Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
CH 169


__ADS_3

"Sah.. "


"Bagaimana pasrah saksi?"


"Sah, sah.. " itulah yang dikatakan para saksi katakan


dan sejak saat para saksi mengatakan "Sah" Kini Nur sudah resmi menjadi istri dari Ustadz Guntur.


Raut bahagia terpancar dari wajah Nur, Bu Elsa dan semua tamu undangan. begitu juga dengan Ane yang saat itu didampingi Arif suaminya. menyaksikan pernikahan sahabatnya. sahabat yang dulunya juga penuh dengan drama kehidupan setelah melakukan kesalahan dalam hidupnya. hanya saja saat itu, Nur hanya merugikan dirinya sendiri. berbeda dengan Nia. karena statusnya saat ini Nia adalah seorang istri dan juga seorang ibu. saat dia melakukan kesalahan seperti itu tentu saja dampaknya sangat besar untuk banyak orang yang menyayanginya.


"Nur selamat ya, semoga menjadi pernikahan yang Sakinah, mawaddah dan warohmah" ucap Wawa


Ane, Nur dan Wawa berpelukan. tanpa disadari air matanya membasahi riasan diwajahnya


"Kenapa menangis" Ane menyeka air mata sahabatnya


"Ane, terimakasih ya. jika saat itu kamu dan banget Arif tidak menjemputku. entah kehidupan seperti apa yang aku jalani bersama Almira disana sendiri " ucap Nur memeluk Ane kembali


"Kami semua sahabat, tentu saja kita akan saling menolong dalam hal kebaikan. Sudah jangan menangis lagi, make up kamu luntur nanti" ucap Ane kembali menyeka air mata Nur dan kembali Nur dan Wawa tertawa


"Sayang sepertinya kita tidak bisa lama-lama karena abang harus segera kembali ke kantor" ucap Arif


"Baiklah bang, Ane akan berpamitan pada Nur dulu" jawab Ane


"Nur sepertinya aku harus segera pulang, sebenarnya kami masih ingin lama disini. tapi tau kan pekerjaan suami ini tidak bisa ditinggal terlalu lama. karena ini tadi jam kerja" ucap Ane pamit


"Aku juga sepertinya harus segera pulang Nur, kasian mas Riko kalau harus sendirian dirumah sakit" Wawa juga memutuskan untuk segera pulang


"Ya sepi lagi gak ada kalian" Nur menunduk


"Kan sekarang ada ustadz Guntur heheh.. oya ustadz Guntur tolong jagain Nur ya, aku do'akan semoga kalian selalu bahagia" ucap Ane

__ADS_1


"Amin, terimakasih sudah menyempatkan waktunya untuk mendoakan kami" jawab ustadz Guntur


Kini Para tamu undangan sudah pulang, tampak Almira yang minta digendong Nur dengan manja.


semua terasa seperti mimpi bagi Nur, setelah kegelapan yang dialami selama ini, Nur tidak membayangkan kalau hari ini dirinya bisa menjadi seorang istri dan Nur pun tidak menyangka kalau Almira bisa kembali begitu dekat dengannya.


"Almira sayang, hari ini kita harus pulang ya. nanti kapan-kapan kita kesini lagi" ucap Tika


Almira hanya diam dan memeluk Nur dengan erat.


Saat seperti inilah yang membuat hati Nur hancur, disaat anaknya sudah bisa menerima dirinya, tapi tak mungkin baginya untuk meminta Almira kembali bersamanya karena itu pasti akan menyakiti hati Tika yang sudah sangat menyayangi Almira seperti anak kandungnya sendiri.


"Sayang maafkan mama ya, mama janji begitu mama ada waktu,mama akan mengunjungi Almira. Almira anak baik nurut sama nenek dan tente Tika ya" Nur mencium Almira, dan Ustadz Guntur mengusap punggung Nur untuk menguatkan wanita yang baru saja menjadi istrinya.


Semua orang yang ada disana juga merasakan iba terhadap Nur dan Almira.


