Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
CH 183


__ADS_3

"Anakmu ini sudah membuat murkanya Alloh. dia menghianati suaminya dan anak yang saat ini dikandung bukan anak suaminya" ucap pak Karsa berat


"Astaghfirullah, apa bener yang ayah katakan Nia?"


"Maafkan Nia ibuk, Nia minta maaf"


Mendengar permintaan maaf dari Nia dan tidak ada sanggahan darinya, menguatkan perkataan suaminya tentang perselingkuhan Putrinya.


Bu Iin merasakan kakinya terasa lunglai tak bertulang dan jatuh tersungkur kelantai.


"Ibuk, ibuk, bangun ibuk, bangun" tangis Nia pecah


Pak Karsa segera berlari dan membopong istrinya ke lamar.


Nia segera mengambil minyak angin untuk di basuhkan pada tangan dan kaki ibunya serta meletakkan didepan dihidung Bu Iin.


Tak lama Bu Iin perlahan membuka matanya, air matanya tiba-tiba menetes saat melihat Nia di depannya. Pak Karsa pun masih terdiam memikirkan kondisi istrinya dan menahan amarah terhadap putrinya.


"Hua.. Hua.." tangis Bu Iin pecah ketika melihat putrinya


"Kenapa kamu seperti ini Nia? keluarga kita semua keturunan baik-baik, tidak ada yang seperti kamu Nia. kenapa kamu bisa melakukan itu. dosa besar apa yang kamu lakukan Nia"


"Maaf bu, maafkan Nia. maafkan kesalahan Nia. Nia khilaf Bu"


"Ayah tanya sama kamu, apa kurangnya Alan sehingga kamu tega melakukan itu. mau kamu cari dimana laki-laki baik seperti Alan? bahkan Alan sangat baik terhadap kami. di sela-sela kesibukannya bahkan Alan masih bisa setiap hari mengubungi kami, menanyakan kabar kami. laki-laki yang seperti itu masih tega kamu khianati? Ayah malu mengakui kamu sebagai putri Ayah"ucap Pak Karsa penuh dengan kekecewaan


"Maaf ayah, maafkan Nia


"Apa dengan kamu minta maaf bisa mengembalikan keadaan? apa kamu bisa mengembalikan menantu kesayangan ayah. bahkan ayah tidak tau kita masih bisa bertemu dengan cucu kesayangan kita apa tidak. Alan sudah mengatakan kalau demi kebaikan Nana, Alan melarang kamu untuk bertemu dengan Nana. Alan tidak ingin Nana mengetahui seperti apa kelakuan wanita yang telah melahirkannya"


"Hua.. Hua.. maafkan Nia yah, Nia salah Nia berdosa"


"Lalu sekarang apa? mau kamu apakan anak yang saat ini ada dalam kandungan kamu?" Bu Iin menatap perut Nia yang masih datar


"Setelah perceraian Nia dan mas Alan selesai, mas Sigit akan menikahi Nia" jelas Nia


"Siapa itu Sigit? apa dia laki-laki yang berzina dengan kamu?" tanya pak Karsa


"Maaf yah, maafkan kesalahan kami" jawab Nia


"Suruh dia datang kemari" pak Karsa menghela nafas kasar, dengan berat hati berusaha menerima laki-laki yang dianggap sebagai perusak rumah tangga anaknya.


Nia ke kamar dan menghubungi Dokter Sigit memintanya untuk datang menemui ayah dan ibunya. namun hanya kekecewaan yang Nia dapatkan. Karena Dokter Sigit tidak ada rencana untuk bertemu dengan orang tua Nia


"Siapa yang bilang aku mau bertemu dengan orang tua kamu. oke aku akan menikahi kamu tapi cuma itu, jangan berharap lebih dari pernikahan kita. dan saat anak itu lahir, jika sampai terbukti dia bukan anakku. aku akan menceraikanmu kembali" ucap Dokter Sigit dari balik telpon


"Mas kenapa kamu seperti ini? Ayah dan ibuku ingin bertemu dengan mu"


"Untuk apa? aku tidak ingin berbasa-basi seolah aku menginginkan pernikahan ini. aku menikah dengan kamu hanya karena aku tidak ingin kamu menggunakan kehamilan kamu untuk mengganggu putriku" tegas Dokter Sigit


Nia kembali mematikan telponnya dan memegang dadanya yang terasa sesak, menyadari entah pernikahan seperti apa yang nantinya akan dijalani dengan dokter Sigit. mungkin pernikahannya kali ini akan menjadi pernikahan yang sangat buruk untuknya.


