Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
CH 271


__ADS_3

"Ada apa Kak? kenapa sepertinya pada panik?" tanya Riri.


"Apa kamu pagi ini sudah melihat Nana? Sepertinya Nana tidak ada di rumah." Alan samakin panik, takut jika kecurigaannya beberapa waktu yang lalu benar.


"Kak, lalu bagaimana ini? sudah hampir waktunya? Acara Rara dan Amar?" Riri terlihat ikut panik.


"Kalian pergi saja dulu ke hotel, Nanti aku akan menyusul. Tolong Rara dan Anggun antarkan dulu ke hotel,' ucap Alan.


***


"Jadi, ini ayah mencari kak Nana Tan?" tanya Riri.


"Iya, tapi kamu tidak perlu cemas. Kamu fokus pada acara kamu saja," jawab Riri.


"Menurut kalian, apa mungkin Nana melakukan ini sengaja? Apa Nana masih menyukai Amar?" ucap Anggun.


"Ta-tapi selama bertahun-tahun, kak Nana sudah tidak pernah menunjukkan kalau masih suka sama Kak Amar. Andai Rara tau, kalau Kak Nana masih menyukai kak Amar, Rara pasti akan mempertimbangkan melanjutkan hubungan ini, tapi Kak Nana selalu menyakinkan kalau Kakak sudah melupakan perasaannya untuk Kak Amar," ujar Rara.


"Ini, hanya pemikiran konyol Mama, sudah kamu tidak perlu memikirkan semua itu, Lebih baik kamu fokus dengan hari bahagia kamu," ujar Anggun.


"Ma, tapi jika benar apa yang Mama katakan bagaimana? Rara tidak mungkin menyakiti Kak Anggun" Rara bingung harus bagaimana, pasalnya dirinya juga sangat menyayangi kakaknya.


"Sudah ya, jangan pikirkan lagi," bujuk Anggun.


Sesampainya di hotel tempat pertunangan digelar. Semua tamu undangan sudah tampak memenuhi aula gedung, semua mata tertuju pada Rara, yang tampak begitu cantik dengan kebaya yang sangat indah membalut tubuhnya.


Amar pun terpukau dengan wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu.


"Ehemm... " Arif berdeham menggoda Amar .


"Cantik ya Rara?" tanya Arif.


"Iya Yah, cantik" jawab Amar tak menyadari kalau Ayahnya menggoda.


"Ah, iya. Jadi malu," ucap Amar menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Cukup lama mereka duduk tapi Alan belum juga terlihat.


"Bu, apa acaranya sudah bisa di mulai?" tanya Pembawa acara pada Anggun." karena sejak tadi para tamu sudah mulai bertanya kenapa acara tidak segera dimulai.

__ADS_1


"Tunggu , sebentar lagi ya Mas," Jawab Anggun bingung.


Ane yang melihat, keluarga Anggun tegang, mendekat.


"Mbak Anggun, ada apa? kenapa acara tidak segera di mulai?" tanya Ane.


"Em.. anu, em... " Anggun tergagap karena bingung harus menjawab apa.


"Mbak, ada Apa?" tanya Ane memegang tangan Anggun.


"Nana hilang," jawab Anggun.


"Nana hilang?" Ane tercengang dan membulatkan matanya.


"Lalu bagaimana dengan acara Amar dan Rara?" tanya Ane panik membuat beberapa tamu yang mendengar mentap ke arah Ane.


"Saat ini, Alan sedang mencarinya. Jadi sabar sebentar ya Ne, aku yakin sebentar lagi pasti Alan akan ke sini," ucap Anggun dengan penuh penyesalan harus mengatakan ini pada Ane.


Arif yang melihat Ane tegang dari kejauhan, merasa resah dan mencoba menghampiri Ane.


"Kamu di sini sebentar, Ayah mau bicara sama bunda," ucap Arif pada Amar.


Amar pun tak kalah cemas, melihat ketegangan yang terjadi, namun Amar Belum tau, penyebab ketegangan yang terjadi.


"Nana menghilang dan saat ini Alan sedang mencarinya, tidak mungkin kan acara ini di lakukan tanpa Alan?" ucap Ane.


"Coba tenang dulu! jangan panik. Apa Nia Bunda undang?" tanya Arif.


