Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
PERASAAN YANG HILANG


__ADS_3

Bu Risma memandang ustadz Guntur dengan seksama dan sepertinya merasa ada hubungan lebih antara Nur dan Ustadz Guntur. karena tidak mungkin seorang ustadz akan datang kesini menemani Nur menjenguk anaknya kalau tidak ada hubungannya lebih diantara mereka.


"Jadi.. kalian ini" Bu Risma memandang Nur Dan ustadz Guntur secara bergantian


"Kami.. kami" But canggung


"Kami berdua InsyaAlloh Alan segera menikah" timpal ustadz Guntur


Bu Risma tersenyum Dan memandang Nur


"MasyaAlloh tante senang Nur, maha baik Alloh. semoga kali ini kamu Mendapatkan Kebahagian kamu Nur" Bu Risma memandang Nur


"Terimakasih tante"


"Alhamdulillah, Tika ucapkan selamat ya mbak. semoga semuanya lancar samapai hari H nya ya mbak" sahut Tika


"Iya terimakasih Tika"


"Mama gendong" ucap Almira minta gendong Nur


"Almira mau digendong mama?" tanya Nur dengan mata berkaca-kaca


Amira mengangguk dan Nur segera menggendongnya.


"Mau jalan-jalan sama mama tidak?" ucap Nur


Dan Almira mengangguk


"Tika, tante. apa Nur boleh mengajak Almira jalan-jalan?"


"Tentu saja boleh mbak. biar Tika siapkan baju ganti ya. takutnya kalau nanti pas butuh" ucap Tika berlalu


Tak lama kemudian Tika keluar dengan tas ditangan kanannya dan tangan satunya menggendong Farhan.


"Ini" Nur melihat Farhan


"Ini Farhan mbak anak dek Sasa. sejak kepergian Mamanya sekarang Farhan jadi anakku dan mas Saka adiknya Almira. apalagi samapai sekarang kami juga belum dikaruniai anak. mungkin ini agar kami bisa menyayangi Almira dan Farhan. karena yang namanya anak kan tidak harus selalu lahir dari rahim kita" ucap Tika


"Kamu benar Tika" ucap Nur senyum


"Kalau begitu kami pamit pergi dulu" ucap Ustadz Guntur


Mereka bertigapun akhirnya pergi, didalam mobil ustadz sesekali melihat Almira dan Nur yang tampak bahagia bercanda bersama


Nur sangat bahagia akhirnya kini Almira sudah bisa menerimanya.


Ustadz Guntur, Nur dan Almira tiba disebut taman hiburan, ketiganya tampak serasi seperti sebuah keluarga yang bahagia.


Almira yang kecapekan minta gendong dan tertidur digendongan Nur.


"Sini biar aku gendong" ucap ustadz Guntur


"Tidak apa-apa ustadz biar saya saja" ucap Nur


"Tidak apa-apa biar saya saja" pintu ustadz Guntur sekali lagi


Tak ingin berbedat Nur memberikan Almira pada ustadz Guntur.


Digendongnya Almira yang sedang tertidur berjalan menuju mobil.


Didalam mobil, ustadz Guntur menanyakan kapan dirinya secara resmi diijinkan untuk segera menghalalkan Nur


"Apa tidak sebaiknya kita segera meresmikan hubungan kita Nur? bagaimana kalau bulan ini?"


"Bulan ini? kenapa harus buru-buru?"Nur terkejut


"Karena menurutku lebih cepat akan lebih baik. niat baik itu harus disegerakan jangan ditunda-tunda"


Sesampainya dirumah Bu Risma, Ustadz Guntur turun dari mobil terlebih dahulu dan kembali menggendong Almira masuk kerumah bu Risma


"Assalamu'alaikum"


"Walaikumsalam, kalian sudah pulang? bagaimana jalan-jalannya?" tanya bu Risma


"Iya tante, terimakasih ya Nur sudah diijinkan untuk jalan-jalan bersama Almira. Nur senang banget bisa menghabiskan waktu dengan Almira"


"Almira anak kamu, sudah sepantasnya kamu menghabiskan waktu bersama. jangan bicara seperti itu lagi ya. kapan pun kamu ingin bersama Almira, datanglah!" Bu Risma menepuk pelan bahu Nur

__ADS_1


"Oya keasyikan ngobrol samapai lupa kalau Almira masih digendong ustadz guntur. ayo nak guntur tidurkan Almira dikamar" ucap bu Risma membimbing Guntur menuju kamar Tika.


