
"Amar, aku ikut sedih saat mendengar berita kepergian nenek dan kakek kamu. kamu yang sabar ya" ucap Desi yang datang bersama dengan pak Toni dan Bu Toni
"Iya Mar, tadi begitu Desi tau kalau nenek dan kakek kamu pergi, Desi langsung meninggalkan kuliahnya dan segera ikut kesini karena mengkhawatirkan kamu" sahut Bu Toni
"Iya tante, terimakasih" jawab Amar
Disaat Amar sedang dalam keadaan bela sungkawa, justru para gadis-gadis ini berlomba-lomba mencari perhatian dan simpati dari Amar dan kedua orang tua Amar.
Dan justru hal seperti ini membuat Amar tidak suka karena terlihat tidak tulus. karena mereka datang hanya ingin mendapat simpati dari Amar saja.
"Kamu teman kuliahnya Amar?" tanya Desi yang duduk dekat dengan teman-teman Amar kuliah
"Iya kami teman-teman satu kampus dengan Amar" jawab Ranu
"Oow.. kalau aku teman satu sekolah Amar saat SMA dl kami satu kelas. aku sekarang juga kuliah di Kedokteran tapi disini saja. gak tau kalau Amar mau kuliah di Surabaya. coba tau dari awal mungkin aku juga akan kuliah kesana" ucap Desi
"Oow.. anak kedokteran juga" ucap Vita agak sinis
"Iya dong" jawab Desi mengibaskan rambutnya
Nana yang memperhatikan tingkat wanita-wanita yang terlihat jelas menaruh hati pada Amar menjadi minder lantaran merasa tidak punya peluang untuk bisa mendapatkan hati Amar. Amar dikelilingi wanita-wanita yang cantik dan dari kalangan atas serta latar belakang yang jelas tidak seperti dirinya.
Diperjalanan pulang Nana tampak murung membuat Dokter Anggun penasaran. apa yang terjadi dengan anak gadisnya
"Nana kamu kenapa sayang? apa kamu sakit?" tanya Dokter Anggun
"Tidak ma, Nana tidak apa-apa!" jawabnya singkat
"Nana, kalau ada apa-apa cerita sama mama sayang! jangan dipendam sendiri" ucap Dokter Anggun dan Alan melirik putrinya dari kaca atas
"Ma, seandainya Nana ini anak kandung mama, pasti Nana bahagia sekali" ucap Nana
"Sayang kenapa bicara seperti itu nak? kamu anak Mama, tidak ada anak tiri atau apa, yang perlu kamu ingat. kamu itu anak Mama dan papa sama seperti Rara" tegas Dokter Anggun
"Tetep saja ma, semua orang sudah tau kalau Nana hanya anak tiri Mama. bahkan sekarang teman-teman Nana dikampus memandang Rara sebelah mata. sudah tidak ada lagi yang menghargai Nana
"Nana kamu tidak perlu memperdulikan omongan orang, yang terpenting papa sama Mama tidak pernah membedakan anak-anak kami." sahut Alan
"Benar apa yang dikatakan papa sayang. jangan menghiraukan omongan orang yang tidak penting" tingal Dokter Anggun
"Bagaimana bisa ma? Nana malu dengan latar belakang Mama kandung Nana yang tidak lebih hanya seorang wanita penghianat dan mantan narapidana. siapa orang yang mau dekat dengan anak mantan narapidana karena kasus percobaan pembunuhan?" ucap Nana dengan mata berkaca-kaca
"Sayang, jangan bicara seperti itu ya. walau seperti apa. Nia tetep Mama kandung yang wajib kamu hormati sayang. jangan membenci wanita yang sudah melahirkan kamu. setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan begitu juga dengan Mama kandung kamu. saat itu, dia masih muda. tapi sekarang dia sudah menyesali semua perbuatannya
"Apa kalau masih muda diperbolehkan berbuat seperti itu?" ucap Nana kesal
"Bukan sayang, bukan begitu maksud Mama. tapi berilah Mama kandung kamu kesempatan untuk memperbaiki diri. Alloh saja maha Pemaaf. siapa kita tidak mau memaafkan orang yang sudah mengakui kesalahannya?"
