Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
KEPUTUSAN TIKA


__ADS_3

Pulang dari menjenguk Nur, Ane dan Nia tidak langsung pulang keduanya ingin bersantai sejenak disalon untuk sekedar bernostalgia saat mereka masih kuliah dan saling berbagi cerita. selepas dari salon mereka ke mall membeli beberapa keperluan anak-anak.


"Jaman dulu kalau kita ke mall yang dibeli keperluan kita sendiri. sekarang kalau ke mall yang diingat keperluan anak"


"Kamu bener Ane, semenjak jadi ibu, aku pun begitu. kemana pun yang diingat ya anak. bahkan sejak ada anak aku jadi tidak tega setiap mau berangkat kerja rasanya berat banget ninggalin anak." ucap Nia


"Aku sepertinya juga mau resign." ucap Ane


"Kenapa?"


"Kasian Amar juga kalau aku pikir-pikir, sekarang Bang Arif kan juga mengurus bisnis keluarga. otomatis waktunya semakin sedikit kalau aku juga kerja kasian dengan Amar. semua juga sudah setuju dan malah mendukung keputusan untuk resign."


"Jujur saja aku sebenarnya juga sempat mikir ingin berhenti tapi belum bisa karena ibuku belum mengijinkan. dengan alasan udah dikulihkan mahal-mahal malah berhenti. hahaha... " Nia tertawa


"Iya juga ya, kadang aku juga mikir gitu, tapi mau gimana lagi Amar kasihan kalaupun orang tuanya sibuk semua" ucap Ane


"Oya beberapa waktu yang lalu aku sempat bertemu Tegar lho. istrinya melahirkan, dan aku yang bantu persalinannya. hahaha... gila gak tu? membantu istri mantan melahirkan?"


"Iya untungnya kamu baik, coba kalau mantan nya masih menyimpan dendam? bisa bayangin gak?" ucap Nia membuat Ane juga tertawa


"Tapi kasian juga keadaannya cukup memprihatinkan sekarang, intinya dia menuai apa yang dia tanam" ucap Ane


"Bener juga apa yang kamu katakan Ne, Rata-rata orang yang menyakit seseorang pasti akan mendapatkan balasannya"


"Semoga saja dengan kejadian ini semua, bisa membuatnya sadar" ucap Ane


"Amin"


***


Sampai rumah Ane sudah disambut Putranya diteras bersama neneknya.


"Assalamu'alaikum"


"Walaikumsalam, eh.. itu Bunda sudah pulang sayang" ucap bu Imah pada Amar


"Amar sayang, sedang main apa?" Ane yang baru datang menghampiri Amar


"Sepertinya Amar bosan didalam terus, minta mainannya dibawa keluar" ucap Bu Imah


"Anak Bunda bosen ya didalam, mau jalan-jalan di taman sama Bunda?"


Amar mengangguk mengiyakan

__ADS_1


"Tunggu Bunda dulu ya sayang, Bunda taruk ini dulu kedalam" Ane menunjukkan belanjaannya pada Amar


Ane meletakkan barang belanjaannya dikamar dan segera keluar lagi untuk mengajak Amar jalan-jalan ditaman


"Ayo Amar kita jalan-jalan ditaman sekalian nunggu Ayah pulang" ucap Ane menggandeng tangan Amar


"Ma, Ane ajak Amar jalan-jalan ditaman dulu ya" Ane pamit


"Iya Ne, Hati-hati ya"


Ditaman Ane melihat mahasiswa kebidanan yang kos disekitar komplek disini. tanpa disadari bibirnya tersenyum mengingat kenangan saat masih kuliah dan kos disamping rumah bu Imah sampai akhirnya bertemu dengan Arif suaminya.


Semenjak bekerja dirinya memang jarang sekali bisa bersantai seperti ini bersama putranya.


Ane merasa bersyukur sekarang bisa bersantai menemani putranya bermain.


Dari kejauhan tampak mobil Arif berhenti diparkiran taman.


"Assalamu'alaikum"


"Walaikumsalam bang" jawab Arif mencium punggung tangan suaminya.


"Ayah" Amar memeluk Arif


"Kangen" Amar mencium pipi Arif


"Pinternya anak Ayah"


"Tumben kalian disini" tanya Arif


"Ini tadi Amar sepertinya bosan dirumah jadinya Ane ajak kesini saja" Ucap Ane


***


Keesokan harinya Ane pergi kerumah Saka untuk memberitahu Tika kalau Nur ingin bicara bedua dengan Tika.


