Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
MEMASANG PERANGKAP


__ADS_3

Saka dengan sepenuh hati, memohon agar Nia bisa menerimanya dan Saka juga mengatakan akan mengenalkan Nia pada orangtuanya.


"Maaf Ka, aku gak bisa. hubungan kita sudah berakhir." ucap Nia menunduk merasa kasian dengan Saka


"Kenapa? kamu mau kita nikah kan? iya ayo kita nikah. aku sudah membujuk Mamaku biar memberi kita restu" ucap Saka memegang tangan Nia


Nia melepaskan pegangan tangan Saka


"Maaf, aku tidak bisa. kamu terlambat Saka. aku sudah menerima lamaran dari Alan" ucap Ni


"Apa maksud kamu? lamaran Alan? apa semudah itu kamu menerima laki - laki lain dalam hidupmu setelah apa yang sudah kita lewato selama tiga tahun bersama?" ucap Saka menggeleng - gelengkan kepala


"Seandainya kamu lebih cepat memberi aku kepastian. pasti aku tidak akan menerima lamaran laki - laki lain" ucap Nia


"Nia, tolong jangan seperti ini. bukan hal yang mudah bagiku untuk minta ijin menikah. kamu tau aku tulang punggung keluargaku. adikku masih butuh biaya. tapi sekarang aku sudah dapat ijin dari Mama. bahkan Mama mau ketemu kamu" ucap Saka


"Maafin aku saka" ucap Nia meneteskan air mata. sebenarnya dirinya tidak tega melihat Saka seperti ini. tapi dirinya sudah menerima lamaran dari Alan


"Kamu gak beneran suka kan sama dia? kamu masih cinta kan sama aku? tolong Nia jangan seperti ini" ucap Saka memohon


"Saka tolong kamu jangan seperti ini, lupakan aku. aku tidak mungkin kembali sama kamu" Air mata Nia pecah


"Katakan kamu masih mencintai aku kan? tolong jawab jujur kamu tidak beneran suka sama dia kan?" ucap Saka


"Cinta itu akan handir saat nanti kami sudah menikah. karena sekarang aku hanya akan mencintai laki - laki yang menjadi suamiku bukan pacar." ucap Nia berlalu meninggalkan Saka


Saka merasa frustasi dan mengacak - acak rambutnya.


Nia berlari dikamar mandi, menangis sejadi - jadinya di dalam kamar mandi. dirinya menangis bukan karena masih cinta sama Saka, tapi karena dirinya mengingat kenangan selama tiga tahun bersama Saka.


Dret...dret...


Panggilan masuk dari Alan


Dan segera digeser tombol jawabnya


"Assalamualikum" ucap Nia serak

__ADS_1


"Walaikumsalam, kamu kenapa? kok seperti habis menangis" Alan cemas


"Emm..tidak apa - apa, hanya saja tadi Saka kemari. tapi aku sudah menjelaskan semuanya. aku sudah bilang kalau aku sudah menerima lamaran dari kamu" ucap Nia


"Terua masalahnya apa kenapa kamu menangis" tanya Alan


"Kamu jangan salah faham dulu ya, aku menangis bukan karena aku masih cinya sama Saka tapi aku menangis karena bingung saja. semua terasa begitu cepat. termasuk Saka yang tiba - tiba bilang kalau orang tuanya sekarang memberi kami restu?" ucap Nia


"Lalu apa jawaban kamu?" tanya Alan


"Tentu saja aku menolaknya." ucap Nia


***


Dikantor Arif dan Viko sedang mempelajari kasus Norma yang ternyata kuat dugaan ada Bos mafia besar dibelakangnya.


"Ya jelas Vik, tidak mungkin Norma bisa melakukan itu sendiri tanpa orang besar dibelakangnya" ucap Arif


"Karena itu sebaiknya kita hati - hati dalam bertindak jangan terlalu gegabah. sebenarnya dalam kasus ini kita bisa memanfaatkan Norma untuk mengungkap dalang dibalik semua ini" imbuh Arif lagi


"Sebenarnya kamu bisa melakukan pendekatan agar Norma bisa keluarkan nama di balik kasus ini" sahut Viko


"Sebelumnya kamu bisa jelaskan pada Ane, aku yakin Ane akan mengerti kalau ini sebatas profisional kerja" ucap Viko