"Sayang, papa dan Mama Anggun juga pernah merasakan sakit hati karena Mama kandung kamu, tapi seperti yang barusan Mama Anggun bilang tadi. siapa kita ini? kenapa tidak mau memaafkan orang yang sudah dengan sungguh-sungguh meminta maaf?" timpal Alan
__ADS_1
"Tetep saja pah, Nana tidak mau punya Mama seperti itu. Nana malu pah. dan sekarang, Nana sudah tidak memiliki kesempatan untuk bisa dekat dengan Amar. kesempatan untuk dekat dengan Amar semakin jauh" ucap Nana
"Nana sayang, tolong jangan berpikir terlalu jauh dulu ya sayang. kamu fokus pada kuliah kamu. belum waktunya kamu berpikir masalah percintaan nak" ucap Alan mengingatkan
"Tapi Nana benar-benar mencintai Amar pah, sudah sejak lama Nana mencintai Amar" ucap Nana
"Sudah-sudah. tidak dibahas lagi ya" sahut Dokter Anggun
"Pah, mah, Nana ingin pindah kuliah. Nana benar-benar ingin pindah kuliah. Nana tidak tahan kuliah di sana. Nana ingin dekat dengan Amar pah" rengek Nana
"Maksudnya gimana ini? kamu mau pindah kuliah kedokteran sama Amar? terus nanti ternyata kalau Amar tidak menyukai kamu. kamu akan pindah kuliah lagi? iya begitu?" tanya Alan dengan nada tinggi
"Tidak pa, Nana janji kali ini Nana akan serius kuliah dengan baik"
"Kalau Mama terserah kamu, jika kamu bisa masuk ku universitas itu. silhkan saja! karena untuk bisa masuk kesana bukan hal yang gampang. hanya mereka yang benar-benar berprestasi yang bisa masuk kesana. apalagi kedokteran. ini bukan hal main-main. karena nantinya ini akan berkaitan dengan puluhan bahkan jutaan nyawa seseorang" tegas Dokter Anggun
"Bukankah ayah om Fahmi rektor disana ma? pasti kalau Mama yang meminta bukan hal yang sulit untuk Nana masuk kesana" ucap Nana yakin
"Nana jauhkan pikiran seperti itu" bentak Alan
"Papa ini kenapa sih? sekali ini saja, Nana mohon tolong dukung Nana" ucap Nana
"Bagaimana bisa kamu bilang seperti itu, memangnya papa tidak mendukung kamu selama ini. apa kamu lupa, dari awal papa sudah menyarankan kamu kuliah kedokteran tapi kamu menolak dan entah dengan pertimbangan apa. kamu justru memilih kuliah disana. sekarang dengan mudah kamu bilang mau pindah kuliah?" Alan geram
"Nana bukan Mama tidak mau membantu kamu. tapi permintaan kamu itu rasanya tidak mungkin. paman itu terkenal sangat disiplin. Mama saja yang keponakannya dulu juga benar-benar hasil tes sendiri. gak mau paman itu memanfaatkan jabatannya. Fahmi pun dl juga sama harus ikut seleksi tanpa campur tangan ayahnya." jelas Dokter Anggun
"Itu bukan alasan Mama saja kan biar Nana tidak kuliah disana?"
"Nana, kenapa jadi tidak sopan seperti itu? kamu juga harus melihat kemampuan kamu. jadi Dokter itu bukan hanya untuk sekedar gaya-gayaan atau untuk memikat hati cowok. tapi jadi Dokter itu untuk menolong nyaw pasien. jadi Dokter itu bukan untuk main-main Nana" tegas Alan dengan suara meninggi
Nana merasa marah kesal dengan papanya karena tidak membela dirinya.
