Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
ISTIQOMAH


__ADS_3

"Iya ma, Ane juga tidak menyangka. dan lagi-lagi anak yang harus menjadi korban" Ane menghela nafas kasar


"Semoga kita bisa sehidup sesurga ya sayang, saling mengingatkan dan saling menyayangi" ucap Arif memegang tangan Ane


"Amin, InsyaAlloh bang. Ane pun menginginkan hal yang serupa. bisa seperti mama dan papa. InsyaAlloh sehidup sesurga" terang Ane


"Amin" Semua mengaminkan


Bu Imah merasa lega memiliki menantu seperti Ane. yang begitu menurut dengan suaminya dan bisa menyayangi mertuanya layaknya orang tua sendiri.


***


"Bang, pagi ini Ane ijin mau menjenguk suami Wawa ya"


"Suaminya masih dirumah sakit?"


"Iya bang, suaminya menjalani masih menjalani perawatan dirumah sakit"


"Sebenarnya suami Wawa sakit apa dek?" Arif menatap Ane


"Entahlah bang, Wawa tidak pernh cerita detailnya. Hanya bilang kalau suaminya harus mendapatkan perawatan, makanya bisa pulang ke Jawa. tapi bagaimana yang sebenarnya Ane juga tidak tau, Wawa tidak pernah menjawab jika ditanya."


"Ya mungkin mereka memiliki pertimbangan sendiri kenapa tidak ingin orang lain tau, karena didalam suatu rumah tangga memang tidak semuanya bisa diceritakan keorang sekalipun itu sahabatnya. suami istri harus bisa saling menutupi masalah yang ada didalam rumah tangganya. jangan menjadikan rumah tangga sebagai konsumsi publik. karena tidak semua orang suka dengan kita."


"Iya bang, Istri itu ibarat pakaian untuk suami, begitu juga sebaliknya. jadi harus bisa saling menjaga marwah pasangan."


"Abang beruntung banget punya istri sholihah seperti kamu" ucap Arif memandang Ane


"Jangan selalu mengatakan Ane sholihah bang, tapi do'akan saja terus, semoga Ane bisa selalu beristiqomah. karena sesungguhnya Alloh lah dzat pemilik malik hati"


***


Dirumah sakit


"Wawa" panggil Ane yang melihat Wawa dilorong rumah sakit


"Ane, kamu disini?"

__ADS_1


"Iya aku mau menjenguk suami kamu"


"Em.. " Wawa terlihat bingung


"Kenapa? apa tidak boleh dikunjungi?" Ane melihat Wawa


"Gimana ya Ne, kita duduk dulu" ucap Wawa mengajak. Ane duduk


Ane memperhatikan Wawa yang sepertinya tidak mengharapkan kedatangannya


"Ane aku senang kamu datang kesini, tapi suamiku sepertinya belum mau dikunjungi" ucap Wawa terlihat bingung


"Aku tidak akan memaksa kamu untuk bercerita, aku tau jika kamu tidak ingin mengatakan tentang kondisi suami kamu pasti karena ada alasan tersendiri. tapi sebagai sahabat, aku hanya ingin memberi tau, kalau aku akan selalu ada untukmu. jika kamu membutuhkan apa-apa jangan pernah ragu untuk menghubungiku" ucap Ane


Setelah terdiam untuk beberapa saat cairan kristal disudut mata Wawa pun akhirnya tak mampu lagi dibendung.


Ane memeluk sahabatnya dandan mengusap punggung Wawa


"Sebenarnya Bang Riko bisa dikatakan depresi Ne" ucap Wawa


"Kenapa bisa sampai Depresi?"


"Astaghfirullah, kamu yang sabar ya Wa, InsyaAlloh bang Riko pasti sembuh. ini ujian buat kalian. dan masalah kepergian Riki itu takdir yang tidak bisa dihindari. sesungguhnya kita semua yang hidup ini menunggu giliran untuk kembali kepadNya. semua hanya tentang waktu. jadi bagaimana bisa mereka menyalahkan bang Riko?"