"Tapi ada yang membuat aku berpikir keras akhir - akhir ini, kalau benar Norma terlibat kasus ini, kenapa Norma sempat kembali mendekati aku, padahal dia tau polisi" ucap Arif mencoba menganalisis


"Bisa jadi dia sengaja, mencari perlindungan kamu. kalau dia bisa kembali sama kamu otomatis polisi tidak akan mencurigai keterlibatan dia" ucap Viko memcoba menghubungkan


"Tapi bener sih yang jadi pikiran kamu, huft.. gak habis pikir aku, bisa - bisa Norma mau menjadikan aku alat untuk menutupi kebusukannya" ucap Arif geram


Arif mengambil hape yang ada dimeja dan mencari nomer Norma kemudian memencet tombol panggilan


"Assalamualaikum" Arif mengucapkan salam


"Walikumsalam, ada apa Rif" jawab Norma merasa bahagia laki - laki yang dicintai menggubungi


"Nanti sore ada waktu? aku pengen ngajak kamu makan dicafe tempat biasa kita makan dulu" ucap Arif

__ADS_1


"Nanti sore? bisa, bisa, aku bisa kok, aku ada waktu" ucap Norma semangat dan senang Arif mau mengajaknya makan. tidak ada sedikit pun rasa curiga kalau dirinya sudah menjadi target Polisi.


"Ya sudah sampai ketemu nanti sore ditempat biasa" ucap Arif memutus sambungan telephonnya dan kembali menatap Viko penuh arti


"Kamu yakin akan menangani kasus ini? sekali lagi aku katakan, kalau kamu ragu biar aku saja yang menangani kasus ini" ucap Viko menawarkan


"Tidak perlu, biar aku saja, aku juga penasaran kenapa nyalinya bisa sebesar ini sekarang" ucap Arif


Kembali Arif meraih hapenya dan menghubungi Ane, menceritakan kalau dirinya sore ini pulang terlambat kareana akan makan bersaka Norma. Arif menjelaskan pada istrinya kalau ini salah satu cara Arif untuk bisa mengungkap dalang dibalik pengedaran Narkoba yang dilakukan Norma.


Sebagai bhayangkari yang faham dengan fungsi dan tugas seorang Polisi, tentu saja Ane mengijinkan dan percaya pada suaminya.


"Baik Ane mengijinkan, Ane percaya Bang Arif tidak akan menghianti Ane. dengan Abang mau jujur seperti ini saja, Ane sudah yakin kalau Abang tidak akan macam - macam" ucap Ane


"Tentu saja sayang, mana berani Abang macem - macam. punya istri seperti Ane itu suatu anugrah. mana berani Abang menggadaikan kepercayaan Ane" ucap Arif


"Ya sudah, Ane tutup dulu ya telphonenya sepertinya ada tamu yang datang" ucap Ane mengucapkan salam dan menutup telphonnya


"Ane ada Nia datang ini" ucap Bu Imah memberitahu


"Iya Ma" jawab Ane


"Hai.." ucap Ane pada Nia


"Ane aku pengen curhat" ucap Nia memeluk Ane


"Ada apa ini? ayo masuk kekamarku, kita ngobrol dikamar saja" ucap Nia mengajak Nia


Sesampainya dikamar, Nia menceritakan kalau Alan sudah melamarnya dan sudah mengatakan niatan baiknya pada kedua oramgtuanya.


"Terus apa masalah nya? bagus kan berarti Alan serius sama kamu. secara kamu tau sendiri Alan selama ini gak pernah serius sama cewek" ucap Ane


"Masalahnya Saka juga bilang mau melamar dan orang tuanya sudah menyetujui hubungan kami" ucap Nia merasa bingung


"Saka? bukannya kalian sudah putus?" tanya Ane melihat ke arah Nia


"Iya aku sudah minta putus, tapi Saka selalu bilang tidak mau. setelah beberapa hari Saka sudah tidak menghubungi. aku mengira dia sudah menerima keputusan kami, ternyta justru dia membujuk Mamanya biar merestui kami" ucap Nia tidak tau harus bagaimana

__ADS_1


Terimakasih atas dukungan dari teman - teman. jangan lupa Like, Coment dan Vote jika ada ya. dukungan kalian sangat berarti bagi Author


__ADS_2