***
Dirumah Arif
"Amar kita pamit pulang dulu ya" pamit Ranu
"Kalian mau balik ke Surabaya?" tanya Ane
"Iya tante, tapi karena kami tidak dapat tiket pesawat. jadi kami akan pulang dengan naik bis umum tante" sahut Vita
"Sebaiknya malam ini kalian semua tidur disini saja dulu, baru besok pagi kembali ke Surabaya. lagian kalau kalian pulang sekarang sampai sana pasti malam banget" ucap Ane
"Tapi kami takut merepotkan tante" jawab Ranu
"Tidak, kalian tidak merepotkan sama sekali. justru tante dan Om sangat berterimakasih pada kalian karena sudah jauh-jauh datang kesini" jawab Ane
Ranu, Vita, Bara, Leni. dan Raka saling berpandangan. dan akhirnya mereka memutuskan malam ini untuk tidur dirumah Amar
__ADS_1
Malam ini setelah sholat maghrib semua berdoa, untuk mendoakan nenek dan kakek Amar. terlihat Arif masih sangat terpukul dengan kepergian orang tuanya yang mendadak. seusai doa bersama Arif kembali kekamar dan memandangi foto kedua orang tuanya.
"Bang, makan dulu ya! ini Ane bawakan nasi sama ayam goreng. abang makan dulu ya" bujuk Ane namun Arif hanya diam tak menjawab dan tak menyentuh makanan yang Ane bawa
"Ane tau abang sedih, Ane pun sedih. tapi kita tidak boleh larut dalam kesedihan. kasihan papa sama mama. karena jika abang larut dalam kesedihan itu akan memberatkan langkah mama dan papa. boleh kita bersedih tapi tidak boleh kita berlarut-larut dalam kesedihan. kita harus iklas melepas kepergian papa sama mama. dan sekarang tugas kita mendoakan. semoga beliau dimudahkan jalannya dan diampuni segala dosa dan kesalahannya." Ane menghibur suaminya
Arif tidak menjawab dan langsung memeluk istrinya. menangis dipelukan Ane sejadi-jadinya.
"Sabar ya sayang, ikhlaskan kepergian mama dan papa. kita sayang mama dan papa tapi Alloh lebih sayang dengan mama dan papa" ucap Ane mengusap lembut punggung Arif.
***
"Amar teman-temannya diajak makan malam dulu" ucap bu Vina
"Iya nek" Jawab Amar
"Ayo makan dulu, nenek sudah menyiapkan makan malam" ajak Amar pada teman-temannya
"Maaf ya Nek. kita jadi merepotkan nenek. bukannya meringankan tapi malah membuat repot" ucap Vita
"Tidak apa-apa, nenek. seneng Amar memiliki teman yang baik dan perduli dengan Amar seperti kalian" ucap bu Vina
Disaat yang lain sedang mengambil makanannya. Amar hanya diam tak berselera makan.
"Ini Amar dimakan" ucap Vita memberikan piring yang sudah diisi dengan nasi dan lauknya
Amar melihat kearah Vita dan sedikit tersenyum.
Untuk pertama kalinya Amar tersenyum pada Vita. tentu saja hal ini membuat Vita sangat bahagia.
Setelah makan Vita memberesi semua peralatan bekas makan mereka, membawanya kedapur dan mencuci semua piring bekas makan malam mereka.
"Nak Vita diluar saja, sama yang lain. biar nenek yang mencucinya nanti" ucap bu Vina
"Tidak apa-apa nek, Vita sudah biasa kok nek" jawab Vita bohong. kerena sebagai anak orang kaya sejak kecil semua pekerjaan rumah, sudah dikerjakan oleh pembantu. bahkan masuk kedapur saja Vita tidak pernah.
Bu Vina tersenyum dan tau dengan jelas, kalau Vita sebenarnya tidak terbiasa mencuci piring. dilihat dari caranya mencuci piring, terlihat sangat jelas kalau mungkin ini hal baru yang dilakukan Vita. tapi bu Vina berusaha menghargai apa yang dilakukan Vita.
"Kamu satu angkatan dengan Amar?" tanya bu Vina
"Iya nek, kami satu angkatan" jawab Vita
"Amar kalau dikampus bagaimana? dia pasti selalu bersikap dingin ya?"
"Hehehe... iya nek" jawab Vita ragu-ragu
"Amar memang seperti itu orangnya, tapi sebenarnya anaknya cukup manis dan hatinya lembut" ucap Bu Vina
"Iya nek, ternyata nenek asyiknya. mengerti anak muda" ucap Vita tersenyum
__ADS_1
"Gini-gini nenek juga pernah muda lho" jawab bu Vina tersenyum