Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
REUNI


__ADS_3

Dirumah Ane ke empat sahabat ini berkumpil. semua nya masih tidak menyangka Nur mampu melakukan semua itu terlepas dari apa yang sudah Nur lakukan mereka juga sebenarnya cemas dengan keberadaan Nur yang sampai saat ini tidak ada tanda - tanda titik terang kepergiannya.


"Ini anak memang tidak bisa ditebak ya? apa sih yang ada di dalam pikirannya sampai menghilang begitu saja. apa dia tidak mikir bagaimana cemasnya orang tuanya ya" ucap Yeni kesal


"Yang jelas sepertinya Nur memang menutupi sesuatu dari kita semua" ucap Ane


"Apa pemikiran kita semua sama ya? apa mungkin Nur?" Wawa tidak melanjutkan pembicaraannya


"Gimana ya, takut salah tapi sepertinya iya" ucap Yeni


"Apa mungkin Nur beneran hamil?" ucap Nia


"Logikanya kalau hanya diputus Saka, apa mungkin Nur akan menghilang seperti ini?" ucap Wawa


"Sudah - sudah jangan berburuk sangka dulu. kita doakan saja yang terbaik buat Nur" sahut Ane


"Untung saja, aku sudah mau menikah dengan Alan ya, kalau tidak entah perasaan apa yang saat ini aku rasakan. saat ini aku memang merasa ada kekecewaan, tapi kecewa karena merasa dihianati sahabat bukan kecewa karena dihianti pacar" ucap Nia


"Iya Nia, kamu termasuk beruntung lepas dari buaya darat kayak gitu. coba aja ketemu aku kubecek - becek tu si Saka. modal muka doang sok - sok an" gerutu Yeni


"Senengnya bisa kumpul - kumpul lagi" sahut Bu Imah mengantarkan makanan ringan pada teman - teman Ane


"Bu Imah, maaf ya kami merepotkan" ucap Wawa dan Yeni


"Sama sekali tidak repot, ibu senang kalian disini. jadi rame." ucap Bu Imah


"Ane ini beruntung banget punya mertua yang baik tidak kayak sinetron - sinetron di indosiar hahaha" ucap Yeni


"Semga saja nanti aku juga dapat mertua seperti mertua Ane" ucap Wawa


"Kalian ini bisa saja, Mbak Wawa dan mbak Yeni sudah ada calon juga?" tanya Bu Imah


"Alhamdulillah sudah Bu" jawab keduany


"Calon persit mereka Ma" sahut Ane


"O..iya kah? wah.. dua bhyangkari dua persit ini ceritanya ya? oya masalah Nur. ibu ikut prihatin ya" ucap Bu Imah


"Doain semua lancar ya bu, dan semoga Nur bisa segera ditemukan" ucap Yeni


"Iya ibu doain yang terbaik buat kalian. oya ini calon pengantin kok masih disini apa tidak dipingit dulu? tinggal satu minggu kan acaranya?" tanya Bu Imah


"Iya bu, tapi memang Nia ambil cutinya mepet saja Bu, H - 3 nanti Nia baru pulang." jawab Nia

__ADS_1


"Jaman sekarang sama dulu memang sudah beda ya. dulu jaman ibu menikah ibu harus dipingit selama tujuh hari sebelum pernikahan tidak boleh keluar rumah" Bu Imah bercerita


"Tuntutan pekerjaan Bu, hehehe.." jawab Nia


"Ya sudah dilanjut ceritanya, Mama masuk kamar dulu ya, kalian juga jangan tidur malam - malam." ucap Bu Imah


"Siap Bu" jawab mereka bersamaan


"Ane ini bener - bener beruntung punga suami dan mertua yang baik banget" ucap Yeni


"Suami kamu malam ini tidak pulang Ne?" tanya Nia


"Tidak, bang Arif malam ini piket jadi tidur dikantor" jawab Nia


"Gak nyangka ya saat ini kita bisa kembali kumpul dan tidur bersama kayak gini lagi" ucap Wawa


"Iya, kadang aku suka kangen suasana seperti ini. ingat gak dulu setiap malam kita ini yang dibahas masalah cowok terus, Polisi , TNI kalau gak pelayaran. tiap malam selalu bahas itu. siapa sangka sekarang jika Alloh mengijinkan kita berjodoh dengan Polisi dan TNI beneran" ucap Yeni


