
Arif memberikan pemahaman pada istrinya, dalam menyikapi teman seperti itu, kini Ane pun mengerti harus bersikap seperti apa saat nanti Nia kembali menghubunhinya.
Nia meletakkan hapenya saat sudah mencoba berkali-kali tapi tetap tidak ada jawaban dari Ane.
Kini dirinya menyadari kalau Ane sepertinya memang sudah tidak akan mau lagi berbagi cerita dengannya setelah dirinya melukai sahabatnya.
Nia yang merasa penat mencoba mencari udara segar diluar, berjalan sepanjang jalan tanpa arah dan tujuan. hingga langkahnya terhenti ketika ternyata langkah itu membawanya kerumah laki-laki yang sebenarnya sampai saat ini masih menjadi suaminya.
Nia memandang rumah yang ditempatinya selama kurang lebih tiga tahun itu. dan Nia kembali mengingat selama tiga tahun tinggal dirumah itu, dirinya diperlakukan dengan sangat baik oleh suami dan mertuanya. Bahkan kini Nia ingat saat-saat dirinya hamil Nana. bagaimana kehebohan keluarga ini dan memanjakan dirinya.
Akan yang selalu berusaha menuruti semua keinginannya. dan mertua yang berusaha menggantikan Alan merawat dirinya saat Alan sedang dalam tugas.
Nia pun mengingat saat pertama kali Nana terlahir didunia ini dan bagaimana perdebatan yang terjadi antara dirinya dan mertuanya lantaran Nia menginginkan Nana dibantu dengan sufor (Susu Formula) dengan alasan pekerjaan Nia, tapi walaupun demikian akhirnya Bu Indah mengalah dan mengijinkan Nana diberi sufor. juga saat semua di keluarga ini menginginkan dirinya bekerja. tapi lagi-lagi dirinya menolak dan tetap kekeh untuk bekerja.
Kini semua kenangan itu kembali hadir di benaknya. tapi sekarang semua itu tingal kenangan. sikap keras kepala dan selalu ingin dimengerti mengantarkan Nia pada kehancuran hidupnya. sekarang dirinya hanya bisa meratapi nasibnya yang sebatang kara.
Brem.. brem..
Suara moge memecah keheningan dan Nia segera memejamkan matanya ketika silau lampu sebuah moge menyoroti matanya.
"Untuk apa kamu kesini lagi?" Alan mematikan mesin moge dan melepaskan helmnya.
"Alan" gumam Nia lirih
"Tolong tinggalkan rumah ini"
"Alan aku mohon maafkan aku, aku janji akan berubah Lan, aku mohon Lan"
"Sudah terlambat. jangan pernah lagi muncul disekitar rumahku. aku juga sudah mengurus perceraian kita" ucap Alan
"Lan" Nia meneteskan air mata dan menggelengkan kepalanya
"Semua sudah berakhir Nia, silakan kamu cari kebahagiaan bersama laki-laki yang bisa selalu menemani kamu selama 24 jam. dan maafkan aku karena aku hanyalah seorang Polisi yang mungkin tidak bisa membahagiakan kamu selama ini. sebagai seorang Polisi aku punya tugas dan tanggung jawab pada pekerjaan. keluarga penting bagiku tapi pekerjaan pun tak kalah penting untukku, karena harga diri seorang laki-laki ada pada pekerjaannya. tapi jika ternyata pekerjaanku kamu jadikan alasan untuk kamu berselingkuh. maaf berarti kamu tidak layak untuk menjadi bhayangkari. karena wanita seperti kamu hanya akan membuat jelek nama institusi" ucap Alan kembali menyalakan moge nya dan masuk kedalam halaman rumahnya.
__ADS_1
Sementara Nia hanya diam mematung diluar gerbang tak bisa berkata-kata lagi. karena memang dirinya.
***
"Ustadz Guntur, jujur sampai sekarang Nur masih tidak menyangka kalau sekarang kita ini benar-benar sudah menjadi pasangan suami istri" ucap Nur berjalan di taman taman pesantren
"Alhamdulillah, Alloh memudahkannya Nur, Abah juga Alhamdulillah sekarang sudah bisa menerima kamu."
