
Setelah hampir satu bulan dirawat kini Almira sudah menujukan tanda-tanda kesembuhan. Dokter memberi tahu Saka kalau alat bantu nafas yang dipasang ditubuh mungil Almira sudah bisa dilepas. dan akan dilakukan observasi untuk satu hari ini. jika semua baik kemungkinan Almira akan dipindahkan ke ruang perawatan biasa.
Mendengar kabar dari Dokter, tentu saja Saka sangat gembira. setidaknya sebentar lagi putrinya bisa segera pulang. karena uang hasil penjualan mobil Saka juga semakin menipis. mengingat Nur juga masih membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Saka menghubungi Tika dan memberi tau kalau Almira sudah semakin membaik. Tika ikut bahagia mendengar kabar tentang Almira
"Sayang, apa itu tadi yang telpon Saka?" tanya bu Hesti
"Iya ma, Mas Saka kasih kabar kalau Almira putrinya keadaannya sudah semakin membaik, mungkin sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang perawatan" jawab Tika
"Tika, kenapa kamu masih perduli sama Saka? dan kenapa kamu menangguhkan gugatan perceraian kalian?" bu Hesti heran
"Ma, maafin Tika ya ma, Tika tidak tau, Tika ini salah apa tidak. tapi Tika tidak tega membiarkan mas Saka seperti ini. apalagi harus mengurus bayi sendiri, Mbak Nur keadaan belum baik dan tidak tau sampai kapan mbak Nur akan seperti itu. rencana Tika, Tika ingin membantu mas Saka merawat Almira sampai mbak Nur sembuh. dan nanti saat mbak Nur sembuh, Tika akan meninggalkan mas Saka lagi"
"Tika, apa kamu yakin nak? mama tau kamu masih mencintai Saka. tapi apa kamu yakin nantinya bisa meninggalkan Saka dan anaknya kalau Nur sembuh? ini tidak akan mudah untuk mu Tika.
kalau mama boleh sarankan, sebaiknya kamu tidak usah lagi terlibat dengan masalah Saka. biar Saka selesaikan masalahnya sendiri " ucap bu Hesti
"Tika tidak bisa untuk pura-pura tidak tau maslah mas Saka ma, biar bagaimana sampai saat ini mas Saka masih menjadi suami Tika. sudah sewajarnya sebagai seorang istri Tika membantu suami Tika. apalagi mama mas Saka yang tidak perduli dengan Almira. tidak mungkin Tika membiarkan mas Saka merawat bayinya sendiri" ucap Tika
"Tapi ini juga tidak adil untukmu nak, bagaimana bisa mama membiarkan kamu menderita" bu Hesti meneteskan air matanya
"Ma, siapa bilang Tika menderita? Tika tidak menderita ma, Tika iklas. ini ujian untuk Tika. karena Alloh menyayangi Tika dan Alloh ingin mengangkat derajat Tika. mama jangan sedih ya, Tika baik-baik saja ma, Tika bahagia" ucap Tika memegang tangan Bu Hesti
"Ya sudah kalau kamu sudah membuat keputusan, mama tidak akan menghalangi niat baik kamu. mama hanya bisa berdoa Semoga kamu bahagia anakku"
"Iya ma, terimakasih mama selalu mendukung setiap keputusan Tika" ucap Tika memeluk bu Hesti
__ADS_1
***
Dirumah Alan
"Selamat Alan sebentar lagi mau jadi ayah"ucap Ane saat Alan berkunjung ke rumah nya
"Terimakasih kak Ane, bang Arif ada kak? Alan ada perlu sama bang Arif
"Hai.. Lan, calon ayah pagi-pagi udah sampe sini aja ada apa ini?" sahut Arif
"Ayo duduk dulu, ngobrolnya sambil duduk. Ane buatin teh"
"Duduk Lan, gimana ada apa pagi-pagi sudah sampai sini" tanya Arif lagi
"Begini Bang, apa minggu depan kita jadi mabes? Semisal digantikan sama yang lain kira-kira bisa tidak bang?" tanya Alan yang berat meninggalkan Nia yang sedang hamil keluar kota
"Sejauh ini sih Nia baik-baik saja bang, cuma Alan agak cemas mau meninggalkan Nia keluar kota"
"Aku faham, dulu aku juga sering meninggalkan Ane keluar kota saat Ane hamil. bukan aku tidak kawatir tapi sebagai Abdi negara kita juga tidak bisa mengabaikan tugas kita demi kepentingan pribadi. karena kita juga punya tugas yang akan dimintai pertanggung jawabannya"
"Iya Bang, terimakasih nasehatnya"
"Nia tinggal sama orang tua kamu kan? maksdnya tidak sendiri?"
