Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
BAHAGIA


__ADS_3

Perasaan semakin bercampur aduk takkala melihat Nia yang seperti nya enggan untuk menceritakan keadaan Ane didalam.


Seperti sudah pupus harapan. Bu Vina menangis sejadi-jadinya. Bu Imah yang awalnya tenang pun tak kuasa lagi menahan perasaan sedihnya.


Begitu juga dengan pak Edi, kini tak kuasa lagi untuk untuk membendung air mata nya.


Diamnya Nia dianggap sebagai jawaban dari penantian mereka selama dua jam ini.


Nia pun masih menangis sesenggukan diruang ganti. tangannya memegangi dada seakan meremas bajunya menahan kesakitan.


Dret... dret...


Panggilan masuk dari Alan


"Assalamu'alaikum"


"Walaikumsalam" jawab Nia yang masih menangis sesenggukan


"Sayang kamu kenapa? " tanya Alan panik mendengar Nia menangis


"Ane, Ane mas" ucap Nia sesenggukan


"Kak Ane kenapa? Ada apa dengan Kak Ane" tanya Alan ikut panik. karena bagi Alan Ane juga merupakan kakak bagi dirinya. jasa Ane dan Arif begitu besar untuk nya.


Mendengar Ane sepertinya dalam bahaya membuat Alan kawatir. jantung nya mulai berdetak kencang.


"Ane kritis, sepertinya tidak tertolong lagi. tadi saat aku keluar dari ruang tindakan jantung nya sudah berhenti. dokter masih berupaya untuk bisa mengembalikan detak jantung nya. namun melihat banyaknya darah yang keluar sepertinya kecil kemungkinan" ucap Nia terputus


"Tidak, tidak mungkin! Kak Ane akan baik-baik saja. aku kesana sekarang" ucap Alan memutus sambungan telepon nya.


Tak lama setelahnya Alan sampai rumus sakit dan melihat Arif masih menunggu didepan ruangan tindakan menggonggong bayi mungil mereka.


"Bang, apa sudah ada perkembangan" tanya Alan hati-hati


Arif hanya menggelengkan kepadanya


Klek...


Suara pintu dibuka


Semua berjalan mendekati Dokter yang baru saja keluar dari ruang tindakan


"Bagaimana keadaan istri saya Dok?" tanya Arif


"Anak saya baik-baik saja kan Dok?" tanya Bu Vina


"Begini Pak, Bu. Tadi kondisi pasien memang sempat mengkhawatirkan karena perdarahan yang cukup hebat. tapi Alhamdulillah atas ijin Alloh pasien berhasil melewati masa kritis nya dan sekarang pasien sudah baik-baik saja. untuk sementara biarkan pasien istirahat nanti saya akan kesian lagi untuk observasi kembali" ucap Dokter menjelaskan

__ADS_1


"Alhamdulillah" ucap semua yang ada disitu


"Boleh kami menemuinya?" tanya Arif merasa lega


"Sebaiknya untuk saat ini jangan dulu! biarkan pasien benar-benar pulih. nanti setelah pasien bangun kalian boleh menemuinya" jawab Dokter


"Saya permisi" ucap Dokter lagi


"Terimakasih Dok" ucap Arif


Semua merasa lega mengetahui Ane sudah berhasil melewati maya kritis nya.


Nia yang sudah mendengar kabar dari Dokter tentang keadaan sahabat nya setelah dirinya meninggalkan ruang tindakan merasa bahagia dan begeges ingin menemui sahabat nya.


Melihat Alan yang ada disini Nia segey berlari dan menangis sesenggukan dipelukan Alan.


"Alhamdulillah Ane selamat, Ane kembali" Nia terisak


"Iya sayang, kak Ane orang baik Alloh pasti menjaga nya" ucap Alan menenangkan istrinya


"Bunda baik-baik saja dek, sabar ya. sebentar lagi kita akan ketemu bunda" ucap Arif pada putranya.


