
Ane menghubungi Alan dan mengatakan untuk tidak memberitahu suaminya kalau dirinya menghubungi.
Alan yang sudah menganggap Ane sebagai kakak, langsung datang ketika minta untuk datang
Setidaknya dengan kehadiran Alan dan Nia mampu menghibur hati Ane yang sedikit kecewa dengan suamniya. Ane yang sebenarnya juga tidak tega membuat suaminya kawatir, hanya saja mungkin ini sedikit diperlukan agar lain kali Arif tidak mengulangi hal yang sama dan bisa lebih tegas dengan mantan atau wanita - wanita yang kendekatinya.
"Jadi kak Ane ini tadi kabur dari Rumah sakit" Alan tercengang
"Bukan kabur juga sebenarnya, emang aku udah boleh pulang kok" jawab Ane santai
"Tapi sebenarnya kamu masih terlihat pucet banget lho Ne" Nia kawatir
"Iya bener kak, apa tidaj sebaiknya Kakak pulang saja?" sahut Alan
Ane menggeleng - geleng kepala
"Eh, ini Nia sekarang kerja diSemarang?" tanya Alan
"Iya, siapa tau ketemu jodohnya di Semarang" gurau Nia
"Kode tu Lan" sahut Ane
"Ups, lupa Alan sedang mendekati Tia kok ya" goda Ane lagi
"Agh Kak Ane ini" Alan menggaruk - garuk kepala yang tidak gatal.
"Aku sebenarnya iri banget sama cinta Bang Arif dan Kak Ane, pengen juga sebenarnya kayak gitu gak usah pacar - pacaran. sebenrnya aku juga tau, kalau diagama kita itu tidak diperbolehkan pacaran. tapi sampai saat ini aku belum nemu tu Kak perempuan yang kayak Kak Ane gini" ucap Alan
"Kenapa Kamu menginginkan cewek seperti Ane?" tanya Nia
"Untuk saya jadikan istri pastinya, kalau pacar saya gak ada kriteria khusus tapi kalau istri saya berharap bisa dapat wanita sholehah seperti kak Ane, karena istri nantinya akan jadi madrasah pertama bagi anak - anak saya kelak." ucap Alan dan Nia memanyunkan bibirnya mendenagrkan apa yang di ucapkan Alan.
Tapi dari apa yang disampaikan Alan, Nia sekarang sadar. mau seplayboy apapun seorang cowok pasti berharapnya dapat istri yang sholehah. kalau cowok mau dengan cewek yang asal - asalan mungkin karena mikirnya hanya jadi pacar bukan untuk istri.
"Tapi kamu benar sih Lan, terimakasih sudah membuatku sadar" ucap Nia senyum
__ADS_1
"Emang aku ngapain? kok bisa membuat kamu sadar?" Alan mengerutkan dahinya
"Aku sadar pada dasarnya cowok pasti ingin mempunyai istri yang sholehah. jadi mulai sekarang aku akan belajar memantaskan diri untuk siapapun kelak yang akan jadi imamku" ucap Nia
"Pada intinya jodoh itu cerminan diri kita, kalau kita ingin jodoh yang sholeh dan sholehah, tentu saja kita harus jadi seperti itu dulu" ucap Ane pada Nia dan Alan
Waktu sudah menunjukan pukul empat setelah mereka bertiga melaksanakan sholat ashar ketiganya pun sepakat untuk pulang. Alan memawarkan untuk mengantar Ane. tapi karena Ane belum ingin pulang kerumah Ane menolaknya dan memutuskan pulang sendiri - sendiri.
Sementara Arif masih berputar - putar menyusuri jalan mencari istrinya.
di jalan Arif mampir kewarung kopi pinggir jalan. tempat rekan - rekannya nongkrong selama ini.
Tidak lama setelah Arif disana datanglah Alan yang sengaja berhenti saat melihat mobil Arif terpakir disitu
"Malam Bang" ucap Alan
"Hai Bro" jawab Alan singkat dengan penampilan acak - acakan tidak seperti biasanya yang selalu rapi.
"Kenapa Bang, kok gak semangat gitu?" tanya Alan yang pura - pura belum tau
"Lagi bingung Bro, nyariin Ane kemana - mana gak ketemu" ucap Arif dan menyeruput kopinya. karana kepalanya terasa pening hingga memutuskan untuk berhenti sejenak meneguk secangkir kopi.
