Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
CH 172


__ADS_3

Hari ini Alan kekantor untuk menghadap pimpinan dan mengajukan permohonan perceraian.


Iya sebagai seorang anggota Polisi memang Alan tidak bisa asal bercerai, seperti sebelum menikah ada banyak rangkaian yang harus dilalui, begitu juga jika sampai terjadi perceraian. banyak proses yang harus dilalui untuk bisa bercerai. karena tidak mudah untuk seorang anggota Polri jika ingin bercerai.


"Mas Alan tunggu" ucap Nia setelah selesai menghadap pimpinan Alan dikantor. karena agenda hari ini Alan dan Nia dimediasi dikantor.


"Ada apa Nia?" jawab Alan singkat


"Aku terima keputusan kamu menceraikan aku, tapi apa aku boleh bertemu dengan Nana? setidaknya walaupun kita berpisah ijinkan aku menemui Nana"


"Maafkan aku Nia, tapi aku tidak bisa mengijinkan kamu bertemu dengan Nana. jika Nana bertemu dengan kamu, dia pasti akan ingat lagi sama kamu dan akan susah baginya untuk melupakan kamu" jawab Alan


"Tapi aku mamanya, orang yang telah melahirkan Nana, bagaimana bisa kamu berpikir untuk membuat Nana melupakan aku" Nia terisak


"Lebih baik Nana tidak pernah ingat punya mama seperti kamu, justru aku merasa kasian sama Nana jika dia sampai tau dilahirkan dari wanita yang tidak punya moral seperti kamu" ucap Alan dengan tatapan sinis dan penuh kebencian


"Alan, biar bagaimana Nana itu anakku. kamu tidak bisa memisahkan kami. dia butuh mamanya Lan?"


"Butuh mamanya kamu bilang? kamu lupa, kamu sendiri yang selama ini tidak mau dekat dengan Nana, setiap Nana membutuhkan kamu, selalu kamu bilang harus kerjalah, sibuklah atau apalah. dimana peran kamu sebagai ibu yang melahirkan dia? terus sekarang tiba-tiba kamu bilang dia butuh sosok mamanya? apa kamu sehat berkata seperti itu?"


"Alan, aku akui semua itu kesalahanku. tapi sekarang aku ingin belajar menjadi mama yang baik untuk Nana. tolong kasih aku kesempatan menjadi mama yang baik untuk Nana" rengek Nia


"Terlambat! semua sudah berakhir. jangan pernah lagi mencoba untuk menemui Nana" ucap Alan melangkah pergi

__ADS_1


"Aku akan ajukan tuntutan hak asuh anak. karena Nana masih dibawah umur. dan sudah seharusnya dia bersama ibu yang melahirkannya" ucap Nia menghentikan langkah Alan


Dan Alan kembali mendekat


"Hak asuh anak kamu bilang? apa aku tidak salah dengar? coba saja kamu kamu ajukan tuntutan kamu itu, kita akan lihat siapa yang akan mendapatkan hak asuh Nana. pengadilan pun akan berpikir dua kali untuk memberikan hak asuh pada wanita yang selama ini sudah mengabaikan anaknya dan terbukti berselingkuh dengan laki-laki lain." Alan senyum menyunggingkan sebelah bibirnya.


kali ini sudah tidak ada lagi jalan untuk Nia bisa kembali pada Alan, bahkan sekarang dirinya menyadari selama ini memang dirinya adalah ibu yay buruk untuk Nana.


"Bener yang dikatakan Alan, pengadilan pun pasti tidak akan mau memenangkan hak asuh Nana pada wanita seperti aku. lagian jika aku bisa mendapatkan hak asuh Nana pun, mungkin aku juga akan kesulitan untuk membesarkannya. apalagi sekarang aku juga tidak memiliki pekerjaan, bagaimana caraku menghidupi Nana" batin Nia didalam taxi


Bahkan sampai saat proses perceraian sudah diurus Nia belum berani mengatakan kepada orang tuanya perihal perceraiannya.


