
Plak..
Saka ditampar mamanya
"Jaga mulut kamu Saka, kalau tidak untuk membela kamu, mama tidak akan melakukan itu. bisa-bisanya sekarang kamu menyalahkan mama karena kesalahan yang kamu buat? anak? anak kamu, kamu bilang? coba katakan sekali lagi apa mama tidak salah dengar?sekarang kamu bilang dia anak kamu? kamu lupa, bagaimana kamu nangis-nangis minta agar mama menyelamatkan kamu karena kamu tidak mau bertanggung jawab? kenapa sekarang kamu bilang dia anak kamu?" mama Saka murka
"Kalau bukan karena kamu anak mama, mama juga tidak akan mungkin menjadi orang yang tidak punya hati. mama salah. mama dibutakan cinta pada anak mama. sampai mama lupa cara mendidik anak dengan baik" ucapnya lagi
"Ma, ampun ma. maafkan Saka. Saka salah, Saka anak tidak tau diri. Saka salah, tolong maafkan Saka ma" tangis Saka bersujud dikaki mamanya
***
"Nur apa yang terjadi padamu nak? kenapa jadi seperti ini? kamu kenapa sayang" tangis bu Elsa pecah melihat keadaan Nur
"Nia apa yang terjadi? tadi Nur pamit kerumah Saka kenapa jadi berakhir disini? " tanya bu Elsa melihat Nia
"Nia kurang tau pastinya tante, tadi Nur dibawa Saka kesini sudah dalam keadaan seperti ini" ucapnya
"Saka? apa barusan kamu bilang Saka yang mengantar Nur kesini?" sahut papa Nur
"I, iya om. Saka yang membawa Nur kesini" jawabnya pelan
"Kurang ajar, om akan buat perhitungan sama laki-laki kurang ajar itu" papa Nur emosi
"Sabar pa, sabar, papa ingat jantung papa" bu Elsa menenangkan
"Benar om, sekarang yang perlu kita perhatian keadaan Nur dan Almira" ucap Nia
"Lalu apa om harus diam saja membiarkan laki-laki kurang ajar itu lepas begitu saja?" papa Nur kesal
"Bukan seperti itu pa, tapi Papa perhatian jantung papa. mama tidak mau papa gegabah dan merugikan diri sendiri. mama dan Nur masih membutuhkan papa. papa tenangkan diri dulu ya" bujuk bu Elsa
"Bagaimana mungkin papa bisa tenang, lihat keadaan anak dan cucu kita?" Papa Nur merasa frustasi sebagai ayah merasa tidak berdaya karena penyakitnya
Bu Elsa dan papa Nur melihat keadaan Almira dari luar kaca, melihat keadaan bayi sekecil itu harus berjuang hidup dengan alat bantu yang ada ditubuhnya membuat mereka merasa sakit hatinya. belum lagi melihat keadaan Nur yang seakan tidak menyadari dengan kehadiran orang didekat nya.
setelah cukup lama rundingan, bu Elsa dan papa Nur membuat keputusan untuk membawa Nur ke psikolog
***
__ADS_1
Sudah beberapa hari Nur mendapatkan perawatan dari psikolog tapi tidak ada tanda-tanda kesadaran Nur kembali. hingga keputusan terakhir membiarkan Nur mendapatkan perawatan intensif di RSJ(Rumah sakit jiwa) meskipun sulit menerima kenyataan Nur gila tapi perawatan itu tetap harus didapatkan Nur.
