
Sayup-sayup terdengar suara adzan subuh berkumandang, Nur terbangun dan segera membersihkan diri untuk sholat subuh berjamaah.
"Mas Bangun, sudah waktunya sholat subuh" Nur membangunkan ustadz Guntur untuk sholat berjamaah di masjid.
"Hoam..." ustaz Guntur mengeliat
"Sudah adzan ya? astaghfirullah mas kecapean sampai tidak mendengar suara adzan"
"Iya mas, sudah adzan. segera bersiap kemasjid air mandinya sudah Nur siapkan" ucap Nur
"Iya sayang, terimakasih ya bidadari surgaku sudah membangunkan mas" ucap ustadz Guntur
"Iya mas, ayo bangun! kita ke masjid bersama" ucap Nur
"Iya, tapi peluk dulu ya?" ucap ustadz Guntur manja
"Iya, manja banget sih suamiku ini" ucap Nur mendekat dan memeluk suaminya
Cup..
Sebuah ciuman mendarat dibibir Nur
"Aku mencintaimu sayang" ucap Ustadz Guntur sesaat setelah melepaskan ciuman pada istrinya
"Aku juga mencintaimu mas" jawab Nur tersenyum
Ustadz Guntur segera mandi untuk bersiap kemasjid.
Setelah sholat subuh Nur segera memasak sarapan didapur. menyiapkan segela keperluan suaminya. sekarang setelah Abah ustadz Guntur meninggal. ustadz Gunturlah yang meneruskan pesantren ini bersama dengan burhan adiknya.
"Sayang masak apa?" tanya ustadz Guntur yang menyusul Nur kedapur
"Ini masak sop mas, ngajinya udah selesai? kok malah kesini?"
"Sudah, dan sekarang aku Ingin membantu istriku masak" ucap ustadz Guntur tersenyum
"Oya mas, hari minggu besok mas ada waktu tidak? aku ingin pergi ke Semarang mas, bertemu dengan Ane dan Wawa." ucap Nur
"InsyaAlloh mas akan meluangkan waktu untuk kamu sayang" Jawab ustadz Guntur
"Terimakasih ya mas" jawab Nur tersenyum
"Udah cuma ucapan doang nih?" goda ustadz Guntur
"Muach.. " Nur mencium pipi ustadz Guntur
"Ehemm... " Burhan berdeham
"Pasangan ini emang ya so sweet banget ya, pasangan yang tak lekang oleh waktu. setiap hari serasa pengantin baru aja" goda burhan
"Kamu makanya cepet menikah biar bisa merasakan indahnya surga dunia" ucap Ustadz Guntur
"Pengennya juga gitu Bang, tapi calonnya belum nemu" Jawab Burhan
"Bukannya belum nemu tapi kamunya aja yang terlalu banyak memilih" ucap Ustadz Guntur
"Hehehe... gimana ya bang, Burhan hanya belum bisa bertemu dengan wanita yang memang benar-benar bisa membuat hati Burhan bergetar." jawab Burhan
"Bagaimana kalau mas carikan kamu calon istri?banyak anaknya Abah yang ingin menjadi istri kamu" tanya ustadz Guntur
"Gak akh.. mas, Burhan maunya menikah karena memang Burhan suka. bukan karena dijodohkan" jawab Burhan
"Sudah dong mas, jangan paksa dek Burhan. menikah itu ibadah untuk menyempurnakan separuh agama kan, biarkan dek Burhan memilih sendiri wanita yang ingin diajak dek Burhan untuk menyempurnakan agamanya" sahut Nur
"Tu Bang, mbak Nur aja sependapat" ucap Burhan tersenyum
"Iya mas tau, tapi usia Burhan sudah tidak muda lagi. apa yang mau ditunggu?" ucap ustadz Guntur
__ADS_1
"InsyaAlloh nanti jika sudah waktunya. Alloh pasti akan menunjukkan jodoh yang terbaik untuk dek Burhan. mas Guntur tidak perlu risau." ucap Nur tersenyum dan kembali melanjutkan aktivitasnya
***
Hari ini Ane, Wawa dan. Nur sedang makan bersama sedangkan ustadz Guntur yang tidak ingin menganggu waktu istrinya bersama teman-teman memilih untuk menunggu Nur dimasjid untuk melakukan sholat sunah.
