
Nia melihat sekeliling, memastikan tidak ada yang dikenalnya dan segera masuk kedalam mobil Dokter Sigit
"Gimana ceritanya tiba-tiba kamu bilang mau ikut aku ke apartemen? padhal tadi pagi jelas-jelas kamu nolak ajakan aku" ucap Dokter Sigit
"Iya maaf mas, bukan maksud nolak, tapi tadi pagi aku bilang tidak bisa pergi karena memang tadi pagi aku tidak punya alasan untuk pergi"
"Kok sekarang tiba-tiba bisa pergi" Dokter Sigit menatap Nia
"Bisa lah" ucap Nia tertawa dan menyandarkan kepalanya di bahu Dokter Sigit.
***
Dikantor
"Lan, masih dikantor. kamu tidak pulang?"tanya Arif yang bersiap pulang
"Tumben abang jam segini udah mau pulang? apa mau ke perusahaan ya?" tanya Alan balik
"Tidak, kebetulan kerjaan udah beres, semua berkas udah diserahkan di kejaksaan. jadi hari ini bisa pulang cepat. mau jemput Ane sekalian mau bertemu dengan temannya Ane yang baru pulang dari Papua. siapa itu namanya? e.. Wawa.. iya si Wawa" ucap Arif
"Bang Arif mau nyusul mereka kesana? wah aku ikut dong Bang, Nia juga tadi ngirimi aku foto lagi sama mereka. siapa tau dengan ikut hangout bersama mereka bisa mencairkan hubunganku dengan Nia. gak enak bang rasanya seperti ini"
"Ya udah, ayo siap-siap. abang mengerti apa yang kamu rasakan. tapi saran abang sebagai sesama laki-laki yang bergelar suami. abang sarankan kamu juga harus mencari tau siapa saja yang bergaul dengan istri kamu. abang tau, kamu percaya sepenuhnya dengan istri kamu. tapi tidak ada salahnya kamu mencari tau seperti apa pergaulan istri kamu. jangan sampai kamu tidak mengetahui dengan siapa istrimu bergaul. intinya jangan sampai Nia salah dalam memilih teman pergaulannya"
"Iya bang, sebenarnya aku tau arah Abang ini kemana? sebagai seorang suami aku percaya sepenuhnya dengan Nia. tapi sebagai seorang Polisi dan penyidik aku memang sempat memiliki kecurigaan. tapi aku tepis semua itu bang, aku tidak ingin memperkeruh hubunganku dengan Nia. aku mencoba sabar dan selalu positif thinking terhadapnya. tapi entah kenapa semakin kesini semakin menjadi tingkahnya "Ucap Alan sedih
"Ya sudah, ayo kita jalan sekarang. keburu malam nanti malah mereka pulang duluan" Ajak Arif
Sepanjang perjalanan Alan yang berkonsentrasi mengemudikan mobil Arif memikirkan apa yang atasannya tadi sarankan.
"Apa sebaiknya aku selidiki Nia ya? tapi apa iya Nia berbuat yang tidak pentas dibelakangku. jika ternyata kecurigaan itu salah. bukankah nanti Nia akan semakin marah padaku"
"'Chiiitzzzz... "
Suara gesekan ban mobil dan aspal akibat pengereman
"Awas Lan" teriak Arif melihat Alan hampir menabrak mobil yang berhenti di depannya
"Maaf Bang, tolong maafkan saya. saya tidak sadar tadi kalau didepan ada mobil berhenti" terang Alan
__ADS_1
"Iya gak papa-papa, udah kita ganti posisi saja. biar aku saja yang nyetir" Ucap Arif turun dari mobil begitu juga dengan Alan. mereka bertukar posisi
Sekarang Arif yang mengemudikan mobilnya melakukan dengan kecepatan sedang menuju Mall tempat Ane dan teman-temannya berkumpul
"Lan, jangan bebani pikiran kamu. perbanyak doa dan minta petunjuk dari Alloh" ucap Arif menasehati
"Iya bang"
Tak butuh waktu lama kini keduanya samapai di Mall tempat Ane, Wawa dan Nia bertemu.
"Assalamu'alaikum"
"Walaikumsalam bang" jawab Ane dan Wawa
"Sini duduk bang" ucap Ane menepuk kursi di sampingnya.