"Tik, mama masuk ya, Nak Guntur mau menidurkan Almira"


"Iya ma" ucap Tika membuka pintu dan tangannya masih memegang hapenya karena sedang telpon deny Saka


"Tidurkan disitu saja ustadz" ucap Tika menunjukkan tempat tidur untuk Almira


"Permisi ya mbak" ucap Ustadz Guntur


"Iya gak papa"


Setelah menidurkan Almira ustadz Guntur dan bu Risma segera keluar duduk diruang tamu kembali. sementara Tika masih asyik telpon dengan Saka yang kebetulan kapalnya sedang menepi jadi bisa dapat sinyal untuk menghubungi istrinya.


"Itu kenapa ada suara laki-laki" tanya Saka dari seberang telpon


"Oow.. itu ustadz Guntur, calon suaminya mbak Nur. kebetulan tadi mereka kesini dan mengajak Almira jalan-jalan."


"Siapa tadi kamu bilang? calon apa?"


"Calon suami mbak Nur mas" jawab Tika


Saka nampak terkejut mendengar Nur sudah mempunyai calon suami.


"O..oow dia su-sudah punya calon suami. baguslah kalau begitu" ucap Saka merasa ada yang aneh dihatinya


"Iya mas, Alhamdulillah ya mas, akhirnya Mbak Nur sekarang sudah mempunyai calon suami katanya sih sebentar lagi mereka menikah"


"Menikah? kapan?" Saka kaget


"Mungkin secepatnya, karena calon suaminya kan seorang ustadz. tidak mungkin mau pacaran."


"Kamu tau kapan mereka akan menikah?"


"Gak tau mas, tapi nanti pasti akan diundang kok, soalnya dihari penting mbak Nur pasti ingin Dihadiri Almira. ya sudah ya mas, Tika keluar dulu, nyapa mbak Nur. kamu hati-hati dan baik-baik disana" ucap Tika menurut telponnya


Saat Tika keluar, Nur dan Saka rupanya sudah tidak ada disana


"Mbak Nur mana ma?" tanya Tika


"Sudah pulang, baru saja. mereka mau kerumah Nur dan menyiapkan pernikahan."


"Katanya kalau semua lancar bulan depan. dan Nur meminta kehadiran kita."


"Wah cepet sekali ya ma"


"Lebih cepat lebih baik kata ustadz Guntur, tidak ingin ada fitnah"


"Iya sih ma, ustadz Guntur memang benar. lagian niat baik kan harus disegerakan"


Nur diantar ustadz Guntur kembali ke kontrakannya


"Nur malam ini kamu tinggal di tempatmu dulu, dan aku aka menginap dulu di hotel. besok pagi-pagi aku jemput lagi, aku antar pulang kerumah mama kamu ya"


"Iya ustadz, Assalamu'alaikum" Nur pamit dan melambaikan tangan


Sesampainya dikamar, Nur tersenyum memegangi dadanya yang dari tadi seakan mau copot saking bahagianya


Nur menghubungi sahabatnya Ane dan memberitahu soal rencana pernikahannya dengan ustadz Guntur bulan depan.


"Alhamdulillah, aku ikut bahagia untuk mu Nur, Akhirnya hari bahagia untuk mu kini datang. aku harap semoga kali ini semua lancar dan kamu bisa bahagia selalu dengan ustadz Guntur. InsyaAlloh ini jodoh yang terbaik untuk mu Nur" ucap Ane


"Terimakasih ya Ne, kamu selalu ada buatku. mempunyai teman seperti kalian adalah hal yang sangat aku syukuri"


Selesai menelpon Nur, Ane memberi tahu kepada suaminya tentang rencana Nur yang akan menggelar pesta pernikahan bulan depan.


