
Dikantor rona bahagia terlihat jelas diwajah Nina, berpamitan dengan mencium tangan suaminya bisa membuatnya terngiang - ngiang kejadian di pikirannya. tidak pernah terbayangkan sebelumnya Nina akan merasakan perasaan seperti ini. perasaan yang dulu hanya dirasakan saat dirinya dekat dengan Arif.
Anehnya, sekarang setiap kali dirinya melihat Arif, tidak ada lagi getaran - getaran yang dulu dirinya rasakan.
Dulu setiap berpapasan dengan Arif atau sekedar melihat Arif dari kejauhan saja, sudah mampu membuat jantungnya berdetup dengan cepatnya.
Tapi sekarang perasaan itu sudah tak lagi dirasakan.
Sekarang perasan seperti itu dirasakan setiap kali dirinya melihat Gilang.
Mungkin ini yang dinamakan "Witing tresno jalaran soko kulino"( Cinta hadir karena terbiasa). pepetah yang sering diucapkan orang jawa ketika menumui khasus seperti ini.
Dimana orang yang awalnya tidak cinta bisa menjadi cinta karena saking terbiasanya bersama.
"Ehem.." Viko berdehem
"Kamu Vik, ngagetin aja" Nina yang kaget karena kedatangan Viko yang tiba - tiba
"Sekarang aku perhatiin kayaknya setiap hari auranya berbeda gitu, kayak aura - aura jatuh cinta lebih tepatnya" goda Vico
"Iya lah, hidup dibuat bahagia aja kali, ngapain hidup dibuat susah" Nina asal jawab godaan Viko
"Wuihhh manteb ini kata - kata Bu Nina sekarang" goda Viko kembali
"Kamu ini Vik, teman sedih di ganggu, teman bahagia diganggu juga" sahut Arif senyum
"Eh, minggu depan kita gimana datangnya kenikahan Alan?" ucap Arif lagi
"Iya, ya, minggu depan ya undangannya?" ucap Viko
"Iya, acaranya digelar dirumah istrinya di Blora." ucap Arif lagi
"Enaknya kita datang rombongan sewa mini bus gitu, apa kita datang bawa mobil sendiri - sendiri?" tanya Viko
"Gimana kalau rombongan aja biar rame gitu" ucap Arif
"Boleh bawa pasangan apa sendiri?" tanya Nina
"Cie, yang pengen gendeng pasangannya. hawa - hawanya ogah berjauhan sekarang. kemana - mana bawaannya pengen diajak terus" Goda Viko kembali
__ADS_1
"Kena lagi deh" gerutu Nina mematunkan bibirnya
"Seneng aja aku Nin sekarang bisa godain kamu lagi hihi" ucap Viko terkekeh
"Ya udah lah yang penting kamu bahagia Vik, buat orang bahagia kan juga dapat pahala" ucap Nina senyum
"Jadi gimana boleh bawa pasangan kan?" tanya Nina lagi
"Boleh, aku juga datang sama Ane kq, kan calon istrinya Alan sahabat Ane. gak mungkin kan kalau Ane gak datang" ucap Arif
"Itu ceritanya berarti Alan kenal sama istrinya dikenalin sama istri kamu Rif" tanya Nina
"Bukan dikenalin tapi kebetulan aja mereka sering ketemu seriap kali main kerumah" ucap Arif
"Ya itu namanya jodoh, tapi Alan ini termasuk pria sejati ya. umur baru dua puluh tiga tapi tekatnya menikah sudah kuat. padahal setauku Alan itu playboy lho. kok tiba - tiba kenal teman istri kamu langsung aja mau nikah" ucap Viko pada Arif
"Ya mungkin karena sudah merasa menemukan orang yang tepat. kalau sudah merasakan hal seperti itu ditunda - tunda lagi juga untuk apa? karena mencari pasangan hidup yang bisa membuat kita nyaman itu juga gak gampang kan? begitu sudah cocok ya lebih baik disegerakan. meminimalkan terjadinya dosa juga kan?" ucap Arif
"Betul juga apa yang kamu katakan. Eh ya giman kasus yang anak pejabat itu perkembangan nya?" tanya Viko
"Oke, sumua bukti sudah kembali kita limpahkan kekejaksaan dan kali ini P21, mau mengelak model gimana lagi, semua bukti tersaji sudah tidak ada celah baginya untuk mengelak" ucap Arif
"Lho iya dong, kita bekerja berdasarkan bukti. tidak perduli anak siapa kalau memang melakukan tindak kriminal hukum harus ditegakkan secara adil. walaupun cukup berat bagi kita penyidik, karena orang kejaksaan juga akan selalu mencari celah untuk mempersulit kita kalau bukti yang kita dapat tidak bener - benar kuat." ucap Arif
"Iya, kadang kita ini sebagai penyedik dilemanya disitu, salah langkah sedikit saja karir kita yang jadi taruan karena harus berurusan sama propam." ucap Viko
"Hahaha..ya itu lah pentingnya hati - hati dalam bertindak" ucap Arif
****
Dret..dret...
