Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
CH 223


__ADS_3

DiCafe


"Tante Ane" panggil Nana yang sudah berada disana


"Eh.. itu Nana udah sampai duluan ternyata, ayo kesana" ucap Ane pada Amar


Dengan malas Amar mengikuti bundanya


"Hai Tante, apa kabar?" sapa Nana mencium tangannm Ane


"Baik sayang, mama Anggun belum sampai sini?"


"Belum tante, masih jemput Rara. kebetulan kan sekolah Nana dekat dari sini, jadi Nana langsung kesini" ucap Nana


"Hai Mar" sapa Nana mengulurkan tangan tapi Amar hanya diam tak ada rencana untuk membalas


"Ehem.. Amar" Ane berdeham dan memberi kode dengan matanya agar Amar mengalami Nana


"Em" kata yang keluar dari mulut Amar dan sedikit membalas uluran tangan Nana namun hanya sedikit dan segera menariknya.


Nana pun tampak canggung dengan sikap Amar kepadanya.


"Nana jangan diambil hati sikap Amar, kamu tau sendiri kan? dari dulu Amar kan orangnya memang kayak gitu." ucap Ane tapi Amar tetap cuek tak menanggapi


"Sudah lama menunggu? maaf ya. tadi Rara sedikit lama keluar kelasnya" ucap Dokter Anggun


"Iya tidak apa-apa, lagian kami juga belum lama sampe kok" jawab Ane


Rara mencium tangan Ane dan duduk disamping kakaknya.


Rara adalah anak ke dua Alan. yaitu anaknya dengan Dokter Anggun.


"Rara ini kelas SMP kan? bentar lagi masuk SMA ya?" tanya Ane


"Iya sebentar lagi SMA, kalau Nana. sebentar lagi kuliah, sama kan kayak Amar?" tanya Dokter Anggun


"Iya ini Amar juga sebentar lagi lulus SMA"


"Gimana kalau Amar mau lanjut kuliah apa mau daftar Polisi? mungkin ingin seperti ayahnya" ucap Dokter Anggun


"Belum tau juga, Amar belum mau jawab kalau ditanya. entah maunya apa" sindir Ane karena sikap Amar yang terlalu pendiam


"Amar memang kamu belum ada rencana mau melanjutkan kemana?" tanya Nana namun Amar hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban.


"Kalau Nana rencana mau melanjutkan dimana?" tanya Ane

__ADS_1


"Belum tau juga tante, cuma Nana sepertinya ingin daftar di akbid. tapi sama papa gak boleh" ucap Nana


Ane sepertinya mengerti alasan Alan melarang Nana menjadi bidan. itu karena trauma nya dimasa lalu.


"Emang Amar gak pengen jadi polisi?" Nana berusaha mengajak ngobrol Amar


"Entahlah" jawabnya singkat


"Amar, kok jawabnya gitu, Nana ini anak sahabat mama lho. berarti teman kamu juga" ucap Ane


"Tidak apa-apa tante" timpal Nana


Begitu makannya datang, Amar langsung menyantap makanannya tanpa memperdulikan sedari tadi ada mata yang memandang. iya Nana sebenarnya sudah lama menaruk hati pada Amar. bukan Amar tidak menyadari namun Amar yang tidak memiliki perasaan yang sama memilih untuk pura-pura tidak tau.


Tante, boleh tidak kalau kapan-kapan Nana main kerumah tante?" tanya Nana


"Boleh dong sayang, tante malah senang kalau kamu mau main kerumah. habisnya punya anak satu cowok, sibuk dengan dunianya sendiri." gerutu Ane


"Emang sibuk apa Amar kalau dirumah tan?" kembali Nana bertanya


"Apalagi kalau tidak belajar, setiap hari Amar itu selalu dikamar belajar."


"Ya wajarlah Ne, Amar ini kan pintar. Amar ini selalu juara kelas lho kak" ucap Dokter Anggun pada Nana


"Pantas saja ma, gimana gak juara kelas kalau setiap hari cuma belajar. tapi bukankah sosialisasi itu juga penting ya?" tanya Nana


"Rara kenapa dari tadi hanya diam?" tanya Amar yang sedari tadi memperhatikan Rara sama sekali tidak berbicara. padahal seingatnya Rara ini biasanya ceria dan lumayan banyak bercanda.