***


Dor.. dor..


Suara Arif melepaskan tembakan sebagai peringatan.

__ADS_1


Arif dan beberapa anggota Timnya sedang melakukan penangkapan terhadap terduga anggota begal yang berusaha melarikan diri.


Anggota begal yang terdiri dari sepuluh orang dan bersenjata tajam bahkan terus melawan dan mencoba untuk melakukan perlawanan terhadap aparat. sehingga menyebabkan adanya upaya peringatan dengan menembakkan senjata api.


Tak sampai disini dengan brutal para begal menyerang aparat menggunakan senjata tajam mereka


Bug.. bug..


surara baku hantam


Arif dan tim dengan berbekal ilmu bela diri yang sangat mumpuni berhasil membekuk para anggota begal.


Kendati demikian ada dua anggota begal yang harus dilarikan kerumah sakit karena terpaksa harus dilumpuhkan dengan tembakan di kakinya lantaran berusaha kabur saat akan ditangkap.


"Komandan terluka" teriak Diky melihat kemeja putih Arif menjadi merah dibagian lengannya.


"Bang, abang tidak apa-apa?" Tanya Alan yang segera merapat melihat keadaan Arif


"Tidak, tidak apa-apa. kalian bereskan mereka. ini hanya luka kecil" jawab Arif


"Kita segera kerumah sakit bang" ucap Alan lagi


"Tidak perlu ini hanya luka gores saja tadi saat mereka melawan dengan senjata. aku berusaha menghindar tapi tanganku sepertinya masih kena sedikit goresan"


"Lapor komandan, delapan tersangka sudah kami amankan dan dua tersangka yang terluka sudah kami bawa kerumah sakit bhayangkara"


"Okey, kalian bisa kembali ke mako, nanti segera buatkan BAP (Berita Acara periksaan) nya." jawab Arif sambil memegang tangan yang berlumur darah.


Dengan langkah gontai Arif lebih memilih untuk pulang kerumah, dari pada harus melakukan perawatan lukanya dirumah sakit.


Sesampainya dirumah Arif yang baru memasuki halaman parkiran rumahnya sudah disambut Ane yang dari tadi memang tidak bisa tidur lantaran hatinya merasa resah, sedari tadi Ane sudah mondar mandir keluar masuk rumah.


"Nyatanya pulang kan? gak tau bang, dari tadi hati dan pikiran Ane gak tenang. kepikiran abang terus" ucap Ane yang belum tau kalau suaminya luka


"Awww.. " teriak Arif ketika Ane bergelayut manja pada lengan yang masih tertutup jaket kulitnya.


"Kenapa bang?" Ane panik dan berusaha melihat lengan yang masih tertutup jaket kulit


"Gak papa, ayo masuk dulu saja!" ucap Arif menggandeng istrinya masuk kedalam rumah.


Sesampainya dikamar Ane segera membantu Arif melepaskan jaket kulit yang sedari tadi digunakan.


"Astaghfirullah" Ane tercengang melihat kemeja putih Arif dilumuri darah.


"Abang kenapa? apa ini belum diobati? kenapa tidak langsung kerumah sakit. lihat darah abang banyak yang keluar" Ane panik


"Abang gak papa, ini hanya luka luar, diobati dirumah saja" jawab Arif senyum tidak ingin membuat istrinya panik


Ane segera mengambil kotak obat dan bergegas membersihkan luka suaminya, dengan sangat telaten Ane mengobati luka suaminya.


"Bang, ini lumayan dalam lho lukanya, apa tidak sebaiknya kerumah sakit saja biar dijahit?"


"Tidak usah sayang, ini. cuma luka kecil"


"Aggww.. agwww.. pelan-pelan sayang" gerutu Arif


"Katanya luka kecil, masak gitu aja kesakitan?"