panggilan masuk dari Gilang
"Assalamualikum" jawab Nina lembut
"Walikumsalam, masih sibuk gak?" tanya Gilang
"Tidak, kebetulan sudah selesai sih pekerjaanku. ada apa?" tanya Nina girang banget dapat telphon dari suaminya, setelah pernikahan karena hubungan mereka sempat kurang harmonis. Gilang lebih memilih sedikit memberi kelonggaran pada Nina. karena tidak ingin terlihat memaksa Nina
__ADS_1
"Mau makan siang bareng?" tanya Gilang yang mulai berani mendekati Nina kembali karena sudah mulai mendapat sinyal hijau dari istrinya.
"Emm..Okay, tapi kamu jemput aku ya" Nina yang sebenarnya merasa senang tapi masih malu - malu menunjukan perasaannya.
"Okay, aku kesana sekarang" ucap Gilang menutup telphonnya dan segera bergegas menjemput istrinya karena jarak antara kantor Gilang dan Nina yang tidak terlalu jauh.
***
Dikantor Gilang
"Gilang mau makan siang bareng" tawar Tiara
"Next time ya, aku sudah ada janji sama istriku. ini mau jemput istriku" ucap Gilang pergi meninggalkan Tiara
"Okay" ucap Tiara merasa sedih dan menatap punggung Gilang hingga tidak terlihat
"Tiara ayo, ngapain masih berdiri disini" ucap teman kantor yang lain karena biasanya mereka selalu makan siang bersama termasuk Gilang.
Ditempat makan Tiara yang ngalamun karena tidak ada ada Gilang disitu.
"Gilang kenapa tidak makan bareng kita?" tanya ketut teman kantor Gilang
"Katanya sih mau makan siang sama istrinya" ucap Tiara
"Tumben, biasanya selalu sendiri" ucap ketut
"Kalau dipikir - pikir Gilang itu kasian ya, sepertinya istrinya tidak begitu cinta sama Gilang. mana pernah Gilang pergi sama istrinya dari sejak nikah tiap ada acara family gathering pasti Gilang datang sendiri. makanya aneh aja sekarang mendengar Gilang mau makan siang bareng istrinya." ucap Lina teman kantor Gilang
"Iya, ingat tidak waktu datang di acara pernikahan mereka. bisa - bisanya istrinya menangisi laki - laki lain didepan Gilang. entah itu mantan pacarnya entah apa tapi yang jelas istri Gilang sepertinya mencintai laki - laki ini" sahut Rini rekan kantor Gilang
Tiara yang hanya mendengarkan tanpa berkomentar. tapi melihat Gilang yang selama ini selalu sendiri walupun dirinya sudah menikah membuatnya semakin yakin hubungan Gilang dan istrinya tidak baik.
Tiara sudah lama memendam perasaan untuk Gilang, bukan tidak mau memberitahu Gilang, namun Tiara sudah pernah ditolak saat menyampaikan perasaannya ketika keduanya masih duduk dibangku perkuliahan.
Tiara dan Gilang teman satu kampus dan satu angkatan kebetulan juga diterima bekerja di Bank swasta yang sama.
Tiara sudah kerap kali menunjukan perhatiannyabpada Gilang mulai dari membelikan minum, mengajak makan bareng namun Gilang tidak pernah menganggapnya itu sebagai perhatian lawan jenis. Gilang lebih menganggap itu sebagi perhatian sahabat.
Terimakasih Readers, maaf ya untuk yang meminta Visualnya Author belum bisa kasih karena suatu hal.
__ADS_1
^Happy reading^