
"Amar, kamu kenapa nak? kok wajah kamu pucat sekali? Apa kamu sakit?" tanya Ane.
"Iya Bun, Amar kurang sehat Amar istirahat dulu nya bun," ucap Amar.
"Ya, sudah. Kamu istirahat dulu, Bunda buatkan teh jahe ya," ucap Ane.
"Iya bun, Terima kasih ya bun," ucap Amar berlalu.
Di kamar, Amar merebahkan tubuhnya di kasur. matanya menatap langit-langit. Pikirannya terus saja memikirkan wanita yang tadi di tabraknya.
"Amar, ini teh jahe nya. Di minum dulu nak!" ucap Ane seraya memberikannya secangkir teh jahe.
"Terima kasih bun, maaf merepotkan bunda," ucap Amar terduduk dan menerima teh jahe.
"Nak, kamu terlalu bekerja keras! Bunda tau alasan kamu melakukan semua itu, tapi ini sudah lama nak, kamu harus bisa berdamai dengan keadaan. Iklas lah nak, yakinlah ini ketetapan yang terbaik. Bukalah hati kamu untuk orang lain, jangan larut dalam kesedihan terus, Amar." ucap Ane.
"Bun, Amar juga ingin melupakan Rara. Tapi hati Amar begitu sulit untuk menerimanya. Amar masih mencintai Rara Bun," ucap Amar menidurkan kepalanya di pangkuan Ane layaknya anak kecil.
Ane mengusap lembut kepala Amar dan tanpa disadari bulir-bulir kristal menggenangi matanya.
Sebagai seorang ibu, tentu Ane tau bagaimana perasaan putranya saat ini. Ane pun merasakan sakit yang sama saat melihat putranya sakit seperti itu.
"Sudah lama, hal itu berlalu anakku. Kamu harus bisa menata hati kamu kembali dan menurut Bunda, sakit hati itu obatnya hati yang baru. Cobalah buka hati kamu untuk wanita lain," bujuk Ane.
"Bun," ucap Amar menatap Ane.
"Ada apa, Nak?" jawab Ane.
"Tolong carikan wanita yang mau menjadi istri Amar," pintar Amar.
"Mencarikan istri buat kamu?" Tanya Ane menyakinkan.
"Iya bun," jawab Amar singkat.
"Amar, menikah itu ibadah terlama. Alangkah baiknya kalau kamu bisa menikah dengan wanita yang memang kamu pilih sendiri untuk menjadi pendamping hidup kamu," ucap Ane.
"Amar, sudah tidak bisa lagi menemukan wanita itu Bun. Bagi Amar siapapun orang nya, tidak ada bedanya. Amar percaya dengan pilihan Bunda." ucap Amar.
__ADS_1
"Nak, kamu yakin? Ini masalah pernikahan bukan permainan," tanya Ane lagi.
"Bukankah Bunda bilang, menyembuhkan sakit hati harus di ganti dengan hati yang baru?"
"I-iya, tapi maksud Bunda. Kamu buka hati kamu untuk wanita lain, Bunda yakin. Anak bunda yang tampan ini pasti banyak kan yang suka," ucap Ane.
"Amar, tidak menyukai mereka semua Bun," jawab Amar.
"Lalu bagaimana jika ternyata kamu juga tidak suka dengan pilihan Bunda?" tanya Ane.
"Siapapun pilihan Bunda, Amar akan berusaha menerimanya. Amar percaya, Bunda tidak akan mungkin menjodohkan Amar dengan perempuan yang tidak baik," ucap Amar.
"Ya, sudah. Nanti Bunda akan bicarakan masalah ini sama Ayah." jawab Ane tersenyum.
"Bun, tadi sewaktu pulang dari rumah sakit. Amar menabrak seorang wanita," ucap Amar.
"Astaghfirullah hal adzim, lalu bagaimana keadaannya nak? kenapa baru bilang sekarang?" tanya Ane terkejut.
"Sepertinya baik-baik saja," jawab Amar.
"Amar juga bingung Bun, saat Amar mau memeriksa lukanya dia menolak, Amar ajak ke rumah sakit juga menolak, dan saat Amar mau bantu mengobati lukanya, dia malah menghindar. Terus Amar harus bagaimana bun?" tanya Amar.
