Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
NUR KEMBALI


__ADS_3

Dengan perasaan ragu dan malu Nur memberikan bayi nya pada Ane.


"Cup.. cup.. tenang ya sayang, anak cantik" Ane mencoba menenangkan anak Nur


Dan tak butuh waktu lama Si Baby pun tertidur


"Siapa namanya?" tanya Ane


"Almira" jawab Nur menundukkan kepalanya merasa malu.


Ane menidurkan Almira ditempat tidur, dan mengajak Nur berbicara


"Nur, Almira anak siapa?" tanya Ane langsung pada intinya


Nur menangis, dan Ane segera memeluk Nur


"Nur, kenapa jadi seperti ini? kenapa kamu senekad ini?" Ucap Ane


"Maafkan aku Ane" ucap Nur terisak


"Untuk apa kamu minta maaf padaku? kamu tidak berbuat salah apa-apa padaku, pulang lah, minta Maaf sama mama dan papa kamu. apa kamu tau bagaimana mereka mengkhawatirkan kamu? apa kamu tau sekarang Papa kamu sakit?" ucap Nia


"Papa sakit? papa sakit apa?" tanya Nur


"Papamu sakit kerena memikirkan kamu. anak gadis nya yang tiba-tiba menghilang tanpa memikirkan perasaan orang yang menyayangimu" ucap Ane sedikit kecewa dengan Nur


"Aku tau aku salah, tapi aku malu untuk menghadapi ini di depan kalian" Nur terisak


"kamu malu? kalau kamu malu kenapa kamu berbuat sejauh ini" ucap Ane


"Sayang sudah, yang terpenting sekarang kita sudah bertemu dengan Nur dan keadaan nya baik-baik saja" Arif mencoba menenangkan Ane


"Nur, jujur sebagai sahabat aku memang kecewa karena kamu pantas mendapatkan kekecewaan dari kami, tapi sebagai sahabat aku juga prihatin dengan kondisi kamu seperti ini. apa lagi melihat Almira harus tumbuh dilingkungan seperti ini. Nur pulang lah bersama kami. minta maaf lah pada orang tua mu"ucap Ane


"Aku takut, aku takut mama dan papa tidak akan bisa menerima" ucap Nur terus menangis


"Mungkin Awalnya akan sulit bagi mereka untuk menerima tapi aku yakin seiring berjalan nya waktu mereka akan menerima kehadiran Almira." ucap Ane


"Apa Saka ayah nya?" ucap Ane yang masih penasaran


Nur hanya mengangguk mengiyakan

__ADS_1


"Astaghfirullah, kenapa kamu tidak minta pertanggung jawaban dari Saka? kenapa malah kabur seperti ini?" Ane heran


"Hari dimana kita bertemu ditempat makan saat itu. Saka memutuskan hubungan kami. selang beberapa hari aku baru menyadari kalau aku hamil. aku berusaha menghubungi Saka dan memberi tau kondisi ku saat itu. tapi Saka tidak mau mengakuinya. bahkan Saka menuduh aku berhubungan dengn laki-laki lain. padahal aku benar-benar tidak pernah berhubungan dengan laki-laki mana pun, aku coba jelaskan tapi Saka tetap tidak mau mengakui anak ini. keesokan harinya aku putuskan untuk mendatangi rumahnya. berharap Saka berubah pikiran, sesampainya disana ternyata Saka sudah berangkat berlayar keluar negeri. itu yang mama nya katakan.


Aku menceritakan kehamilanku berharap Mama Saka akan kasian dan menerima kami, tapi justru hinaan yang aku dapatkan. aku bahkan diusir Mama nya Saka saat dia tau kalau aku hamil" tangis Nur pecah mengingat kejadian itu


"Jadi Mama Saka tau kamu hamil?" Ane kaget


"Iya" Nur mengangguk


"Berarti selama ini Mama nya Saka berbohong dengan bilang tidak pernah bertemu dengan mu" Ane merasa geram


"Mungkin itu dilakukan untuk melindungi Saka" sahut Arif


"Pastinya seperti itu. karena Saka takut dimintai pertanggung jawaban" ucap Nia


"Nur, apa pun alasan kamu, kamu memang salah. tapi sebaiknya kamu tetap pulang dan minta maaf pada orang tua kamu. apapun keputusan mereka kamu harus siap karena itu resiko dari perbuatan yang pernah kamu lakukan"ucap Ane


Dengan bujukan dari Ane dan Arif. Akirnya Nur mau pulang dan membawa Almira bertemu dengan nenek dan kakeknya.


