Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
AWAL MULA PERSELINGKUHAN


__ADS_3

"Baiklah Abah, kalau Abah sudah mengambil keputusan seperti itu. Fatimah hanya bisa mendoakan semoga ini adalah keputusan yang terbaik buat ustadz Guntur dan Abah. walaupun sebenarnya Fatimah sedikit ada rasa kecewa tapi tidak apa-apa bah, InsyaAlloh Fatimah iklas. Fatimah iklas menerima kenyataan ustadz Guntur bukan jodoh Fatimah"


"Fatimah kamu juga tau sebenarnya Abah sangat menyukaimu dan ingin menjadikan kamu menantu Abah tapi ternyata takdir berkata lain. dan kita tidak boleh menentang takdir. karena takdir dari Alloh pasti yang terbaik. Abah do'akan Fatimah segera menemukan pendamping yang bisa mencintai dan membimbing Fatimah sampai ke jannah"


Fatimah yang kecewa setelah keluar dari ruangan Abah, Fatimah berpikir setelah bicara dengan Abah itu bisa merubah keputusan Abah untuk tidak merestui ustadz Guntur dan Nur menikah. karena Fatimah faham benar ustadz Guntur tidak akan menikah tanpa restu dari Abah. namun sekarang harapan itu juga sirna.


"Ini semua karena Ayah dan ibu. seandainya saja mereka tidak usah mempertanyakan perasaan ustadz Guntur mungkin sebentar lagi aku yang akan menikah dengan ustadz Guntur bukan si Nur." batin Fatimah


"Igh... igh... sebel.. sebel.. kenapa harus wanita itu" Gumam Fatimah


"Hai.. Fat, kamu kenapa?" tanya salah satu santriwati


"Gak papa, cuma lagi sebel saja ustadz Guntur mau nikah sama Nur" ucap Fatimah


"Kami juga kaget lho, kami kira ustadz Guntur akan menikahi kamu, waktu kamu pulang ke rumah dulu itu, kami kira ustadz Guntur akan melamar kamu. tapi kok tiba-tiba malah Nur yang dilamar?"


"Iya itu karena Ayah dan ibuku yang tidak mau menerima lamaran ustadz Guntur" terang Fatimah


"Ayah dan ibumu tidak mau menerima lamaran ustadz Guntur? memang kenapa? aku kira semua orang tua yang punya anak perempuan pasti akan dengan senang hati menerima lamaran dari ustadz Guntur, ganteng, lulus Kairo dan pastinya faham agama. lha ini kenapa malah ditolak?"


"Iya, kami gak ngerti dengan keputusan orang tua kamu Fat?" sahut santriwati yang lain


"Itu tidak penting, yang pasti ayah dan ibuku punya pertimbangan sendiri, dan aku sebenarnya tidak masalah kalau ustadz Guntur tidak menikah denganku, tapi jangan sama Nur"


"Kenapa memangnya?"


"Kalian belum ada yang tau ya?" ucap Fatimah


"Tau apa sih Fat, bikin kita pada penasaran saja?"


"Nur itu sebenarnya bukan wanita baik-baik" ucap Fatimah


"Maksudnya Fat?"


"Nur punya anak diluar nikah. kabarnya ayahnya saja sampai meninggal karena kelakuan Nur yang mencoreng nama baik keluarganya. dan yang lebih parahnya ternyata dia itu juga pernah gila sampai dirawat di rumah sakit jiwa."

__ADS_1


"Apa? yang benar? kamu gak lagi bohongin kita kan?"


"Ya gak lah, kapan aku pernah bohongin kalian" ucap Fatimah


"Astaghfirullah, kalian ini pada bahas apa? jangan menghibah dosa. itu sama hal nya kalian memakan bangakai saudara kalian sendiri" Sahut Humaira yang tidak sengaja lewat dan mendengar pembicaraan mereka


"Kami bukan ghibah, tapi kami membicarakan yang sebenarnya. itu fakta yang sebenarnya!" ucap Fatimah


"Kalau pun itu benar, bukan berarti kamu bisa menggunjingkan saudara sesama muslim sendiri. ingat Nur itu saudara muslim kita. harusnya kita menutupi aibnya bukan mengumbar aibnya."