__ADS_1


"Iya tapi jangan gitu juga dong sayang"


"Lho kenapa nangis?" Arif menyeka air mata Ane yang tiba-tiba menetes


"Ane takut, Ane takut abang kenapa-kenapa" ucap Ane lirih


"Hai.. jangan nangis nanti cantiknya hilang lho" goda Arif menyeka air mata Ane


"Abang igh.. malah bercanda, Ane ini serius bang, Ane gak mau abang kenapa-kenapa" Ane terisak


"Iya sayang, sini, sini Abang peluk. cup ya jangan menangis. kan abang gak papa, ini hanya luka ringan saja" Arif memeluk Ane dan mengusap punggung istrinya lembut untuk membuat Ane tenang


"Bagaimana ceritanya abang bisa kena luka sayat seperti ini?" Ane yang masih dalam pelukan Arif menengadahkan wajahnya menatap Arif


"Tadi saat abang melakukan penangkapa begal, mereka berusaha melawan aparat sehingga terjadilah baku hantam dan kontak senjata, dan saat abang berusaha menghindari ternyata tangan Abang terkena sayatan parang dari salah satu anggota begal"


"Astaghfirullah, terus gimana bang? apa anggota begalnya sudah tertangkap?" Ane menarik diri dari pelukan suaminya


"Alhamdulillah Sepuluh anggota begal berhasil kita bekuk dan saat ini sedang dalam pengembangan perkara."


"Alhamdulillah kalau para begal itu sudah tertangkap, karena mereka itu sangat meresahkan warga bang"


****


Keesokan harinya selepas subuh Arif bermain bersama Amar melihat luka ditangan anaknya membuat Bu Imah cemas


"Arif tangan kamu kenapa?" Bu Imah mendekat dan melihat tangan arif yang sudah diperban dengan kasa


"Tidak apa-apa ma, ini semalam terkena sayatan sewaktu melakukan penangkapan anggota begal" terang Arif


"Astaghfirullah Arif, lain kali hati-hati saat bertugas. pantasan saja dari semalam istri kamu itu seperti orang bingung mondar mandir. mungkin firasat kalau kamu kenapa-kenapa"


"Apa hari ini kamu masuk ke kantor lagi Rif?" tanya Bu Imah


"Iya ma, hari ini Arif kekantor sebentar tarus main ke perusahaan, nanti siang ada meeting sama klien"


"Apa tidak sebaiknya hari ini abang istirahat dulu?" sahut Ane yang baru keluar dari dapur membawakan teh hangat untuk suaminya


"Tidak bisa sayang, abang pagi ini harus kekantor untuk melakukan penyelidikan guna pengembangan kasus yang semalam. karena ada kemungkinan para begal ini tidak bekerja sendiri."


"Ya sudah kalau gitu sepulang dari kantor tidak usah mampir ke perusahaan, langsung pulang kerumah istirahat" ucap Ane


"Gak bisa juga sayang, soalnya meeting ini sangat penting. tidak bisa diwakilkan"


"Ya sudah lah, mau dilarang kayak apa juga tetep harus berangkat kan?" ucap Ane memanyunkan bibirnya


"Maaf ya sayang, jangan ngambek gitu. abang faham, adik mengkhawatirkan abang, InsyaAlloh abang akan baik-baik saja" ucap Arif mencium kening Ane


***


Sesampainya dikantor Arif langsung berkutat dengan segudang pekerjaan yang sudah menanti diatas mejanya. termasuk melihat berkas-berkas perkara yang harus segera masuk ke kejaksaan.


"Selamat siang ndan" ucap Rama


"Masuk"


"Lapor ndan, untuk kasus begal yang tertangkap semalam sudah kami lakukan penyidikan, memang benar sepertinya ada penadah hasil kejahatan dibelakangnya, tapi sampai saat ini tersangka masih bungkam belum mau menyebut nama yang ada dibelakangnya saat diinterogasi"

__ADS_1


"Okey, besok lakukan kembali interogasi sampai keluar namanya. karena hasil pengembangan kasus ini nanti, seperti akan menyeret banyak pihak. lanjutkan penyidikan dan interogasi kembali" perintah Arif


"Siap laksanakan"


__ADS_2