
Hari ini pernikahan Nia dan Dokter Sigit dilangsungkan secara sederhana dikediam pak Karsa, pernikahan yang hanya dihadiri tetangga terdekat dan beberapa saudara.
Bisik-bisik tetangga yang sudah mulai terdengar ditelinga BU Iin lantaran Nia yang baru saja menjanda tiba-tiba sudah kembali menikah dengan laki-laki yang lebih tua darinya.
Apakah Nia meninggalkan suaminya karena ingin menikah dengan seorang Dokter?
Kasian suami dan anaknya ya, kok bisa seorang ibu tega meninggalkan anak yang masih kecil hanya karena menuruti ambisinya yang ingin mempunyai suami Dokter. itulah bisik-bisik tetangga yang terdengar ditelinga bu Iin dan pak Karsa.
"Ayah, ibuk. terimakasih sudah merestui pernikahan kami. dan maafkan kesalahan Nia yang sudah mengecewakan ayah dan ibu" tangis Nia pecah
"Ibu hanya bisa berdoa semoga Alloh mengampuni dosa-dosa yang telah kamu lakukan, dan semoga suami kamu dan keluarganya bisa menerima kamu sebagai bagaian dari keluarga mereka. Nia bertaubatlah nak. kamu itu juga seorang ibu yang memiliki anak perempuan. Hati-hati lah dalam setiap bertindak. Apa yang kita tanam itu yang akan kita tuai." nasehat bu Iin
"Ayah berharap ini pernikahan yang terakhir untuk kamu nduk, jangan pernah mengulangi perbuatan dosa yang pernah kamu lakukan."
"Iya ayah, ibu maafkan Nia"
"Nak Sigit, sekarang kamu sudah menjadi suami dari anak kami. ayah mohon bersikap baiklah dengan istri kamu, walaupun kalian. berawal dari kesalahan tapi ayah berharap kalian bisa memperbaiki diri bersama dan mencari Ridho Alloh. jadilah imam yang baik untuk Nia. ayah titip putri ayah padamu nak Sigit"
"Ibu juga berharap ini kalian bisa saling menasehati, bisa saling mengingatkan dan bisa sama-sama memperbaiki diri. meminta ampun Alloh bersama selamanya hingga maut memisahkan. jangan lagi ada perceraian karena sesungguhnya Alloh membenci perceraian"
Pak Karsa dan Bu Iin berusaha berbesar hati dengan pernikahan Nia dan Dokter Sigit.
***
Dikamar
"Bagaimana dengan janji ayah dan ibu tentang klinik yang akan kita bangun?" tanya Dokter Sigit
"Mas, kita kan baru saja menikah. apa iya aku harus menanyakan soal itu pada ayah dan ibu? tunggulah beberapa hari lagi mas! aku takut ayah dan ibu akan berpikir mas Sigit mau menikah denganku hanya karena klinik"
"Lalu kamu pikir apa lagi? kamu sudah membuat karirku hancur. aku harus kehilangan posisi sebagai direktur rumah sakit dan seluruh kekayaannya Anggun harus aku tinggkan karena kecerobohan kamu. karena itu kamu harus bertanggung jawab membuatkan aku klinik. kita mau makan pakek apa kalau kita berdua tidak segera bekerja?" ucap Dokter Sigit
"Jadi kamu menikah denganku benar-benar karena klinik ya mas?"
"Apakah semua itu masih penting untuk kamu pertanyakan? Nia, Nia kenapa kamu itu bersikap seolah tidak tau kalau aku ini menikahi kamu bukan karena cintai. aku sudah bilang kan aku masih mencintai Anggun. jika anak yang kamu kandung itu nanti ternyata bukan anakku. aku pastikan, aku akan menceraikan kamukamu dan kamu akan menjadi janda untuk kedua kalinya!"
"Dan aku pastikan itulah tidak akan terjadi, karena anak yang saat ini aku kandung memang anak kamu mas, kamu boleh meragukannya. tapi kamu pasti akan menyesal karena meragukannya"
__ADS_1
***
Setelah sehari dirumah Nia. Dokter Sigit memutuskan untuk mengajak Nia kembali ke kota asal Dokter Sigit, dan membawanya bertemu dengan anak perempuannya yang sudah beranjak remaja itu.
