Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
SALING MEMAHAMI


__ADS_3

Hari ini Arif dan Ane meluangkan waktu untuk menemani Amar jalan-jalan


Mereka berwisata ke kebun binatang yang letaknya juga tidak terlalu jauh dari rumah mereka.


Amar terlihat sangat bahagia dan antusias mengenali sekali melihat berbagai macam binatang.


"Bunda itu apa?" tanya Amar dengan Bahasa balita yang lucu


"Itu namanya Harimau sayang" Jawab Ane


"Kalau itu bun?"


"Yang itu namanya singa sayang"


"Kalau itu"


"Itu panda sayang"


"Igh... pinter banget anak bunda ini, rasa ingin tau nya sangat tinggi" ucap Ane


"Iya Amar ini sepertinya memang rasa ingin taunya tinggi, kemarin saja waktu abang ajak ke minimarket juga gitu, semau ditanyakan. ini untuk apa, itu untuk apa" ucap Arif


"Hahahahahaha.. " Ane tertawa


"Sayang minggu depan abang harus pergi keluar kota, mungkin sekitar satu minggu abang disana"


"Dalam rangka apa bang?"


"Ada pelatihan dari mabes, apa kamu mau ikut?"


"Emang boleh Ane ikut?"


"Boleh dong, nanti kamu dihotel. Alan juga ikut, suruh Nia ikut saja biar kamu ada temannya dihotel saat abang pelatihan"


"Coba deh nanti Ane tanya Nia dia libur tidak, soalnya dia kan kerja bang."


"Ayah, Amar mau itu?" ucap Amar menunjuk kembang gula


"Gimana bun? boleh tidak Amar makan itu?"


"Ya udah bang, belikan saja. sesekali tidak apa-apa, biar senang" ucap Ane senyum


"Pak yang ini satu ya" ucap Arif menunjuk kembang gula dan memberikannya pada Amar


"Hore... " Amar senang


"Tapi ingat ya sayang, makannya tidak boleh banyak-banyak dan sampai rumah nanti harus gosok gigi. mau?"


"Iya bunda" Amar mengangguk senyum


"Ayah mau dong nak" ucap Arif membuka mulutnya dan Amar memasukkan kembang gula kemulut ayahnya


"Bunda juga mau dong sayang"

__ADS_1


"Tidak boleh" ucap Amar dengan khas balitanya


"Kenapa tidak boleh? Ayah boleh?" gerutu Ane


"Hahaha... " Arif dan Amar ketawa


"Oow gitu ya, jadi sekarang Amar gitu? sayangnya cuma sama ayah? awas ya bunda kejar"


Ane berlari kecil mengejar Amar, iringan tawa ketiganya terdengar begitu membahagiakan.


Sebagai seorang anggota polisi dan pengusaha Arif memang banyak menghabiskan waktunya untuk pekerjaan, hampir sebagian waktunya habis hanya untuk urusan pekerjaan, tak heran Ane dan Amar jarang sekali bisa pergi berlibur seperti saat ini. walaupun perginya hanya dideket rumah tapi kebersamaan seperti ini sangat berarti bagi mereka.


Arif bersyukur memiliki istri seperti Ane, Wanita yang tidak pernah mengeluh sekalipun Arif menyadari didalam hatinya pasti Ane juga ingin bisa pergi berlibur atau hanya sekedar makan berdua. tapi kesibukan Arif membuatnya tidak bisa melakukan semua itu, itu yang membuat Arif sangat bersyukur memiliki istri seperti dirinya, tidak pernah mengeluh dan sangat memahami kesibukan suaminya.


Tidak banyak wanita diluar sana yang bisa sangat pengertian pada suaminya seperti Ane. kesibukan suami pasti akan dijadikan alasan untuk memicu pertengkaran.


Seperti yang saat di alami oleh Nia dan Alan.


Awal pernikahan semua biak-baik saja dan saling mengerti tuntutan pekerjaan satu sama lain, tapi seiringnya berjalannya waktu Nia dan Alan menjadi lebihh sensitif dan sering melampiaskan kemarahan mereka.


Tidak jarang Alan menjadi lebih suka berasap dikantor ketimbang harus pulang ke rumah untuk bertemu dengan Nia. karena setiap bertemu bukan melepaskan kerinduan tapi sebaliknya keduanya kerap sekali ribut. Nia yang menjadi lebih cemburuan dan Alan yang merasa terganggu dengan kecemburuan Nia yang dianggap tak beralasan.


Sebagai seorang anggota Polisi, tentu saja Alan punya tuntutan pekerjaan yang mungkin tidak sama dengan laki-laki lain di luar sana. apalagi keduanya bekerja. disaat Alan lepas dinas dan ingin menghabiskan waktu bersama anak dan istrinya yang ada Nia ganti piket. disaat Nia yang lepas dinas ganti Alan yang piket.


Hal ini yang terkadang menjadi kendala buat keduanya untuk bisa saling memahami.


"Mas mau kemana?" tanya Nia


"Kemana lagi kerja lah" Jawab Alan


"Ya mau gimana lagi, ada kasus yang harus mas tangani."


