
"Iya kek, Rara akan selalu berusaha agar bisa selalu rukun dengan kak Nana" jawab Rara tersenyum
"Kamu memang cucu kakek yang baik, kamu itu mirip sekali sama Mama kamu. Mama kamu itu juga anaknya baik dan nurut banget sama kakek dulu" ucap kakek tersenyum membayangkan Dokter Anggun
"Amar masih sering menghubungi kamu?" tanya kakek
"Iya kek, aneh tu kak Amar. masak dia bilang papa sama mama menitipkan Rara sama kak Amar. udah gitu kak Amar ini kayak hantu aja kek, tiba-tiba muncul. padahal kuliah kedokteran harusnya sibuk kan? tapi kok perasaan setiap hari pasti muncul aja ini kak Amar
"Hahaha.. " Kakek tertawa
"Kok kakek malah ketawa? yang lucu dimana kek?"
"Kalian ini anak muda memang ada saja tingkahnya" ucap kakek
"Oya, kalau kamu perhatikan apa menurut kamu kakak kamu ini suka tidak sama Amar?"
"Entahlah kek, hanya saja. sebelum Rara berangkat ke Surabaya. kakak seperti ketakutan kalau kak Amar suka sama Rara. kan aneh kek. mana mungkin kak Amar suka sama Rara" ucap Rara
"Kenapa tidak mungkin?"
"Kakek kok bilang gitu, ya gak mungkin lah kek. mahasiswa kedokteran itu cantik-cantik mana mungkin, kak Amar suka sama Rara. gak masuk akal"
***
***
Dikampus kedokteran
"Mar kamu itu kenapa sih, kalau sama Vita selalu ketus. Kasihan tau Mar, anak orang kamu ketusin terus. Lagian Vita itu orangnya baik. Cantik, pinter, anak orang kaya. Ini kamu suruh macari. Aneh kamu ini" Gerutu Ranu
"Kamu juga aneh, kenapa maksa-maksa, dengan siapa saya harus suka" Ucap Amar
"Tapi kenapa kamu gak suka dengan Vita? Semua laki-laki dikampus ini mengikuti Vita, tapi kenapa kamu malah cuek banget sama dia, setau aku, kamu kan juga belum punya pacar?" Tanya Ranu
"Aku memang belum punya pacar, karena aku memang tidak ingin pacaran. Karena aku sudah menunggu satu wanita" Jawab Amar tersenyum
"Jadi sudah ada wanita yang kamu sukai? Siapa dia? Apa wanita dari kampus ini juga?" Cerca Ranu
"Bukan" Jawab Amar singkat dan kembali membuka buku-bukunya
"Kalau bukan? Terus siapa? Kasih tau dong?" Desak Ranu
"Selamat siang semuanya" Ucap prof. Edi masuk kedalam ruang kelas
"Siang prof" Jawab seluruh mahasiswa
"Siang ini kita akan mengulang kembali materi kita minggu lalu ya, apa kalian sudah mengerjakan tugas yang bapak berikan?" Tanya prof. Edi
"Mampus, aku lupa lagi belum mengerjakan." Gumam Ranu
"Mar, Amar.. " Ranu berusaha memanggil Amar tapi Amar pura-pura tidak mendengar dan hanya sedikit tersenyum menggelengkan kepala
"Kamu, iya kamu yang tolah-toleh itu, yang pekek baju kuning. Kenapa dari tadi manggil-manggil Amar? Kenapa? Apa kamu belum mengerjakan tugas yang bapak minta minggu lalu?" Tanya prof. Edi
"Ma- maaf Pak, saya lupa" Jawab Ranu ketakutan
"Lupa? Apa yang kamu lakukan sampai mengabaikan tugas dari saya? Mulai hari ini sampe dua minggu kedepan jangan ikut kedalam kelas saya?" Tegas prof. Edi
Ranu pun akhirnya keluar kelas dengan perasaan campur aduk. Lantaran teralu sibuk membantu Vita untuk mendekatkan Vita dan Amar.
Setelah pelajaran prof. Edi selesai Ranu kembali masuk kedalam kelas dan duduk disamping Amar.
"Tega kamu" ucap Ranu meletakkan tasnya diatas meja namun lagi-lagi Amar hanya tersenyum
"Kamu tadi pura-pura tidak dengar kan waktu aku panggil?" tanya Ranu lagi
"Makanya kamu itu fokus saja sama kuliah, tidak usah aneh-aneh" jawab Amar
"Iya tapi kira-kira lah Mar, masak teman lagi kesusahan kamu biarkan, ditolongin kek setidaknya" gerutu Ranu.