"Kamu kapan Yen acara nikahnya?" tanya Ane


"Insyaalloh dua bulan lagi. tapi habis nikah mungkin aku akan ikut suami ke papua" ucap Yeni


"Kalau kamu kapan Wa" sahut Nia


"Wah tahun ini aku akan keundangan nikahan terus ini" ucap Ane senyum


"Tapi jangan dipaksakan ya Ne, perut kamu udah besar gini. semisal tidak memungkinkan aku memaklumi" ucap Wawa


"Aku akan usahakn, kalian sahabat aku. aku tidak ingin ketinggalan moment bahagia kalian" ucap Ane


****


Matahari mulai menunjukan cahaya jingganya, Nina perlahan membuka matanya dan melihat Gilang sudah tidak ada disampingnya.


Nina bergegas bangun, mandi dan mengenkan seragam putihnya, karena sebagai anggota reskrim memang Nina hanya mengenakan hem putih, celana kain dan sepatu pantofel.


Nina yang sudah rapi keluar dan melihat suaminya sudah menunggunya dimeja makan.


"Duduk sarapan dulu" ucap Gilang mempersilahkan Nina duduk


"Ini semua kamu yang masak?" tanya Nina


"Kalau tidak, siapa lagi?" ucap Gilang senyum dan segera mengambil nasi

__ADS_1


"Em..maaf ya, aku belum bisa masak" ucap Nina ikut duduk


"Tidak apa - apa, aku tidak meminta kamu untuk bisa masak kok." ucap Gilang mengambilkan nasi untuk Nina


Keduanya mulai menyantap sarapan yang sudah dimasak Gilang dengan resep cinta.hehehe..


"Hari ini kami pulang jam berapa?" tanya Nina


"Em..kalau tidak ada lembur mungkin jam lima sudah pulang" jawab Gilang


"Mau makan malam diluar?" tanya Nina ragu


"Okay, aku usahakan malam ini tidak lembur" jawab Gilang senyum


"Gilang terimakasih ya, sudah sabar menghadapiku, aku yang selalu ketus sama kamu. jujur sebenarnya aku merasa tidak enak hati sama kamu. kamu sudah begitu baik sama aku tapi aku belum bisa membalas kebaikan kamu" ucap Nina


"Sudah berapa kali kamu meminta maaf sama aku? aku tidak buru - buru meminta kamu untuk menjadi istriku seutuhnya. aku tidak akan memaksa kamu sampai rasa itu mulai berkembang dengan sendirinya. bagiku seperti ini sudah lebih dari cukup. aku yakin suatu saat kamu akan mencintaiku" ucap Gilang tersenyum yakin


"Kamu pede banget Lang" ucap Nina senyum


"Iya lah pede, bagaimana mungkin kegantenganku ini tidak bisa membuat istriku jatuh cinta hehehe" ucap Gilang ketawa


"Kamu benar Lang, sepertinya aku memang sudah jatuh cinta sama kamu" batin Nina yang masih malu mengakui perasaannya


"Hai, kok malah bengong gitu? sudah jatuh cinta beneran ya sama aku" goda Gilang


"Igh..apaan sih, siapa juga yang jatuh cinta sama kamu" ucap Nina malu


"Tu kan wajah kamu memerah, pasti beneran sudah jatuh cinta" godanya lagi


"Tidak kok, siapa juga yang wajahnya merah, kan memang aku pakai blus on wajar kan kalau wajah ku merah" ucap Nina merasa malu dan segera pamit pergi ke kantor tidak ingin terlihat semakin bodoh didepan Gilang.


"Nin" panggil Gilang menghentikan langkah Nina


"Ada apa?" ucap Nina berbalik


"Tidak mau mencium tanganku" ucap Gilang mengulurkan tangannya


Nina tanpa menjawab perkataan Gilang segera meraih tangan Gilang dan menciumnya.


"Assalamualaikum" Nina pamit dan berlari kecil karena malu. ini pertama kalinya Nina pamit dan mencium tangan Gilang sejak mereka menikah


"Walaikumsalam" jawab Gilang tersenyum melihat tingkah Nina.

__ADS_1


Gilang yakin kalau Nina sekarang sudah mencintainya


__ADS_2