
Hari ini Pak Sandi mengajak Riri berbicara di taman belakang rumah sambil memancing ikan yang ada di kolam ikan belakang rumah.
"Akhir-akhir ini kamu sibuk apa Ri?" tanya pak Sandi
"Sibuk persiapan ujian Pa, seminggu lagi kan Riri ujian" jawab Riri
"Kamu sudah tau belum, setelah lulus dari SMA kamu mau melanjutakan kuliah dimana?" tanya pak Sandi
"Boleh gak kalau Riri lanjut dikedokteran pa?" jawab Riri yang punya Misi suatu saat ingin dilihat oleh Alan
"Kedokteran? sejak kapan anak papa tertarik dengan dunia medis? setau papa kamu tidak suka dengan dunia medis. papa kira kamu akan ambil fakultas bahasa inggris. seingat papa dulu kamu bercita-cita ingin jadi guru bahasa inggris." tanya Pak Sandi heran
"Itu kan dulu pa, sekarang sudah tidak ingin jadi guru tapi pengen nya jadi Doktet" jawab Riri
"Yang membuat kamu ingin jadi Dokter apa?" tanya Pak Sandi
"Ya karena Dokter kan perbuatan mulia pa, bisa menolong orang yang sakit" Alibi Riri
"Bener juga sih apa yang Riri sampaikan, tapi ingat menjalani sebuah profesi itu harus dari hati. jangan hanya karena ikut-ikutan. hasil nya tidak akan baik kalau hanya ikut-ikutan. Riri paham?" tanya pak Sandi
"Siap, paham pa. Riri memang ingin jadi dokter kok pa." ucap Riri
"Okay, sebagai orang tua. kalau itu memang keinginan Riri pasti papa akan dukung sepenuhnya. Riri ada sesuatu yang harus papa tanya kan sama Riri. sejak kapan Riri tau tantang jati diri Riri yang sebenarnya?" tanya Pak Sandi menatap Riri
"A-apa maksud papa tanya seperti itu? ja-jati diri apa pa?" ucap Riri gugup pura-pura tidak paham
"Riri, kamu anak papa. papa tau saat kamu sedang berbohong atau sedang jujur. Riri Papa sudah mengetahui yang sebenarnya. sebaiknya Riri jujur sama papa" ucap Pak Sandi tidak mau bertele-tele
"Pa, Kenapa papa berkata seperti itu. apa papa tidak percaya sama Riri? apa kak Nia mengatakan sesuatu sama papa?" tanya Riri memelas
"Jangan bawa-bawa Nia dalam hal ini Riri, papa sudah tau semua nya. papa hanya ingin mendengar langsung dari mulut kamu sendiri" ucap Pak Sandi kecewa
__ADS_1
"Pa, kenapa papa tidak percaya Riri?"
"Riri, apa pernah papa memarahi kamu selama ini? sejak kamu kecil papa menyayangi kamu dengan sepenuh hati papa. tidak pernah papa bedakan antara kamu dan Alan. papa selalu mendidik kamu untuk menjadi wanita yang jujur, sholehah dan santun. hentikan semua nya jujur lah Riri" ucap pak Sandi
"Pa, Riri benar-benar tidak mengerti maksud papa, apa yang papa maksud? jujur masalah apa? Riri gak ngerti pa?" ucap Riri seakan tidak paham maksud Pak Sandi.
Riri merasa kesal dan mau meninggalkan pak Sandi tapi panggilan Pak Sandi menghentikan langkahnya
"Tetap ditempat" ucap Sandi dengan nada tinggi terlihat urat kemarahan diwajahnya
Bu Indah yang mendengar Pak Sandi marah segera keluar dan memeluk Riri
"Ada apa ini Pa? kenapa berteriak sama Riri?" tanya Bu Indah yang masih mengelus-elus kepala Riri yang ada dipelukannya.
