
Setelah makan Alan mengantarkan kembali Dokter Anggun kerumah sakit, dan ternyata ada beberapa pasangan mata yang memperhatikan mereka hingga mulai berhembus desas desus tentang hubungan mantan istri Dokter Sigit dengan mantan suami Nia. dan berita ini pun sampai ke telinga Dokter Sigit dan sontak membuat Dokter Sigit merasa tidak rela
Setelah mendengar kabar dari rekannya yang bekerja dirumah sakit, Dokter Sigit meluapkan kemarahannya pada Nia.
"Kamu tau, mantan suami kamu berani-beraninya mendekati Anggun. dan ini semua karena kamu!" ucap Dokter Sigit murka
"Apa, Mas Alan mendekati mantan istri kamu? kamu tau itu dari mana? apa berita itu bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya?" Nia balik tanya
"Semua orang dirumah sakit tau, karena mantan suami kamu memamerkan kemesraan mereka dirumah sakit. lihat itu!" Dokter Sigit melemparkan ponselnya dimeja dan menunjukan Foto Alan yang sedang melepaskan helm dikepala Dokter Anggun
"Lihat itu, berani sekali mantan suami kamu mendekati Anggun, sok-sokan memboncengkan Anggun dengan motor. apa dia tidak tau, Anggun itu tidak pernah naik motor" ucap Dokter Sigit dibakar api cemburu
Nia melihat dan memperhatikan dengan seksama, Nia melihat didalam foto itu terlihat Alan yang sedang tersenyum menatap Dokter Anggun.
Saat ini Nia bukan cemburu karena suaminya masih memperhatikan mantan istrinya. tapi Nia merasa ada perasaan cemburu ketika melihat senyum di bibir mantan suaminya.
Nia meletakkan ponsel Dokter Sigit kembali keatas meja, dan Nia kembali ke kamarnya. dikamar bayangan Foto Alan dan Dokter Anggun terus melintas di otaknya.
"Takdir macam apa ini? Bagaimana bisa Mas Alan bersama dengan mantan istri mas Sigit. dari sekian banyak wanita kenapa harus mantan istri mas Sigit?" gumam Nia duduk ditepi ranjangnya.
Saat makan malam, Dokter Sigit terlihat murung dan hanya diam memainkan makanannya di piring.
"Sigit kamu kenapa? apa kamu sakit?" tanya mamanya
"Tidak ma, Sigit tidak apa-apa" jawabnya singkat
"Bagaimana dengan pembuatan klinik kamu? sudah sejauh apa perkembangannya?"
"Sudah hampir selesai ma" jawabnya lagi
"Jadi kalian nanti benar-benar akan tinggal di Semarang? kamu yakin istri baru kamu ini bisa mengurus Tasya? apa mama perlu ikut dengan kalian?"
"Ma, kalau mama ikut bagaimana dengan papa?" tanya Nia
"Kenapa memangnya dengan papa? mama disini atau di semarang kan juga sama saja, papa juga lebih banyak menghabiskan waktunya di batam." jawab mama Dokter Sigit yang tau kalau Nia tidak mengharapkan dirinya ikut
__ADS_1
"Benar yang dikatakan mama, papaku kan masih kerja di batam. pulang kerumah juga cuma sebulan sekali. dari pada mama disini kesepian, lebih baik mama ikut kita sekalian pindah ke Semarang" sahut Dokter Sigit
"Ta-tapi mas_"
"Tidak ada tapi-tapian. kamu tidak usah kebanyakan bicara. kalau sudah kenyang sebaiknya kembali saja kekamar. aku itu pusing kalau ada kamu. setiap ada kamu pasti berisik terus kerajaannya" gerutu Dokter Sigit
Nia seketika terdiam hatinya terasa sangat pilu, dirumah ini dirinya benar-benar tidak dimanusiakan layaknya manusia. disini seolah-olah dirinya tidak mempunyai gak bicara dan hanya boleh berbicara saat diperintah.
