
"Assalamu'alaikum Ra" ucap Amar
"Walaikumsalam" Jawa Rara dari sebrang telpon
"Rara, tadi pagi ayah dan bunda bilang kalau kamu merubah keputusan kamu dan bilang kalau bersedia menikah denganku apa itu semua benar Ra?" tanya Amar
"InsyaAlloh iya kak, setelah Rara pikir-pikir Rara ternyata juga tidak bisa pisah dari kak Amar. Selama beberapa hari kakak tidak menghubungi Rara, Rasanya seperti ada yang hilang" jawab Rara
"Jadi ini benar ya Ra? kakak tidak sedang bermimpi kan?" tanya Amar menyakinkan
"InsyaAlloh benar kak, maafkan Rara karena dulu Rara mengambil keputusan sepihak dan menyakiti kak Amar" sesal Rara
"Iya Ra, kakak paham kok. Kakak juga mau minta maaf kalau kakak egois. Kakak hanya ingin bisa bersama dengan kamu." ucap Amar
"Ya sudah kamu istirahat, besok ada kuliah kan?"
"Iya kak, Assalamu'alaikum"
"Walaikumsalam" Jawab Amar menutup telphon dan tersenyum
Amar tidak menyangka kalau keinginannya untuk bisa bersanding dengan wanita idamannya sebentar lagi akan menjadi kenyataan.
***
Nana dan Nia bertemu disebuah rumah makan, Nana menceritakan isi hatinya pada sang mama, Nana sungguh tidak ingin melihat putrinya menangis, tapi apa yang bisa dia lakukan. Karena permasalahan anaknya itu masalah perasaan yang tidak mungkin dipaksakan.
"Nana, kalau boleh mama bicara. Sebaiknya kamu lupakan Amar saja ya nak, mencintai Amar hanya akan membuat kamu sakit hati semakin dalam.
Sudah bertahun-tahun, mama tau selama itu juga kamu masih menyimpan perasaan kamu untuk Amar. Sedangkan kamu tau, Amar mencintai adik kamu sendiri!" Nia menasehati
"Dia bukan adik Nana, seorang adik tidak akan tega mengambil apa yang kakaknya inginkan" jawai Nana dan Nia menghela nafas
"Sebaiknya Nana pulang, Nana kira dengan bercerita dengan Mama, setidaknya Nana dapat solusi, tapi ternyata sama saja. Kalau hanya nasehat seperti itu yang Nana dapat, untuk apa repot-repot menemui mama, setiap hari nasehat seperti itu sudah Nana dapatkan." keluh Nana
"Nana tunggu, jangan bicara seperti itu. Mama hanya mencoba mengingatkan. Karena Mama tidak mau kamu sakit hati lagi nak! " jelas Nana
"Saat ini Nana sudah cukup sakit hati Ma, bertahun-tahun Nana harus berpura-pura sudah tidak mencintai Amar, padahal Nana begitu tersiksa dengan perasaan ini" ucap Nana
"Nana, anak Mama. Kenapa kamu harus mengalami semua ini? Sabar ya na, percayalah jodoh itu sudah ada yang mengatur seandainya Amar bukan jodoh kamu, tapi Alloh pasti akan mengirim jodoh yang jauh lebih baik dari Amar" ucap Nia
__ADS_1
"Nana tidak menginginkan siapa pun ma, Nana hanya mau Amar. Dan ini semua itu kesalahan Mama. Seandainya dulu Mama tidak pernah selingkuh, papa tidak akan menikah dengan Mama Anggun dan Nana tidak perlu bersaing dengan saudara tiri Nana." pungkasnya
"Kenapa kamu tega berkata seperti itu?" Nia dengan mata berkaca-kaca
"Nana benarkan ma? ini semua karena kesalahan Mama dan sekarang Nana yang harus menanggung dosanya" ucap Nana berlalu meninggalkan mama nya sendiri
"Hiks.. hiks... " Nia menangis. Hati Nia terasa sakit, putri nya mengatakan semua itu dan kini Nia mengingat dosanya dimasa lalu. Dosa yang seakan selalu menghantui benaknya. Sekeras apapun Nia mengubur dosa dimasa lalu faktanya dosa itu tidak pernah bisa lepas dari dirinya. Bahkan Sekarang putrinya yang harus ikut menanggung dosa yang iya lakukan
Perasaan sedih dan bersalah kini menyelimuti Nia. Sebagai seorang ibu Nia belum pernah membuat anaknya bahagia, tapi kebahagiaan Nana hanya dengan bersama Amar.