"Itulah Ne, aku juga tidak mengerti dengan jalan pikiran keluarga bang Riko. kenapa semua memojokkan dan menyalahkan bang Riko atas kepergian Riki. dan alasanku kenapa aku tidak mau ada yang menjenguk bang Riko, karena bang Riko akan histeris setiap bertemu dengan orang. siapapun itu. aku hanya tidak ingin bang Riko tertekan."


"Iya aku faham, tidak apa-apa. semoga kamu bisa kuat menerima ujian ini dan semoga bang Riko cepet sembuh. aku pun pernah berada diposisi kamu, bang Arif pernah diambang kematian saat tertembak dalam tugas. bang Arif juga pernah hampir depresi ketika melihat sahabatnya tertembak didepan matanya. perasaan bersalah sampai sekarang kadang terlintas dibenak bang Arif. tapi sebagai istri, aku selalu berusaha menguatkan. menghiburnya dan berusaha mengajaknya senantiasa mendekatkan diri pada Alloh. karena sesungguhnya hidup dan mati kita hanya untuk Alloh dan Alloh lah sebaik-baiknya tempat untuk kita bersandar. jika kita bisa memasrahkan semua kepada Alloh yakinlah kita bisa lebih berpasrah diri dengan segala yang terjadi dalam hidup kita."


"Iya Ne, aku juga sering mendengarkan beberapa tausiyah pada Bang Riko, biar bang Riko hidupnya bisa lebih berpasrah dan tidak terus-terusan menyalahkan dirinya sendiri atas kepergian Riki. karena ini semua takdir, tidak ada yang bisa mengelak dari takdir yang sudah Alloh tetapkan"


***


Hari ini Nia bersikap biasa seolah tidak ada yang terjadi dengan hidupnya.


Nia kembali masuk bekerja setelah dua hari tidak masuk bekerja.


"Pagi Sinta, pagi Lala" sapa Nia tersenyum

__ADS_1


Sementara Sinta dan Lala saling menatap


"Kamu masih masuk kerja?" tanya Sinta


"Iya lah, memangnya kenapa aku harus tidak masuk? kan memang hari ini jadwalku piket" ucap Nia santai dan duduk dikursinya.


Kring.. kring..


panggilan masuk dari UGD


"Ya, dengan ruang VK disini" jawab Sinta


"Mbak ini ada pasien inpartu rujukan dari bidan, dengan pembukaan lengkap. KPD(Ketuban Pecah Dini). DJJ (Denyut jantung janin) nya 110/160 x/menit. Ibu sepertinya sudah kelelahan saat mengejan. segera siapkan tempat" ucap perawat dari UGD


"Siap mbak kami siapkan, dan kami segera menghubungi Dokter Sigit" ucap Sinta menutup telpon


Sinta menyambungkan telpon kedokter Sigit dan memberitahu tentang keadaan pasien. setelah mendapat petunjuk Sinta menutup telponnya.


"Apa Dokter Sigit akan kesini?" tanya Nia


"Iya" jawab Sinta singkat


"Ayo La, kita keruangan VK siapakan partus setnya!" ucap Sinta


"Biar aku saja yang menjadi asisten Dokter Sigit" ucap Nia


"Tidak usah, kamu sebaiknya disini saja. biar aku sama Lala saja" ucap Sinta segera meninggalkan Nia


"Ta-tapi aku_" ucap Nia terputus


Sekilas Nia melihat Dokter Sigit tampak terburu-buru keruang tindakan. dirinya berencana setelah Dokter Sigit melakukan tindakan, Nia ingin menemuinya pasalnya sudah dua hari ini Dokter Sigit tidak bisa dihubungi olehnya dan sepertinya juga tidak kembali ke apartemennyaapartemennya.


"Gimana Dok? sepertinya pasien kehilangan kesadaran" ucap Sinta mulai panik dengan kondisi pasien


"Siapkan ruangan operasi"


"Baik Dok"

__ADS_1


^Happy Reading^


__ADS_2