"Mama jangan terlalu memanjakan anak ini. mungkin selama ini kita salah terlalu memanjakan nya. hingga dia jadi seperti ini.berusaha merusak rumah tangga kakak nya. kakak yang sudah memberikan dia kasih sayang layak nya adik kandung" ucap Sandi dengan suara meninggi
"Papa hentikan" ucap Bu indah berteriak
"Untuk apa lagi kita tutup-tutupi ma? Riri sudah tau semuanya, Riri sudah mengetahui semuanya Ma" teriak pak Sandi
"Pa, hentikan pa, hentikan" tangis Bu Indah pecah
"Papa juga tidak ingin seperti ini ma, tapi Papa kecewa dengan sikap Riri yang tidak tau berterima kasih. dan bagaimana anak yang dari bayi kita rawat layaknya anak sendiri bisa punya pikiran ingin menyakiti kakaknya sendiri. hingga kakak yang anak kita sendiri harus angkat kaki dari sini" ucap Pak sandi dan matanya memerah menahan amarah yang bergejolak didanya.
"Jadi maksud papa Riri yang harus keluar dari rumah ini? baik Riri akan pergi dari sini" ucap Riri berlari pergi
"Sekali melangkah jangan harap untuk kembali lagi" ucap Pak Sandi
"Riri, Riri sabar sayang. jangan pergi sanyang. Riri..Riri" teriak Bu Indah berusaha mencegah Riri pergi
"Hentikan Ma! biarkan dia pergi kemana saja dia suka. kita sudah cukup merawat nya. biar dia sadar keras nya dunia luar." ucap Pak Sandi
__ADS_1
Mendengar kata- kata pak Sandi Riri merasa sakit hati dan sudah tidak ada lagi tempat untuknya dirumah ini.
Riri berlari keluar rumah tanpa membawa apa- apa.
***
Malam semakin larut Bu Indah masih berada diruang tamu menunggu Riri pulang.
"Untuk apa Mama masih menunggu anak tak tau diri itu" ucap pak Sandi
"Pa, kenapa papa bersikap seperti itu sama Riri? kasian Riri pa?" ucap Bu Indah
"Lalu apa mama tidak kasihan dengan Alan dan Nia yang difitnah oleh anak kesayangan Mama itu?" ucap Pak Sandi
"Sudah mama duga, ini pasti karena hasutan Nia" ucap Bu Indah
"Cukup ma!" bentak pak Sandi
"Kenapa mama itu tidak bisa membuka mata mama. Nia tidak ada sangkut pautnya dengan semua ini. Bahkan Nia tidak pernah mengatakan apa-apa sama papa. papa sudah mencari tau ma, Riri ternyata memang sudah mengetahui kalau dirinya bukan anak kandung kita. dan Riri juga berusaha menjauhkan Nia dari Alan." ucap Pak Sandi memberi istrinya pengertian
"Bohong, Riri bukan orang seperti itu. kita yang mendidiknya, kita mendidiknya dengan sangat baik. tidak mungkin Riri seperti itu. ini semua karena Nia pa, semenjak ada Nia keluarga kita jadi berantakan seperti ini" ucap Bu Indah.
"Lalu dimana salah nya Nia? papa tanya sama mama. dimana salah nya Nia kalau anak kita mencintai Nia? mereka suami istri. yang salah Riri mencintai kakak nya sendiri. buka mata mama, apa mama akan menikahkan Alan dan Riri? karena itu yang diinginkan Riri" ucap Pak sandi
"Tidak pa, tidak mungkin. Riri memang mencintai Alan tapi pasti hanya sebagai kakak tidak mungkin lebih. lagi pula bagaimana mungkin Riri tau kalau dirinya bukan anak kandung kita?" ucap Bu Indah
"Itu lah yang awalnya papa pikir, tapi ternyata Riri memang sudah mengetahui kalau dirinya bukan anak kandung kita. bahkan Riri sendiri sudah mengatakan cinta nya untuk Alan. dan meminta Alan untuk menerima cintanya"
"Bohong! pasti Alan salah, pasti ini salah paham. karena Alan terpengaruh sama Nia" ucap Bu Indah yang belum bisa menerima kenyatan
"Ya Alloh ma, kenapa selalu saja mengkaitkan masalah ini sama Nia. apa mama lupa sejak awal Alan mengenalkan Nia dikeluarga kita sikap Riri ke Nia seperti apa? kita yang salah ma, seharusnya dari awal kita tidak memutus nasab nya." ucap pak Sandi sedih
__ADS_1
haiii sayanx...terimaksih sudah setia menggu author updt . jngan lupa tnggalkn jejak dengan like, coment dan vote y