"Alhmdllh, akhirnya sahabat kamu mendapatkan jodoh yang baik setelah apa yang sudah dia alami selama ini"


"Iya bang, Ane ikut bahagia rasanya"


"Sayang, sebaiknya kamu coba ajak bicara Nia. dia kan sahabat kamu. mungkin kalau kamu bicara sama dia, Nia akan bisa memahami suaminya"


"Nia? memang ada apa dengan Nia bang?"


"Saat ini sepertinya rumah tangga Alan dan Nia sedang tidak dalam keadaan baik. Nia sepertinya akhir-akhir ini memberi tekanan pada Alan"


"Takanan seperti apa maksud abang?"

__ADS_1


"Nia sepertinya cemburu sama Alan. sebenarnya dalam rumah tangga cemburu itu boleh saja. tapi masalahnya cemburu nya Nia ini terlalu berlebihan. Alan beberapa hari ini terlihat kacau dikantor. bahkan beberapa kali terlihat menyibukkan diri dikantor karena malas pulang kerumah. dengan alasan, dirumah malas ribut sama Nia."


"perasaan beberapa hari yang lalu Ane bertemu dengan Nia, tapi sepertinya dia baik-baik saja. dan tidak cerita apa-apa"


"Menurut Alan, Nia ini marah karena kesibukan Alan sebagai anggota Polisi yang jarang ada waktu untuk dirinya. puncaknya saat lebaran kemarin, karena Alan tidak bisa menemaninya pulang ke Blora. intinya Nia ini protes dan menganggap Alan ini punya wanita lain diluar sana. sebenarnya abang juga tidak mau ikut campur masalah pribadi anggota abang tapi karena ini mempengaruhi kinerjanya dikantor ya mau tidak mau, abang meminta kamu untuk bicarakan ini sama Nia"


"Kasih Nia pengertian, tugas seorang anggota polisi itu memang seperti itu. lebaran bukan hanya Nia saja yang tidak ditemani suami pulang kampung. mungkin semua anggota bhayangkari mengalaminya. suami mereka baru bisa pulang setelah lebaran. ya mau bagaimana lagi. bukankah dari awal sudah tau tugas anggota Polisi. kenapa sekarang harus dipermasalahkan?" ucap Arif lagi


"Iya bang, Ane mengerti. mungkin Nia ini terpengaruh dengan temannya dirumah sakit. karena Nia pernah cerita memang kalau temannya ini hidupnya enak, bisa sering liburan dengan keluarga. tapi selama Nia nikah sama Alan jangankan liburan bisa berduaan saja udah alhamdulillah gitu bang"


"Ya kan dari awal harusnya Nia mengerti, yang dia nikahi ini seorang anggota polisi yang sudah terikat Dinas dan tidak hidungnya itu buat melayani masyarakat"


"Mungkin Nia belum faham itu bang"


***


Keesokan harinya, Ane mengajak Nia bertemu ditempat seperti biasa.


mereka memesan es krim kesukaan mereka masing-masing, disela-sela menyantap es krim Ane berusaha membuka suara dan menanyakan hubungannya dengan Alan.


Benar saja ternyata rumah tangga Nia dan Alan sedang dalam keadaan tidak baik.


"Nia, sebagai seorang bhayangkari kita harus bisa mendukung suami kita. jangan membuatnya merasa tertekan"


"Tertekan gimana? yang ada aku yang tertekan dengan rumah tangga seperti ini. aku ini merasa seperti tidak punya suami. kemana-mana sendiri. entahlah apa iya bekerja sampai seperti itu, bahkan tidak punya waktu untuk anak dan istrinya"


"Namanya juga menikah dengan Polisi. itu sudah menjadi resiko. kamu lihat aku, aku pun sama merasakan apa yang kamu rasakan. tapi aku menyadari kalau suamiku sedang bertugas, ibaratnya nyawanya itu sewaktu-waktu dalam bahaya, jadi aku gunakan waktuku untuk mendoakan suamiku agar selalu dalam lindungan Alloh. tidak apa-apa suamiku bekerja sampai tidak ada waktu untuk ku yang penting suamiku pulang dalam keadaan selamat. setiap mendengar suara kendaraan suamiku memasuki halaman rumah kami rasanya hatiku sudah bahagia"


"Aku menyesal Ne"


"Maksud kamu?"


