
Pagi ini Amar sedang joging bersama dengan ayahnya, rutinitas yang biasa dilakukan setiap kali hari libur.
Setelah joging Arif dan Amar mampir ke tukang bubur ayam yang ada di taman komplek.
"Pak bubur ayamnya dua ya" Arif memesan bubur
Sambil menunggu bubur ayam Arif dan Amar berbincang tentang masa.
"Jadi bagaimana Mar, apa kamu sudah ada gambaran mau melanjutkan kemana setelah ini? Ayah dan bunda akan menghargai dan mendukung apa yang sekiranya menjadi keinginan kamu. selama positif ayah dan bunda pasti akan dukung" ucap Arif menepuk pundak Amar
"Sepertinya sudah yah" jawab Amar singkat
"Kalau begitu apa yang akan kamu lakukan?"
"Permisi ini buburnya pak Arif" ucap tukang bubur menyajikan bubur dan meletakkan dimeja depan Arif dan Amar
"Terimakasih pak" ucap Arif
"Jadi bagaimana Mar? mau melanjutkan kemana?" tanya Arif lagi
"Amar ingin kuliah kedokteran yah" jawab Amar seraya menyendok bubur
"Uhuk.uhuk.. " Arif tersedak
Mendengar keinginan putranya yang ingin kuliah kedokteran sontak membuat Arif tersedak. pasalnya selama ini tidak pernah ada pembicaraan kearah sana. selama ini Arif mengira Amar akan daftar polisi atau mungkin akan belajar bisnis melanjutkan perusahaan keluarga.
"Minum dulu yah" Amar memberikan air pada Arif
"Ini kamu beneran mau kuliah kedokteran?" tanya Arif memastikan
"Iya bener yah" jawab Amar yakin
"Apa yang membuat kamu tiba-tiba ingin kuliah kedokteran?" tanya Arif yang merasa ada alasan dibalik putra semata wayangnya tiba-tiba ingin kuliah di kedokteran.
"Harus ada alasan ya yah?"
"Ya, setidaknya apa yang memotivasi kamu, hingga ingin kuliah kedokteran?"
"Dokter menurut Amar profesi yang mulia"
"Jadi bener karena itu?" tanya Arif lagi memperhatikan ekspresi Amar
"Iya yah, emang ayah pikir karena apa? tanya Amar dan Arif tersenyum
"Hah putra ayah sudah dewasa rupanya" Arif menepuk bahu Amar.
Amar dan Arif pulang kerumah. sesampainya dirumah sudah ada Nana yang saat ini sedang menemani Ane menyiram bunga didepan rumah.
"Nana, masih pagi kok sudah sampai sini ada apa ini?" tanya Arif yang baru sampai rumah
"Ini Om, tadinya mau lihat kampus akbid itu om, e.. malah lihat tante Ane lagi didepan. Nana mampir dulu akhirnya" jawab Nana menunjuk kampus Akbid
"Nana mau kuliah disitu?" tanya Arif
__ADS_1
"Pengennya gitu om, tapi papa gak kasih ijin. Nana juga heran, kenapa kok papa gak mau kasih ijin padahal kan kampus itu cukup bagus" ucap Nana
Arif dan Ane saling pandang. karena mengerti kekhawatiran Alan. sepertinya Alan masih belum bisa melupakan penghianatan yang pernah Nia lakukan. hingga melarang Nana untuk kuliah ditempat yang sama dengan Nia.
"Amar masuk dulu ya yah" ucap Amar
"Amar" panggil Nana menghentikan langkah Amar
"Kamu benaran belum tau mau melanjutkan dimana?" tanya Nana
"Belum" jawab Amar dan berlalu
"Amar memang seperti itu, jangan diambil hati" ucap Ane memegang bahu Nana dan Nana tersenyum
"Bun, Abang masuk juga ya. gerah mau mandi" ucap Arif
"Iya bang" jawab Ane
"Tan, emang Amar benar ya belum tau mau melanjutkan dimana?" minggu depan sudah ujian akhir. apa Amar belum cerita ingin kuliah dimana tan?" tanya Nana
"Belum Na, tante sendiri juga bingung dengan tu anak. kalau gak ditanya gak pernah bicara. kalau ditanya bilang belum tau. ya kayak gitulah Amar" ucap Ane
"Kamu sendiri yakin Na mau jadi bidan?" tanya Ane
"Iya tan, biar bisa sering-sering main kerumah tante, kan kampusnya dekat" ucap Nana tersenyum
****
Satu bulan kemudian
Kecerian para emak-emak yang kini sudah memiliki anak ini tidak kalah hebohnya dengan para remaja.