Sesampainya dirumah Nur, bukan pelukan yang Nur dapat tapi ratapan dari kedua orang tua nya.


kedua orang tua Nur menangis sejadi-jadinya meratapi anaknya dan bayi yang saat ini digendong oleh Nur.


Nur dapat tamparan dari papa nya.


"Kalau keadaan kamu seperti ini, untuk apa kamu kembali? seharusnya kamu memang tidak pernah kembali. papa malu, papa malu Nur, sejak kecil papa mengajari kamu ilmu agama. setiap hari papa ingatkan akan ajaran agama. tapi apa ini? dosa besar apa yang kamu lakukan?" papa Nur murka


"Pa, maaf-maafkan Nur yang sudah membuat papa dan mama malu. Nur Mohon maafkan kesalahan Nur." ucap Nur berlutut dikaki papanya menggonggong Almira


"Nur" ucap bu Elsa lirih


"Kemari lah" ucapnya lagi


Nur mendekat dan Bu Elsa menggendong Almira


"Apa dia cucuku" ucapnya


"Iya ma" tangis Nur


"Pa, maafkan lah Nur. biar bagaimana ini cucu kita" Bu Elsa melihat Almira

__ADS_1


"Cucu? apa mama tidak malu memiliki cucu tanpa ayah?" ucap Papa Nur


"Kita yang akan jadi Ayah nya. kasian cucu kita harus hidup terlunta-lunta. Nur anak kita memang salah tapi cucu kita tidak bersalah" ucap bu Elsa


Nur hanya menangis, menyesali perbuatannya


"Katakan siapa ayah dari anak itu?" ucap Papa Nur


"Saka pah, tapi Saka tidak mau mengakui nya" tangis Nur


"Kurang ajar papa akan buat perhitungan" papa Nur murka


"Percuma pa, Saka sudah pergi keluar negeri" ucap Nur


"Bagaimana kamu bisa sebodoh itu. menjalin hubungan dengan laki-laki tidak bertanggung jawab seperti itu"


"Nur salah pa, Nur memang salah." ucap Nur terus menyesali perbuatannya


tapi setidaknya Nur lega sekarang anaknya mendapatkan kasih sayang dari nenek dan kakeknya. meskipun awalnya mereka menolak tapi akhirnya mereka menerima keberadaan Almira di tengah-tengah keluarga Almira.


"Ane, bang Arif terimakasih karena kalian aku punya keberanian diri untuk menemui mama dan papa ku. dan karena kalian juga Almira bisa mendapatkan kasih sayang dari nenek dan kakeknya. awalnya aku pikir akan selamanya membesarkan Almira sendiri. tapi berkat kalian hal itu tidak terjadi"ucap nya


"Nur sebaiknya kamu coba temui Saka lagi. biar bagaimana dia harus bertanggung jawab terhadap putri nya. jangan jadi laki-laki pengecut seperti itu" Ane emosi


.


"Iya Ne, aku akan coba menemuinya lagi nanti" jawab Nur


"Ya sudah kami pulang dulu, kasian Amar sudah terlalu lama kami tinggal" ucap Ane berpamitan pada Nur dan kedua orang tuanya.


Ane yang sudah sangat merindukan Amar sudah tidak sabar untuk segera sampai rumah


"Assalamu'alaikum"


"Walaikumsalam" jawab Bu Imah yang sedang menggendong Amar


"Sayang, sini ma biar Ane yang gendong" ucap Ane


"Sebaiknya kalian mandi saja dulu baru gendong Amar" ucap Bu Imah


"Iya baik ma, selama kami tinggal Amar rewel tidur ma?" tanya Ane

__ADS_1


"Tidak kok, Amar anak pintar. sama sekali gak rewel" ucap bu Imah senyum


"Iya dong, anak ayah pasti pintar kayak ayahnya" sahut Arif


__ADS_2