Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
CH 239


__ADS_3

Pak Karsa menghela nafas kasar dan menganggukkan kepala sebagai jawaban


"Ja-jadi benar apa yang papa katakan? jadi mama benar-benar meninggalkan kami karena berselingkuh dengan laki-laki lain. tapi kenapa mama setega itu nek?" ucap Nana terisak dan Dokter Anggun segera memeluknya.


"Nana, sekarang mama kandung kamu sudah membayar untuk semua kesalahan yang pernah dilakukan pada kalian."


"Apa maksud nenek dan kakek, kalau mama sudah menebus kesalahannya, kenapa mama tidak pernah berusaha menemui Nana? memang dimana mama selama ini?" tanya Nana dengan mata berkaca-kaca


"Selama sepuluh tahun, mama kandung kamu harus menebus kesalahan yang pernah dilakukan dipenjara" ucap Bu Iin


"Di penjara? kenapa mama kandung Nana bisa sampai dipenjara?" Nana membulatkan matanya


"Saat mama kamu pergi meninggalkan kita, mama kamu sedang hamil anak dari laki-laki selingkuhan mama kamu, yang membuat mau tidak mau, laki-laki itu harus menikahi mama kamu. tapi ternyata mama kamu tidak bahagia bersama dengan laki-laki itu, singkat cerita laki-laki itu tidak memperlakukan mama kamu dengan baik. sehingga mama kamu harus kehilangan anak yang saat itu dikandungnya. dan setelah itu sepertinya banyak masalah dalam rumah tangga mereka, yang membuat mama kamu kehabisan kesadaran dan mencoba membunuh laki-laki itu"terang Alan


"Astaghfirullah hal adzim, apa benar mama Nana seperti itu? jadi Nana ini anak penjahat?" gumam Nana terisak dan menangis dipelukan dokter Anggun


"Sayang setiap manusia pernah melakukan kesalahan, tidak ada satupun manusia yang tidak pernah melakukan salah. Nana tidak boleh berkata seperti itu. biar bagaimana itu mama kandung Nana yang wajib Nana hormati. terlepas dari kesalahan dimasa lalunya. mama kandung Nana tetplah wanita yang wajib Nana hormati. jangan pernah membencinya." ucap Dokter Anggun


"Tapi dia sudah meninggalkan Nana ma, dia tidak memikirkan Nana dan papa, dia wanita jahat yang pernah Nana dengar" ucap Nana dengan suara meninggi


"Mama kamu memang salah sayang, mama sudah meninggalkan kamu dan papa kamu saat itu karena tergoda laki-laki lain. nenek dan kakek pun sangat marah saat itu, tapi sekarang mama kamu sudah banyak berubah. mama kamu sangat merindukan kamu dan ingin memeluk kamu, tapi mama tidak berani melakukan itu semua, karena menyadari kesalahan yang pernah diperbuatnya." ucap bu Iin meneteskan air mata


"Apa ayah dan ibu sekarang sudah mengetahui keberadaan Nia?" tanya Alan


"Iya sudah nak Alan, Nia sekarang sudah kembali pada suaminya. dia sekarang hidup bersama Sigit" jawab pak Karsa


"Alhamdulillah, Alan ikut lega. kalau memang seperti itu" ucap Alan


"Nana sekarang kamu sudah mengetahui apa yang selama ini ingin kamu ketahui. papa harap sekarang kamu mengerti kenapa selama ini papa merahasiakan semuanya dari kamu. papa hanya tidak ingin kamu terluka jika mengetahui bagaimana dulu mama kamu pergi meninggalkan kita. sekarang karena kamu sudah dewasa dan sekarang kamu sudah mengetahui semuanya. papa tidak akan menghalangi kamu lagi, jika kamu ingin bertemu dengan mama kamu. pergilah. temui mama kamu, papa tidak akan lagi melarang" ucap Alan yang kini sudah tidak ingin menutupi kebenarannya


"Tidak, Nana tidak mau bertemu dengan wanita yang sudah jahat meninggalkan kita pah, Nana tidak mau memiliki mama seperti wanita itu, lebih baik Nana tidak pernah punya mama, dari pada harus mengakui mama yang sudah tega meninggalkan anak kandungnya sendiri hanya demi kebahagiaan dia sendiri" ucap Nana


"Nana, mama kamu sudah menyesali semua yang pernah dilakukan dimasa lalunya sayang, sekarang mama sudah berubah jauh lebih baik sayang" ucap bu Iin


"Tidak nek, Nana tidak mau memiliki mama yang berhati jahat seperti itu, Nana hanya mau papa sama mama Anggun" jawab Nana


"Ma, pa, maafkan Nana karena sudah berpikir buruk tentang kalian selama ini. maafkan Nana ma, pa" ucap Nana melihat Alan dan Dokter Anggun

__ADS_1


"Kamu tidak salah sayang, mama dan papa tidak menyalahkan kamu jika kamu berpikir buruk tentang kami. karena saat itu kamu memang belum mengerti tentang hal ini. Nana, kalau boleh mama beri saran. kamu buang rasa dendam dan benci yang ada di hati kamu. biar bagaimana, mama kandung kamu adalah wanita yang sudah mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan kamu kedunia ini. terlepas dari kesalahan yang pernah mama kandung kamu lakukan, tanpa dia kamu tidak akan pernah ada didunia ini." ucap Dokter Anggun