"Bang Alan silahkan duduk" Wawa menawarkan
Alan tampak melihat sekitar untuk menemukan keberadaan Nia
"Nia dimana? katanya sama kalian? kok tidak ada? apa Nia ke toilet?" Alan mengeser kursi dan duduk didepan Ane
"Nia?" Ane dan wawa kompak keduanya berhadap-hadapan
"Lho bukankah, bukankah" Ane tampak bingung dan kembali menatap Wawa
"Bukankah apa kak?" Alan melihat Ane
"Em.. Gimana ya, begini Lan. tadi memang iya Nia dari sini cuma hanya sebentar. belum juga pesan minum. kesini cuma ngobrol bentar minta foto terus pulang" terang Ane
"Pulang, jadi Nia udah pulang?" Alan menatap Ane
"Bukakan kamu yang menyuruh Nia untuk pulang, karena Nana nangis?" sahut Wawa
"Hah.. aku?" Alan menunjuk dirinya sendiri
"Iya, tadi Nia bilang. kamu menyuruh dia untuk pulang?" Jawab Ane
"Astaghfirullah" Alan tertunduk lesu dan menyangga kepalanya dengan satu tangannya
__ADS_1
"Kenapa Lan? sebenarnya ada apa?" tanya Wawa
"Kenapa Nia jadi seperti ini? ternyata bukan hanya sama aku, sama kalian juga Nia bohong. aku sama sekali tidak pernah menyuruhnya pulang. bahkan aku kesini karena aku ingin ikut hangout bareng kalian supaya hubungan kami bisa mencair. tapi ternyata dia tidak disini. dan entah kemana perginya" ucap Alan frustasi
"Jangan suudzon dulu, siapa tau saat ini Nia sudah dirumah dengan Nana." ucap Nia melihat jam ditangannya
"Harusnya saat ini Nia sudah sampai rumah, coba telpon orang rumah" Ane menyarankan
Alan segera mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Mamanya
"Assalamu'alaikum ma"
"Walaikumsalam, ada apa Lan?" tanya bu Indah
"Tidak ada apa-apa ma, Nana lagi apa?"
"Nana, itu lagi bermain bersama papa. apa kamu mau bicara sama Nana?"
"Tidak ma, tidak usah. oya kalau Nia apa sudah dirumah?"
"Huh.. istri kamu itu, padahal kan piket pagi masak sampai sore begini belum pulang juga. bukankah harusnya jam dua siang tadi sudah pulang ya?" Bu Indah tampak kesal
"Jadi Nia belum pulang ma?" Alan mencoba menahan amarah
"Belum, memangnya ada apa?" tanya bu Indah
"Tidak ma, tidak apa-apa. ya sudah sebentar lagi Alan pulang. Assalamualaikum"
"Walaikumsalam" bu Indah menutup telpon
"Istri kamu belum sampai rumah Lan?" tanya Arif
"Belum bang" Alan tampak lesu dan mencoba menghubungi Nia tapi tidak juga diangkat.
"Em.. bagaimana kalau Ane saja yang telpon" Wawa memberikan saran
"Iya bener, tapi jangan langsung. kita kasih jeda waktu sebentar. biar Nia tidak curiga kita lagi bersama" ucap Arif
Alan hanya diam tampak lesu. pikirannya entah kemana, tidak pernah terlintas sedikitpun dipikirannya kalau istrinya akan berubah menjadi seperti ini. meskipun awal mereka menikah memang keduanya belum mengenal terlalu lama. karena saat itu Alan dan Nia adalah sama-sama orang yang ingin memperbaiki hidup bersama.
__ADS_1
Nia dulunya termasuk playgirl sedangkan Alan laki-laki playboy. hingga akhirnya mereka bertemu dan ingin memperbaiki diri dengan menikah tanpa pacaran terlalu lama. karena keduanya yakin. dengan latar belakang yang sama ke depannya bisa belajar meneta hidup bersama. awal pernikahan semua berjalan dengan sempurna, hingga kejenuhan Nia lantaran merasa kurang perhatian dengan Alan yang selalu sibuk bekerja.
^Happy Reading^