Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
CH 273


__ADS_3

"Kak Nana, sekarang kakak bisa tenang. Sesuai dengan keinginan kakak, pertunangan Rara dan Kak Amar sudah batal," ucap Rara di rumah sakit.


Rara, Alan, Anggun dan Nia saat ini sedang berada di rumah sakit, tempat Nana di rawat.


"Apa maksud kamu Ra? ja-jadi pertunangan kalian batal?" tanya Nana dengan wajah sedih.


"Tidak perlu lagi berpura-pura sedih kak, Rara sudah mengetahui semuanya. Rara melepaskan Kak Amar karena, Rara masih punya hati. Kalau memang Kakak masih menyukai Kak Amar, kenapa tidak dari dulu kakak katakan yang sebenarnya? kenapa harus bersandiwara selama bertahun-tahun? Jika saat itu kakak jujur, mungkin rasa sakitnya tidak akan sesakit ini," ucap Rara yang tak mampu lagi menahan genangan kristal yang saat ini berada di sudut matanya.


"Apa kamu akan melepaskan Amar? jika saat itu aku mengatakan yang sebenarnya?" tanya Nana dengan mata berkaca-kaca.


"Aku akan melepaskannya kak, Aku pasti akan menjauh dari Kak Amar jika saat itu, kakak jujur. Bukan malah bersandiwara mendukung hubungan kam! ucap Rara dengan mata berkaca-kaca.


"Dari Rara kecil, Rara selalu mengalah sama kakak, karena Rara tidak ingin membuat kakak berkecil hati dan menganggap Rara lebih di sayangi dari pada kakak. Apalagi sejak kakak tau kalau kakak bukan anak kandung Mama, Rara berusaha menjaga hati kakak, sampai Rara memutuskan untuk sekolah di Surabaya, agar kakak tidak lagi merasa bersaing dengan Rara,"


"Kita ini kakak beradik kak, meskipun kita tidak terlahir dari rahim yang sama, kita tetap lah saudara. kenapa harus ada persaingan di antara kita?" ucap Rara dengan nada tinggi.


"Aku benci kamu, aku tidak suka dengan kamu, karena kamu lahir, Mama dan Papa selalu membandingkan aku dan kamu, aku benci kamu lebih cantik, aku benci kamu lebih pandai dan aku benci Amar lebih mencintai kamu, padahal aku yang selama ini mengejarnya. Tapi karena kamu, Amar jadi tidak melihatku. Aku benci sama kamu!" ucap Nana bak orang kesetanan.


Plak.. !


Alan menampar Nana.


"Diam, kamu Nana..!" teriak Alan sudah tidak bisa menahan emosi.


"Alan, apa yang kamu lakukan? kenapa kamu menampar Nana?" ucap Nia memeluk Nana.


"Sudah cukup drama yang selama ini kamu lakukan, Papa capek dengan sikap kamu yang tidak pernah berubah. Sebagai kakak seharusnya kamu bisa lebih dewasa dan menjaga adik kamu, bukan sebaliknya, selalu saja kamu menyakiti Rara. Papa dan Mama selama ini diam bukan karena tidak tau kelakuan kamu seperti apa, tapi kami berusaha untuk menjaga hati kamu, tapi apa hasilnya? kamu semakin tidak terkendali," ucap Alan.


"Pa..! Papa tega nampar Nana?" ucap Nana dengan air mata membasahi pipi nya.


"Seharusnya sejak lama papa lakukan ini sama kamu, Sikap diam papa ternyata membuat kamu salah jalur seperti ini," ucap Alan mengusap wajahnya.


"Alan, cukup! Jangan kamu buat Nana tambah sedih." sahut Nia

__ADS_1


"Jangan ikut campur kamu Nia! untuk apa sekarang kamu perduli sama Nana? bukankah kamu yang dulu meninggalkan Nana? jadi sebaiknya sekali kamu diam dan jangan ikut campur!" tegas Alan.


"Alan, kenapa kamu ungkit semua itu lagi?" ucap Nia menatap Alan.


"Kalian berdua sama saja," ucap Alan kesal meninggalkan Nana. begitu juga dengan Anggun dan Rara.


