Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
CH 190


__ADS_3

Dret.. dret..


Panggilan masuk dari Wawa dihape Nia


"Assalamu'alaikum Nia"


"Walaikumsalam, ada apa pagi-pagi begini udah nelpon?" tanya Nia


"Cuma mau mengingatkan, Nanti siang jadi kan meetup? Yeni juga udah di Semarang saat ini." ucap Wawa


"Eh.. emhh.. hari ini ya acaranya?" Nia yang lupa dengan janji ketemu sahabat-sahabatnya


"Iya, kan udah kita rencanakan ini lama. jangan bilang kalau kamu lupa ya?" tanya Wawa


"Maaf, maaf aku benar-benar lupa, okey deh aku tidak janji tapi aku akan usahakan ya" jawab Nia yang sebenarnya merasa badannya lemah


"Nia.. Nia.." teriak mama Dokter Sigit


"I-Iya ma ada apa?"


"Ada apa kamu bilang? kenapa tidak ada apa-apa dimeja makan? kamu tidak masak?kamu tau kan sebentar lagi Tasya harus berangkat ke sekolah kenapa belum ada sarapan?"


"Maaf ma, tapi Nia hari ini tidak enak badan. jadi Nia bangun kesiangan dan belum sempat masak"


"Bangun kesiangan kamu bilang? kamu pikir kamu itu ratu yang bisa seenaknya sendiri disini. dasar menantu tidak tau diri, sekarang kamu masak buat kita"


"Ta-tapi ma"


"Kanapa? gak mau masak buat kita? mau bermalas-malasan disini?"


"Bukan ma, bukan begitu tapi Nia sedang tidak enak badan. badan Nia rasanya lemas ma"


"Alasan saja, cepet bikin sarapan"


Dokter Sigit yang mendengar perdebatan istri dan mamanya hanya diam tak merespon dan tetep Asyik memainkan ponsel ditangannya.


Setelah membuat sarapan Nia yang wajahnya pucat kembali ke kamarnya dan melihat Dokter Sigit yang sudah rapi.


"Mas mau kemana?"


"Keluar" jawabannya singkat


"Mas kenapa mas diam saja melihat mama bersikap seperti itu?"


"Lalu aku harus bagaimana? kamu mau menyuruhku memberontak sama mama?" jawab Dokter Sigit


"Bukan begitu mas, tapi aku ini kan sedang hamil. kamu kan tau mas kalau orang hamil itu harus banyak istirahat."


"Lalu kamu mau mama yang masak sarapan buat kamu gitu?"


"Kenapa kita tidak menyewa pembantu rumah tangga saja mas?"


"Nyewa pembantu? kamu pikir uang dari mana buat sewa pembantu? mana janji orang tua kamu untuk membuatkan kita klinik?" Dokter Sigit menatap sinis kearah Nia

__ADS_1


"Mas, kalau masalah klinik sabar dulu ya. ayah dan ibu tidak akan ingkar janji. Hanya saja semua kan butuh proses. menjual sawah juga tidak semudah itu mas harus sabar" ucap Nia


"Iya, tapi semakin lama. Tabunganku juga akan semakin habis kalau tidak ada pemasukan. belum lagi ditambah dengan kamu. uangku akan semakin habis kalau kayak gini"


"Mas, kenapa bicara seperti itu? memang aku minta apa? bukankah selama kita menikah aku cuma minta dibelikan Vitamin dan susu hamil itu pun buat anak kita mas?" Nia menatap nanar Dokter Sigit


"Kamu pikir belinya itu tidak pakek uang? sedangkan kamu tidak menghasilkan apa-apa"


"Mas, kenapa kamu benar-benar berubah seperti ini?" Nia meneteskan air matanya.


Melihat Nia menangis tidak sedikitpun ada keinginan untuk menghibur istrinya justru Dokter Sigit segera keluar dan tampak muak dengan Sikap Nia.


Nia tidak menyanga menikah dengan Dokter Sigit yang awalnya dikira akan bahagia, hidup bergelimang harta, menyandang status sebagai istri Dokter kandungan. namun ternyata hal semacam itu hanya ada didalam angan-angannya sendiri. jangankan meraup kebahagiaan yang ada sekarang dirinya diperlakukan layaknya seorang pembantu dirumah ini.


"Tante.. tante Nia" Teriak Tasya


Nia yang hendak merebahkan tubuhnya yang terasa sangat capek dan lemah harus kembali bangun karena teriakan dari anak tirinya


"Iya ada apa Sya, kepala tante pusing Sya tolong jangan teriak-teriak ya sya!"


"Buatkan Tasya bekal buat kesekolah"


"Ini kan mama sudah masak sarapan sya, tinggal kamu masukan kedalam kotak bekal kan?" ucap Nia


"Tasya tidak mau bawa bekal dengan masakan yang sama dengan sarapan. bekal itu buat Tasya makan nanti siang"


"Iya tapi mama capek sya?"


