Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
SEMAKIN MENJADI


__ADS_3

Nia mama ini sudah tua, kamu tau kan Nana sekarang semakin aktif. mama sepertinya tidak sanggup jika harus menjaga Nana sendiri. menurut mama, apa tidak sebaiknya kalau lebih baik kamu berhenti saja dari pekerjaan kamu. fokus sama anak kamu dulu. nanti kalau Nana sudah besar kamu bisa bekerja lagi. sekarang masalah mencari nafkah biar Alan saja sebagai kepala keluarga yang melakukannya" ucap Bu Indah lagi


"Maaf ma, bukan Nia tidak mau menurut perintah mama. hanya saja Nia ini di kuliahkan orang tua Nia biar jadi bidan. kalau Nia tidak bekerja, itu sama halnya Nia mengecewakan orang tua yang sudah membesarkan Nia"


"Nia, tapi kalau menurut papa. apa yang dikatakan mama ada benarnya. sebagai seorang istri kamu punya kewajiban terhadap suami dan anak kamu. papa juga yakin. ayah dan ibu kamu akan mengerti dengan keputusan ini" ucap Pak Sandi


"Iya Nia, sebagai bidan mama yakin kamu tau, usia Nana ini masih masih sangat membutuhkan perhatian mamanya. dan ini masa-masa keemasan bagi Nana. sebaiknya kamu dampingi masa tumbuh kembangnya jangan sampai menyesal karena masa ini tidak akan terulang untuk kedua kalinya" tegas Bu Indah


"Ma, jika alasan mama sudah tidak sanggup untuk mengasuh Nana sendiri. Nia bisa kok mencari pengasuh untuk Nana biar mama tidak kerepotan. tapi maaf Nia tetep tidak akan berhenti bekerja. maaf Nia capek mau istirahat dulu" ucap Nia pergi kembali kekamar.


"Ternyata percuma pa, walaupun kita yang meminta Nia tetap tidak mau berhenti bekerja" ucap Bu Indah


"Ma, pa Alan pergi dulu" ucap Alan yang sedari tadi hanya diam mendengarkan papa dan mamanya menasehati Nia.


"Kamu mau kemana Lan?" Buat Indah memegang tangan Alan


"Alan mau cari angin sebentar ma"


"Alan kamu yang sabar ya nak, mama mengerti pasti saat ini perasaan dan pikiranmu sedang kalut. tapi mama harap kamu tidak melakukan hal bisa merugikan diri kamu sendiri. ingat Lan, kamu masih punya mama dan papa. kamu juga harus ingin ada Nana yang membutuhkanmu"ucap Bu Indah


"Iya ma, memangnya Alan mau ngapain? Alan hanya keluar sebentar cari angin. mama jangan khawatir ya! Alan tidak apa-apa kok"


"Ya sudah cepet pulang" ucap BU Indah.


****


Dret... dret...


panggilan masuk dihape Ane


"Assalamu'alaikum"


"Walaikumsalam Nur, ada apa ini calon pengganti siang-siang telpon" goda Ane


"Aku mau ngabarin kalau minggu depan InsyaAlloh aku menikah dengan ustadz Guntur. kamu bisa datang kan sama banget Arif?"


"InsyaAlloh aku usahakan ya, tapi kalau bang Arif aku tidak bisa menjanjikan bisa ikut apa tidak. kamu kan tau sekarang ini bang Arif sibuk terus, kalau tidak dikantor pasti diperusahaan"


"Iya aku faham kok, InsyaAlloh nanti Wawa juga datang kok"


"Wawa? memangnya dia sudah kembali ke Jawa? kenapa aku tidak tau?"

__ADS_1


"Ups.. keceplosan deh, padahal wawa ingin memberi kamu kejutan"


"Igh.. jahat ya kalain ya, kenapa tidak memberitahu aku kalau Wawa sudah kembali"


"Iya, Wawa sudah kembali dua hari yang lalu. sebenarnya dia juga tidak memberitahu aku, cuma waktu sedang menelpon dia untuk memberitahu soal pernikahanku, kebetulan mamanya memanggil. makanya aku tau kalau dia dirumah"


"Wah.. aku seneng banget ini, kita bisa kumpul lagi nanti dinikahan kamu"


"Iya, cm sayangnya masih kurang Yeni. sepertinya Yeni masih lama kembalinya. apalagi sekarang Yeni sudah keterima PNS disana, mungkin nantinya dia akan menetap di Kalimantan" ucap Nur


"Iya Yeni juga sudah membeli rumah disana, kemungkinan memang mau menetap disana" ucap Ane


"Dimanapun kita berada yang penting kita selalu saling menyebut nama dalam doa." ucap Nur


"Siap Bu ustadzah" goda Ane


"Hahaha.. kamu ini bisa aja"


"Ya kan benar sebentar lagi kamu jadi istri pak ustadz, berarti kamu akan dipanggil jadi Bu ustadz kan?"