Setelah makan Nia membersihkan meja makan dan mencuci semua peralatan yang tadi digunakan untuk masak dan menghidangkan makanan. belum lagi Nia harus mencuci seluruh baju yang ada dirumah ini, dirinya benar-benar tak jauh beda dengan pembantu. awalnya Nia merasa sedikit lega setidaknya di semarang dirinya tidak harus satu rumah dengan mertuanya, tapi sekarang itu semua tinggal harapan. momok menakutkan masih akan mengintainya, lantaran mertuanya yang sepertinya bersikeras untuk ikut pindah ke Semarang.
"Kehidupan macam apa yang saat ini aku jalani, kenapa semuanya jadi seperti ini? aku tinggalkan orang-orang yang menyayangiku dengan tulus demi penderitaan seperti ini? sampai kapan aku harus merasakan penderitaan seperti ini? aku merindukan kehidupanku yang dulu, kehidupan dimana suami dan mertuaku sangat menghargai dan mencintai aku. Mas Alan maafkan aku mas, aku merindukanmu dan merindukan anak kita" Gumam Nia lirih dengan bulir-bulir air yang menggenang disudut matanya
Nia membuka kamar dan melihat suaminya sedang bermain ponselnya dikasur. Nia duduk mendekati suaminya
"Mas" ucap Nia
"Ada apa?" jawab Dokter Sigit dengan mata tetap fokus kearah ponselnya
"A-apa kamu tidak menginginkannya?" tanya Nia hati-hati
"Bu-bukankah sudah lama kita tidak melakukannya?" tanya Nia gugup
"Aku capek mau tidur" ucap Dokter Sigit mematikan ponselnya dan meletakkan diatas nakas.
Dokter Sigit segera memejamkan matanya, dan tidak ada keinginan untuk menanggapi ocehan Nia
Nia menghela nafas kasar, menatap Dokter Sigit dengan penuh kebencian.
Nia merebahkan tubuhnya disamping Dokter Sigit, matanya menatap langit-langit. menyesali kebodohan yang telah dilakukan.
***
Keesokan harinya Nia tanpa ijin dari suaminya pergi ke Semarang untuk menemui Alan. Nia merasa dirinya harus berbicara dengan Alan.
Karena dirinya tidak. mungkin mendatangi Alan kerumah untuk menjaga perasaan Nana, Nia memutuskan untuk menemui Alan dikantor.
__ADS_1
"Mas Alan" ucap Nia diruang kerja Alan
Mendengar suara yang sangat familiar di telinga Alan, Alan segera melihat ke pintu, dimana sumber suara itu berasal
"Nia, apa yang kamu lakukan disini?" ucap Alan terkejut dengan kedatangan Nia kekantor.
"Ada yang ingin aku bicarakan dengan kamu mas!" ucap Nia
"Soal apa?" tanya Alan dan berdiri mendekati Nia
"Soal kamu dan istri mas Sigit" jawab Nia
"Kita bicarakan ini diluar" jawab Alan keluar dan Nia mengekori
Diluar Alan sekilas memperhatikan penampilan Nia yang sekarang tampak kurus dan tidak lagi terawat. sebenarnya melihat keadaan Nia seperti ini ada perasaan iba dihatinya.
"Kehidupan seperti apa yang sebenarnya saat ini kamu jalani? kenapa kamu begitu kurus?" batin Alan
"Apa bener mas Alan mendekati mantan istri mas Sigit?" ucapan Nia membuyarkan lamunan Alan
"Apa kamu bilang?" Alan yang tidak mendengar dengan jelas
"Apa bener saat ini mas Alan mendekati mantan istri mas Sigit?" tanyanya lagi
"Bukan mendekati, tapi kami memang dekat" jawab Alan
"Kenapa harus wanita itu? diantara sekian banyak wanita kenapa harus dia?"
"Salahnya dimana? kalau aku dekat dengan Anggun? aku rasa aku sah-sah saja mau dekat dengan siapapun, kenapa kamu harus menanyakan hal seperti ini?"
"Aku tau, kamu hanya ingin balas dendam denganku kan mas? karena itu kamu mendekati mantan istri mas Sigit?
"Balas dendam? apa maksud kamu? aku dekat dengan Anggun tidak ada hubungannya dengan kamu" jawab Alan
"Kalau tidak untuk balas dendam, kenapa harus mantan istri mas Sigit? kenapa tidak wanita lain?" ucap Nia meninggikan suaranya
__ADS_1
^ Happy Reading ^