"Apa kamu yakin itu Ne?" Tanya Saka sedikit kawatir


"Iya itu yang dikatakan Nur kemarin saat aku dan Nia menjenguk nya. dia ingin bicara dengan Tika secara langsung" jawab Ane


"Tapi jujur saja, aku sedikit ragu Ne. jujur aku kawatir dengan Tika. kemarin saja saat dirumah sakit, dan aku mengatakan Almira disini dia sangat histeris sampai Dokter memberikan suntikkan untuk membuat nya tenang. bagaimana bisa sekarang aku membiarkan Tika kesana sendiri?"


"Kalau masalahnya seperti itu, terserah kamu saja. aku hanya menyampaikan apa yang Nur katakan. mau kesana tidaknya keputusan ada pada kalian" ucap Ane

__ADS_1


"Besok aku akan kesana mbak" sahut Tika


"Tapi bagaimana kalau dia menyakiti kamu. aku tidak mau kalau sampai terjadi apa-apa sama kamu. emosinya masih sangat labil" ucap Saka menatap mata Tika.


"InsyaAlloh aku tidak apa-apa, aku yakin mbak Nur tidak akan menyakitiku"


"Bagaimana kamu bisa seyakin itu? aku kemarin melihatnya sendiri. saat dia histeris karena mengingat kamu" ucap Saka


"Disana kan banyak orang ada perawat dan Dokter disana jangan kawatir"


"Oya, sebenarnya ada hal lain yang ingin aku bicarakan sama kamu Saka"


"Ada apa Ne?" Saka melihat Ane


"Sebelumnya maaf ya Tika, aku harus bicarakan ini sama Saka" ucap Ane


"Tidak apa-apa mbak" Tika senyum


"Saka, Dokter bilang kondisi Nur sudah membaik. jika dalam satu minggu ini Nur bisa mengontrol emosi dan keadaannya stabil, dia diijinkan untuk pulang" ucap Ane


"Alhamdulillah" ucap Tika dan Saka bersamaan


"Tapi yang jadi masalahnya, Mamanya Nur sepertinya belum mengetahui kabar ini. hapenya sudah berusaha aku hubungi tapi sepertinya nomernya sekarang juga sudah tidak aktif. kamu tau kan rumahnya cukup jauh dari sini. aku tidak bisa kesana untuk memberitahunya. dan masalah lainnya, aku juga tidak yakin mama Nur akan menerima kehadiran Nur. sepertinya Mamanya belum bisa memaafkan Nur dari apa yang aku dengar dari perawat disana, selama setahun lebih Nur dirawat. hanya satu kali mamanya menjenguk" Ane terlihat sedih


"Ini semua salah ku" ucap Saka lirih


"Sudah berhenti menyalahkan diri sendiri, semua sudah terjadi. sekarang sebaiknya mas Saka bertanggung jawab atas diri mbaj Nur. menikahlah dengan mbak Nur, setidaknya ada tempat untuk mbak Nur kembali" ucap Tika membuat Saka dan Ane melihat ke arahnya


"Tika, apa kamu benar-benar menyuruh Saka menikah dengan Nur?" tanya Ane


"Iya mbak" jawab Tika lembut


"Lalu kamu?


"Seperti apa yang aku katakan dari awal setelah aku mengetahui apa yang terjadi dengan Mbak Nur, aku akan kembali mengajukan gugatan cerai. dan menyerahkan mas Saka dan Almira kembali pada mbak Nur, karena Hanya mbak Nur yang dari awal berhak atas mas Saka dan Almira" ucap Tika


"Tika, aku tidak tau hati kamu terbuat dari apa. tapi jujur aku kagum sama kamu. aku juga seorang istri. aku tau bagaimana rasanya jika ada orang lain dalam kehidupan rumah tangga kita. tapi apa yang kamu lakukan ini tidak akan menyakiti kamu?" tanya Ane


"Sakit pasti mbak. tapi aku juga tidak ingin melihat mas Saka hidup dalam bayangan dosa. dan sebagai wanita aku juga tidak tega melihat keadaan mbak Nur"


"Sayang apa harus seperti ini? apa tidak ada cara lain, untuk aku bisa menebus dosa-dosaku? apa harus dengan menyakiti kamu aku menebus dosaku?" Ucap Saka


^Happy Reading^🥰😘

__ADS_1


__ADS_2