Kini Abah pun tau kalau Nur sebenarnya memang anak yang baik hanya saja dulu pernah tergelincir kedalam lembah dosa. didalam hati Abah mendoakan. semoga Nur kedepannya bisa menjadi istri yang baik untuk Guntur.


***


Disebuah kamar kos yang ruangannya tergolong sempit inilah Nia menangisi nasibnya. hidupnya kini bagai sebatang kara, semua orang memandangnya rendah dan tidak ada lagi tempat untuk dirinya berada.


Disaat seperti ini, pikirannya menerawang membayangkan kebersamaannya dengan suami anak dan sahabatnya. kenangan terakhir saat mereka berwisata kesebuah daerah pegunungan yang tidak terlalu jauh dari kotanya. Nia, Akan, Ane dan Arif. kenangan itu sesaat terlintas dibenak Nia betapa bahagianya saat itu, saat dimana dirinya dan Ane dengan susah payah berusaha menghibur Alan dan Arif yang merasa bersalah atas kepergian Viko.


Kini Nia tersentak ketika mengingat kepergian Viko karena tertembak saat bertugas.


"Seharusnya aku tidak menuntut lebih. Alan bisa kembali dengan nyawanya saja seharusnya aku bersyukur. kenapa aku malah berselingkuh. kenapa aku bisa sebodoh itu" gumam Nia menyesali yang telah terjadi


***


Malam ini dikediaman Pak Firman sudah duduk Dokter Sigit dan Dokter Anggun di hadapan pak Firman.

__ADS_1


Pak Firman sendiri juga dulunya seorang Dokter, tapi karena kesehatan akhir-akhir ini menurun, pak Firman memutuskan untuk pensiun dan mempercayakan rumah sakit pada menantunya.


Pak Firman menatap lekat pada Anggun dengan tatapan mata sayunya.


Melihat tatapan itu Dokter Anggun merasa bersalah terhadap papinya.


Masih jelas diingatan Dokter Anggun saat pertama kali mengajak Dokter Sigit kerumah dan diperkenalkannya sebagai calon suaminya.


Dengan tegas pak Firman menentang pilihan anaknya saat itu, tapi karena saat itu Dokter Anggun sudah sangat jatuh cinta pada Dokter Sigit membuatnya dengan gigih, menyakinkan Papinya dengan pilihannya. sampai Akhirnya pak Firman menerima pilihan putri satu-satunya itu.


Awal perkenalan Dokter Sigit dan Dokter Anggun sebenarnya karena putrinya. saat itu Tasya giginya butuh perawatan karena sering sakit. membuat mereka sering bertemu. hingga saat Dokter Anggun mengetahui kalau Tasya ini sudah ditinggal ibunya sejak masih kecil. merasa memiliki kesamaan nasib ditinggal ibunya sejak kecil dan tumbuh besar tanpa didampingi seorang ibu membuat hubungan Dokter Anggun dan Tasya menjadi dekat.


"Dok, Papaku juga seorang Dokter" ucap Tasya


"Oya, wah sama dong kayak saya"


'Nanti saya kenalkan sama papa saya ya Dok" Tasya antusias


"Boleh, memang papanya nganterin? biasanya sama asisten rumah tangga?"


"Kebetulan hari ini Papa libur Dok, jadi bisa nganter Tasya"


Selesai diperiksa, Tasya keluar untuk memanggil papahnya masuk kedalam.


"Papa, ini Dokter yang aku ceritain. cantik kan pa dokter Anggun" tanya Tasya


"I-iya cantik, Dok maafkan anak saya ya. dia memang seperti ini kalau merasa ada wanita yang cantik dan baik."


"Iya tidak apa-apa, saya faham. karena saya juga pernah merasakan diposisi seperti Tasya. tumbuh tanpa ibu yang mendampingi."


"Jadi Dokter Anggun ini?"

__ADS_1


"Iya mami saya sudah meninggal saat saya masih kecil. jadi saya bisa merasakan apa yang Tasya rasakan saat ini" ucap Dokter Anggun


Sejak pertemuan itu, keduanya menjadi dekat dan sering berhubungan.


__ADS_2