"Apa harus segitunya? kan ada Anggota yang lain. kenapa harus mas Alan yang menangani?"


"Karena dari awal kan memang mas yang pegang kasus ini. jd ya harus selesai sampai kasus dilimpahkan ke kejaksaan."


"Apa bukan cuma alasan mas Alan saja untuk menghindari Nia. mas tau kan hari ini Nia lepas dinas. Nia udah senang banget karena Nia pikir kita berdua hari ini sama-sama lepas dinas hari ini"


"Alasan bagaimana lagi Nia? tolong ya. mas juga capek dari kemarin belum istirahat. jangan diajak ribut. kalau boleh mas memilih, tentu saja mas pengen libur dirumah sama kamu sama anak kita. tapi kamu tau kan sebagai seorang anggota polisi mas harus siap dua puluh empat jam untuk melayani masyarakat."


"Kalau kamu tidak percaya kamu tanya saja sama kak Ane, bang Arif yang seorang perwira saja jarang dirumah. apalagi mas? pimpinannya saja bekerja sampai seperti itu, masak mas mau santai-santai"


"Entahlah mas, Nia cepek kayak gini terus. Nia juga ingin bisa menghabiskan waktu bersama suami Nia seperti teman-teman yang lain. bisa pergi liburan"


"Teman yang mana? cobalah kamu tanya kak Ane"


"Apa mas punya selingkuhan wani lain diluar sana?"


"Ya Alloh Nia, kenapa setiap debat ujung-ujungnya selalu menuduh mas selingkuh? ingat Nia ucapan itu doa. jadi hati-hati kalau bicara" Alan mulai kepancing emosi


"Oow.. jadi mas mau selingkuh, dan nanti kalau ketahuan mau bilang kalau mas selingkuh karena omongan Nia sendiri dan karena sering Nia tuduh akirnya benar-benar selingkuh gitu? iya kan? pasti nanti mau gitu kan kalau ketauan selingkuh?"


"Astaghfirullah, sudah lah Nia. percuma debat sama kamu. gak akan ada ujungnya. udahlah mas mau pergi dulu" ucap Alan pergi menyambar kunci motornya.

__ADS_1


Brak.. Alan membanting pintu kamar


"Astaghfirullah.. ada apa lagi dengan mereka. kenapa akhir-akhir ini mereka sering ribut ya pa? ucap bu Indah


"Iya ma, papa juga sedih melihat mereka seperti itu" pak sandy menarik nafas dalam


"Apa sebaiknya mama ajak mereka bicara ya pa?"


"Sebaiknya kita biarkan saja dulu ma, nanti kalau tidak ada perubahan juga, baru kita ajak mereka bicara. untuk saat ini sebaiknya kita biarkan saja mereka mencoba menyelesaikan masalah mereka sendiri. biarkan mereka mencoba bertumbuh agar kedepannya bisa saling memahami. karena dari apa yang papa lihat sepertinya mereka ini hanya kurang komunikasi"


"Sebenarnya mama lebih setuju kalau Nia berhenti bekerja saja. dan fokus pada suami dan anaknya"


"Ya, coba saja nanti kita bicara pelan-pelan memberikan pemahaman. tapi jangan memaksakan kehendak kita."


***


Ustadz Guntur dan Nur hari ini datang untuk mengunjungi Almira


"Assalamu'alaikum"


"Walaikumsalam mbak Nur" Tika senyum


"Mama.. " ucap Almira yang sudah mulai menyukai kedatangan Nur


"Sayang, sini peluk mama" ucap Nur membuka tangannya


Ustadz Guntur senyum melihat keduanya berpelukkan.


"Almira, kenalin ini namanya ustadz Guntur" ucap Nur mengenalkan ustadz Guntur pada Almira


"Hai... anak cantik namanya siapa?" tanya ustadz Guntur sedikit berjongkok untuk mengimbangi Almira


"Almira" Jawab Almira malu-malu dipelukan Nur


"Mbak, ayo masuk dulu" ucap Tika menyuruh keduanya masuk


"Hai Nur, kamu datang sama siapa?" tanya bu Risma melihat ustadz Guntur


"Ini ustadz Guntur tante, ustadz dimana tempat Ane belajar di pesantren"


"Oow.. selamat siang ustadz. Tika tolong buatkan minuman buat Nur dan ustadz Guntur" Bu Risma melihat Tika.


"Tidak usah repot-repot tante" ucap Nur


"Tidak kok mbak, tidak repot" Ucap Tika senyum


Bu Risma memandang ustadz Guntur dengan seksama dan sepertinya merasa ada hubungan lebih antara Nur dan Ustadz Guntur. karena tidak mungkin seorang ustadz akan datang kesini menemani Nur menjenguk anaknya kalau tidak ada hubungannya lebih diantara mereka.


"T


^ Happy Reading^


Jangan lupa Like, coment dan vote nya ya! dukungan kalian sangat berarti bagi Author๐Ÿ™๐Ÿ˜ ๐Ÿ˜˜

__ADS_1


.


__ADS_2