"Iya bang, Nia sama mama dan papa Alan"
"Apalagi Nia tidak sendiri, kamu tidak perlu cemas mama dan papa kamu pasti akan menjaga Nia. lagian cuma satu minggu saja kok"
__ADS_1
'Baik bang, kalau gitu Alan kekantor duluan ya bang, apa sekalian kita berangkat bareng"ucap Alan
"Lho ini tehnya sudah jadi kok malah udah mau pergi aja" sahut Ane membawa teh dinampan
Alan yang sudah mau pergi, akirnya meminum dulu teh buatan Ane dan pergi setelah meminum tehnya.
Didepan rumah Alan tanpa sengaja Alan bertemu dengan Tia. mahasiswa yang kos disamping rumah Arif dan sempat dideketi Alan sebelum menikah dengan Nia.
"Mas" ucap Tia menunduk sembari senyum tipis
"Tia, a-apa kabar" salam Alan gugup
"Alhamdulillah baik, mas Alan sendiri gimana? Tia dengar katanya sudah menikah dengan teman mbak Ane ya?" tanya Tia
"Iya, a-aku sudah menikah. maaf ya a-aku" Alan menggaruk-garuk Kepala yang tidak gatal. sesungguhnya Alan berhutang maaf sama Tia lantara saat itu Alan sedang dekat dengan Tia tapi tiba-tiba menikahi Nia tanpa berkata apa-apa pada Tia
"Iya tidak apa-apa mas, tidak usah gugup seperti itu. Tia tidak apa-apa, meskipun saat itu Tia sejujurnya sempat bertanya-tanya kenapa mas Alan tidak mengatakan apa-apa pada Tia. seandainya saat itu mas Alan mengatakan kalau mau menikah Tia tidak akan berpikir terlalu jauh. karena saat itu Tia pikir mas Alan cukup dekat sama Tia. tapi ternyata hanya Tia yang merasa seperti itu" Tia berusaha senyum menyembunyikan kekecewaannya
"Maafkan aku Tia, saat itu sebenarnya aku memang sedang melakukan pendekatan sama kamu tapi disaat yang bersamaan Nia istriku datang dan jujur aku menemukan kenyamanan saat bersama Nia, akirnya tanpa menunggu lama kita menikah sekali lagi maafkan aku Tia" ucap Alan
"Berarti saat itu, mas Alan membandingkan aku dan mbak Nia ya?"
"Bukan, bukan sepeti itu. kamu salah sangka Tia. aku tidak ada maksud seperti itu"
"Ya sudah mas tidak apa-apa, mungkin kita memang ditakdirkan tidak berjodoh. Tia iklas dan Tia mendoakan kebahagiaan buat mas Alan dan mbak Nia. semoga kalian bahagia. maafkan jika Tia ada salah sama mas Alan. Assalamu'alaikum" ucap Tia pergi meninggalkan Alan
"Ti-Tia" panggil Alan menghentikan langkah Tia
__ADS_1
"Maafkan aku, semoga kamu mendapatkan jodoh yang jauh lebih baik dariku" ucap Alan merasa bersalah dengan sikapnya yang dulu tidak dewasa dan membuat Tia salah faham.