"Kok kamu bisa tau? Apa Ane menghubungi kamu?" tanya Arif dengan perasaan menggebu
"Iya, ini baru saja pulang makan di Mall tadi sama kak Ane dan Nia" jawab Alan
"Makan di Mall? sama Nia?"memangnya Nia di sini?" tanya Arif
"Iya Bang, sekarang Nia kerja di salah satu rumah sakit disini" ucap Alan
"Sekarang Ane dimana? kenapa kamu tidak menghubungi aku? apa Ane sudah pulang sekarang?" Arif kawatir
"Harusnya sudah Bang, tadi kami berpisah didepan Mall. gimana mungkin aku menghubungi Bang Arif? Kak Ane melarang. katanya biar Abang sadar dulu. dan tadi sebenarnya Kak Ane mau tak antar pulang, tapi Kak Ane tidak mau. katanya masih ingin cari angin. tenang saja Bang. Nanti juga pulang kok, kak Ane sebenarnya percaya sama Bang Arif cuma hatinya agak kesal saja dengan sikap Abang yang tidak bisa tegas dengan perempuan" ucap Alan
"Iya Lan terimakasih ya, sudah menjagakan Ane. iya aku sadari aku memang salah" ucap Arif menepuk pundak Alan dan segera pergi melajukan mobilnya segera menuju rumah.
__ADS_1
Sesampainya dirumah ternyata Ane juga belum sampai rumah
"Ane belum ketemu Rif?" tanya Bu Imah cemas
"Belum Ma, aku kira Ane sudah pulang, tadi Alan bilang kalau Ane mungkin sudah pulang" ucap Arif
"Alan? kok bisa Alan tau?" Bu Imah mengerutkan dahinya
"Iya tadi mereka makan di Mall sama Nia" ucap Arif
"Nia disini?" ucap Bu Imah
"Iya Ma, dia sekarang kerja disni" Ucap Arif
****
"Assalamualikum" Ane mengucapkan salam
"Walaikumsalam" jawab Bu Imah dan Arif segera menghampiri Ane
"Sayang kamu gak papa?" Arif cemas
"Nak kamu gak papa kan?" Bu Imah memegang bahu Ane
"Gak papa Ma, Maaf ya Ma, sudah membuat Mama kawatir. Ane istirahat dulu ya Ma" ucap Ane berlalu menuju kamar tanpa melihat Arif
"Arif, kamu salah Nak, kamu coba minta maaf sama Ane. baik - baik sama Ane ya Nak" Nasehat bu Imah dan Arif segera menyusul. Ane kekamar
Dikamar, Arif mendekati istrinya yang sedang pura - pura tidur.
"Ane, Abang tau Ane belum tidur. tapi kalau Ane belum mau bicara sama Abang tidak apa - apa Abang faham. memang Abang salah. tapi tolong dengarkan Abang, Abang tidak ada niatan buruk apapun, Abang tadi dirumah sakit tidak sengaja bertemu dengan Norma. Ane juga lihat sendiri kondisi Norma tadi seperti apa. sebagai seorang Polisi melihat kejadian seperti itu didepan mata Abang, apa Abang harus pura - pura tidak tau? terlepas orang itu mantan Abang. dari awal Abang sudah bilang, Abang mencintai Ane tapi l, tidak bisa Abang pungkiri Norma memang pernah menjadi bagian dari hidup Abang yang tidak mungkin Abang hapus. tapi percayalah hanya sebatas masa lalu tidak ada perasaan apapum sekarang. tolong Ane percaya Abang" ucap Arif
Mendengar kata - kata suaminya Ane duduk dan meraih tangan suaminya dan mencium tangan itu.
"Maafkan Ane yang sudah membuat Abang kepikiran, Ane salah dan berdosa tidak seharusnya Ane pergi tanpa ijin dari suami Ane" ucap Ane meneteskan Air mata.
__ADS_1
Niatnya mau marah, tapi Ane menyadari terlepas dari rasa kesalnya terhadap suaminya Ane juga salah pergi tanpa ijin dari suami sangatlah tidak diperbolehkan.
Terimaksih telah membaca. tolong like, coment dab Vote jika ada ya. dukungan dari kalian semangat bagi Author