"Eh.. tidak, tidak apa-apa kak" jawab Rara membetulkan kaca matanya


"Mungkin Rara lagi berpikir tentang melanjutkan sekolah dimana? karena kakeknya berharap Rara ini bisa bersekolah di surabaya. sekaligus bisa menjaga kakeknya disana. papi sekarang kan sudah tua dan ingin menetap di surabaya jadi rencana Rara akan melanjutkan sekolah k sana" terang Dokter Anggun


"Jadi Rara akan sekolah disurabaya?" Tanya Amar


Ane dan yang lain melihat kearah Amar, tidak biasanya laki-laki dingin ini perduli dan mau bertanya pada seseorang batin yang lainnya.


"Iya nak Amar, sepertinya Rara akan sekolah disana. walaupun sebenarnya tante juga berat jauh Rara, tapi kasian kakeknya juga sendiri disurabaya" ucap Dokter Anggun


"Kan ada Nana ma, kalau Rara disurabaya, Nana kan masih disini" sahut Nana


"Iya sayang, sebenarnya mama ingin bisa selalu bersama kalian. semuanya anak kesayangan mama. hanya saja kakek meminta Rara sekolah disana dan Rara juga sudah menyetujui permintaan kakeknya. jadi ya mama gak bisa apa-apa lagi" ucap Dokter Anggun


****


Dirumah Arif

__ADS_1


"Bagaimana Mar, sudah kamu pikirkan mau melanjutkan kuliah dimana?" tanya Arif pada anak semata wayangnya diruang keluarga


"Belum tau yah, Amar masih bingung" jawab Amar


"Padahal waktu kamu kecil kamu itu selalu bilang ingin jadi seperti Ayah. sekarang sudah tidak ingin jadi seperti Ayah?" tanya Ane


"Masih" jawabnya singkat


"Kalau masih kenapa bimbang? daftar akpol aja. bunda dukung" ucap Ane


"Em.. lihat nanti aja bun hehehe" Amar ketawa


"Yah, anak kita ini lho, kalau sama Nana kenapa ketus gitu? bunda heran." ucap Ane


"Tadi ketemu Nana?" tanya Arif


"Iya bang, tadi Ane kan dijemput Amar terus mbak Anggun ngajakin makan bareng, disana ada Nana dan Rara juga. tapi ya gitu Amar, ketus banget kalau sama Nana" ucap Ane


"Ya habisnya bunda, ngajakin makan bareng mereka. bunda kan tau Amar gak suka" jawab Amar


"Iya bun,kamu ini juga jangan memaksa Amar untuk ikut keacara kamu dong bun, kasian kan Amar merasa tidak nyaman" bela Arif


"Iya maksud bunda. biar Amar ini juga kenal orang bang, biar gak belajar terus" ucap Ane


"Amar ini mirip sama Arif Waku masih muda, gak suka kenal banyak orang" sahut bu Imah


"Tapi bang Arif kan dulu pernah pacaran ma waktu SMA, Amar ini sama sekali gak pernah suka sama orang lho kayaknya"


"Hehehe.. emang kamu tau bun, kalau anak kamu ini mungkin dihatinya sudah ada yang dikagumi? iya kan Mar?" goda Arif


"Emang benar apa yang dikatakan ayah Mar?" tanya Ane menatap putranya


"Apaan sih ma, Amar gak milih kayak gitu."


"Iya, bunda juga gak mau kamu pacaran, maksud bunda setidaknya, kamu bersosialisasi dengan orang lain nak biar gak kaku gini."


"Sudahlah bun, jangan maksa Amar terus. biarkan Amar fokus dengan cita-citanya. jangan diganggu terus"


***


Dirumah Alan


"Nana tadi cerita katanya tadi siang kalian makan bersama sama Ane dan Amar?" tanya Alan


"Iya sayang, tadi siang kami makan bersama. Amar sekarang sudah besar ya. dan sepertinya putri kita ada rasa sama Amar. dari tadi mama perhatikan sepertinya Nana curi pandang terus sama Amar" ucap Dokter Anggun tersenyum

__ADS_1


"Apa iya ma? mereka kan masih kecil?" ucap Alan


"Mereka itu bukan anak kecil sayang, mereka sebentar lagi lulus SMA, wajar kan kalau mereka mengidolakan lawan jenis" ucap Dokter Anggun


__ADS_2