"Kan kamu sendiri yang salah, kenapa jadi nyalahin aku?" Jawab Amar memasukkan buku dalam tas dan berdiri
"Wow mau kemana? malah pergi gitu aja" panggil Ranu
"Pulang" jawab Amar berlalu
"Amar tunggu" panggil Vita
"Kamu mau kemana?" tanya Vita
"Pulang" jawab Amar singkat
__ADS_1
"Boleh bareng gak? kan kos kamu searah sama rumahku!" ucap Vita
"Sorry gak bisa, aku mau jemput orang" jawab Amar berlalu
"Mar, Amar" teriak Vita tapi Amar tetep berlalu tidak menghiraukan panggilan Vita
"Aaggghhh... " Teriak Vita kesal
"Kenapa kamu?" tanya Ranu
"Tu lihat si Amar, sombong banget sama aku. kamu gimana sih, kan aku udah minta tolong sama aku buat deketin aku sama Amar. kok dia masih cuek aja sama aku" gerutu Vita kesal. dan memanyunkan bibirnya
"Jangankan kamu, aku aja gak diperduliin kok, kamu gak lihat tadi aku dikeluarin dari kelas sama prof. Edi? dia aja gak perduli. apa lagi kamu! udahlah gak usah lagi mengharapkan Amar, percuma. dia itu sudah menyukai cewek lain" ucap Ranu
"What? kamu barusan bilang apa? Amar sudah menyukai cewek lain? siapa dia? katakan siapa cewek yang Amar taksir? apa dia dari kampus kita juga?" cerca Vita
"Mana aku tau, katanya sih bukan dari kampus kita" jawab Ranu
"Apa ini dia mau jemput cewek itu ya? aku penasaran cewek seperti apa yang bisa mendapatkan hati manusia dingin seperti Amar" gumam Vita
"Udah tau cowok dingin masih juga kamu arepin" ucap Ranu
"Iya tapi aku suka sama Amar, pokoknya aku mau kamu bantu aku buat cari tau siapa cewek itu" ucap Vita
***
Brem.. brem...
suara moge Amar berhenti didepan sekolah Rara
dan kali ini Amar duduk diatas mogenya dan melepaskan helmnya
"Di depan ada cowok ganteng banget, sumpah aku belum pernah lihat ada cowok seganteng ini. tapi kira-kira ngapain ya di depan sekolah kita" ucap siswi yang melihat Amar, Rara yang mendengar masih cuek karena belum mengira kalau cowok yang teman-temannya maksud adalah Amar.
"Masak sih, dimana? aku juga mau lihat dong cowok ganteng" sahut teman yang lain
Dan benar saja, seluruh siswi yang ada disekolah itu pada heboh keluar untuk melihat cowok ganteng yang sedang duduk di mogenya. Rara yang awalnya cuek jadi penasaran juga melihat teman-temannya pada heboh.
"Kak Amar, ngapain lagi dia disini?" gumam Rara
"Kamu kenal Ra? tanya salah satu temannya yang mendengar
"Bukannya itu cowok yang selalu datangin kamu ya Ra?" tanya Rama yang juga penasaran dan ikut Rara melihat keluar
"Sssttt... " Rara menyuruh Rama diam dan mereka kembali ke kelas
"Ra, sebenarnya cowok itu siapa kamu?" tanya Rama
"Bukan siapa-siapa aku" jawab Rara
"Kalau bukan siapa-siapa kamu, kenapa dia selalu menghalangi setiap kita mau jalan bareng" tanya Rama
"Dia itu anak sahabat orang tuaku, dan orang tuaku menitipkan aku sama dia" jawab Rara
"Kamu kan bukan anak kecil lagi Ra, kenapa harus dititip-titipin" ucap Rama
"Ya mana aku tau, mungkin orang tuaku hanya khawatir, karena aku kan disini jauh dari keluarga" jawab Rara
"Ra, apa kamu suka sama cowok itu?" tanya Rama
"Hah.. suka? mana mungkin aku suka dengan cowok dingin dan gak bisa senyum seperti dia. ya gak lah! males banget kemana-mana selalu ada dia" gerutu Rara
"Bener kamu gak suka sama dia?"
