Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
CH 179


__ADS_3

Hari ini Ana bersama dengan rombongan Ibu-ibu bhayangkari, melakukan Bansos ke beberapa panti asuhan, dan menyambangi beberapa anak-anak anggota Polisi yang ayahnya meninggal dalam menjalankan tugas.


"Bu Viko sudah lama kita tidak bertemu, anak-anak bagaimana bu kabarnya?" tanya Ane pada istri Viko


"Alhamdulillah semua sehat bu Arif, berkat bantuan Pak Arif dan bu Arif yang setiap bulannya selalu membantu anak-anak, beben saya menjadi sedikit ringan bu. bantuan dari kalian sangat berarti bagi kami. karena uang pensiun bang Viko terkadang juga tidak cukup untuk biaya kami. bu Arif tau sendiri, gaji bidan sebagai tenaga kontrak berapa, untung ada kalian yang selalu membantu kami setiap bulannya" bu Viko tampak sedih


"Bu Viko yang sabar ya, InsyaAlloh Alloh pasti akan selalu membantu bu Viko dan anak-anak." Ane berusaha menguatkan walapun Ane tau pasti ini semua tidaklah mudah, bagi Bu Viko yang harus mengandalkan uang pensiun, Bu Viko memang bekerja sebagai tenaga Bidan kontrak tapi gaji yang didapatkan mungkin tidak akan cukup untuk menyewa seorang pengasuh, karena anak-anaknya masih kecil dan butuh seorang pengasuh setiap ditinggal bekerja belum lagi biaya sekolah anak sulungnya.


"Iya bu Arif, saat ini saya juga sedang memikirkan cara untuk bisa mendapatkan penghasilan tambahan untuk bisa memenuhi semua kebutuhan kami. oya bu kenapa saya mendengar berita kalau istrinya Alan selingkuh, dan mereka mau bercerai? apa itu benar?"


"Benar Bu Viko mereka memang mau bercerai"


"Astaghfirullah, kasian sekali Alan. dia orang baik padahal. kenapa bisa istrinya seperti itu?"


"Entahlah bu, mungkin sedang dapat cobaan. saya juga gak mau terlalu mencampuri urusan rumah tangga orang lain" ucap Ane


"Padahal dari awal saya sudah bilang sama Arif kalau istrinya Alan itu wanita tidak baik. tapi bu Arif masih saja berteman dengan wanita seperti itu. saudara saya saja sekarang juga tidak mau berteman dengan wanita itu. soalnya dari pihak rumah sakit melarang ada yang masih berkomunikasi dengan wanita itu" sahut Bu Toni


"Kok bisa pihak rumah sakit, membuat aturan seperti itu?" Ane tercengang


"Bisa lah bu, apa Bu Arif ini tidak tau kalau pemilik rumah sakit itu istrinya Dokter yang selingkuh dengan Bu Alan. kabarnya juga si selingkuhan bu Alan ini udah ditendang dari rumah sakit. entah seperti apa hidup mereka berdua setelah ini. karena pemilik rumah sakit ini bukan orang sembarangan"


"Ja-jadi sekali Nia udah tidak bekerja lagi disana?" tanya Ane


"Sudah lama sejak kasus itu terbongkar pasangan selingkuh itu sepertinya langsung didepak dari rumah sakit"


"Astaghfirullah" gumam Ane


"Kenapa bu? mereka pantas mendapatkan hukuman seperti itu, itu hukuman kalau orang doyan selingkuh" ucap Bu Toni


***


Selepas acara Baksos Ane pulang ke rumah


"Bunda" Amar berlari ingin memeluk bundanya saat melihat Ane yang. baru saja masuk rumah


"Sebentar ya sayang! Bunda bersih-bersih dulu. soalnya kan kotor dari luar"


"Iya Bunda" jawab Amar patuh


"Amar sama nenek dulu, bunda biar mandi dulu ya. ayo kita kebelakang sama kakek kasih makan ikan"


"Terimakasih ya ma, Ane mandi sebentar ya"

__ADS_1


"Iya, sana mandi. Amar biar sama mama"


Dikamar Ane segera membersihkan diri dan berganti dengan pakaian rumah yang lebih nyaman.


Ane mengambil ponselnya dan menghubungi suaminya


"Assalamu'alaikum bang"


"Walaikumsalam sayang, bagaimana acaranya?"