"Iya, Nia ada kok tadi. Bunda sudah bertemu dengan Nia dan yang lainnya." jawab Ane.


"Berarti Nana tidak sedang bersama Nia. Kalian tenang dulu, kita tunggu sebentar lagi," ucap Arif mencoba menenangkan.


**


"Ne, ada apa? kenapa terlihat panik?" Tanya Wawa dan teman-temannya menghampiri.


"Nia, apa Nana sudah menghubungi kamu?" tanpa menjawab pertanyaan Wawa, Ane langsung bertanya pada Nia.


"Nana? tidak, dari kemarin Nana tidak menghubungi aku, ada apa ini? kenapa dengan Nana?" Nia panik.

__ADS_1


"Nana, pagi ini tidak ada di rumah dan sampai sekarang Alan masih berusaha mencarinya," sahut Anggun.


"Nana, kemana Nana? bagaimana Nana bisa pergi? kalau terjadi apa-apa sama Nana, aku tidak akan memaafkan kalian?" ucap Nia ketakutan.


"Tidak perlu bersikap berlebihan seperti itu!" sahut Anggun dengan tegas, pasalnya selama Anggun selalu berusaha bersikap baik dengan Nana, namun sepertinya saat ini Nana sengaja menyakiti Rara.


"Apa maksud kamu? Apa karena kamu bukan ibu kandungnya, sekarang kamu tidak memperdulikan Nana? jadi sikap baik kamu selama ini pada Nana hanya bohong untuk mendapatkan simpati Alan?" ucap Nia dengan lantang.


"Siapa kamu berani menilai aku seperti itu? Memang dasarnya anak kamu yang tidak bisa di didik dan di beri hati. Kurang apa aku dan Rara menyayangi Nana? Tapi seolah anak kamu itu tidak ada puasnya dan ingin mengambil apa yang di miliki Rara," ucap Anggun meluapkan seluruh isi hatinya.


"Ma, sudah ma! di lihat banyak orang," bujuk Rara


Amar yang mendengar perdebatan Anggun dan Nia pun mendekat.


"Jadi, saat ini Om Alan sedang mencari Nana?" sahut Amar.


"Amar," ucap Ane, mengusap bahu Amar menenangkan.


"Sabar dulu, saat ini. kita semua memang sedang panik, tapi kita harus tenang. Kita semua berdoa, semoga semua baik-baik saja," timpal Ane.


"Pantas saja, kemarin. Nana mendatangi Amar ke rumah sakit," ucap Amar.


"Jadi kamu tau, dimana Nana?" sahut Nia.


"Amar tidak tau, kemarin Nana datang tapi Amar langsung pergi dan tidak mau mendengarkan apa yang dia katakan." Jawab Amar.


"Amar, kenapa kamu tega sama Nana? pasti saat ini hatinya sedang sakit, karena kamu acuhkan dia," tangis Nia.


"Apa saat ini apa yang kamu katakan itu penting? Nana itu juga kelewatan, Amar ini calon adik iparnya, kenapa masih juga belum menyerah." sahut Anggun.


"Ma, sabar ma, " bujuk Rara


"Nana, melakukan itu semua, karena Nana mencintai Amar, Amar apa kamu tidak tau? bagaimana perasaan Nana sama kamu? Amar tolong pertimbangan kembali perasaan kamu," rengek Nia.


"Konyol, benar-benar konyol. Anak sama ibu sama," gumam Anggun, yang selama ini kalem dan pendiam sekarang merasa tidak teriama dengan apa yang di lakukan Nana pada putrinya.


"Seharusnya sebagai seorang Ibu, nasehati anak kamu, bukan malah mendukungnya saat dia salah," timpal Anggun namun Nia tak mendengarkan.


"Ra, kamu adiknya Nana. Tante mohon Ra, jangan hancurkan hati Nana dengan menikahi Amar! Nana sangat mencintai Amar, Nana tidak akan sanggup melihat Kamu bersama dengan Amar," Nia menyatukan tangannya di depan dada memohon agar Rara membatalkan acara pertunangan mereka.

__ADS_1


"Kamu pikir pernikahan itu mainan? dan kamu pikir, cinta itu bisa dipaksakan? Jangan mengiba pada Rara, tapi kamu tanya sama Amar, apa Amar mau menikah dengan anak kamu?" sahut Anggun.


^Happy Reading^


__ADS_2