***


"Walaikumsalam Ni-Nia" Ane terkejut saat membuka pintu ternyata Nia yang datang


"Ane aku mau bicara sebentar sama kamu" ucap Nia


"Ya sudah kita bicara disini saja" Ane menunjuk kursi yang ada diteras. tidak mempersilahkan Nia untuk masuk


Setelah mereka duduk dan diam untuk beberapa saat, Nia mulai membuka suara


"Ane, aku kesini karena ingin meminta maaf sama kamu. atas kesalahan yang pernah aku lakukan. aku sadar, selama ini kamu itu sahabat yang baik untuk aku, tapi justru aku malah menuduh kamu untuk masalah yang jelas tidak mungkin kamu lakukan" ucap Nia

__ADS_1


"Nia, Nia, kamu itu kenal aku sudah lama. kamu tau, aku itu bukan wanita yang suka menduakan pasangan. kamu tau kan semua itu? apa selama kamu mengenal aku, aku pernah membicarakan laki-laki yang bukan pasanganku?" jawab Ane menohok


Mendapat perkataan dari Ane membuat Nia seperti dikuliti hidup-hidup.


Malu, iya seperti itulah yang Nia rasakan.


"Ane, aku menyesal. sekarang aku sudah tidak punya siapa-siapa. Alan akan segera menceraikan aku, dan Alan juga melarangku bertemu dengan Nana" Ucap Nia meneteskan air mata


"Aku rasa wajar apa yang sekarang ini dilakukan Alan. kamu seharusnya bisa menerima itu semua. karena laki-laki mana pun, bukan hanya laki-laki aku rasa perempuan pun akan melakukan hal yang sama jika dihianati pasangannya. apalagi melihat secara langsung didepan matanya." sindir Ane


"Ane aku tau aku salah, tapi aku menyesal aku menyesalinya Ne, apa aku tidak berhak mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki diri? kenapa kamu terus saja memojokkan aku? dulu Nur juga pernah kan melakukan kesalahan, tapi kamu tidak membencinya seperti kamu membenci aku?"


"Nia, Nia. kenapa kamu itu tidak pernah bisa menyadari kesalahan kamu. kasus kamu dan Nur beda. saat Nur melakukan kesalahan itu, Nur tidak pernah menuduhku itu yang pertama, yang kedua Nur juga saat melakukan kesalahan itu merugikan dirinya sendiri. dan Saka pun saat itu belum menikah dengan kamu. mereka salah, mereka berdosa tapi setidaknya Nur tidak mencari kambing hitam untuk menutupi kesalahannya. dan harusnya kamu bisa mengambil pelajaran dari apa yang sudah dialami Nur, bukan malah kamu melakukan hal yang melebihi Nur. dari awal aku mendengar kamu salah jalan. sebagai sahabat aku sudah berupaya untuk menasehati kamu, tapi apa yang kamu lakukan? justru malah kamu menuduhku yang tidak-tidak."


"Ane, apa kamu tidak akan memaafkan aku?"


"Aku memafkan kamu Nia, siapa aku tidak memaafkan kamu, tapi apa sekarang ini maaf dariku itu penting? yang utama bukan maaf dariku, tapi maaf dari Alloh! apa kamu sudah meminta ampunan dari Alloh? apa kamu sudah bertaubat? dan apa kamu benar sudah menyesali perbuatan kamu? bukan menyesal karena ditinggalkan orang-orang yang dulu menyayangi kamu. tapi menyesal karena kamu sudah melakukan dosa besar." ucap Ane


Dan Nia hanya menangis mendengarkan apa yang dikatakan Ane. karena semua itu benar, sampai saat ini dirinya memang belum benar-benar menyesali perbuatannya karena melakukan dosa besar, tapi hanya menyesal karena kehilangan orang-orang yang dulu selalu ada untuknya.


Nia kembali dari rumah Ane dengan merenungi semua perkataan sahabatnya. setelah sekian lama dirinya tidak pernah menggunakan mukenanya. kini Nia kembali mengambil air wudhu dan sholat.


Setelah sekian lama, Nia meninggalkan sholat kini hatinya merasa tenang setelah kembali sholat dan meminta ampunan dari Alloh.

__ADS_1


^Happy Reading^


__ADS_2