"Aku menyesal menikah dengan polisi. hatiku tak sekuat kamu. aku butuh diperhatikan"


"Nia, kenapa bicara seperti itu?"


"Kadang aku mengira apa mungkin mas Alan diluar sana punya selingkuhan? kamu tau kan, banyak polisi diluar sana yang memiliki simpanan."


"Iya apa yang kamu katakan memang benar, tapi kalau kita tidak ada bukti juga jangan asal menuduh. takutnya kalau tuduhan kita salah malah menjadikan tidak baik. tidak enak lho dicurigai itu. Alan setauku orang baik kok. coba percaya sama suami mu . lagian kalau suami kamu macam-macam tenang saja kan kamu bisa laporan ke propam"


"Bang Arif juga cerita, karena sering kamu cemburui, akhir-akhir ini Alan sering tidak konsen dengan pekerjaannya"


"Ane jujur, aku sudah mati rasa dengan Alan"


"Astaghfirullah, Nia jangan bicara seperti itu!"


"Tapi benaran Ne, aku tidak bisa membohongi perasaanku. awal nikah aku merasa bahagia-bahagia saja, tapi semakin kesini aku menyadari aku sepertinya tidak mencintai mas Alan. mungkin dulu aku menikah dengannya hanya karena pengen punya suami seorang polisi saja. tapi semakin kesini aku kok merasa sudah tidak ada kenyamaan dengan Mas Alan. jujur aku tidak bahagia menikah dengannya "


"Jangan bicara seperti itu, Istighfar yang banyak Nia"


"Ne aku harus bagaimana? aku benar-benar sudah tidak ada rasa, dan setiap kali bertemu yang ada kami selalu saja ribut"


"Ya Alloh, baru juga aku lega, Nur sekarang mendapatkan kebahagiaan dan sebentar lagi menikah sekarang ganti kamu yang seperti ini"


"Nur mau menikah?" Nia membulatkan matanya


"Iya bulan depan Nur mau menikah dengan ustadz Guntur"


"Oow... jadi mereka jadi menikah? Alhamdulillah aku ikut senang mendengar nya"


"Dan aku akan lebih senang, jika kamu juga baik-baik saja dengan Alan"


"Sudahlah Ne, gak usah bahas aku. tidak ada yang bisa diharapkan dari pernikahanku. mungkin pernikahan yang aku jalani ini akan berujung pada perpisahan"


"Astaghfirullah, istighfar Nia, istighfar! jangan seperti itu. kasian anak akan menjadi korban jika orang tuanya berpisah"


"Aku juga berhak bahagia Ne, aku tidak bisa jika harus menjalani pernikahan hanya anak"


"Bagaimana mungkin kamu berpikir seperti itu, Alan itu tidak main wanita kok, percayalah dia benar-benar sibuk karena kerja. Bang Arif sendiri yang bilang"


"Walaupun seperti itu, tidak merubah apapun Ne, aku memang sudah tidak mencintai mas Alan"


"Bagaimana bisa dengan gampang kamu bilang tidak cinta lagi sama suami kamu"


"Terus aku harus bagaimana kalau aku tidak bahagia dengan pernikahanku Ne? aku tidak mungkin kan menghabiskan waktu ku untuk orang yang sudah tidak lagi sejalan dengan ku? "


"Kamu salah Nia, tidak seharusnya kamu berkata seperti itu, itu sama halnya kamu mempermainkan pernikahan. coba kamu pikir, apa yang harus dilakukan jika Kamu diposisi Alan? Alan itu seorang polisi? dia terikat tidak bisa seenaknya sendiri. Nia pikiran kan lagi sebelum kamu mengambil keputusan. setidaknya pikiran anak kamu. jangan turuti egomu"

__ADS_1


Ane berusaha menasehati Nia. tapi Nia yang sepertinya sudah tidak mau lagi mempertahankan pernikahannya memilih untuk pergi dan sepertinya marah dengan nasehat dari Ane sahabat nya. karena mereka tidak sepemikiran


^Happy Reading^


__ADS_2