"Alhamdulillah lancar, ini sudah dirumah. nanti sore jadi ke rumah Alan menjenguk Nana?"


"Iya sayang, abang usahakan bisa pulang cepat hari ini"


"Ya sudah bang, Ane mau main sama Amar dulu Assalamu'alaikum"


"Walaikumsalam" Arif menutup panggilan teleponnya


***


"Amar sayang" ucap Ane membuka tangannya


"Bunda" Amar berlari dan memeluk bundanya


"Iya Amar kangen bunda, muach. . " Amar memeluk bundanya manja dan mencium pipi bundanya


"Bunda juga kangen sama Amar, Amar sudah makan tadi?"


"Sudah, tadi nenek masak enak bunda. nenek masak pasta kesukaan Amar"


"Terus sekarang pastanya mama?"bunda gak dikasih?"


"Habis bunda, soalnya pasta buatan nenek enak banget"


"Gitu ya, mentang-mentang pasta buatan nenek enak terus bunda gak dikasih? bunda kan juga mau pasta buatan nenek. bunda mau ngambek aja akh.. " goda Ane


"Maaf bunda, lain kali kalau nenek masak pasta lagi, Amar bagi deh. sekarang Amar peluk bunda ya, jangan ngambek bunda" Amar memeluk Ane dan mencium bundanya dengan menggemaskan


"Terimakasih ya ma, sudah menjaga Amar" ucap Ane pada Bu Imah


"Iya mama seneng kok bermain sama Amar, Amar anak yang pintar persis kayak Arif waktu kecil." ucap Bu Imah


"Benar yang dikatakan mama kamu Ne, Amar ini anak yang sangat pintar mirip sekali dengan Arif waktu kecil. bermain bersama Amar mengingatkan papa saat bermain dengan Arif kecil." Sahut Papa Arif

__ADS_1


"Amar kan memang mirip Ayah, nanti kalau Amar besar juga mau jadi Polisi seperti Ayah" ucap Alar


"Oya? Amar mau jadi Polisi seperti Ayah? boleh tapi syaratnya Amar harus jadi anak yang sholih dulu, yang pinter dan makan yang banyak biar cepet gede" ucap Ane mengelitik perut Amar


"Hahaha... geli bunda" tawa Amar


"Ya sudah sekarang, Amar bobok dulu ya! nanti sore kalau Ayah sudah pulang kita pergi kerumah dek Nana. anaknya om Alan, Amar mau ikut?"


"Mau bunda" Amar mengangguk


"Kalian mau kerumah Alan Ne?" tanya bu Imah


"Iya ma, rencananya nanti sore setelah bang Arif pulang kantor, kita mau kerumah Alan jenguk Nana ma. kata Alan dua hari ini Nana rewel dan badannya panas"


"Mungkin Nana kangen sama ibunya Ne"


"Sepertinya begitu ma, karena Alan melarang Nia bertemu dengan anaknya"


"Sebenarnya apa yang dilakukan Alan juga wajar, suami mana yang tidak marah melihat istrinya seperti itu. kita do'akan saja. semoga Nana cepat sembuh dan Nia disadarkan"


"Amin, ma Ane temani Amar tidur dulu ya"


"Iya, cucu nenek yang ganteng. sini cium nenek dulu sebelum tidur"


"Muach.. muach.. " Amar mencium neneknya


"Kakek juga mau dong" papa Arif mendekat


"Muach.. muach.. " Amar mencium kakaknya


Ane menggendong Amar kekamar dan menidurkan Amar, Ane yang kecapean ikut terlelap dipelukan putra kecilnya hingga tidak menyadari suaminya sudah pulang.


"Sayang, sayang" panggil Arif dan mencium kening dan pipi Ane


"Abang sudah pulang?" perlahan Ane membuka matanya


"Iya, kalian berdua kalau lagi tidur manis sekali" ucap Arif senyum


"Em.. peluk bang" ucap Ane manja


"Iya sini abang peluk, istri Abang yang manja" Arif memeluk Ane


Sikap Ane yg yang selalu manja, seolah menjadi obat disaat Arif capek dengan segudang pekerjaannya dan kantor dan perusahaan.

__ADS_1


Dan Arif sangat menyukai sikap Ane yang selalu manja terhadap dirinya.


__ADS_2