucap bu Imah menggenggam tangan Ane.
"Ma, terimakasih ya. Ane tidak tau apa jadinya kalau tidak ada mama" Ane memeluk bu Imah
"Iya sayang, mama hanya ingin kamu dan Arif baik-baik saja. setiap rumah tangga pasti akan ada ujian dan cobaannya. kuncinya saling percaya, saling mensupport dan selalu berdiskusi bersama. jangan mengambil tindakan sendiri! dan satu lagi. jangan pernah mengambil keputusan disaat pikiran sedang kacau. ingat itu semua anakku"
"Iya ma, Ane akan selalu mengingat semua pesan mama" Ane memeluk mertuanya
***
Walaupun perusahaannya sedang dalam masalah yang cukup berat, tapi sebagai seorang anggota polisi Arif tetep profesional dan menjalankan tugasnya dengan baik.
"Siang Ndan, ijin melaporkan untuk kelengkapan bukti yang diinginkan persidangan kemarin. sudah kami lengkapi. dan semua unsur sudah cukup bukti untuk dinaikkan ke kejaksaan" ucap Alan
"Segera kirim berkasnya ke kejaksaan." perintah Arif
"Siap ndan"
Dret.. dret..
Panggilan masuk
"Assalamu'alaikum"
__ADS_1
*Walaikumsalam pak Arif, begini pak saya mau menginformasikan kalau sepertinya pihak PT. Sinar Jaya grup tetep bersikeras untuk memutuskan kontrak kerja sama dengan perusahaan kita pak. pengacara yang menangani sudah berusaha bernegosiasi tapi pihak sana tetep dengan keputusannya. lalu apa yang harus kita lakukan pak? apa kita tuntut saja?" tanya Ayu sekertaris di perusahaan.
"Iya, siapkan semua dokumen yang akan kita gunakan untuk mengajukan gugatan" Ucap Arif
"Lalu bagaimana dengan para pekerja pak? apa kita kerjakan dulu proyek dari PT. Berkah Sentosa? tapi jujur pak sepertinya kita butuh dana tambahan" ucap Ayu
"Masalah dana tenang saja, saya akan segera mendapatkannya" ucap Arif
Arif tampak bingung dan mimijit pelipisnya, beristighfar hanya dengan itu hatinya menjadi tenang.
Dret... dret...
Kembali Ayu menelpon
"Ada apa lagi yu?" ucap Arif
"Pak, ini ada tamu dari PT. Sinar Jaya Grup ingin bertemu dengan bapak"
"Bu Irma maksud kamu" Arif yang sudah merasa malas menyebut nama itu
"Bukan pak, ini dengan bapak Cahyo Presdir PT Sinar Jaya grup. bapaknya bu Irma. beliau ingin bertemu langsung dengan pak Arif. dan saat ini sedang menunggu bapak diruangan bapak"
"Okey, saya segera kesana"
Arif meninggalkan kantor dan bergegas ke perusahaan, sesampainya disana pak Cahyo sudah berada didalam ruangannya
"Selamat siang Pak" sapa Arif berjabat tangan
"Selamat siang, ini pasti pak Arif ya?" tanya pak Cahyo
"Benar saya Arif selaku Direktur Utama disini. silakan duduk pak, maaf sudah membuat anda menunggu terlalu lama" ucap Arif mempersilahkan pak Cahyo duduk
"Terimakasih pak Arif, senang saya bisa bertemu langsung dengan pak Arif. jadi begini pak Arif, saya akan langsung saja ke intinya. saya sudah mendengar kekacauan yang anak saya timbulkan buat perusahaan pak Arif. secara pribadi saya mohon maaf atas nama putri saya. Kami yang salah, sejak Irma kecil kami terlalu memanjakannya, dan sekarang saat dia dewasa. dia jadi teralu berambisi, apa yang dia inginkan harus dia dapatkan. karena sejak kecil dia belum pernah gagal untuk mendapatkan sesuatu. tapi kali ini saya justru menyesalinya, karena ambisinya itu dia tidak bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar. dan saat kemarin istri bapak datang kerumah barulah kami menyadari betapa egoisnya anak kami" ucap pak Cahyo yang sudah paruh baya dengan mata berkaca-kaca
"Istri saya kerumah bapak?" Arif terkejut
__ADS_1
^Happy Reading^
Terimakasih dukungan dari para readers, dukungan kalian berupa Like, coment dan Vote sangat berarti bagi Author🥰 😘