Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
BATAL


__ADS_3

"Kalau begitu tolong panggilkan genduk bu, biar genduk sendiri yang putuskan. karena kita sebagai orang tua hanya ingin yang terbaik untuk anak-anak jadi biarkan saja anak-anak yang memutuskan" ucap pak Ahmad


"Sebentar, biar saya panggil anak kami" ucap bu Lusi masuk kedalam


Tak lama kemudian anak pak Ahmad keluar


"Assalamu'alaikum"


"Walaikumsalam" Jawab semua bersamaan


"Kamu.. bukankah kamu..?" ustadz Guntur membulatkan matanya


"Ustadz, Abah" ucap Fatimah


"Iya Guntur jadi Fatimah ini sebenarnya anak teman Abah. tapi sudah lama kami tidak pernah berkomunikasi. bahkan Abah tidak tau kalau anaknya selama ini belajar di pesantren kita. baru beberapa hari yang lalu Abah tau kalau ternyata Fatimah ini anak sahabat Abah." Abah menceritakan kalau ayah Fatimah adalah teman kecil Abah mereka tinggal satu kampung saat masih kecil dan keduanya terpisah saat Abah memutuskan untuk belajar di sebuah pesantren yang ada dijawa timur, sedangkan ayah Fatimah memutuskan untuk sekolah ke ibu kota. sejak saat itu keduanya sudah tidak pernah lagi berkomunikasi. karena sulitnya alat komunikasi jaman dulu, tidak seperti sekarang yang akses komunikasi dipermudahkan dengan adanya hape.


*Flashback*


Siang setelah kepergian Nur, Abah meminta Fatimah untuk bertemu diruang kerja Abah.


"Assalamu'alaikum"


"Walaikumsalam, silahkan duduk Fatimah" ucap Abah


Fatimah mengangguk dan duduk


"Begini Fatimah, apa kamu sudah tau kalau Nur sudah tidak ada lagi di pesantren?" tanya Abah


"Iya Abah, Fatimah sudah mendengarnya"


"Sepertinya Nur memang sudah berubah. sebenarnya Nur itu anak yang baik. Abah sadari itu, hanya saja masa lalunya yang mungkin kurang bagus. dan sebenarnya Abah juga kasian sama Nur. tapi sebagai seorang ayah. Abah ingin Guntur mendapat istri yang terbaik. kalau boleh tau bagaimana dengan kamu Fatimah"


"Fatimah? maksud Abah?" Fatimah melihat Abah belum mengerti


"Apa kamu menyukai ustadz Guntur?" tanya Abah sedikit senyum


"Em.. Em... " Fatimah glagepan dan Abah tersenyum


"Abah tau, tidak mungkin kamu memberitahu Abah soal Nur kalau kamu tidak ada rasa sama ustadz Guntur? tidak usah malu, Abah setuju saja kalau kamu memang menyukai ustadz Guntur"


"Maaf Abah, maksudnya Abah? Abah merestui kami?" mulut Fatimah menganga dan matanya membulat tak percaya


"Iya, kalau kamu mau. Abah akan menjodohkan kamu dengan ustadz Guntur. tapi kalau kamu tidak mau.."ucap Abah senyum


"Mau bah, mau, Fatimah mau. Fatimah mau dijodohkan dengan ustadz Guntur" ucap Fatimah antusias


"Ya sudah, nanti Abah akan bicara sama ustadz Guntur. tapi kira-kira kapan Abah bisa bertemu orang tuamu. karena tidak baik menunda niat baik. kalau kamu sudah setuju Abah dan Guntur harus segera bertemu dengan orang tuamu"


"Tapi apa Abah yakin, ustadz Guntur mau dijodohkan dengan Fatimah?

__ADS_1


"Masalah itu kamu tidak perlu memikirkannya, Abah tau ustadz Guntur tidak akan pernah menolak keinginan Abah. ustadz Guntur itu anak yang sangat penurut. sejak kecil tidak pernah menolak keinginan Abah"


"Ba-baik Abah" Fatimah mengangguk senyum


"Jadi apa Minggu depan Abah bisa bertemu dengan orang tuamu?" tanya Abah


Fatimah melihat Abah seakan tidak percaya dengan apa yang Abah katakan.


"Bi-bisa Abah, nanti Fatimah akan segera menghubungi Ayah dan ibuk. menyampaikan kalau Abah dan ustadz Guntur akan kerumah minggu depan"


"Oya.. siapa nama ayahmu nduk?"


"Ahmad khoirul bah"


"Ahmad khoirul? kok sepertinya tidak asing ya? Abah dulu juga pernah punya teman namanya sama seperti nama ayah kamu nduk. tapi teman Abah dari Jawa Tengah, sedangkan kamu dari Jawa Barat kan?" tanya Abah


"Tapi Ayah Fatimah aslinya juga Jawa Tengah bah, cuma setelah lulus SD pindah ke Jakarta dan menikah dengan ibuk yang memang orang Jawa Barat bah."


"Sebentar.. sebentar, ini bukan Ayah kamu?" Abah mengambil foto yang ada dilahirkan


"Iya bah, itu sepertinya foto Ayah saya sewaktu kecilnya" ucap Fatimah


"MasyaAlloh, jadi kamu itu putrinya Ahmad?"


"Iya bah"


*Flashback off*


Hatinya sungguh menolak perjodohan ini. tapi lagi-lagi hanya bisa pasrah tidak bisa menolak keinginan Abahnya.