"Arif kamu pasti capek, sini biar mama yang gendong. kamu istirahat dulu" ucap Bu Imah


"Tidak ma, Arif tidak capek. biar Arif yang menggendong." ucap Arif terus menciumi putra


***


"Bang Arif, om, tante, jika ingin bertemu Ane dia sudah bangun" ucap Nia senyum


Semua masuk satu persatu mencium Ane dan mengucapkan selamat sudah menjadi seorang ibu


"Maaf ya sudah membuat kalian kawatir. tadi Nia sudah menceritakan apa yang terjadi" ucap Ane


"Apa yang kamu katakan sayang, jangan meminta maaf. justru aku yang merasa bersalah karena melahirkan anakku kamu jadi menderita seperti ini" ucap Arif


"Tunggu Bang, ulangi sekali lagi!" ucap Ane


"Apa sayang?" Arif bingung


"Tadi yang Abang bilang, anak abang. memang cuma anak abang saja ya bukan anakku?" goda Ane senyum walaupun tubuh nya masih lemah wajahnya terlihat pucat tapi berusaha menghibur orang yang ada disitu.


"Iya, iya. anak kita maksud Abang" ucap Arif dan semua tertawa


"Bang, Ane mau gendong anak kita" ucapnya


"Apa kamu yakin sudah kuat bangun?"

__ADS_1


"Sebaiknya jangan dulu ya!" sahut Nia


"Kamu baru saja mengalami pendarahan yang hebat, pasti kamu lemas saat ini. gini saja sambil tiduran saja ya" ucap Nia lagi


Arif menidurkan putra mereka disamping Ane dan Ane menatap lemah pada Putra nya. kekuatan nya belum sepenuhnya pulih tapi melihat putra mungil mereka seakan menjadi obat mujarab baginya.


Kebahagiaan yang terasa begitu lengkap meski harus melewati beberapa drama.


Untuk pertama kali nya Ane memberi kan putranya Asi.


"Maaf ya sayang, tadi kamu sudah minum susu formula ya" ucap Ane memandang anaknya


"Anak kita pintar pasti memahami perjuangan bundanya" ucap Arif


"Oya udah tau mau kasih nama apa sama cucu nenek?" ucap Bu Imah memandang cucunya yang menyusu dengan kuat


"Sudah ma, namanya Muhammad Aamar amzyar. yang artinya laki-laki terpuji yang memberikan kemakmuran,pintar dan cerdas." jawab Arif


"Nama yang bagus dengan arti yang bagus" jawab bu Imah


"Amar" ucap Bu Vina memandang cucunya


"Nyusu nya kuat ya" ucap Bu Vina


"Iya ma, sepertinya haus sekali" jawab Ane senyum


****


Dirumah Alan


Setelah Riri kuliah diluar kota sekarang Nia dan Alan kembali tinggal dirumah orangtuanya.


Alan menceritakan apa yang dialami Ane dan betapa bahagianya mereka yang saat ini sudah di karuniai seorang anak.


"Lalu kapan kalain ingin memberi kami cucu? kami juga ingin segera menimang cucu" ucap Bu Indah


"Doakan ya ma, kami tidak menundanya. kapan saja Alloh memberi, insyaallah kami siap" jawab Nia


"Tapi jujur melihat kejadian yang dialami Kak Ane tadi Alan takut. nanti jika Alloh memberi kita kepercayaan kamu hamil. persalinan nya SC saja ya" pinta Alan


"Mas, sesungguhnya semua wanita didunia ini ingin bisa melahirkan secara normal. Nia pun sama" jawab Nia


"Iya, tapi terlalu beresiko" ucap Alan


"Itu lah mengapa Alloh memuliakan wanita. bahkan saat wanita meninggal karena melahirkan itu akan dihukumi mati syahid. dan sudah pasti surga baginya." jawab Nia


"Hidup dan mati seseorang sudah ada takdir nya mas, jika memang sudah waktunya manusia tidak akan pernah bisa mengelak nya. kematian itu sesuatu yang pasti dan semua orang harus bersiap untuk itu" tambahnya lagi

__ADS_1


"Nia, maaf kan Mama ya. mama merasa bersalah pernah meragukan menantu sebaik kamu. dimana lagi mama bisa mendapatkan menantu sebaik kamu" ucap Bu Indah


"Iya Ma, tidak apa-apa. semua sudah berlalu. Nia akan berusaha menjadi menantu yang baik untuk mama dan papa" ucap Nia senyum kepada kedua mertua nya


__ADS_2