"Udah-udah, kamu ini paling bisa kalau godain aku"


"Nia? ada apa dengan Nia? bukankah dia baik-baik saja?" Nur penasaran


"Entahlah Nia sekarang berubah, aku sudah tidak mengerti dengan dirinya lagi."


"Sebentar-sebentar coba kamu ceritakan sebenarnya ada apa dengan Nia?"


"Saat ini Nia itu seperti lupa daratan. bahkan tidak perduli dengan suami dan anaknya. setiap hari masuk kerja tidak ada liburnya. kita juga pernah bekerja sebagai bidan. Sesibuk-sibuknya bidan apa iya sampai tidak ada hari liburnya?"


"Astaghfirullah Nia, apa yang sedang terjadi dengannya? sampai seperti itu, apa mungkin dia sengaja menghindari suaminya?" tanya Nur


"Sepertinya begitu, jadi Awalnya Nia ini menudy Alan berselingkuh, padahal Alan sudah menjelaskan begitu juga dengan Bang Arif sudah mengatakan pada Nia kalau Alan selama ini sibuk itu bukan karena ada wanita lain tapi karena dikantor memang sedang banyak pekerjaan. bang Arif kadang sampai dua hari tidak pulang kalau sedang ada penangkapan. bukan cuma Alan. tapi sepertinya Nia tidak percaya dan tetep menuduh Alan selingkuh, dari sinilah akhirnya mulai renggang rumah tangga mereka. dan Nia jadi jarang pulang juga."terang Ane


"Astaghfirullah, Nia sepertinya sedy mendapatkan ujian dalam rumah tangganya. nanti coba aku ajak Nia bicara ya"


"Iya, siapa tau dia mau mendengarkan kamu" ucap Ane


***


Keesokan harinya dirumah sakit Nia menemani Dokter Sigit visit pasien.

__ADS_1


"Dok pasien atas nama Ny. Siti semalam demamnya 38°C, tensinya 160/100"


"Masih tinggi ya tensinya, obatnya masih?" tanya dokter Sigit


"Masih Dok" jawab Nia.


"Nanti akan saya buatkan resep yang baru."


Nia mengekori Dokter Sigit, memeriksa pasien post partum diruang perawatan.


Setelah melakukan Visit Dokter Sigit akan kembali ke ruangannya.


"Nia tolong kamu ikut saya ke ruangannya saya, saya mau membicarakan keadaan pasien atas nama Ny. Siti yang kemarin sempat mengalami berdarah post partum." Ucap Dokter Sigit di depan rekan-rekan kerjanya.


"Baik Dok" Jawab Nia singkat tidak ingin ada teman-temannya yang curiga. karena dirumah sakit ini yang mengetahui hubungan Nia dan Dokter Sigit hanya Sinta.


Tok.. tok.. tok..


"Masuk"


"Selamat siang Dok" Nia senyum dan kembali menutup pintu


"Selamat siang" Dokter Sigit senyum dan mendekati Nia


Dokter Sigit memeluk dan mencium kening Nia


"Dok, ini rumah sakit" Nia mencoba melepas pelukan Dokter Sigit


"Memang kenapa?" Kembali Dokter Sigit mendekatkan wajahnya


"Nanti kalau ada yang melihat gimana Dok?"


"Ya gimana lagi? aku sudah merindukan kamu" ucap Dokter Sigit mencium bibir Nia dengan penuh gairah.


^Happy Reading^


Episode yang ini emang bikin gemes, Author juga nulisnya ikut emosi rasanya dengan tingkah Nia yang tambah hari tambah tidak tau bersyukur 😃


tapi benaran Author gemes banget sama Nia.


Terimakasih dukungannya ya, mohon Like, coment dan Vote. dukungan kalian sangat berarti bagi Author.

__ADS_1


__ADS_2