
Tidak bisa dipungkiri, saat ini hati Rara sebenarnya sudah mulai ada ketertarikan dengan Amar, meskipun belum yakin sepenuhnya tapi Rara merasa mungkin ini yang dinamakan cinta maklum saja ini kali pertama Rara merasakan apa itu cinta, hingga membuat Rara kesulitan membedakan antara cinta atau hanya sebatas rasa terbiasa.
"Agh.. kenapa aku jadi tidak bisa tidur gini" gumam Rara yang matanya seakan tidak bisa terpejam lantaran pengakuan Amar tadi siang, tapi pun tak dapat dipungkiri ada rasa senang menyelimuti hati Rara saat ini. Tapi rasa senang itu seketika menguap ketika mengingat kakaknya juga begitu perduli dengan Amar. mungkinkah kakak juga mencintai kak Amar?" kembali pikiran itu menghantui benak Rara
Keesokan harinya Rara disekolah tidak fokus pada pelajaran karena pikirannya dipenuhi dengan Amar
Pak Firman yang menyadari kalau muridnya saat ini sedang tidak fokus pada pelajaran memberikan pertanyaan yang baru saja dijelaskan
"Rara, kedepan! kerjakan soal-soal yang bapak tulis itu menggunakan rumus Phytagoras!" perintah pak Firman dengan sengaja lantaran marah karena dijam pelajaran Rara justru melamun dan tidak fokus mendengarkan pak Firman yang sudah menerangkan tentang rumus Phytagoras.
"Ra, Rara. Kamu dipanggil pak Firman" bisik Arin menyenggol siku tangan Rara
"Eh.. iya, aku? ada apa? Rara gagap belum menyadari disedari tadi semua mata tertuju padanya terutama pak Firman yang menatapnya dengan tajam.
"Sudah selesai ngelamun nya Ra?" kembali pak Firman bertanya dengan tatapan tajam seakan ingin memakan Rara hidup-hidup
"Sudah pak" jawab Rara spontan, membuat semua teman-temannya tertawa.
"Mampus kamu Ra" gumam Arin menepuk jidatnya sendiri melihat sahabatnya sepertinya akan mendapat hukuman dari guru yang lumayan terkenal galaknya minta ampun.
"Ma-Maaf pak" ucap Rara kembali menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena salah tingkah
"Sekarang kamu kerjakan soal yang bapak tulis dipapan tulis menggunakan rumus Phytagoras, jika kamu bisa mengerjakan lima soal itu kamu lolos, bapak tidak akan memberi kamu hukuman karena melamun saat jam pelajaran bapak. tapi jika kamu tidak bisa mengerjakan soal-soal itu silahkan keluar dari kelas bapak. Dan selama dua minggu jangan ikut masuk pelajaran bapak" tegas pak Firman yang paling tidak suka dengan murid yang tidak fokus dan tidak serius saat pelajaran.
"Ba-baik pak" jawab Rara terlihat gugup dan berdiri menuju papan tulis, dengan ragu mengambil spidol berwarna hitam dan mulai mengerjakan soal demi soal hingga lima soal terselesaikan dalam waktu yang singkat. tentu saja hal ini membuat semua takjub dan menggelengkan kepala. sebenarnya bukan hal yang mengherankan jika Rara bisa mengerjakan semua soal karena dikelas ini memang Rara paling pintar dan selalu juara kelas. hanya saja yang membuat semua terheran lantaran Rara yang dari pagi seperti tidak mendengarkan penjelasan dari pak Firman tapi dengan mudah tetep bisa mengerjakan dalam waktu yang singkat.
Pak Firman melihat hasil pekerjaan Rara dan lima soal yang diberikan pak Firman dikerjakan dengan nilai sempurna.
Pak Firman bertepuk tangan dan menggelengkan kepala. Kamu ini benar-benar murid yang menakjubkan Rara, padahal dari tadi bapak perhatikan pikiran kamu tidak disini tapi ternyata kamu mengerjakan soal sesuai dengan yang bapak jelaskan barusan" puji pak Firman yang mengakui siswa yang satu ini memang memiliki kemampuan diatas rata-rata.
