
Sesampainya dirumah, Ane segera mandi dan berganti pakaian. Ane yang sudah sangat merindukan putranya segera menemui putranya dikamarnya.
"Asalamualaikum" ucap Ane pelan takut membangunkan putranya yang sudah tertidur
"Walaikumsalam" jawab bu Imah pelan
"Amar seharian ini gimana ma? apa dia rewel?"
"Tidak, Amar anak yang pintar. tidak rewel sama sekali" Jawab bu Imah senyum
"Sebaiknya kamu segera makan, biar Amar tidur sama mbak sum aja" ucap bu Imah
Ane menurut dan segera kemeja makan. di meja makan mereka berbincang-bincang. papa Arif juga meminta Arif untuk segera bergabung dengan perusahaannya
"Tapi Arif belum tertarik dengan dunia bisnis pa" ucap Arif
"Tapi kamu anak papa satu-satunya. kalau bukan kamu siapa yang akan meneruskan usaha papa?"
"Iya pa, tapi Arif takut kalau tidak bisa mengelola perusahaan dengan baik. sedangkan Arif juga tentunya tidak boleh mengabaikan tugas dan tanggung jawab Arif sebagai seorang anggota polisi"
"Papa faham akan hal itu, tapi papa harap setidaknya kamu mulai memahami tentang usaha kita. tidak harus kamu handle langsung kok, kamu bisa menyuruh orang kepercayaan kamu untuk mengurusnya. tantu saja harus tetap dalam pantauan kamu"
"Baiklah pada, akan Arif usahakan untuk mempelajarinya"
***
Hari ini Saka kembali mengunjungi putri kecilnya. betapa bahagianya saat Saka melihat putri kecilnya membuka mata. dari luar Saka melihat putrinya terlihat sangat cantik.
"Anakku, ini ayah nak, terimakasih sayang sudah berjuang untuk kembali."Saka meneteskan air matanya.
Saka tidak pernah menyangka perasaannya akan seperti ini. dulu Saka sangat tidak menginginkan Almira dalam hidupnya tapi entah kenapa sekarang Saka merasakan sangat takut kehilangan Almira.
"Saka, kamu disini"
Saka menoleh kearah sumber suara, dilihatnya Tika berdiri dibelakangnya
"Tika, kamu.."
"Iya, aku kesini ingin melihat keadaan Almira." ucap Tika mendekat memandang Almira dari balik kaca
"Alhamdulillah, dia sudah sadar. cantik sekali" ucap Tika dengan mata berkaca-kaca
"Maafkan aku tika, aku berdosa sama kamu juga. maafkan aku tidak bisa menjadi suami yang baik untukmu." Saka terisak
"Tika senyum, kamu tidak berdosa terhadapku, selama menjadi suamiku, kamu memperlakukan aku dengan cukup baik. walaupun kita menikah tanpa dasar cinta tapi aku merasa kamu selalu berusaha untuk membahagiakan aku. jika sekarang kita harus berpisah seperti ini. mungkin karena jodoh kita cuma sampai disini. aku senang setidaknya kamu menyadari semua kesalahan kamu. Saka jaga putrimu dengan baik, dan rawatlah Nur"
"Bagaimana jika Nur tidak juga sadar, sedangkan Almira membutuhkan sosok seorang ibu." ucap Saka menatap Tika
Melihat keadaan Almira Tika terdiam sesaat.
"Aku akan membantumu mengurus Almira sampai mbak Nur sembuh" ucapnya
__ADS_1
"Benarkah? apa itu berarti kamu akan membatalkan perceraian kita?" Saka senang
"Perceraian tetap akan terjadi, aku hanya menundanya sampai mbak Nur kembali ketengah-tengah kalian" ucapnya
"Terimakasih Tika, terimakasih Tika" Ucap Saka meraih tangan Tika menggenggamnya dengan erat
Tika hanya diam melihat Almira yang, Almira pun seolah juga menatapnya
***
Dirumah Alan
"Nia mana Lan, kenapa tidak ikut bersama?" tanya bu Indah
"Nia tidak mau makan ma, katanya lagi tidak enak badan" ucap Alan
"Tidak enak badan, Apa sudah minum obat?" Tanya bu Indah
"Sudah ma, sepertinya kecapean" ucap Saka
"Ya sudah kalian makan dulu, biar mama lihat keadaan Nia dulu" ucap bu Indah meninggalkan ruang makan
Tok.. tok..