Sedangkan Fatimah tampak sedang bahagia dan tersenyum-senyum mencuri pandang pada Ustadz Guntur


"Tidak menyangka ya, kita adalah sahabat sewaktu kecil dan tidak pernah lagi bertemu selama bertahun-tahun. sekarang kita bertemu lantaran anak kita" ucap Abah


"Jadi begini mad, tujuanku datang kesini selain untuk bertemu denganmu aku juga punya maksud dan tujuan yang lain. yaitu untuk melamar putrimu Fatimah untuk menikah dengan anakku Guntur. bukan begitu Guntur?" ucap Abah melihat Guntur


"Guntur.. Guntur" ucap Abah menepuk bahu Guntur yang sedang melamun


"Eh.. maaf ada apa ya bah?" tanya Guntur tak mendengarkan apa yang Abahnya katakan sejak tadi.


"Begini Guntur, Abah sudah menyampaikan maksud kita saat ini ada dirumah Pak Ahmad untuk melamar Fatimah menjadi istri kamu."


Ustadz Guntur hanya diam tidak menjawab perkataan Abahnya.


Pak Ahmad dan bu Lusi tampaknya menyadari gelagat Guntur yang tidak antusias dengan rencana perjodohan mereka.


"Nak Guntur, boleh tante tanya?" bu Lusi melihat Guntur


"Iya tante" Guntur mengangguk

__ADS_1


"Apa kamu tidak menyukai putri kami Fatimah?"


Pertanyaan bu Lusi membuat semua mata tertuju pada ustadz Guntur


"Saya hanya menuruti keinginan Abah. dan saya juga tidak bisa menentang keinginan Abah tante"


Abah melihat Guntur dan menarik nafas, tidak menyanga Guntur akan berkata seperti itu di depan sahabatnya.


"Maafkan anakku Guntur ya, dia memang seperti ini orangnya." ucap Abah yang merasa tidak enak dengan sahabatnya


"Tidak Husain, Guntur punya hak untuk berbicara. kita ini sebagai orang tua harus mendengarkan apa yang anak kita inginkan. jangan memaksakan keinginan kita pada anak. takutnya kalau nanti ada apa-apa kita sebagai orang tua yang disalahkan." ucap pak Ahmad


"Kalau menikah itu kan tidak perlu ada cinta mad. nanti seiring berjalannya waktu cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya" ucap Abah


"Maaf Husain, kalau ini aku kurang setuju sama kamu. karena pernikahan itu ibadah yang lama. bagaimana mereka bisa menjalani pernikahan dengan baik kalau dihatinya ada orang lain. dan aku lihat dihati anakmu ini sudah ada wanita lain" ucap Ahmad


Abah menarik nafas dalam


"Apa yang kamu katakan memang benar mad, tapi, jujur aku tidak tau harus bilang apa sama kamu" ucap Abah


"Wanita yang disukai ustadz Guntur bukan wanita baik-baik yah. dia punya anak di luar nikah" timpal Fatimah


"Astaghfirullah" ucap pak Ahmad dan bu Lusi bersamaan


"Maaf Fatimah, tapi kamu tidak berhak menilai seseorang dan mengatakan kalau wanita itu bukan wanita baik-baik hanya karena masa lalunya. karena seburuk apapun masa lalu seseorang tidak menutup kemungkinan dia akan menjadi wanita yang lebih baik kedepannya. dan belum tentu juga wanita yang terlihat baik sekarang. akan selamanya menjadi wanita yang baik."


"Bener apa yang dikatakan nak Guntur nduk, jangan menghakimi seseorang hanya berdasarkan masa lalunya" ucap pak Ahmad


"Tapi yah, kenapa Ayah malah membela wanita itu. harusnya kan Ayah membela aku. anak Ayah!" Fatimah merasa kesal


"Ayah hanya berbicara fakta nduk, ayah tidak ingin nantinya ada penyesalan karena kalian tidak saling mencintai. kamu lihat ayah dan ibu, kami dulu menikah juga karena kami saling mencintai makanya kami bisa langgeng sampai sekarang. dan sekarang kami berharap kamu pun nantinya bisa menikah karena saling mencintai bukan terpaksa "ucap pak Ahmad


"Fatimah benci Ayah" ucap Fatimah kesal berdiri dan menghentakkan satu kakinya pergi kekamar


Brak..


Fatimah membanting pintu kamar


"Astaghfirullah" ucap semua yang ada disitu


"Maafkan anak saya Husain, dia itu memang pemikirannya belum terlalu dewasa. tapi itu kesalahan kami sebagai orang tua yang dulu terlalu memanjakannya. itu sebenarnya yang menjadikan alasan kenapa kami menyuruh Fatimah untuk tinggal di pesantren. biar disana dia belajar menjadi lebih dewasa."


"Iya, iya. kita sebagai orang tua memang pada dasarnya menginginkannya yang terbaik untuk anak-anak kita. terkadang sampai kita lupa, apa yang menurut kita baik belum tentu juga baik untuk anak-anak kita" Ucap Abah mengangguk-angguk


"Ya sudah, kalau begitu kami pamit pulang dulu, seperti yang kalian katakan. saya tidak akan lagi memaksakan kehendak saya lagi pada anak-anak. tapi saya bersyukur karena hal ini, kita bisa kembali bertemu" ucap Abah lagi


Ustadz Guntur sekarang bisa bernafas dengan lega. karena perjodohannya dengan Fatimah tidak terlaksana.


^Happy Reading^

__ADS_1


Terimakasih atas dukungannya🙏 Like, Coment dan Vote dari kalian sangat berarti bagi Author untuk melanjutkan tulisan ini hehehe... love you 😍🥰😘


__ADS_2