"Eh.. gak nyangka ya, kita ini sekarang sudah semakin tua" ucap Wawa
"Iya, berasa udah tua banget ya kita. apalagi aku. bentar lagi anakku udah mau masuk universitas. tua banget gak sih aku? hahaha.." ucap Ane tertawa
"Sama lah, anakku Almira tahun tahun ini juga masuk universitas. Amar mau melanjutkan kemana? tanya Nur
"Entahlah, belum tau juga. belum cerita apa-apa" jawab Ane
"Kan udah selesai ujian. apa belum mulai daftar kuliah?" tanya Nur lagi
"Entahlah, aku juga bingung. anak cowok itu beda sama anak cewek bisa terbuka. apalagi Amar ini pendiam banget. kalau Almira mau daftar kemana?" tanya Ane
"Almira Alhamdulillah dapat beasiswa ke Kairo" jawab Nur
"MasyaAlloh. keren banget Almira" ucap Wawa dan yang lainnya kagum
"Alhamdulillah, do'ain lancar ya study nya disana nanti" ucap Nur
"Amin, pasti kita do'akan." ucap Ane
"Eh..Nia apa kabarnya ya? seharusnya dia sudah keluar dari lapas kan?" tanya Yeni
__ADS_1
"Harusnya sudah dari lima tahun yang lalu. tapi aku sendiri juga tidak pernah mendengar kabarnya lagi semenjak dia sudah tidak dilapas. terakhir ketemu juga waktu aku jenguk dilapas. itupun dia gak banyak bicara dan langsung pergi" ucap Ane
"Kalau Nana anaknya gimana kabarnya? apa kamu pernah dengar?" tanya Wawa
"Bukan hanya pernah, hampir setiap hari Nana main kerumah" ucap Ane
"Ngapain? kalian sedekat itu?" tanya Yeni
"Ya lumayan lah, Alan kan memang udah kayak adik aku sendiri. jadi kami sering ketemu. dan Nana bilang mau kuliah dikampus kita dulu, tapi sama Alan dilarang" ucap Ane
"Nana mau kuliah disana? bukankah mama sambungnya dokter ya? kenapa gak kuliah kedokteran aja?" sahut Yeni
"Alan nyuruhnya juga gitu, tapi gak tau Nana kekeh pengen kuliah disana. katanya biar setiap hari bisa main kerumahku. aneh kan alasannya?"
"Ne, kita ini kan pernah muda. kamu ngrasa tidak kalau dari cerita kamu ini, sepertinya Nana suka ya sama Amar?"
"Sempat aku mikir kayak gitu. tapi Amar itu cuek banget. kadang aku sampai kasihan sama Nana. Nana berusaha dekati Amar dan ngajak Amar bicara tapi ya itu Amarnya tidak mau nanggapi. untuk dekat dengan Amar itu bukan hal yang mudah. banyak teman-teman Amar cewek gitu, pada main kerumah. tapi sama Amar gak ada yang ditemui."ucap Amar menggelengkan kepala dan tersenyum
"Kalau kamu sendiri gimana? mau gak kalau punya menantu Nana?" goda Wawa
"Kejauhan mikirnya. tapi kalau aku, mau sama siapapun boleh. asal sholihah dan bisa jadi istri yang baik buat Amar. intinya siapapun yang dipilih anakku, pasti aku dukung. karena aku yakin, Amar juga akan mikir-mikir kalau mau menikah pasti akan mencari wanita yang sholihah. ya minimal kayak bundanya lah hehehe" ucap Ane tertawa
*Flashback On*
Lima belas tahun yang lalu, saat Nur selesai menjenguk Nana dirumah Saka. Almira mengutarakan isi hatinya pada Saka kalau dirinya ingin tinggal bersama dengan mamanya.
Lantaran tidak tega dengan Almira yang merengek ini tinggal bersama Nur, Saka dan Tika memberikan ijin dan mengantarkan Almira tinggal dipesantren dengan Nur.
Selama tinggal dipesantren Almira banyak belajar ilmu agama sejak kecil. Almira yang memang senang menghafal Al-Qur'an bisa menjadi seorang hafizah sejak masih duduk dibangku Sekolah Dasar. lingkungan pesantren membuat Almira tumbuh menjadi anak sholihah dan sangat faham dengan agama.
Setiap satu bulan sekali Saka dan Tika selalu menyempatkan untuk menjenguk Almira.
Awalnya Tika yang sudah merasa dekat dengan Almira dan yang telah merawat Almira sejak bayi merasa keberatan jika harus melepas Almira untuk tinggal bersama dengan Nur. namun melihat lingkungan pesantren tempat tinggal Nur sangat berdampak positif untuk Almira. Tika pun akhirnya mengikhlaskan Almira tinggal dipesantren bersama dengan Nur. Dan setelah Almira cukup dewasa untuk bisa menerima kenyataan. Nur dan Tika sepakat untuk mengungkapkan kebenaran tentang dirinya. Almira cukup berbesar hati untuk mengerti bagaimana awal mula Almira bisa dibesarkan oleh Tika. Almira tumbuh menjadi wanita sholihah, cantik dan penyayang.
*Flashback Off*
Dipesantren
"Assalamu'alaikum"
"Walaikumsalam ma" jawab Almira
"Sendiri aja sayang, adik Rahmad kemana?" tanya Nur
Rahmad adalah anak Nur bersama dengan ustadz Guntur yang saat ini sudah duduk dikelas 3 SMP.
"Adik sepertinya lagi bersama om Burhan mah. mama dari mana?" tanya Almira
"Mama tadi ada acara reuni sama tante Ane, tante Wawa dan tante Yeni" ucap Nur
"Tau gitu tadi Almira ikut ma, Almira kangen juga sama mereka mah. Teman-teman mama itu asyik orangnya. bawaannya happy kalau sama mereka ya mah"
"Iya, memang seperti itu mereka. Alhamdulillah mama punya sahabat seperti mereka. mereka itu selalu ada disaat mama senang ataupun diwaktu mama sedih dan terpuruk." ucap Nur mengingat bagaimana teman-temannya itu membuatnya bangkit dari keterpurukan hingga bisa menemukan hidayah seperti sekarang ini.
__ADS_1
^ Happy Reading ^
Jangan lupa, like, coment dan Vote ya🥰😘🙏