"Kamu masih ingat siapa orangnya? atau apa kamu tanya alamatnya? biar kita bisa ke sana untuk memastikan dia baik-baik saja," tanya Ane.
"Amar tidak tanya alamatnya bun, Amar juga tidak tau siapa orangnya. Mungkin semisal bertemu lagi pun, Amar tidak akan ingat, soalnya wajahnya tertutup niqab. Amar hanya melihat matanya sekilas karena dia juga menghindari tatapan Amar." jelas Amar.
"Ya, sudah nak. kita do'akan saja, semoga wanita itu baik-baik saja." ucap Ane menenangkan Amar.
***
Setelah Arif pulang dari kantor, Ane membicarakan masalah yang Amar ceritakan soal perjodohan yang di inginkan anaknya.
"Jadi Amar bilang begitu Bun?" tanya Arif.
"Iya, Bang. Amar ingin kita mencarikan jodoh untuk dia. Kira-kira siapa ya Bang?" tanya Ane.
"Jangan buru-buru sayang, pelan-pelan saja kita lihat wanita mana yang sekiranya cocok untuk anak kita. Yang pasti aku berharap Amar berjodoh dengan wanita sholihah yang bisa menjadi penyejuk hatinya," jawab Arif.
__ADS_1
"Aamiin, Iya Bang. Ane pun berharap hal yang sama. batalnya pertunangan Amar dengan Rara, meninggalkan bekas luka yang terlalu dalam, hingga Amar seolah sudah menutup hatinya untuk wanita. karena itu, Ane berharap wanita yang kelak menjadi istrinya bisa mengobati luka hati itu," ucap Ane.
"Bunda, tidak habis pikir. Kenapa Rara sampai hati melakukan itu pada Amar. seharusnya dari awal saja mereka tidak berhubungan," ucap Ane sedikit kesal mengingat kejadian satu tahun lalu.
"Kamu benar sayang, selama ini Amar hanya mencintai Rara. Sebenarnya kita juga tidak bisa menyalahkan Rara sepenuhnya. Karena pertunangan itu dilanjutkan pun, Kedepannya juga tidak baik, jika Nana juga tidak bisa melupakan Amar. Biar bagaimana mereka kakak beradik mencintai laki-laki yang sama," ucap Arif.
"Iya Bang, tapi dari awal kan semua juga tau kalau Nana juga menyukai Amar, tapi mereka masih juga memberikan harapan untuk Amar berhubungan dengan Rara, setelah sampai harinya kenapa mereka baru membatalkan,"
"Karena saat itu, Nana mengatakan sudah bisa melupakan Amar, tapi siapa sangka kalau Nana hanya bersandiwara,"
***
Pagi ini Ane dan teman-temannya mengadakan pertemuan rutin yang selalu mereka lakukan setiap tiga bulan sekali.
Tapi kali ini Nur tidak datang lantaran anaknya sedang sakit.
"Almira sudah pulang dari Kairo? kok aku tidak tau?" tanya Ane.
"Sudah ada satu bulan lebih sepertinya, Almira pulang. Malah sekarang ngajar di Semarang juga katanya," sahut Wawa.
"Iya, lulus langsung keterima kerja Almira kemarin. Sekarang jadi Dosen di Universitas Islam A," timpal Yeni.
"Berarti saat ini Nur dan Almira di semarang dong?" tanya Ane.
"Iya lah, anaknya sakit. Nur langsung ke sini," jawab Wawa.
"Kok aku bisa ketinggalan berita sendiri sih?" tanya Ane.
"Sorry Ne, Semenjak kejadian Amar tahun lalu, kita kan memang jarang ngobrol di grub. Walaupun Amar bukan anak kita, tapi kita ini sudah menganggap Amar seperti anak kita sendiri, melihat Nia dan anaknya seperti itu, kita ikut kesal rasnya. Karena itu kita jarang ngobrol di grub." jelas Yeni.
"Terima kasih kalian perduli dengan Amar, tapi kita tidak perlu memusuhi Nia. sebagai seorang ibu, aku tau. Nia melakukan semua itu juga demi anaknya." ujar Ane.
"Iya, tapi bukan dengan cara membuat Amar dan Rara menderita juga Ne," sahut Wawa.
"Anggap saja, memang mereka tidak berjodoh. Bagaimana kalau kita jenguk Almira saja?" tanya Ane.
^Happy Reading^
__ADS_1