"Assalamu'alaikum"
"Walaikumsalam" jawab tasya merasa malas melihat papanya datang bersama Nia dan Tasya beranjak kekamar
"Tasya, sekarang saya adalah istri papa kamu itu berarti saya juga mama kamu"ucap Nia menghentikan langkah Tasya dan berbalik menatap Nia
" Mama aku kamu bilang?" Tasya menunjuk dirinya
"Iya, karena sekarang saya dan menikah dengan papa kamu. jada sekarang kamu juga harus memanggil saya mama. iya kan mas?" ucap Nia melihat kearah Dokter Sigit
"Mimpi aja sana, jangan harap saya mau menerima kamu sebagai mama Tasya. Tasya gak mau punya mama seorang wanita tak bermoral yang meninggalkan suami dan anak lalu merusak pernikahan wanita lain"
"Kamu" Nia mengangkat tangan mau menampar Tasya tapi segera ditepis Dokter Sigit
"Berani kamu mengangkat tangan pada Tasya, saya seret kamu kejalanana" ucap Dokter Sigit mendorong Nia hingga tersungkur ke tanah
"Mas" ucap Nia lirih melihat suaminya tapi tidak dihiraukan Dokter Sigit
"Kita masuk sayang" ucap Dokter Sigit mengajak Tasya masuk dan meninggalkan Nia sendiri
Nia menangis sesenggukan menahan perutnya yang sedikit sakit.
Nia berusaha berdiri sendiri, maksud hati ingin memberitahu Tasya agar bisa menghargainya sebagai seorang mama tapi malah penghinaan yang Nia dapatkan.
***
Dirumah Alan
"Assalamu'alaikum"
"Walaikumsalam Riri, anak mama pulang kenapa tidak kasih kabar?" ucap Bu Indah memeluk Riri
"Papa" ucap Riri menghampiri papanya dan memeluk papanya
__ADS_1
"Gimana kuliahnya? maaf ya papa dan mama lama tidak mengunjungi kamu ke Surabaya" ucap pak Sandi
"Iya gak papa kok pah, mama sudah menceritakan semua pada Riri. sebenarnya Riri ikut sedih mendengar cerita soal rumah tangga kak Alan"
"Sudah-sudah ayo masuk dulu, sekarang kamu mandi nanti kita ngobrol lagi" sahut bu Indah
"Iya ma, dimana Nana. gemes banget pengen gendong"
"Ada di kamar lagi tidur, nanti aja kalau mau main sama Nana kalau dia sudah bangun" ucap Bu Indah
"Kalau kak Alan belum pulang ma?" tanya Riri
"Belum, sepertinya Alan pulang malam hari ini" jawab Bu Indah
Riri segera kemar yang sudah lama ia tinggalkan, Riri menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang yang dia tempati sejak kecil dan harus dirinya tinggalkan ketika dia harus melanjutkan kuliah kedokteran di Surabaya.
Matanya melihat langit-langit kamarnya tak terasa air matanya memabasahi kasur dibawahnya.
Bukan karena dirinya masih mengharapkan Alan kakanya sebagai kekasih, tapi Riri menangis karena mengingat kebodohannya dimasa lalu.
sekarang dirinya yang sudah beranjak dewasa sadar, tanpa keluarga ini yang telah merawat dan membesarkan dirinya dari bayi hingga sampai saat ini bahkan membiayai kuliahnya di kedokteran yang ternyata bukan biaya yang murah untuk bisa kuliah di tempatnya kuliah saat ini.
Apa jadinya aku jika saat itu bukan mama dan papa yang menemukanku dan merawatku? dan bagaimana bisa aku memiliki pemikiran yang bodoh terhadap kakak yang dari kecil menyayangiku.
Dirumah inilah Riri sekarang bisa berpikir seperti itu.
Kedewasaan dan tinggal jauh dari keluarga membuatnya sadar betapa berharganya keluarga ini.
***
Malam ini setelah makan Riri bermain dengan Nana diruang keluarga
"Assalamu'alaikum" Alan memasuki rumah
"Walaikumsalam kak Alan" jawab Riri menyambung Alan dan tersenyum
^HAPPY READING ^
__ADS_1