Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
CH 235


__ADS_3

"Jadi mama dan papa besok mau ke Surabaya? kenapa tidak memberitahu Nana?" ucap Nana


"Iya sayang, mama, papa, tante Ane dan Om Arif rencananya besok mau ke Surabaya untuk melihat keadaan adik kamu disana. karena tante Ane mau mengunjungi Amar, ya sudah akhirnya kita mau berangkat bersama."


"Nana ikut, Nana mau ikut ya pah" ucap Nana antusias


"Ya sudah, kalau memang mau ikut segera siapkan barang yang mau dibawa. karena rencananya besok setelah subuh kita akan berangkat" sahut dokter Anggun


"Okay mah" jawab Nana berlari kekamar untuk menyemas bajunya


Adzan subuh berkumandang, Nana segera bangun untuk melakukan Sholat subuh berjamaah bersama dengan keluarganya diruang sholat. setelah sholat Nana segera bangkit dan bergegas kekamar untuk mandi dan bersiap ke Surabaya.


"Lihatlah Nana sangat seneng sepertinya mau bertemu dengan Amar" ucap Dokter Anggun


"Justru aku takut Nana akan sakit hati sayang, sepertinya Amar tidak pernah melihat Nana. dan sepertinya Amar juga tidak memiliki perasaan yang sama pada Nana"


"Iya sayang, karena itu sebaiknya kita memberitahu Nana pelan-pelan, tentang semua ini"


"Hufttt..." Alan tampak menghela nafas kasar


Kini Semua sudah ada didalam mobil menuju Surabaya, tampak Nana yang selalu menempel dengan Ane. mungkin Nana ingin bisa dekat dengan Ane untuk mendapatkan hati Amar.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh kini semaunya sampe dirumah kakek Rara.


"Assalamu'alaikum"


"Walaikumsalam mama, papa, kak Nana, tante, Om" Rara membalas salam dan mencium tangan semuanya.


"Kakek dimana? tanya Dokter Anggun


" Udah pada sampai ternyata, sini masuk dulu" ucap kakek mempersilakan


"Bagaimana diperjalanan Lan?"

__ADS_1


"Alhamdulillah Lancar pi" jawab Alan


"Nana bagaimana dengan kuliah kamu nak?" tanya kakek


"Alhamdulillah baik kek, tapi sebenarnya Nana ingin kuliah disini juga kek biar bisa menemani kakek dan Rara" ucap Nana sontak membuat Rara Rara melihat kearah kakaknya tersebut.


"Kenapa sekarang kakak berpikir untuk kuliah disini? bukankah kakak ingin selalu dekat dengan mama dan papa?" tanya Rara karena sebenarnya Rara rela jauh berjauhan dengan mama dan papanya untuk kakaknya Nana yang selalu merasa dibeda kasih oleh orang tuanya.


"Ternyata kakak tidak bisa jauh dari kamu, kakak merindukan kamu. rumah jadi sepi setelah kamu disini" ucap Nana


Tentu saja ini terdengar tidak masuk akal didalam pikiran Dokter Anggun dan juga Alan.


Setelah cukup lama mengobrol Amar pun datang kerumah kakek.


"Assalamu'alaikum"


"Walaikumsalam" Jawab semuanya.


Amar mencium tangan kedua orang tuanya, kakek, Alan dan Dokter Anggun


"Iya bun, Amar juga kangen sama bunda" ucap Amar membalas pelukan bundanya


"Bagaimana menjadi calon Dokter, enak gak?" tanya Dokter Anggun


"Luar biasa tante, Setelah kuliah di kedokteran Amar sekarang memahami betapa pentingnya hidup sehat. dan semakin kesini Amar semakin bersemangat untuk kuliah yang benar. Amar ingin dengan kedua tangan Amar ini, bisa menjadi pelantara kesembuhan orang-orang yang sakit. tentu saja semua kesembuhan datangnya dari Alloh. tapi setidaknya Amar ingin membantu mereka mendapatkan kesempatan untuk berobat."


