
"Nana, apa sebenarnya yang terjadi? kenapa nilai ujian kamu seperti ini? perasaan selama ini setiap ada tugas kamu selalu menyelesaikannya dengan baik. tapi kenapa hasil dari ujian tertulis dan praktek kamu seperti ini? ini sangat jauh dibawah rata-rata Nana" ucap Bu Helen dosen pembimbing Nana.
"Maaf Bu" jawab Nana santai
"Nana ibu sangat kecewa dengan hasil ujian kamu. ibu harap ujian berikutnya nilai kamu lebih baik. jika seperti ini lagi, terpaksa ibu akan panggil mama kamu. apa kamu tidak malu jika sampai ibu panggil mama kamu? ibu kenal baik dengan mama kamu. beliau pasti akan sangat kecewa jika tau nilai kamu seperti ini"
"Iya bu maaf. akan saya perbaiki"
"Ya sudah, silahkan pergi. ingat ya harus lebih baik." tegas bu Helen
***
"Sayang, bagaimana dengan hasil ujiannya? mama bisa lihat?" tanya Dokter Anggun
"Tidak ada ma, belum dibagi"
"Lho kok anaknya perawat mama, juga kuliah disana dan katanya sudah dibagikan hasil ujiannya. kenapa kamu beda ya?"
"Mama tidak percaya sama Nana?"
"Bukan gitu sayang, hanya aneh kok beda ya? ada yang sudah ada yang belum" ucap dokter Anggun
"Ya sudah kalau mama tidak percaya dengan Nana. mama memang tidak pernah percaya dengan Nana" ucap Nana berlalu
"Nana mau kemana nakal? bukan itu maksud mama" ucap Dokter Anggun namun tak dihiraukan oleh Nana
"Anggun, kamu yang sabar ya! mama kadang juga bingung dengan sikap Nana yang sangat keras kepala. mama tau, dari Nana kecil kamu sudah mendidiknya dengan penuh kasih sayang. namun entah kenapa hati Nana begitu keras" bu indah menghala nafas kasar
"Iya ma, tidak apa-apa, Anggun faham. biar bagaimana mungkin Nana seperti ini karena tau Anggun bukan Mama kandungnya. dan sikap Nana yang seperti itu sebenarnya karena bentuk protesnya saja. Nana ingin mengetahui ibu kandungnya yang sebenarnya tapi mas Alan selalu melarang kita untuk menyebut nama itu lagi mungkin itu yang membuat Nana menjadi keras seperti ini ma."
"Iya Nana pernah minta ditunjukkan foto mama kandungnya. mama sudah mengatakan kalau kami semua sudah tidak ada yang menyimpan foto mamanya, tapi Nana tidak percaya"ucap bu indah
"Mungkin ada baiknya jika Nana dikasih tau tentang mamanya yang sesungguhnya. setidaknya biar Nana hatinya tidak keras seperti ini ma"
"Tidak mungkin Alan akan menyetujui untuk memberitahu Nana tentang mamanya. karena itu akan menyakiti hati Alan kembali. mama tidak mau Alan teringat dengan peristiwa yang sangat menyakitkan itu"
"Iya ma, Anggun faham."
"Assalamu'alaikum" ucap Alan yang baru saja datang
"Walaikumsalam sayang" jawab Dokter Anggun
"Lagi pada ngobrolin apa serius banget?" tanya Alan
"Ini mas, tadi Nana marah sama Anggun karena Anggun menanyakan hasil ujiannya."