"Suami kamu di mana? kenapa gak kamu ajak gabung kita aja?" tanya wawa
"Mana mau mas Guntur gabung dengan perempuan. udah gak apa-apa, mas Guntur ada dimasjid dekat sini kok" ucap Nur
"MasyaAlloh baik banget suami kamu ya Nur, mau lho suruh jauh-jauh ngantar kamu sampai sini, e.. sampai sini cuma nungguin dimasjid" ucap Wawa tertawa
"Hufft..tidak terasa ya sekarang ini kita sudah tua, udah berapa tahun coba persahabatan kita. Alhamdulillah kita bisa selalu menjaga persahabatan kita. bahkan sampe anak-anak kita" sahut Ane setelah menghela nafas
"Iya ya, tidak terasa kita sekarang udah tua hahaha.. umur boleh tambah tua, tapi jiwa masih muda dong" jawab Wawa
"Hahaha.. muda terus pokonya ya Wa" ucap Nur tertawa
"Lho iya dong, kita ini harus tetep semangat maksudnya jangan hanya karena usia terlihat tua terus jadi mendalami peran. gak mau ngapa-ngapain lagi" jawab Wawa
"Sayang ya Yeni sibuk terus, gak bisa ikut ngumpul kita" ucap Ane
"Nia juga, lupa tidak dikabari ya kemari?" tanya Nur
Ane dan Wawa saling pandang
"Kenapa kalian?" tanya Nur heran
"Hehehe.. gak apa-apa" jawab Ane
"Itu Nia kalau datang kerumah Ane pasti ada maunya" sahut Wawa
"Emang Nia kenapa lagi?" tanya Nur
"Maksa banget buat besanan sama Ane hahaha" Wawa tertawa
"Hah.. kamu serius?" Wawa tercengang
"Sudahlah kayak gak tau Nia saja" Jawab Ane
"Eh.. ini itu beneran ya? soalnya beberpa waktu yang lalu, dia kerumah aku kan, itu dia bilang Nana belum tau kalau dia ibunya" Nur masih tidak percaya
"Ya benaran lah, maklum lah ya. namanya juga punya anak super ganteng. jadi gak heran kalau bakalan banyak yang ingin jadi menantunya" timpal Wawa
"Iya, jadi Nia memang belum tau kalau Nia itu ibunya. tapi Nia selama ini memantau Nana dari jauh, dan Nia tau kalau Nana suka sama Amar. bahkan si Nana juga udah terang-terang bilang sama aku dan sama Amar langsung kalau dia suka sama Amar. tapi kalian tau kan dengan watak Amar yang super-super cuek itu, tentu saja Nana ditolak" sahut Ane
"Jadi Nana nembak Amar gitu ceritanya? berani juga dia ya? bahkan berani ngomong sama emaknya" Nur menggeleng-gelengkan kepala heran
"Ya iyalah tu bocah pepet terus emaknya Amar biar diangkat jadi mantu. tapi Ane nya ternyata juga gak mau" ucap Wawa
"Bukan tidak mau, siapa saja asal Amar suka, aku oke aja kok. kita ini sebabnya orang tua ngapain sih ngatur-ngatur masalah jodoh anak kita. kita pernah muda, pasti gak suka kan kalau dijodoh-jodohin. makanya aku gak mau terlalu jauh ikut campur biarlah mereka menentukan siapa yang ingin dijadikan pendamping hidup. satu aja yang aku harapankan. aku pengen punya menantu yang sholihah" ucap Ane
"Benar, anak jaman sekarang mau dijodohin. dikira jaman siti Nurbaya. Aneh tu si Nia" ucap Wawa
"Disisi lain aku mengerti, dia ingin anaknya mendapatkan apa yang diinginkan. tapi aku kan tidak mungkin memaksa anakku untuk bersama dengan wanita yang Amar tidak suka. apalagi, Amar ini baru masuk kuliah masih terlalu jauh bahas ini" ucap Ane
Dret.. dret...