"Kamu sabar ya, Nak. Maafkan Mama, maafkan Mama!" ucap Nia menahan sakit di dadanya, yang terasa sesak menyesali perbuatannya di masa lampau.


***


Satu tahun kemudian


Sejak acaranya pertunangannya batal, Amar lebih memilih untuk menyibukkan diri di rumah sakit, Amar menjadi orang yang gila kerja, bahkan hampir setiap ada operasi, Amar akan ikut di dalamnya. seolah tidak mengenal capek.


"Amar, ini minumlah," ucap Vita menyodorkan minimuman saat melihat Amar memegangi tengkuk lehernya lantaran terasa capek setelah melakukan operasi.


"Terima kasih," ucap Amar menerima minuman dari Vita dan membukanya.


"Siapa yang memaksakan diri? Aku hanya menjalankan tugasku sebagai seorang Dokter," jawab Amar.


"Amar, aku sudah menginginkan. Tapi kalau kamu keras kepala, ya sudah lah, kamu yang lebih tau bagaimana kondisi tubuh kamu, kalau boleh aku menyarankan, sebaiknya sekarang kamu pulang, istirahatlah di rumah, kita ini kerja bersama, ada pembagian jadwal kerja juga. jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan seluruh pasien, seolah tidak ada Dokter yang lain," bujuk Vita.


"Baiklah, aku pulang. Kalau ada apa-apa tolong segera kabari aku," ucap Amar.


"Kamu tenang saja, istirahatlah!" ucap Vita tersenyum dan memasukkan kedua tangannya di dalam saku jas putus putihnya.


***


Amar yang memang merasakan tubuhnya sangat penat lantaran dua hari tidak pulang dan melaksanakan operasi berkali-kali, merasa kepalanya pusing dan matanya sedikit berkunang. Namun Amar memaksakan diri untuk tetap mengendarai mobilnya sendiri.


"Ssstt.. ! Bruk..!"


"Astaghfirullah hal adzim," ucap Amar terkejut dan menyadari kalau dirinya menabrak sesuatu.

__ADS_1


Amar segera turun dari mobil dan melihat keadaan orang yang tidak sengaja di tabraknya.


"Ma-Maaf Mbak saya tidak sengaja," ucap Amar pada wanita yang tidak sengaja ditabrak olehnya.


"Tidak apa-apa," ucap Wanita itu berusaha berdiri.


"Maaf biar saya bantu," ucap Amar mengulurkan tangannya.


"Terima kasih, tidak usah! saya bisa sendir, " ucap Wanita itu dan Amar segera mendirikan motornya yang ambruk.


"Apa ada yang luka?" tanya Amar.


"Sepertinya ada yang sedikit tergores tapi tidak apa-apa," jawabnya.


"Biar saya obati," ucap Amar tapi wanita itu hanya diam.


"Saya seorang Dokter, atau biar saya antar kamu ke rumah sakit," tawar Amar.


"Ti-tidak usah, nanti saya akan obati sendiri di rumah," jawabnya.


"Tapi kalau tidak segera dibersihkan nanti bisa infeksi, saya ada kotak obat di mobil, biar saya lihat dulu lukanya," bujuk Amar.


"Tidak usah, saya tidak apa-apa, saya harus segera pulang, Assalamu'alaikum," ucapnya mengambil motor dan mengendarainya.


"Astaghfirullah, kenapa tadi aku tidak menanyakan nama dan alamatnya? bagaimana kalau lukanya cukup serius?" guamam Amar.


Amar kembali melanjutkan perjalanannya, tapi kali ini hatinya gelisah dan merasa tidak tenang. takut terjadi apa-apa dengan wanita yang baru saja di tabraknya.


Amar juga melihat. kalau sepertinya, wanita tadi menahan sakit di tangannya. meski Amar tidak bisa melihat ekspresi wajahnya secara langsung karena tertutup oleh niqab. Tapi dari cara wanita itu tadi memegangi tangannya, Amar yakin. Pasti tangannya terluka.


"Astaghfirullah, kenapa aku jadi merasa bersalah seperti ini? bagaimanapun caraku menebus kesalahanku? bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan wanita tadi? lagian kenapa wanita itu tidak mau aku tolong, jelas-jelas dia sedang terluka.


^Happy Reading^

__ADS_1


__ADS_2