"Memang hasil ujiannya sudah keluar? tanya Alan
"Itu dia mas, anaknya Susi kebetulan kuliah juga disana dan Susi bilang hasil ujian anaknya bagus. katanya sudah keluar. karena itu aku coba tanya sama Nana. tapi sepertinya Nana tersinggung dan sekarang pergi"
"Pergi kemana sekarang?" tanya Alan
"Entahlah mas. nanti biar aku coba bicara dan minta maaf sama Nana" ucap Dokter Anggun
"Kamu tidak salah sayang, selama ini kita memang terlalu memanjakan dia. kamu sabar ya!" ucap Alan
"Tidak apa-apa mas" jawab Dokter Anggun tersenyum
***
Bukan hanya saat d bangku SMA Amar menjadi bahan perhatian kaum hawa. dikampus yang sekarang pun sama. lagi-lagi semua kaum hawa selalu berusaha untuk bisa dekat dengan Amar. tapi bukan Amar namanya kalau tidak perduli dengan semua perhatian cewek-cewek yang berusaha mendekatinya. semakin didekati Amar semakin menghindar dan semakin mengacuhkan cewek yang mendekatinya.
"Amar itu ganteng, pinter, tapi sayang sombong" ucap Vita teman satu fakultas Amar
__ADS_1
"Ya namanya orang ganteng, sah-sah saja sih kalau agak sombong hahaha.. " jawab Hesti
"Apa dia seperti itu karena sudah punya pacar ya?" ucap Vita
"Entahlah, coba saja kamu tanya Ranu. Ranu kan sepertinya dekat sama Amar" jawab Hesti
***
Vita mencoba mendekati Ranu untuk mendapatkan informasi tentang Amar darinya.
Namun ternyata Ranu juga tidak tau apa-apa tentang Amar meskipun keduanya lumayan deket . karena Amar bukan tipe orang yang suka menceritakan masalah pribadinya dengan orang lain.
"Masak kamu tidak tau, apa saat ini dia sudah punya pacar apa belum?" tanya Vita
"Iya aku tidak tau. tapi sepertinya belum. tapi aku juga tidak yakin sih, cuma aku belum pernah melihat Amar bersama wanita. Amar juga tidak pernah membahas soal wanita selama ini" ucap Ranu
"Tolong dong dekatkan aku dengan Amar, kamu kan dekat sama dia. atau kalau tidak, saat kamu sedang bersama dia aku kabari nanti aku akan kesana"
"Okay"
"Amar, nanti malam kita jadi kan mengerjakan tugas kelompok di cafe A?" tanya Ranu
"Terserah kalian. aku ikut saja" jawab Amar
"Okey nanti malam jam tujuh ya, kita langsung ketemu dilokasi" ucap Ranu berlalu
Selesai kuliah Amar lngsung kembali ke kosnya. meletakkan tas diatas meja dan merebahkan tubuhnya dikasur.
Dret... dret..
Telpon dari bunda
"Assalamu'alaikum bunda"
"Walaikumsalam Mar, gimana kuliahnya hari ini?"
"Ya sudah hati-hati ya nak. pulang jangan malam-malam. minggu depan bunda dan ayah akan kesana sekalian sama tante Anggun dan Om Alan."
"Okay bunda"
"Ya sudah, kamu istirahat dulu. jangan lupa sholat ya nak"
"Siap bundaku sayang." ucap Amar menutup telpon
Tak terasa waktu menunjukkan pukul tujuh. Amar segera bersiap kecafe untuk mengerjakan tugas kelompok yang sudah disepakati dengan teman-temannya.
"Hai Ma.. " teriak Ranu mengangkat tangan
Amar langsung menuju tempat sahabat-sahabatnya untuk memulai mengerjakan tugas, namun Amar melihat ada Vita yang seharusnya tidak ada disana. karena mereka tidak satu kelompok.
"Kamu kan bukan satu kelompok dengan kita, kenapa ada disini?" tanya Amar
"Aku yang mengajak Vita kesini Mar, kasihan dia belum dapat kelompok. tidak apa-apa kan?" tanya Ranu
"Tanya dulu sama yang lain bagaimana. jangan mengambil keputusan sendiri" ucap Amar
"Yang lain sudah okey kok Mar, boleh ya aku gabung dengan kelompok kamu" ucap Vita
Amar yang tidak mau banyak bicara, langsung mengeluarkan buku dari tasnya dan memulai mengerjakan tugas-tugasnya.