"Alhamdulillah, Nur bahagia sekarang Abah juga sepertinya sudah bisa menerima Almira. tadi Abah menanyakan, apa tidak sebaiknya kita bawa Almira kesini saja. Abah bilang sejak bertemu Almira diacara pernikahan kita. Abah seperti terhipnotis dan ingin kembali melihat Almira"
"Benarkah Abah berkata seperti itu?'
"Iya ustadz"
"Nur, mau sampai kapan kamu memanggilku dengan sebutan ustadz. aku ini kan sekarang sudah menjadi suami kamu" Ustadz Guntur memandang Nur
"Emm.. lalu Nur harus memanggil apa?" Nur senyum-senyum dan menunduk
"Apa saja boleh asal jangan ustadz, atau mungkin kamu bisa memanggilku dengan sebutan Sayang, Hunny, Atau_" ucap ustadz Guntur terputus
"Mas ya? Emm.. okay" Ustadz Guntur tersenyum menatap Nur
"Ustadz, Eh.. Mas maksudnya" Nur menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Humbb" Ustadz Guntur mengatupkan mulutnya menahan tawa
"Tu kan malah diketawain, Nur kan jadi malu" Nur menutup wajahnya dengan keduanya tangannya
"Kenapa ditutup wajahnya?" Ustadz Guntur melepaskan tangan Nur yang menutupi wajahnya
"Kamu cantik kalau lagi malu-malu gitu Nur" ucap ustadz Guntur kembali memandang wajah Nur yang kini sudah menjadi istrinya
tanpa mereka sadari, Fatimah sudah sejak tadi memperhatikan mereka dan merasa terbakar api cemburu.
__ADS_1
"Pasti Nur sengaja menunjukkan kemesraan mereka didepan semua orang" ucap Fatimah
"Mereka kan sudah menjadi pasangan halal Fat, jadi wajarlah kalau mereka mesra" sahut salah satu santriwati yang bersama Fatimah
"Kalian ini sahabatku bukan sih? kenapa malah membela Nur" garutu Fatimah
"Bukan begitu Fat, tapi kan emang benar sekarang ini mereka itu sepasang suami istri, jadi sah-sah saja apa yang mereka lakukan"
"Tetap saja aku tidak yakin kalau Nur itu sudah pantas mendampingi laki-laki seperti ustadz Guntur. aku merasa Nur itu pasti nantinya akan merepotkan ustadz Guntur. lihat saja nanti"
"Sudahlah Fat, kita sebaiknya do'akan yang terbaik saja. doa baik akan kembali pada yang mendoakan. begitu juga sebaliknya" ucap santriwati.
"Assalamualaikum" ucap Nur yang kini melewati Fatimah dan santriwati yang lain
"Walaikumsalam Nur, eh bu ustadzah" jawba santriwati dan Fatimah hanya diam tidak menjawab salam dari Nur
"Tetap panggil aku Nur saja. yang ustadz kan mas Guntur bukan aku" ucap Nur senyum
"Iya tapi sepertinya sekarang tidak sopan kalau kita panggil Nur, biar bagaimana kamu kan istri dari Ustadz Guntur"
"Bagaimanapun kalau kita panggil kamu mbak Nur saja ya"
"Terserah kalian saja. ya sudah aku permisi dulu ya Assalamu'alaikum" ucap Nur senyum dan kembali berjalan bersama ustadz Guntur
"Igh.. sok banget sih tu orang, yang ustadz kan mas Guntur. dasar perebut calon suami orang" gerutu Fatimah
"Sudahlah Fatimah, jangan mulai lagi. Nur kan bukan perebut suami orang. bukankah dari awal emang ustadz Guntur maunya nikah sama Nur ya?" ucap Santriwati
"Maksud kamu apa bilang seperti itu? maksud kamu aku yang mau merebut ustadz Guntur?" Fatimah kesal
"Bukan, bukan gitu maksudku. kamu jangan salah sangka dulu. aku cuma mau kamu berhenti menyalahkan Nur terus. masalah masa lalunya. biarlah itu kan sudah menjadi masa lalu dan yang penting ustadz Guntur tidak mempermasalahkan nya. kenapa kita orang luar mempermasalahkan?"
"Iya tapi dia tidak pantas menjadi istri seorang ustadz" tegas Fatimah
__ADS_1
"Kita ini siapa mampu menilai pantas dan tidaknya seseorang? jika Alloh sudah berkehendak tidak ada satu pun yang mampu menghalanginya"
^Happy Reading^