Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
CH 232


__ADS_3

"Nana masih sering kesini bun?" tanya Arif mengalihkan pembicaraan


"Masih, itu juga yang membuat Ane suka bingung Bang. dia itu hampir setiap hari kesini padahal setau Ane kuliah kebidanan itu harusnya lumayan sibuk lho bang, Ane ingat dulu waktu Ane masih kuliah hampir setiap hari itu kuliah selalu full. dari jam tujuh pagi sampe jam lima sore itu hampir tidak pernah kosong. cuma jam istirahat lima belas menit aja buat makan dan sholat. tapi Nana itu berjam-jam disini. kadang sampai Ane itu bingung. mau ngusir juga gak enak. dibiarkan juag Ane sebenarnya ngantuk mau tidur siang."


"Bunda gak coba tanya kenapa sering kesini? kuliahnya bagaimana?"


"Sudah bang, ya paling jawabannya lagi jam kosong lah, gak ada kuliah lah, tapi kalau menurut Ane sebenarnya ini cukup aneh."


"Cobe deh sayang bicarakan sama Anggun, takutnya kalau ternyata Nana gak masuk kuliah"


"Apa iya bang?"


"Ya siapa tau kan bun, sebelum terlambat. coba kamu bicarakan dulu sama Anggun"


"Iya bang, besok biar Ane bicarakan sama mbak Anggun. sekalian Ane juga mau membersihkan gigi ke rumah sakit" ucap Ane


"Ya sudah sekarang kita tidur yuk, abang sudah ngantuk. besok banyak kegiatan juga" ucap Arif berdiri dan berjalan menuju kamar


***


Keesokan harinya. Ane datang kerumah sakit untuk membersihkan giginya.


"Assalamu'alaikum" ucap Ane membuka pintu


"Walaikumsalam, Hai.. Ane. kaget banget aku kedatangan pasien spesial" ucap Dokter Anggun senyum menyambut kedatangan Ane


"Jadi gimana? ada yang bisa dibantu" ucap Dokter Anggun lagi setelah Ane duduk


"Iya ini lho mbak, aku mau membersihkan gigi. biasa pemeriksaan rutin setiap enam bulan sekali" ucap Ane meletakkan tasnya diatas meja.

__ADS_1


Dokter Anggun mempersilahkan Ane naik dental chair(Kursi Dokter Gigi). dan perawat membantunya untuk naik dan berkumur terlebih dahulu.


Setelah selesai melakukan periksaan Ane berbasa-basi untuk menanyakan tentang Nana dan kuliah Nana.


Tapi terlihat Anggun menghela nafas berat saat ditanya tentang kuliah Nana.


"Kenapa? apa ada masalah dengan kuliah Nana?" tanya Ane


"Entahlah, aku sendiri juga tidak mengerti yang sebenarnya. aku kemarin sempat menanyakan tentang kuliahnya dan menanyakan tentang ujiannya. tapi bukannya dijawab justru Nana marah. aku sendiri bingung bagaimana caranya untuk membuat Nana terbuka tentang kuliahnya." terang Dokter Anggun


"Ini kamu masih sibuk tidak? kalau tidak aku ingin sedikit bercerita dengan kamu tentang Nana" ucap Ane


"Sus diluar masih ada pasien tidak?" tanya dokter Anggun pada perawat


"Sudah tidak ada Dok, nanti ada lagi jam satu Dok" ucap Susi


"Gimana kalau kita ngobrol sambil makan di cafe dekat sini saja" ucap Dokter Anggun


Sesampainya dicafe sambil menunggu pesanan Ane mulai membicarakan tentang Nana yang hampir setiap siang main kerumahnya.