Melihat keadaan Nur, papa Nur merasa sangat marah sama Saka dan mendatangi Saka kerumah nya
Papa Nur mengedor pintu rumah Saka dengan keras
"Ada apa ini?" ucap mama Saka
"Diamana anak kurang ajar itu, Saka keluar kamu, dasar brengs*k, keluar kamu pengecut. jangan hanya sembunyi dibawah ketiak mama kamu. keluar brengsek*k" ucap papa Nur menerobos masuk rumah Saka
"Siapa kamu berani masuk rumah orang tanpa permisi" ucap mama Saka
"Om.. " ucap Saka
"Heh.. berani juga kamu menampakkan batang hidungmu didepan saya, setelah apa yang sudah kamu lakukan pada anak saya" papa Nur geram
"Karena perbuatan kamu, lihat apa yah terjadi pada anak saya" ucap papa Nur
"Kenapa kamu menyalahkan anak saya, salahkan anak kamu sendiri! kenapa jadi perempuan terlalu murahan" ucap mama Saka
"jangan sembangan kalau kamu bicara, anak saya tidak seperti yang kamu pikirkan" ucap papa Nur tidak terima
"Ma, sudah ma. tolong sudah ma" ucap Saka
"Laki-laki pengecut tidak tau diri" ucap papa Nur
"Maafkan saya om, tolong maafkan saya" ucap Saka
"Maaf kamu bilang? setelah apa yang kamu lakukan? sekarang kamu hanya bilang maaf? kamu harus bertanggung jawab!" papa Nur meninggikan suara
"Om, maafkan saya om, saya tau saya salah om. tapi.. tapi.. tapi saya tidak mungkin bertanggung jawab. Karena saya sudah menikah" ucap Saka menyesal
"Menikah? menikah kamu bilang? kenapa kamu.. " ucap papa Nur memegang dadanya seperti menahan sakit
"Om.. om.. om kenapa? om.. bangun om" teriak Saka melihat papa Nur tergeletak dilantai
Tidak butuh waktu lama, ambulan segera datang dan membawa papa Nur kerumah sakit
Papa Nur segera dilarikan ke IGD.
__ADS_1
Dokter dan perawat yang jaga saat itu terlihat begitu panik.
"Ada apa dengan suami saya? apa yang terjadi? kenapa suami saya seperti itu?" bu Elsa panik
Tapi semua hanya diam tak ada yang berani menjawab termasuk Saka.
"kenapa semua diam katakan kenapa suami saya bisa jadi seperti itu" tangis bu y
"Tante, maafkan kami" ucap Tika memegang tangan bu Elsa
"Apa maksud kamu?" Bu Elsa menatap tajam tika
"Tadi Om datang kerumah kami, dan om seperti ini karena bertengkar dengan mertua dan suami saya"jawab Tika
"Jadi kamu" ucap bu Elsa terhenti sepertinya mengerti kenapa suaminya seperti ini. pasti karena tau Saka sudah menikah dengan wanita dihadapan nya ini.
Seketika bu Elsa terdiam, Dunia ny terasa gelap melihat suaminya berjuang antara hidup dan mati, begitu juga dengan cucunya sementara Nur berada dirumah sakit jiwa.
"Ya Alloh kenapa semuanya jadi seperti ini" tangis bu Elsa pecah tak kuasa menahan kepedihan dihatinya
"Maafkan Saka tente, maafkan Saka" ucap Saka memohon dan bersimpuh di kaki bu Elsa
Tak lama Dokter dan perawat yang menangani suaminya keluar. bu Elsa berlari mendekati dokter tersebut
"Bagaimana keadaan suami saya Dok? suami saya baik-baik saja kan Dok? katakan dokter, katakan suami saya baik-baik saja. saya mohon dokter katakan suami saya baik-baik saja"cerca Bu Elsa
"Dengan berat hati, tapi saya harus menyampaikan permohonan maaf kami. kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi Alloh berkata lain" ucap dokter jaga tersebut
"Apa maksud Dokter? tidak Dokter bohong, pasti dokter bercanda kan? iya kan Dok? Dokter bohong kan? teriak bu Elsa
"Dokter bohong, Dokter bohong" teriak bu Elsa.
Seketika kakinya terasa tak bertulang, matanya mulai berat.
Bu Elsa jatuh tak sadarkan diri. beban hidupnya terasa berat, harus menanggung semuanya sendiri. sandaran hidupnya terasa hilang.
Saka hanya bisa merasakan penyesalan yang sangat mendalam. Saka mengacak-acak rambut nya dan meraung, menangis sejadi-jadinya melihat penderitaan keluarga Nur akibat ulah dari perbuatannya.
Jangan lupa dukung terus dengan cara like, coment dan Vote ya sayanx😘😘terimakasih 🙏
__ADS_1