Vita adalah perempuan yang cukup pandai dikelas mereka sama halnya dengan Amar. sebenarnya banyak yang ingin satu kelompok dengan Vita hanya saja. Vita sengaja tidak mau ikut kelompok yang lain lantaran ingin bisa selalu dekat dengan Amar.
Amar yang baru saja menyelesaikan tugasnya dan memasukkan buku-bukunya kembali ke dalam tasnya tidak sengaja kedua matanya menatap ke arah gadis yang sudah sangat dikenalnya. Tiba-tiba Amar berdiri dan menghampiri segrombolan gadis-gadis yang sedang menikmati makan malam mereka.
__ADS_1
cafe ini memang tempat para pelajar nongkrong dan sekedar mengerjakan tugas. selain karena tempatnya nyaman disini juga free wifi, karena itu banyak pelajaran dan mahasiswa yang nongkrong dan mengerjakan tugas disini.
"Amar kamu mau kemana?" teriak Ranu melihat Amar yang tiba-tiba berdiri
"Amar, kamu mau kemana?" Vita juga memanggilnya namun tak ada yang dihiraukan.
Hingga sampai kemeja tempat para segerombol pelajar sedang menikmati makan malamnya.
"Rara, ayo pulang" ucap Amar dengan wajah datarnya
"Kak Amar, kenapa disini?" tanya Rara heran
"Ayo kita pulang" ucap Amar lagi tanpa menjawab pertanyaan Rara
"Rara masih makan kak" jawab Rara
"Ini sudah malam, sebaiknya segera pulang. kakak antar kamu pulang sekarang" ucap Amar
"Iya, tapi Rara baru saja mau makan kak. belum juga makan" protes Rara
"Okey kakak tungguin disini jangan lama-lama" ucap Amar mengambil kursi dan meletakkannya disamping Rara membuat Rama yang awalnya duduk dikursi sebelah Rara harus menggeser kursinya.
"Ra, dia siapa kamu? ganteng banget" bisik Lusi
"Ganteng apanya, suka ngatur-ngatur gini" gerutu Rara lirih namun ternyata Amar masih mendengarnya
"Ehem.. " Amar berdeham
"Kenalin dong Ra" Lusi Menyenggol Rara tapi Rara hanya memayaunkan bibirnya dan menyendok makannya dengan malas
"Makan yang benar Ra. ini sudah malam" ucap Amar
Sementara teman-teman Amar memperhatikan Amar dari jauh
"Itu Amar sedang bicara sama siapa?" tanya Vita
"Aku juga tidak tau" Ranu mengangkat bahunya
"Kelihatannya mereka akrab sekali" sahut Maria
"Tapi sepertinya mereka masih anak-anak SMA. apa itu adiknya Amar?" ucap Vita
"Tapi bukankan Amar disini sendiri. katanya keluarga Amar ada si Semarang" sahut Ranu
"Kalau itu bukan adiknya lalu siapa? tidak mungkin pacar Amar kan?" sahut Maria
Vita yang merasa penasaran langsung menghampiri Amar dan mengajak Amar untuk pulang bersama. namun Amar menolak dengan alasan akan mengantarkan Rara pulang. sedangkan Rara justru menyuruh Amar untuk pulang bersama Vita. karena Rara masih ingin bersama dengan Teman-temannya.
"Kakak pulang saja sama teman kakak. Rara masih mau disini kak" ucap Rara
"Rara. jangan tawar menawar. ayo kita pulang" ucap Amar
"Amar, apa dia adik kamu?" tanya Vita
"Bukan, aku tidak punya kakak seperti kak Amar" jawab Rara
"Iya memang aku bukan kakak kamu tapi aku" Amar mendekatkan wajahnya
"Kak Amar" Teriak Rara dan Amar tertawa menyeringai
Vita dan Rama merasa ada yang tidak benar.
Sementara Rara dengan malas akhirnya menuruti Amar untuk pulang bareng.
__ADS_1
^ Happy Reading ^
Jangan lupa Like, coment dan Vote ya sayang 😍😘🙏