"Maaf ya mbak Anggun, jangan tersinggung. bukannya aku mempermasalahkan Nana main kerumah. aku seneng Nana main kerumah, tapi kalau menurutku ada yang aneh. aku ini kan dulunya juga pernah kuliah kebidanan mbak, setauku mahasiswa kebidanan itu pasti sibuk dan setiap hari selalu ada kelas. tapi Nana kok sepertinya setiap hari jam kosong terus, ini mamang benar dosennya tidak masuk atau Nana nya yang tidak masuk?" ucap Ane


"Masuk akal apa yang kamu katakan. terimakasih ya Ane. kamu sudah memberitahu aku tentang ini. jujur aku juga sebenarnya sedikit curiga saat Susi perawat aku tadi itu, kebetulan anaknya juga kuliah disana. Susi bilang hasil ujian anaknya sudah keluar. tapi pas aku tanya ke Nana dia malah marah. dari situ sebenarnya aku merasa ada yang tidak benar. tapi jujur saja terkadang posisiku yang hanya sebagai ibu tiri ini membuat aku tidak bisa tegas dengan Nana. kalau aku berusaha tegas, Nana akan berpikir aku seperti itu karena sekarang sudah ada Rara. padahal aku tidak pernah membedakan kasih sayangku antara Nana ataupun Rara. semua anakku" ucap Dokter Anggun


"Iya aku faham dengan posisi kamu, coba kamu bicarakan saja masalah ini pada Alan."


"Sebenarnya Nana seperti ini karena bentuk protesnya. dia ingin tau penyebab Alan melarang dirinya bertemu dengan mama kandungnya. Nana sangat ingin tau siapa dan dimana sekarang mama kandungnya. tapi Alan marah setiap kali Nana menanyakan soal ibu kandungnya"


"Jadi Nana masih menanyakan tentang hal itu?"

__ADS_1


"Iya Ne, aku sudah berusaha menyuruh mas Alan untuk menceritakan saja semuanya. Nana ini sekarang sudah dewasa lebih baik Nana tau dari orang terdekatnya dari pada harus tau dari orang lain kan?"


"Sebenarnya apa yang kamu katakan ada benarnya. lebih baik Nana diberi tau saja, biar Nana tidak salah faham. bagaimana kalau kapan-kapan aku bantu kamu bicara sama Alan?"


"Iya Ne, terimakasih ya" ucap Dokter Anggun tersenyum.


"Eh.. minggu depan jadi kan ke Surabaya? tanya Ane


"InsyaAlloh jadi, nanti kita berangkat bareng saja" ucap Dokter Anggun


"Iya, rencananya emang gitu. nanti kita berangkat bersama. eh.. semalam Amar nganter Rara pulang katanya"


"Oya? emang Rara dari mana?"


"Amar kan semalam ada tugas kelompok gitu, terus dikerjain dicafe, disana ketemu sama Rara."


"Syukurlah kalau gitu, Rara jadi banyak yang jaga. awalnya aku cemas Rara disana sendiri. kakeknya juga sudah tua, Om dan tantenya sibuk juga kan sebagai dokter. sebenarnya berpisah jauh dari Rara juga berat karena Rara kan usia remaja, masih harus banyak bimbingan dari orang tua. aku lega, Amar ternyata perhatian juga sama Rara. aku percya kalau Rara sama Amar"ucap Dokter Anggun tersenyum


"Jujur aku juga heran lho sama Amar, kamu tau sendiri kan gimana cueknya Amar sama orang. tapi kok ternyata dia bisa se care itu sama si RaraRara. apa. mungkin karena Amar tidak punya adik. jadi nganggap Rara adiknya ya" ucap Ane


"Bisa jadi, mungkin Amar pengen punya adik. kamu tidak ada niatan nambah momongan? Amar juga sekarang kuliah diluar kota pasti kamu kesepian dirumah sendiri?"


"Sepi sih, tapi Amar sudah segede itu masak mau punya adik lagi hehe.. " Ane tertawa


"Ya gak papa dong, kamu kan juga masih muda" ucap Dokter Anggun


Keduanya tampak asyik mengobrol sebelum akhirnya keduanya berpisah. lantaran Ane yang harus pulang ke rumah dan Dokter Anggun harus kembali bekerja.


Sesampainya dirumah, Ane sudah disambut dengan kedatangan Nana yang saat ini sedang berbincang dengan perempuan paruh baya namun masih terlihat enerjik, siapa lagi kalau bukan bu Imah. meskipun sudah lanjut usia namun bu Imah masih terlihat sangat enerjik dan sehat.

__ADS_1


^Happy Reading^


__ADS_2