Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
CH 189


__ADS_3

Malam ini setelah makan Riri bermain dengan Nana diruang keluarga


"Assalamu'alaikum" Alan memasuki rumah


"Walaikumsalam kak Alan" jawab Riri menyambung Alan dan tersenyum


"Riri kamu pulang kok gak ngabarin?" ucap Alan mengacak-acak rambut Riri


"Kakak, Riri bukan anak kecil lagi. jangan diacak-acak rambut Riri." Gerutu Riri menata kembali rambutnya


"Papa" Nana berlari memeluk papanya


"Cintanya papa, kangen ya sama papa?" tanya Alan


"Iya Nana kangen papa" Ucap Nana manja menyandarkan kepala dipundak dan tangannya melingkar dileher papanya


"Anak papa sudah makan belum?"


Nana menggelengkan kepalanya


"Belum makan? kenapa belum makan? ini kan sudah malam?"


"Gak mau makan" jawab Nana


"Iya Lan, Nana gak mau makan dari tadi siang" sahut Bu Indah


"Sini sayang, dengarkan papa ya. sayangnya papa harus makan, nanti kalau Nana tidak makan bisa sakit. kalau Nana Sakit papa akan sedih. apa Nana mau melihat papa sedih?"


"Gak mau" jawab Nana memeluk Alan


"Kalau Nana gak mau papa sedih. Nana gak boleh sakit. biar gak sakit Nana harus makan. sekarang Nana makan ya. papa yang suapin mau?"


"Iya Pa, Nana mau makan disuapin papa"


"Hah ini baru namanya sayang papa, sebentar ya sayang. Nana duduk disini dulu. papa ambilkan makan dulu untuk Nana"


"Tidak usah kemana-mana kak, ini sudah Riri ambilkan" ucap Riri memberikan sepiring nasi beserta lauk lengkap dengan air minumnya.

__ADS_1


"Wah udah diambilkan tente makan, Nana makan ya. terimakasih ya tente" ucap Alan mewakili Nana


Setelah menyuapi Nana makan Alan menemani Nana bermain dan menidurkan Nana yang sudah mulai kecapean.


"Nana sudah tidur Lan? tanya pak Sandi yang sedang berbincang dengan bu Indah dan Riri


"Iya Pak sudah" jawab Alan ikut gabung dan duduk disamping Bu Indah


"Kak, Riri ikut prihatin ya kak dengan apa yang kakak alami" ucap Riri


"Iya tidak apa-apa, kakak sudah iklas dengan takdir yang harus kakak jalani. kuliah kamu bagaimana?" tanya Alan


"Alhamdulillah kuliah lancar kak, InsyaAlloh tahun depan bisa ikut wisuda"


"Alhamdulillah, sebentar lagi kakak punya adik Dokter ni ceritanya?" goda Alan


"Iya dong, gimana nyesel kan dulu nolak Riri? sebentar lagi Riri jadi dokter wek" Riri menjulurkan lidahnya. walaupun awalnya Riri takut ada kecanggungan saat kembali ke keluarga ini namun melihat mama, papa dan kakaknya menunjukkan sikap biasa tanpa canggung. Riri pun kini menunjukkan sikap biasa seolah tidak pernah terjadi apa-apa antara dirinya dan keluarga ini.


"Ma, Pa, kak Alan. Riri mau bilang kalau Riri sudah punya kekasih sekarang" ucap Riri


"Kekasih? siapa? orang mana? ingat ya jangan sampai menganggu kuliah kamu" cerca Bu Indah


"Kok belum dijawab? siapa pacar kamu dan orang mana? terus seperti apa orangnya? baik apa tidak orangnya?" cerca Bu Indah lagi


"Gimana mau jawab ma, kalau pertanyaannya sebanyak itu? Riri kan bingung mau jawab pertanyaan mama yang mana dulu" ucap Riri diiringi tawa papa dan kakaknya


"Tau ni mama kamu Ri, kepo banget" sahut pak Sandi


"Iya gimana tidak kepo coba pah? kalau anak gadisnya bilang sudah punya pacar. mama kan khawatir. mama tidak mau anak mama salah memilih pendamping. kali ini mama akan lebih selektif dalam urusan memilih calon menantu untuk anak-anak mama. cukup Alan saja yang pernah mengalami kegagalan. jangan sampai anak gadis mama juga salah memilih pendamping hidup" tegas Bu Indah


"Siap mamaku yang cantik" ucap Riri memeluk dan mencium mamanya.


