
Dikantor semua anggota Arif sudah berkumpul, mereka mengatur strategi penangkapan mafia narkoba yang selama ini selalu saja lolos dari kejarannya. selain pengedar narkoba terget juga seorang penyelundup kendaraan bermotor bahkan mobil tipe terbaru pun lolos dalam penyelundupannya. tentu saja untuk kasus sebesar ini tidak mungkin bisa berjalan sendiri tanpa ada mafia besar dibelakangnya.
kali ini semua dilakukan dengan sangat hati-hati, tidak ingin sampai lolos kembali.
semua personil digerakkan untuk mengepung target.
Setelah mengarahkan anak buahnya Arif dan yang lain segera menuju lokasi tempat terjadinya transaksi jual beli narkoba dan kendaraan yang diduga hasil penyelundupan dari pelabuhan. disinyalir hasil tindak kejahatan.
"Berhenti, letakkan senjata kalian, tempat ini sudah terkepung" ucap Arif mengarahkan senjatanya beserta beberapa anggota yang berseragam lengkap dengan senjata
Tersangka awalnya meletakkan senjata mereka tapi tanpa diduga
Dor..
ada peluru yang nyasar mengenai dada Viko
kini Viko jatuh bersimpuh dengan tangan memegangi dada nya yang berlumur kan darah.
"Vik.. Viko.. " teriak Arif dan Dor.. Arif menembakkan satu tembakan tepat didada tersangka.
Anggota yang lain segera membekuk tersangka lainnya dan memborgol nya.
Wiuw... wiuw...
Tak lama berselang suara ambulan pun datang.
Namun karena peluru menyasar tepat dijantung Viko membuat Viko tak mampu bertahan dan menutup mata ditempat.
Iya kini Viko telah gugur dalam tugas membela NKRI.
Arif tak kuasa menahan air matanya. kenangan masa lalu bersama Viko muncul di benaknya. kenangan saat masih SMA, kenangan saat Bersama-sama mendaftarkan diri ke AKPOL, dan kenangan saat bertugas bersama. Viko adalah teman yang selalu memberikan motivasi untuk Arif. dalam pekerjaan ataupun percintaan Arif.
Semua yang ada disana menangisi kepergian Viko.
Arif yang saat ini sudah kembali ke kantornya menghubungi Ane istrinya.
"Ane, Viko.. Viko" Arif tak kuasa meneruskan perkataannya
"Iya bang, Ane sudah tau barusan membaca berita digrup bhayangkari kalau bang Viko gugur dalam tugas. abang yang sabar ya. Ane mengerti pasti sulit untuk abang merelakan, karena kalian bersahabat sudah cukup lama. bang, menangis boleh tapi jangan sampai meratapi. kasian almarhum!" Ane menasehati
__ADS_1
"Ini Ane persiapan mau kesana bang dengan beberapa pengurus, untuk memberi tau istri Bang Viko." ucap Ane
"Kamu hati-hati, ini sudah malam. apa biar abang jemput saja ya" ucap Arif
'Tidak usah Bang, Ane sudah memesan taxi tadi. ini tinggal nunggu taxi datang"
"Ya sudah Ane tutup dulu ya, Assalamu'alaikum"
"Walaikumsalam"
Tak lama Ane sampai kantor. Arif dan beberapa rombongan bhayangkari termasuk Ane menuju kediaman Viko
"Tok.. tok..
"Assalamu'alaikum"
"Walaikumsalam" jawab istri Viko yang sudah tidur terbangun karena ada salam dan mengetuk pintu
Dibukakan nya pintu, Istri Viko terdiam melihat polisi dan beberapa ibu-ibu berseragam bhayangkari berdiri didepan pintu.
Firasatnya mulai tidak enak, seolah sekarang tau maksud kedatangan polisi dan ibu-ibu bhayangkari ini tengah malam datang ke rumah nya.