"Ja-jadi apa saya masih boleh ikut pelajaran bapak?" tanya Rara setengah khawatir
"Tentu saja boleh, kamu bisa mengerjakan semua soal yang bapak berikan dengan benar. silahkan kembali ke tempat duduk kamu. kalian boleh tidur dijam pelajaran bapak asalkan seperti Rara bisa mengerjakan semua soal yang bapak berikan" ucap pak Firman tersenyum pada semua siswanya
"Selamat kamu Ra, jantungku sudah mau copot rasanya takut kamu dihukum. untungnya kamu itu pintar. coba kalau tidak habis sudah kamu" cicit Arin menghela nafas dan kembali fokus pada pak Firman yang kembali menerangkan pelajaran.
Tet. . tet..
__ADS_1
Bel pulang sekolah sudah dibunyikan, semua siswa bersorak dan memasukkan buku mereka kedalam tas.
"Rara" panggil Rama
"Hai Ram, ada apa?" Jawab Rara menoleh kearah sumber suara dimana disitu Rama sudah berlari kecil menyakat jarak menjadi lebih dekat
"Ada yang mau aku bicarakan sama kamu, bisa kita ngbrol disana sebentar?" Rame menunjuk bangku yang berada di dekat lapangan basket dan Rara menganggukkan kepala sebagai jawaban
"Ada apa Mar? kembali Rara bertanya setelah mendudukkan tubuhnya dikursi kayu
"Ra, Ja-jadi begini Ra. A-aku, a-aku" Rama merasa gugup untuk kali pertama dalam hidupnya akan menyatakan perasaan pada seorang wanita
"Iya, kamu kenapa? apa kamu sakit?" potong Rara yang merasa Amar terlalu lama bicaranya
"Bu-bukan, bukan it. Ta-tapi aku mau bilang, ka_kalau a-aku su_" ucap Rama terputus karena Amar memanggil Rara dan memintanya segera ikut bersamanya.
"Rara, ayo kita pulang!" Ajak Amar dan memandangi Rama dengan tatapan tidak suka
"Sebentar kak, Rama mau bicara sama Rara dulu" ucap Rara yang masih penasaran dengan apa yang akan dikatakan Rama
"Kamu pulang saja dulu Ra, kita bicara lain kali saja" ucap Rama menghela nafas kasar dan berlalu
"Kenapa sih Rama? aneh sekali" gumam Rara tak mengerti
"Sudah ayo kita pulang" ajak Amar
Sesampainya dirumah Nana melihat Rara yang turun dari motor Amar segera mendekat
"Kenapa kalian bisa pulang bersama?" tanya Nana
"Tadi kak Amar jemput Rara ke sekolah" jawab Rara santai kalau belum yakin kalau Nana juga ada hati dengan Amar
"Amar jemput kamu kesekolah? apa tidak salah? kenapa Amar harus menjemput kamu kesekolah?" cerca Nana
"Iya aku memang jemput Rara kesekolah, kenapa memangnya? dari dulu memang aku sering jemput Rara. apa ada masalah?" tanya Amar
"I-iya gak apa-apa, tapi kenapa harus kamu yang jemput Rara, kita kan punya sopir dan tidak harus merepotkan kamu kan?" ucap Nana tidak suka jika Amar dekat dengan Rara. apalagi tidak bisa dipungkiri Rara lebih cantik dari dirinya
__ADS_1
"Aku tidak merasa direpotkan, karena memang aku yang mau menjemput Rara" jawab Amar tersenyum melihat kearah Rara membuat hati Nana terbakar api cemburu
Sesampainya dikamar Nana membanjiri Rara berbagai pertanyaan tentang dirinya dan Amar.
"Kak, apa salahnya kalau Rara pulang dengan kak Amar? kakak juga dengar kan? kalau kak Amar tidak keberatan menjemput Rara." jawab Rara
"Tapi kakak keberatan, dan kakak tidak suka kalau kamu dekat dengan Amar" tegas Nana dengan suara meninggi
"Kak, sebenarnya kakak ini kenapa? apa jangan-jangan kakak suka sama kak Amar?" Rara bertanya karena sikap kakaknya yang seakan cemburu dengan kedekatannya antara dirinya dan juga Amar.