"Semoga Alloh meridhoi niatan baik kamu Amar. Alhamdulillah kalau kamu kuliah kedokteran ini karena memang hati kamu tergerak untuk bisa menolong orang, awalnya bunda sempat berpikir kamu kuliah kedokteran ini karena ada something, tapi sepertinya bunda salah" ucap Ane


"Bunda berpikiran terlalu jauh" Sahut Amar


"Nana, papa harap kamu bisa kuliah yang benar, lihat Amar. dia sangat berprestasi dan begitu serius dalam kuliah karena tujuan yang sangat mulia" ucap Alan


"Pah, boleh tidak kalau Nana pindah ke Surabaya? Nana janji kalau Nana boleh pindah ke Surabaya. Nana akan kuliah dengan benar"

__ADS_1


"Kamu tidak salah mau pindah kuliah? begitu gampangnya kamu mau pindah-pindah, tujuan kamu kuliah itu sebenarnya untuk apa sih? maaf ya Na, aku sebenarnya tidak mau ikut campur dengan urusan orang lain. aku tau keluarga kamu kaya, tapi aku paling tidak suka melihat orang yang dengan gampang menyepelekan pendidikan. kamu lihat banyak orang diluar sana yang ingin sekolah tapi tidak bisa. kamu dengan gampang menyepelekan pendidikan yang dengan mudah kamu dapat. itu namanya tidak bersyukur" ucap Amar kesal.


Sebenarnya Amar sudah mengetahui tentang Nana yang setiap hari berada dirumahnya dan memilih untuk tidak kuliah. lantaran ingin dekat dengan keluarga Amar. hal itu juga yang membuat Amar kesal.


"Amar, sudah nak, seperti itu" gumam Ane lirih dan dalam hati kakek tersenyum dengan ketegasan Amar karena faktanya memang seperti itu.


"Tidak apa-apa kak Ane, apa yang disampaikan Amar memang tidak salah. Nana memang seharusnya bisa lebih menghargai pendidikan yang diperolehnya. karena tidak semua orang mempunyai kesempatan untuk bisa memperoleh pendidikan dengan baik" Sahut Alan


"Tapi Nana punya alasan kenapa Nana ingin pindah" timpal Nana


"Apapun alasan kamu, sangat tidak dibenarkan jika kamu main-main dengan kuliah kamu Nana" ucap Alan


"Nana sebenarnya papa dan mama sudah tau semua tentang kuliah kamu. papa dan mama sebenarnya cukup kecewa tapi kami masih berharap kedepan kamu bisa lebih menghargai pendidikan kamu" ucap Dokter Anggun


"Ini kenapa semua menghakiminya Nana ya?"


"Jangan pernah berpikir seperti itu, tapi pikirkan lah apa kamu sudah melakukan tugas kamu sebagai anak dengan benar? jangan kamu kecewa orang tua kamu" ucap Amar datar


Malam ini Ane dan Arif memutuskan untuk tidur dikos Amar. Ane tidur dikasur sedangkan Arif dan Amar tidur dengan kasur lantai dibawah.


Sebenarnya kakek menyuruh mereka untuk menginap disana. namun Ane ingin menghabiskan waktu untuk berbincang dengan putra semata wayangnya secara leluasa. karena itu mereka lebih memilih untuk tidur dikos Amar yang tidak terlalu luas tapi juga tidak sempit.


"Amar kamu kenapa tadi selesai itu sama Nana? kasihan Nana sepertinya kamu tadi itu terlalu keras sayang" ucap Ane


"Amar gak suka dengan orang yang tidak menghargai pendidikan bun"


"Iya tapi kamu kan tau Alasannya apa" jawab Ane


"Justru karena Amar tau, Amar semakin tidak suka. kuliah apalagi dibidang kesehatan seharusnya jangan dibuat main-main. itu urusannya nyawa bun. kalau memang tidak ada niatan untuk menolong nyawa seseorang lebih baik jangan kuliah kesehatan. kasian kan kalau nanti pasien yang dia rawat bisa-bisa malpraktek"


"Amar tidak salah bun, Amar hanya menyajikan fakta. dan bunda jangan mendesak Amar untuk dekat dengan Nana"


"Siapa yang mendesak yah? bunda sama sekali tidak mendesak. bunda tidak ikut campur masalah perasaan Amar. sepenuhnya bunda percayakan sama Amar ingin mencintai wanita seperti apa. yang pasti bunda ingin Amar kelak bertemu dengan jodoh seseorang yang bisa menjaga marwahnya sebagai seorang perempuan dan marwah suaminya" ucap Ane

__ADS_1


"Masih jauh bun, masuk kuliah aja baru udah bahas nikah. udah agh.. Amar mau tidur" ucap Amar menarik selimut dan memejamkan matanya


^Happy Reading^


__ADS_2