"Ya bener lah, ngapain juga bohongin kamu. emang apa untungnya buat aku?" jawab Rara
Bel pulang sekolah pun akhirnya berbunyi, para siswa bergegas untuk pulang. terlihat para siswi heboh melihat Amar dan tersenyum pada Amar.
namun Amar yang cuek sama sekali tidak menanggapi
Rara yang malas bertemu dengan Amar, Diam-diam pulang secara mengendap-ngendap dan menutup wajahnya dengan buku, berharap Amar tidak melihatnya
"Ehemm.. " Amar berdeham dan sudah berdiri dibelakang Rara
"Mau kemana Ra? kenapa mukanya harus ditutupi kayak gini?" tanya Amar mengambil buku yang menutupi wajah Rara
"Kak Amar disini? lagi ngapain?" Rara pura-pura bego
"Kamu pikir mau ngapain lagi?" Amar balik tanya
"Em.. gak tau, emang mau ngapain? apa ada yang mau dicari mungkin? tapi maaf. Rara harus pulang dulu" ucap Rara berjalan mau naik angkutan tapi ditahan tasnya sama Amar
__ADS_1
"Kamu ini mau kemana? aku disini mau jemput kamu pulang. gak usah pura-pura bego deh" ucap Amar
"Oow mau jemput Rara pulang ya hehehe.. " Rara pura-pura ketawa
"Ra, kamu kenal kakak ganteng ini? dia siapa kamu Ra?" tanya salah satu teman Rara
"Bukan siapa-siapa, tidak penting" jawab Rara cemberut dan mengekori Amar
Amar segera memakaikan helmnya dan menyuruh Rara naik mogenya.
"Kak, mulai besok tidak usah jemput Rara ya? gara-gara kakak satu sekolah jadi heboh kan" ucap Rara
"Apa Ra? kakak tidak dengar?" teriak Amar
"Mulai besok jangan jemput Rara" ucap Rara tapi Amar tidak menjawab dan hanya senyum sekilas
Amar menghentikan mogenya di depan sebuah toko buku
"Mau ngapain kesini kak?" tanya Rara turun dari moge
"Mau ngapain lagi? ya mau beli bukulah" jawab Amar
"Tapi Rara tidak mau beli buku"
"Temani kakak cari buku" jawab Amar santai dan melepaskan helmnya
"Ayo masuk" ajak Amar dan Rara mengekori
Rara yang sebenarnya malas hanya pasrah dan mengikuti langkah Amar
Didalam toko buku, Amar sibuk mencari dan melihat beberapa buku. begitu juga dengan Rara.
"Haii.. Ra, kamu disini?" tanya Rama
"Rama kamu disini juga ternyata?" tanya Rara
"Iya, aku sedang mencari buku matematika. kalau kamu cari apa disini?" tanya Rama
"Aku tidak cari apa-apa, aku hanya menemani kak Amar. tu orangnya" jawab Rara menunjuk Amar yang sedang sibuk mempelajari buku yang dipegangnya
Rama melihat Amar yang sedang berada dirak buku tentang kedokteran dan menanyakannya pada Rara
"Jadi kakak itu mahasiswa kedokteran?" tanya Rama
"Iya, dia mahasiswa kedokteran, tapi mungkin juga bohong" jawab Rara
"Kok gitu?" Rama tidak mengerti
"Iya, coba saja bayangkan. mana ada mahasiswa kedokteran, setiap hari gangguin orang. kayak gak ada kerjaan" gerutu Rara
Amar yang sadar kalau Rara sedang tertawa cekikikan dengan teman sekolahnya segera menghampiri Rara.
"Kamu ada buku yang mau dibeli Ra?" tanya Amar lembut
"Tumben ni orang lembut gini" batin Rara melihat dengan tatapan aneh pada Amar
"Tidak" jawab Rara singkat
"Kalau tidak ada buku yang mau dibeli, kita pulang sekarang aja ya?" ucap Amar meletakkan tangannya dikepala Rara sambil sedikit mengusap kepala Rara lembut
"Apaan sih ni orang. semakin gak jelas aja" batin Rara
Amar menggandeng tangan Rara menuju kasir
"Rama aku duluan ya?" teriak Rara dan melambaikan tangannya
Setelah dari toko buku, Amar mengantarkan Rara pulang.
"Terimakasih kak" ucap Rara melepaskan helm yang dipakainya
"Terimakasih juga sudah mengantar kakak beli buku" ucap Amar
"Siapa juga yang mau mengantarkan kakak beli buku, kakak aja yang maksa" Batin Rara
"Kak, besok tidak usah jemput Rara lagi ya. Rara tidak mau merepotkan kakak. nanti biar Rara bilang sama Mama untuk tidak merepotkan kakak lagi. lagian Rara kan bukan anak kecil lagi. Rara bisa jaga diri Rara sendiri" ucap Rara
"Tidak usah bilang sama tante Anggun. nanti malah tante Anggun kepikiran. kakak sama sekali tidak keberatan kok, menjemput kamu sekolah kalau memang kakak ada waktu" ucap Amar
"Kakak tidak keberatan. tapi aku keberatan" batin Rara
"Ya sudah kak, Rara masuk dulu" ucap Rara masuk ke rumah dan Amar tersenyum melihat Rara
__ADS_1