"Tidak ma, Nana tidak mau" ucap Nana berlari kekamar


"Ayah, ibu. saat ini Nana sedang bingung dan saat ini dia hanya belum bisa memahami semuanya. tapi nanti pelan-pelan InsyaAlloh Anggun akan mencoba berbicara lagi dengan Nana, agar bisa memaafkan mama kandungnya" ucap Dokter Anggun


"Terimakasih nak Anggun, kamu memang wanita yang sangat baik. padahal anak kami sudah menyakiti kamu. tapi kamu tidak pernah menaruh dendam pada Nia" ucap pak Karsa


"Saya hanya manusia biasa yah, bu. saya juga pernah sakit hati dengan Nia. tapi sekarang saya sadar. mungkin memang takdir yang harus saya jalani seperti ini. dan karena itu juga, Alloh mengirimkan mas Alan yang bisa menyayangi Anggun dengan tulus" jawab Dokter Anggun


Nana menjatuhkan tubuhnya dikasur dan menenggelamkan wajahnya dibantal.


Merasakan penyesalan karena harus mengetahui kenyataan tentang mama kandungnya. tidak pernah terlintas dibenak Nana, kalau mama kandungnya wanita seperti itu. wanita yang sudah tega meninggalkan suami dan anaknya. bahkan Nana tidak pernah menyangka kalau mama kandungnya itu seorang mantan narapidana karena percobaan pembunuhan.


***


Di kampus


Vita yang sudah sangat jelas selalu dicuekin oleh Amar, sepertinya tidak menyerah untuk terus mendekati Amar. berbekal parasnya yang cantik, otaknya yang pandai dan anak dari pengusaha tersohor di Surabaya. membuatnya yakin bisa mendapatkan cinta Amar.


"Hai.. Mar, apa tugas dari Dr.Bambang yang kemarin sudah kamu kerjakan?" tanya Vita


"Boleh aku lihat? sebenarnya aku sudah mengerjakan. tapi masih ada satu soal yang belum aku fahami" ucap Vita duduk disamping Amar


Tanpa menjawab Amar hanya meletakkan bukunya dimeja depan Vita.


Vita langsung membuka dan melihat pekerjaan Amar.


"Oya, kamu bisa jelaskan tidak kenapa ini jawabnya tidak sama dengan jawabanku?" tanya Vita melihat pekerjaan Amar


"Kalau kamu memiliki jawaban sendiri, untuk apa menayangkan jawabanku?" ucap Amar mengambil bukunya kembali dan memasukkan ke dalam tas


"Kok, diambil bukunya? maksudku itu, aku ingin berdiskusi dengan kamu, kenapa jawaban kita bisa berbeda."


"Jawaban kita tidak harus sama, kenapa juga jawaban kita harus sama" ucap Amar berlalu


"Amar, tunggu. aku belum selesai bicara" ucap Vita mengikuti Amar hingga kelasnya

__ADS_1


Selama pelajaran, Amar tampak begitu serius mengikuti perkuliahan. sedangkan Vita mencuri pandang kearah Amar sungguh Vita sangat mengagumi ketampanan dan kecerdasan Amar.


"Vita, bapak perhatian kamu tidak serius mengikuti kuliah bapak hari ini" tegur Dr. bambang yang saat ini mengisi kelas sebagai Dosen tamu disana.


"Serius pak, saya serius kok mengikuti kelas bapak" jawab Vita


"Okay kalau begitu, coba kamu terangkan kembali gambar anatomi manusia yang ada didepan saat ini" perintah Dr. bambang


Dengan rinci, Vita menjelaskan tentang anatomi manusia seperti yang Dr. Bambang terangkan bahkan tidak ada yang terlewatkan.


"Okey juga ternyata. padahal bapak perhatian dari tadi kamu fokus melihat Amar. tapi rupanya kamu masih bisa menyimak pelajaran dari saya" puji Dr. Bambang.


Semua mahasiswa di kelas bersorak kearah Vita dan Amar. namun bukan Amar namanya kalau tidak perduli dengan sorakan dari teman-teman dikelasnya. Amar dan Vita adalah mahasiswa terpandai diangkatan mereka. tidak heran banyak yang menjodoh-jodohkan mereka berdua untuk menjadi pasangan tapi semua itu tak membuat Amar tergerak sedikitpun hatinya. karena dihati Amar sudah ada satu nama yang mengisinya.


"Amar, kamu mau kemana?" tanya Vita menghampiri


"Pulang" jawab Amar singkat


"Kita pergi makan dulu yuk, aku traktir mau gak?" tanya Vita


"Wah, aku mau dong ditraktir juga" sahut Ranu


"Iya ayo aja, asal Amar mau ikut" jawab Vita


"Ayo Mar, kita makan siang bareng. mumpung ada yang mau traktir" ucap Ranu merangkul bahu Amar


"Kalian pergi saja sendiri. aku tidak bisa! aku ada urusan" jawab Amar.


"Urusan apa sih Mar? sebentar saja kok" bujuk Ranu


"Maaf aku tidak bisa" ucap Amar menuju parkiran dan mengambil mogenya


"Tapi kita jadi makan kan?" tanya Ranu pada Vita


"Makan saja sendiri" jawab Vita ketus dan berlalu


"Yaelah gagal deh, makan siang gratisnya" gumam Ranu menggaruk kepalanya yang tidak gatal

__ADS_1


^ Happy Reading ^


__ADS_2