Vidio call dari Almira
"Eh bentar ya, anakku vidio call" ucap Nur
"Igh.. angkat dong, cepetan angkat! kita juga mau lihat Almira yang sekarang" ucap Ane antusias
"Assalamu'alaikum sayang" sapa Nur
"Walaikumsalam ma, mama lagi dimana ini?" tanya Almira dari sebrang telpon
__ADS_1
"Ini Mama lagi sama tente Ane dan Tante Wawa" jawab Nur mengarahkan layar ponselnya pada Ane dan Wawa
"Haii.. Almira, apa kabar, disana gimana kuliahnya? Lancar?" tanya Ane
"Alhamdulillah kabar baik tante, Alhamdulillah juga kuliah lancar. tante Ane apa kabar?" tanya Almira balik
"Alhamdulillah tante juga baik" jawab Ane
"Almira dikairo gimana krasan tidak? ceritain dong disana kayak gimana?" sahut Wawa
"Alhamdulillah krasan tante, MasyaAlloh disini itu kotanya indah banget tante, cuma kadang Alamira suka rindu aja sama keluarga diIndonesia. sama mama, papa,ayah, bunda dan adik-adik" jawab Almira
"Yang sabar ya sayang, walaupun raga kita berjauhan,tapi kita selalu dekat dalam doa kok sayang. Almira fokus saja dengan kuliahnya. buat kami semua bangga ya sayang" ucap Nur dengan mata berkaca-kaca
"Iya ma InsyaAlloh, Almira akan selalu mengingat pesan-pesan mama" Jawab Almira
"Ya sudah ya ma, Almira mau persiapan ke kampus" ucap Almira
"Iya sayang, Hati-hati ya nak disana"
"Iya ma, Assalamu'alaikum mama, tante Ane, tante Wawa" ucap Almira menutup telpon
"Walaikumsalam Almira" jawab ketiganya bersamaam dan melambaikan tangan
"MasyaAlloh, Almira hebat ya. pinter, cantik dan sholihah. membanggakan sekali" ucap Ane
"Iya, oya Almira bercadar itu kan sejak berada di pesantren kan? apa itu ada yang menyuruh atau memang keinginannya sendiri?" tanya Wawa penasaran
"Jujur aku ataupun mas Guntur tidak pernah menyuruh Almira untuk menggunakan cadar, tapi sejak dia mulai faham dengan agama. dengan sendirinya dia mengatakan pada kami kalau dia ingin menggunakan cadar. MasyaAlloh banget saat kami mendengar Almira meminta ijin untuk menggunakan cadar." terang Nur
"Beruntung sekali nanti yang akan menjadi suami dari Almira. mempunyai istri yang faham dengan agama dan juga anaknya santun banget" ucap Ane
"MasyaAlloh, semoga sajaa. Almira selalu istiqomah dan selalu berada di dalam lindungi Alloh" sahut Nur
***
Di Surabaya
"Rara, sini nak kakkek mau bicara" ucap Kakek diruang keluarga
"Iya kek, ada apa?" tanya Rara mendekat dan duduk disamping kakek.
"Bagaimana dengan sekolah kamu akhir-akhir ini?" tanya Kakek
"Alhamdulillah lancar kek, baik" Jawab Rara
"Sebenarnya bagaimana hubunganmu dengan kakak kamu?"
"Hubungan Rara dengan kak Nana maksudnya kek?" tanya Rara
"Iya, bagaimana hubungan kamu dan Rara kalau dirumah?"
"Em.. baik kek, baik kok" jawab Rara
"Kamu yakin?" tanya Kakek seakan tidak percaya
"Em.. gimana ya kek, sebenarnya kakak baik hanya saja, kakak memang kadang sering cemburu sama Rara. tapi Rara menyayangi kak Nana kek. dulu kak Nana tidak seperti itu, hanya saja semenjak kita sama-sama dewasa kak Nana menjadi gampang cemburu. tapi lebih tepatnya sejak kak Nana kalau kak Nana bukan anak kandung Mama kek" jelas Rara
"Huftt.. iya kakek faham. biar bagaimana kalian itu saudara. kalau bisa harus selalu rukun"
"Iya kek, Rara akan selalu berusaha agar bisa selalu rukun dengan kak Nana" jawab Rara tersenyum
"Kamu memang cucu kakek yang baik, kamu itu mirip sekali sama Mama kamu. Mama kamu itu juga anaknya baik dan nurut banget sama kakek dulu" ucap kakek tersenyum membayangkan Dokter Anggun.
^Happy Reading^
Jangan lupa Like, coment dan Vote dukungan kalian sangat berarti bagi author terimakasih 🙏🥰😍😘
__ADS_1