"Lalu apa yang bisa aku lakukan untuk kebahagiaan Nana?" gumam Nia lirih
***
"Nana kamu dari mana nak?" tanya Anggun saat Nana baru sampai rumah
"Nana tadi bertemu Mama Nia mam" jawab Nana
"Ya sudah, sebaiknya segera ganti baju kita makan bersama ya. Papa juga sudah nungguin dari tadi" ucap Anggun
"Nana langsung istirahat saja ya ma Nana capek, dan tadi Nana sudah makan sama mama Nia" jawab Nana
"Iya ma, terimakasih" ucap Nana berlalu
Dikamar Nana melemparkan tasnya ke sembarang arah, menjatuhkan tubuhnya diranjang dan menatap langit-langit kamarnya
"Aku tidak rela jika harus melihat Amar menikah dengan Rara. Kenapa harus Rara? kenapa bukan aku?" gumam Nana mengusap wajahnya kasar
Nana mengambil ponselnya dan menghubungi Rara
"Assalamu'alaikum Ra"
"Walaikumsalam kak"
"Kamu lagi apa? sibuk tidak?"
"Lagi belajar kak, ada apa?"
"Tidak ada apa-apa, cuma mau memastikan saja. Apa benar kalau kamu menerima lamaran Amar?"
__ADS_1
"Iya kak,setelah Rara pikirkan lagi. Menikah dengan kak Amar juga bukan hal yang buruk. Lagian kami mengenal sudah cukup lama"
jawab Rara
"Lalu kuliah kamu?"
"Kan setelah wisuda kak? kalau masalah koas, banyak kok kakak tingkat Rara yang koas udah nikah juga dan tidak ada masalah, justru mereka bisa saling mendukung. Karena kan kita sama-sama Dokter jadi InsyaAlloh bisa saling mengerti kesibukan masing-masing" jelas Rara
"Baiklah jika itu keputusan kamu, kakak hanya bisa mendoakan yang terbaik buat kamu" ucap Nana dengan perasaan kecelakaan
"Terimakasih ya kak"
Setelah mengakhiri pembicaraannya dengan Rara di telpon, Nana berusaha untuk menenangkan hati dan pikirannya
"Aku harus tenang, aku tidak boleh gegabah. lagian masih ada cukup banyak waktu. Dan kita tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi dalam waktu satu tahun" gumam Nana
Di meja makan
"Nana mana sayang?" tanya Alan.
"Nana ada dikamarnya, hari ini tidak ikut makan malam katanya sudah makan sama Nia tadi" jawab Anggun
"Nana tadi ketemu dengan Nia? kenapa tidak ijin aku?" tanya Alan
"Tadi bilang sama aku sih mas, tapi aku kira juga udah ijin kamu, makanya aku iyain. Tapi ya udah lah mas, mau ketemu ini sendiri tidak usah dilarang" ucap Anggun
"Tidak dilarang, tapi setidaknya untuk hal seperti ini. Dia harus ijin dulu"
"Sudahlah mas, nanti kalau Nana dengar malah jadi salah paham. Nana sudah dewasa, dia sudah tau apa yang harus dia lakukan." jelas Anggun
"Besok rencananya aku akan mengenalkan Nana paga junior aku dikantor. namnya Dimas, anaknya cukup ganteng. agamanya bagus, keluarganya juga asal usulnya jelas. Cocok buat Nana" ucap Alan semangat
"Coba saja nanti di bicara dulu sama Nana. semoga Nana mau" jawab Anggun.
"Kalau aku bilang dulu, jelas Nana gak akan mau. Karena itu rencananya besok pas jam makan siang aku akan mengajak Dimas makan siang dideket rumah sakit saja. Biar mereka langsung ketemu disana saja" ucap Alan
"Ya udah kalau seperti itu, bagaimana kalau besok siang aku ajak Nana makan siang disana. Biar Nana gak curiga kalau ini sudah kita atur"
"Boleh, gitu aja. Semoga mereka bisa saling suka dan berjodoh" ucap Alan dan Anggun mengaminkan
__ADS_1
^Happy Reading^