"Jadi siapa nama pacar kamu itu?" tanya Bu indah lagi


"Namanya Fahmi ma, kakak tingkat Riri. sekarang sedang menjalani koas dirumah sakit. dan Fahmi bilang ke Riri kalau koasnya nanti selesai. Fahmi ingin melamar Riri lebih dulu" terang Riri


"Lalu bagaimana dengan kuliah kamu?" tanya Bu Indah

__ADS_1


"Kalau masalah kuliah InsyaAlloh tidak ada masalah ma. bisa berjalan bersama. justru kami akan saling mendukung satu sama lain. tapi masalahnya mama dan papa mau memberi kami restu tidak?" tanya Riri


"Kamu itu aneh dek, gimana mungkin papa dan mama akan memberi restu jika kamu saja belum memperkenalkan calon kamu kepada papa dan mama" sahut Alan


"Bener itu yang dikatakan kakak kamu, kenalkan kami dulu baru meminta restu" tambah pak Sandi


"Iya rencananya juga nanti gitu kak, ini Riri bicara dulu sama papa, mama dan kakak. kalau kalian mengijinkan Riri akan menyuruh Fahmi datang kerumah untuk kenalan dulu" ucap Riri


"Ya sudah, suruh saja Fahmi datang kerumah. nanti mama papa dan kakak akan menilai apakah laki-laki ini memang cocok untuk kamu atau tidak" ucap Bu Indah


"Terimakasih mama" ucap Riri mencium pipi mamanya.


Mendengar Riri yang sudah memiliki tambatan hati sebenarnya membuat Alan dan kedua orang tuanya tenang. karena itu berarti perasaan yang dimiliki Riri untuk kakaknya sudah hilang.


Biarpun mereka sebenarnya boleh untuk menikah tapi bagi Alan Riri adalah adiknya dan selamanya akan seperti itu.


Begitu juga dengan pemikiran Riri saat ini. Riri sebenarnya tidak memiliki perasaan untuk Fahmi. tapi Riri terpaksa menerima Fahmi karena tidak ingin membuat mama, papa dan Alan berpikir dirinya masih menginginkan Alan. meskipun sebenarnya jauh dilubuk hati Riri memang nama Alan sudah tersimpan rapat diruang hatinya.


Namun Riri tidak ingin lagi kecanggungan dimasa lalu terulang. Riri akan memendam rasa sayang yang dirasakan untuk Alan dan akan disimpan sendiri dengan rapat sampai akhir hayatnya.


***


Dikantor


"Hai Lan, aku perhatikan akhir-akhir ini kamu sepertinya lebih bahagia" ucap Arif


"Iya bang, sekarang aku sudah bisa berpikir realistis. yang lalu biarlah berlalu. sekarang duniaku hanya dipenuhi anakku bang. jujur sebenarnya aku kasian terhadap Nana. anak sekecil itu sudah harus menjadi korban keegoisan orang tuanya" ucap Alan


"Kamu yang sabar ya Lan" Ucap Arif.


Melihat perubahan pada diri Alan membuat Arif juga bahagia. pasalnya Arif sudah menganggap Alan sebagai adiknya.


Jika Alan sekarang sudah bisa berdamai dengan keadaan dan menjalani hidup sebagai seorang duda lain halnya dengan Nia yang seakan permainan drama rumah tangga baru saja akan dimulai.


Hari-harinya sekarang akan dimulai dengan air mata. tidak ada lagi kebahagiaan. tidak ada lagi kenyamanan yang ada hidupnya sekarang seperti seorang pembantu.


Air mata seolah menjadi santapannya setiap hari. karena hidup dengan anak tiri dan mertua yang tidak akan membiarkan Nia hidup dengan tenang. apapun yang dilakukan selalu dianggap salah. diam salah bicara juga disalahkan

__ADS_1


^HAPPY READING^


__ADS_2