"Kami hanya merasa tidak rela jika ustadz Guntur harus menikah dengan wanita seperti itu"


"Astaghfirullah, ingatlah jodoh itu ditangan Alloh. siapa kita mau menentang jodoh seseorang yang sudah Alloh takdirkan" ucap Humaira


****


Siang ini Nia yang seharusnya dirumah berbohong pada Alan kalau dirinya akan pergi berkerja.padahal sebenarnya dirinya justru pergi bersama dokter Sigit.


Iya, saat ini Nia dan dokter Sigit pergi untuk menonton.


Setelah menonton kedua pasangan terlarang ini makan disebuah restoran dan mereka memesan beberapa makanan.


"Nia terimakasih sudah menemaniku jalan-jalan"


"Tidak usah berterimakasih dok, Nia senang kok bisa bersama dokter Sigit"


"Benarkah?" Dokter Sigit menatap mata Nia


Nia tersenyum dan menganggukkan kepala


"Nia, jujur saja aku merasa senang setiap kali berada di dekatmu. perasaan yang tidak pernah aku dapatkan dari istriku. coba saja aku mengenal mu dari dulu. pasti aku akan menikahi kamu. sayangnya kita kenal saat kita sama-sama sudah mempunyai pasangan" terang dokter Sigit


"Hal sama yang aku rasakan Dok, kenapa kita tidak kenal lebih awal. jujur saja awal aku menikah dengan suamiku bukan karena cinta tapi karena keinginan untuk menikah karena teman-temanku sudah banyak yang menikah."


"Dan sebenarnya aku menikah dengan mas Alan karena dia seorang polisi. aku pikir menikah dengan polisi itu enak. tapi ternyata.. " batin Nia

__ADS_1


"Nia.. Nia. kenapa malah melamun?" ucap dokter Sigit membayangkan lamunan Nia


"Eh.. iya, maaf dok" ucap Nia gelagapan


"Apa yang sedang kamu pikirkan?"


"Tidak kok dok, hanya saja saya akui dulu saat kuliah saya selalu ingin mempunyai pasangan seorang Polisi tapi setelah menikah dengan Polisi, saya baru sadar kalau menjadi istri dari seorang Polisi itu tidak mudah. karena kita harus mengesampingkan kepentingan pribadi. pernah kita lagi ada rencana liburan udah seneng banget kan dok padahal, tapi tiba-tiba saja ada telpon dari kantor dan seperti biasa pasti langsung pergi ke kantor dan membatalkan acara kami. Lagi-lagi saya lagi yang harus mengalah"


"Bukankah kita sebagai seorang nakes juga sama ya? tiap ada panggilan dari rumah sakit kita juga harus segera datang dan seringkali meninggalkan keluarga kita karena pekerjaan. ya mau bagaimana ini pilihan yang harus kita jalani karena pekerjaan kita juga tidak mungkin kita tinggalkan" Dokter Sigit mengangkat kedua tangannya


"Ya tentu beda lah Dok, dari pendapatan saja sudah beda."


"Wah kamu ini" dokter Sigit tersenyum menggelengkan kepalanya


"Lho benar kan yang saya katakan? pendapatan dokter lebih banyak sebandinglah dengan kinerjanya" ucap Nia


***


Selepas makan malam dengan Dokter Sigit Nia tidak pulang, tapi dirinya kerumah sakit.


"Hai.. Nia, dari mana kamu? aku tebak pasti habis jalan dengan dokter Sigit kan?" tanya Sinta senyum-senyum


"Iya, malam ini akun temani kamu piket. males pulang kerumah" ucap Nia.


"Kenapa gak sekalian aja nginep di apartemen dokter Sigit?" goda Sinta


"Apaan sih kamu, ya gak lah. masak nginep apartemen dokter Sigit? hubungan kami itu tidak sejauh yang kamu pikirkan" ucap Nia


"Alah Nia, Nia.. kamu ini kayak anak remaja saja malu-malu. kita ini udah dewasa gak usah sok jaim-jaim hahahaaha.... " Sinta tertawa


Sinta memang bukan wanita yang baik. dirinya janda beranak dua karena diceraikan suaminya setelah ketauan selingkuh. tapi hal itu juga tidak membuatnya jera.


^Happy Reading^


Mohon dukungannya dengan Like, Coment dan Vote ya🙏😍

__ADS_1


__ADS_2