"Nia, ini mama nak"
"Iya ma" jawab Nia lemas
"Badanmu sepertinya tidak demam"
"Iya ma, tapi kepala Nia pusing banget dan bawaannya mual. sepertinya Nia masuk angin" jawabannya
"Apa mungkin kamu hamil?" tanya bu Indah
"Hamil?" ucapnya Nia berusaha mengingat-ingat sepertinya dirinya memang dari bulan kemarin belum mendapatkan tamu bulanannya
"Coba nanti biar saya coba tes ya ma" ucap Nia terpikirkan ucapan mertuanya
Mendengar cerita dari mamanya Akan segera ke apotik untuk membeli testpeck
"Ini" Alan memberikan sebuah testpeck
"Kok kamu..?"
"Iya mama yang nyuruh tadi, katanya sepertinya kamu hamil. semoga saja ya sayang"
Nia segera kekamar mandi untuk mencoba mengetes urine nya benar saja ternyata dia garis
Nia senang dan sangat bersyukur.
Nia berjalan mendekati suaminya
__ADS_1
"Bagaimana?" Alam penasaran
"Sayang bagaimana? kenapa tidak dijawab? bukan ya? ya sudah jangan sedih. kita kan bisa coba lagi" ucap Alan menenangkan Nia
Nia hanya senyum dan memberikan testpack nya pada Alan
"Ini, ini dia garis kan? itu artinya.. kamu, kamu hamil kan sayang? benar kan? kamu hamil ya?" ucap Alan senang dan memeluk Nia
"Aku jadi ayah, aku akan segera menjadi ayah" Alan senang dan sangat bersemangat berlari memberiy hasil testpeck Nia pada mama dan papanya
"Mama akan jadi nenek" ucap bu indah senang
"Berarti papa akan jadi seorang kakek ya" pak sandi pun terlihat senang dan tidak percaya
"Iya mama dan papa sebentar lagi akan mempunyai cucu" ucap Alan
"Alhamdulillah" ucap pak sandi dan bu Indah bersamaan
Bu indah juga tidak lupa mengabari Riri tentang kabar bahagia ini. Riri yang sedang kuliah kedokteran di luar kota, tentu saja merasa senang tapi juga ada perasaan sedih. lantara sampai saat ini Riri masih memiliki perasaan untuk Alan kakaknya. hanya saja, Riri sekarang berusaha untuk melupakan Alan. dan berharap akan ada laki-laki yang mampu membuatnya jatuh cinta hingga bisa melupakan Alan.
Riri tau perasaan cintanya ini salah. karena itu sejak awal kuliah Riri tidak pernah kembali ke rumah.
Hari-hari Riri dihabiskan untuk belajar mengalihkan pikirannya.
***
Dret.. dret..
Vidio call dari Wawa
"Hai... Selamat ya Nia, aku Senang banget waktu buka grub whatsapp dan lihat dua garis di testpeck kamu. selamat ya sebentar lagi akan jadi seorang ibu doakan aku juga ya" ucap Wawa
"Iya Wa, semoga kamu juga cepat dikasih momongan. oya gimana kabar kamu disana? seperti apa papua?" Nia penasaran
"Alhamdulillah kabar aku baik, dan alhamdulillah disini orang nya baik-baik. aku diterima dengan baik sama warga sini." jawabannya
"Syukurlah kalau seperti itu. aku ikut tenang dengarnya. semoga tahun depan kita bisa berkumpul lagi ya"
"Sepertinya belum bisa kalau tahun ini Nia, mungkin dia tahun lagi kami baru balik Jawa" ucap Wawa
"Kita semua bakalan kangen sama kamu Wa"
"Iya aku juga pasti kangen sama kalian, tapi mau gimana. tugas negara. ini alhamdulillah aku juga sudah bekerja di puskesmas sini" ucap Wawa
"Wah alhamdulillah kalau seperti itu, oya Wa. kasian Nur sampai saat ini belum ada tanda-tanda kesembuhan. sepertinya apa yang dialaminya menjadikannya terguncang seperti itu. bahkan Nur tidak menyadari akan kepergian Papa nya dan tidak tau dengan kondisi putrinya"
"Iya, aku juga sudah mendengar dari Ane. kita doakan semoga saja Nur cepat sembuh dan bisa kembali menjaga putrinya."
Terimakasih atas dukungan dari kalian semua reader 🙏jangan lupa Like, Coment dan syukur2 mau Vote hehehe jangn lupa subscribe juga dan kasih rating bintang 5 ya. maaf ya permintaan Author terlalu banyak heheheh
sekalian ijin promosi ya novel baruku dengan judul "TAK CINTA BUKAN BERARTI LAMPU MERAH"
__ADS_1