"Iya kakak suka dengan Amar karena itu jauhi Amar" jawab Nana tanpa basa-basi dan kali ini sangat menuntut pada Rara agar tidak lagi menerimanya bantuan dari Amar atau dekat dengan Amar.
Rara membuka mulutnya tak percaya dengan apa yang didengarnya. disaat dirinya juga mulai ada hati dengan Amar. Ternyata kakaknya juga menaruh hati dengan Amar.
"Apakah kali ini aku harus mengalah lagi dengan kak Nana? selama ini apapun yang diinginkan kak Nana aku selalu memberikannya dan aku akan mengalah. apa kali ini aku juga harus mengalah lagi?" gumam Rara menatap langit-langit kamarmu. malam ini matanya kembali sulit terpejam setelah apa yang dikatakan kakaknya.
Dari kecil Rara selalu diajarkan untuk mengalah sama kakaknya dan jangan membuat kakaknya sedih. padahal kalau diingat-ingat Rara tidak pernah membuat kakaknya sedih, justru dirinya nya lah yang kadang harus menekan egonya agar mengalah demi kebahagiaan kakaknya.
Rara berjalan ditepi kolam renang yang ada dibelakang rumah, karena malam ini dirinya benar-benar tidak bisa memejamkan matanya
"Cucu kakek ada apa? kenapa tengah malam seperti ini ada diluar? udaranya dingin sebaiknya kamu masuk kedalam" bujuk kakek yang tidak sengaja melihat Rara merenung ditepi kolam. Sebenarnya kakek sudah bisa menebak apa yang menjadi penyebab cucu kesayangannya merenung seperti ini. kakek hafal betul sifat cucunya yang lebih memilih memendam rasa hatinya sendiri meskipun itu sakit.
"Tidak apa-apa kek, Rara hanya tidak bisa tidur dan ingin mencari udara seger" jawab Rara tersenyum meskipun hatinya terasa pedih harus membohongi kakeknya.
"Huft.. " Kakek menghela nafas kasar dan mengusap rambut Rara lembut penuh kasih sayang.
"Kakek tau apa yang menjadi keresahan kamu Ra, kakek ini sebenarnya juga tidak ingin ikut campur urusan anak muda. hanya saja sebenarnya kakek juga tidak tega membiarkan kamu terus saja mengalah demi mama kamu." ucap kakek membuat Rara segera melihat kearah kakek, tidak menyangka kakeknya akan berkata seperti itu
"Kakek t-tau? memang apa yang kakek tau?" Rara masih menerka-nerka
"Kakek ini tau semuanya, semua yang kamu lakukan termasuk ikut kakek ke sini, kakek tau selain menjaga kakek karena kamu tidak ingin membuat mama mu bingung dengan pikiran Nana yang mengatakan lebih sayang kamu kan?" Ucap kakek tersenyum. Kakek yang selama ini diam tapi bukan berarti kakek menutup mata dengan semua itu, kakek tau persis bagaimana sikap Nana ke Rara yang tidak bisa tulus menganggap Rara sebagai adiknya.
"Ja-jadi kakek tau semua itu?" cicit Rara tidak menyangka kalau kakeknya tau semuanya.
"Kakek tau semua tentang kamu Ra, Huh.. seandainya Alan bukan suami yang baik untuk mama kamu, kakek hanya tidak ingin terlibat terlalu jauh, karena walau bagaimana Nana adalah anak ayah kamu, meskipun kalian lahir dari ibu yang berbeda tapi kalian teteplah saudara. Awalnya kakek diam karena kakek percaya kamu bisa mengatasinya. kakek percaya kamu anak yang kuat dan pintar"ucap kalek yang tau pasti seperti apa sifat Rara
Mungkin usia Rara memang masih muda, tapi pemikiran Rara jauh lebih dewasa dibandingkan dengan kakaknya.
__ADS_1