"Apa dia selamat?" kata yang keluar dari mulut istri Viko setelah cukup lama semua orang disana mematung.
Semua orang menatapnya tidak menyangka kata itu langsung keluar dari mulut istri Viko.
"Mbak.. mbak yang sabar ya" Ane berjalan mendekat dan memegang tangan istri Viko
mendengar kata yang keluar dari mulut Ane dengan kata "sabar" membuat nya semakin yakin suaminya sedang tidak baik-baik saja.
"Katakan apa suamiku selamat?" istri viko menatap Ane. namun Ane merasa ragu untuk menyampaikan berita duka tersebut. sebagai seorang istri yang pernah hampir kehilangan nyawa suami yang dicintainya. tentu saja Ane bisa merasakan seperti apa rasa sakitnya.
"Bu Viko" ucap Arif dan terdiam sejenak
"dengan berat hati kami harus menyampaikan, Pak Viko telah kembali pada Alloh saat mengemban tugas. beliau gugur dalam tugas." ucap Arif dengan berat hati air mata Arif pun tak kuasa lagi untuk dibentung.
Tidak ada kata yang keluar dari mulut istri Viko, kakinya merasa lemas dan bruk..
Dengan sigap Arif mengkapnya hingga tidak sampai jatuh ke lantai.
__ADS_1
Ane membantu suaminya membawa istri Viko masuk kedalam rumah.
Selang beberapa saat terdengar sayup-sayup lantunan orang-orang membacakan ayat suci Al-Quran dirumahnya.
Pelan Istri Viko membuka matanya, dilihatlah beberapa orang didalam kamarnya lantunan. terlihat semua orang menangis kecuali dua anaknya yang saat itu berada disamping mamanya tapi belum menyadari hal apa yang sedang terjadi.
"Ma, ada apa? kenapa semua menangis? dan kenapa mama tidurnya lama?" tanya salah satu anak Viko
Tidak ada jawaban istri Viko langsung memeluk putranya erat
melihat pemandangan ini, hati Ane dan yang lain semakin terasa perih.
Ane mendekati anak-anak Viko. memberi pengertian kalau Alloh menyayangi ayah mereka.
"Apa benar ma?"
istri Viko menganggukkan kepalanya membenarkan
Setelah melewati beberapa prosedur jenazah Viko sampai di kediaman. dan dimakamkan keesokan harinya lantara menunggu kedatangan orang tua Viko yang saat itu sedang berada di luar kota.
Semua orang berkumpul dengan berderai air mata, upacara pemakaman telah dilakukan sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasa Viko selama berdinas.
Tangisan dari rekan-rekan dan keluarganya mengiringi kepergian Viko.
Tampak Nina dan Gilang suaminya juga mengantarkan kepergian sahabat mereka. iya Arif, Viko, Nina adalah teman seperjuangan.
Bersama-sama berjuang menjadi seorang perwira polisi. dan kini takdir sudah menentukan Viko kembali ke kepangkuan Alloh lebih dulu.
Selesai dari pemakaman, Arif tampak lesu menyandarkan kepalanya.
"Bang, diminum tehnya" ucap Ane membawa secangkir teh dan kue brownis
Viko hanya diam tak menjawab
"Bang, Ane tau Abang merasa sedih dan kehilangan tapi abang juga harus makan dan minum. sejak tadi malam Ane belum melihat abang makan dan minum dengan baik" ucap Ane menggenggam tangan suaminya.
"Abang merasa bersalah tidak bisa melindungi Viko yang saat ada di dekat abang" Arif mengingat kejadian na'as itu
"Abang, jangan menyalahkan diri sendiri, apa yang dialami bang Viko adalah takdir yang tidak bisa dihindari. jangan menyalahkan diri sendiri karena abang bukan Tuhan yang bisa merubah takdir" ucap Ane menyadarkan Arif kalau dirinya hanya manusia biasa yang tidak bisa melawan takdir yang sudah tetapkan Alloh.
__ADS_1