"Jangan pernah mengatakan kalau kamu mama Tasya. selamanya kamu bukan mama Tasya"


"Nenek, tante tidak mau membuatkan bekal makan siang buat Tasya" Tasya bergelayut manja pada neneknya


"Hai kamu? kenapa tidak mau membuatkan bekal makan siang buat cucu saya? sudah bosan kamu jadi istri Sigit?" Mama Dokter Sigit menatap sinis kearah Nia


"Ma, Nia benar-benar lemah. Nia ini sedang hamil ma"


"Alasan saja, jangan manja kalau masih ingin menjadi menantu dirumah ini" tegas Mama Dokter Sigit


"Tapi ma"


"Cepet bikin atau keluar dari rumah ini"


"Baiklah Tasya, mama akan buatkan. Tasya mau bawa bekal apa?"


"Sudah Tasya katakan jangan berlagak seperti mama Tasya. sekarang buatkan Tasya salad buah dengan toping coklat dan keju"


"Baik tante akan buatkan"


Nia kedapur dengan derai air mata mengupas buah untuk membuatkan bekal anak tiri yang memperlakuannya layaknya seorang pembantu.


****


Disebauh Cafe tempat Ane, Nur, wawa, Yeni dan Nia biasanya nongkrong dari jaman mereka kuliah hingga sekarang saat mereka berkumpul.

__ADS_1


"Kenapa Nia belum datang juga?" tanya Yeni


"Coba saja hubungi lagi" ucap Wawa


Yeni mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Nia


"Assalamu'alaikum"


"Walaikumsalam, Nia kamu jadi kan ke sini? udah kita tungguin dari tadi" tanya Yeni


"Maafkan aku ya Yen, seperti aku tidak bisa ikut kumpul kalian sekarang. next time deh aku pasti ikut" jawab Nia


"Ya elah, kita udah tungguin lho dari tadi. kenapa tiba-tiba bilang gak bisa. mentang-mentang pengantin baru, apa segitunya gak mau jauh-jauh dari suami?" goda Yeni


"Kamu ini yen, maaf ya sebenarnya aku juga kangen banget sama kalian. tapi mau gimana lagi? suamiku kan ini sedang persiapan bikin klinik jadi aku lumayan repot membantu mas Sigit" jawab Nia


"Wah Bu Dokter Sigit ini habat sekali, untuk mau punya klinik sendiri sekarang. enak ya punya suami Dokter bisa berkolaborasi" kembali Yeni menggoda


Setelah menutup telpon Nia menangis kembali memikirkan nasibnya yang malang. jangankan bisa kumpul dengan sahabat-sahabtnya. ingin istirahat saja hampir tidak bisa karena mertuanya yang terus memberikan pekerjaan rumah yang seolah tidak ada hentinya.


"Kenapa si Nia? dia gak jadi kesini?" tanya Ane


"Gak jadi, katanya sih lagi sibuk bikin klinik" jawab Yeni


"Ya syukurlah kalau itu benar adanya. Alhamdulillah kalau sekarang Nia bahagia setelah meninggalkan Alan dan anaknya" ucap Ane lagi


"Kalau dipikir kasian juga ya Nana, ibunya malah bahagia dengan laki-laki lain"


"Tapi aku yakin, Alan bisa merawat Nana dengan baik walaupun tanpa Nia. kalau dipikir memang kasian tapi lebih kasian lagi kalau seorang anak tumbuh dengan ibu yang seperti itu" ucap Wawa


"Sudahlah tidak usah bahas Nia lagi, itu sudah menjadi pilihan hidupnya" sahut Ane


"Kamu sendiri gimana Yen, sampai kapan ada disini?"


"Suamiku cuma dapat cuti satu bulan, jadi disini cuma satu bulan mungkin" jawab Yeni


"Wah harus dimanfaatkan dengan baik itu waktunya" ucap Wawa


"Kamu sendiri gimana Wa? apa suami kamu sudah sembuh?" tanya Yeni


"Alhamdulillah sudah membaik. cuma menghilangkan rasa trauma nya itu yang lumayan butuh waktu. setiap mendengar suara seperti tembakan atau ledakan. akan kembali histeris" Ucap Wawa dengan mata berkaca-kaca


"Yang sabar ya Wa, kita akan mendoakan semoga suami kamu segera pulih" ucap Wawa dan semua mengaminkan


"Kamu beneran gak mau jadi bidan lagi Ne?" tanya Yeni yang baru tau kalau sekarang Ane sudah tidak bekerja


"Aku mau fokus sama keluarga saja yen"jawab Ane


"Bagus sih fokus sama keluarga. tapi entah kenapa kalau aku tidak bekerja aku merasa takut kalau suatu saat tidak dihargai lagi sama suami"


"Sebenarnya kalau itu sih pilihan, kalau menurutku asal keduanya sama-sama saling mengerti dengan tugas masing-masing semua itu tidak akan terjadi. intinya dalam suatu keluarga harus didasari pemahaman agama yang kuat biar hal seperti itu tidak akan pernah terjadi"


"Iya sih kamu bener Ne, cuma aku takut saja karena kamu tau sendiri kan, banyak banget wanita diluar sana yang menginginkan suami kita."

__ADS_1


^Happy Reading^


__ADS_2