
Saat matahari mulai menampakan batang hidungnya, terlihat cahaya jinga dari arah timur, Nia segera mandi dan pergi dengan terburu-buru tanpa berpamitan dengan mertuanya.
Pagi ini Nia ingin meminta kejelasan dari dokter Sigit.
"Ting.. tong..
Suara Nia menekan bel di apartemen Dokter Sigit
"Nia, kenapa pagi-pagi sudah sampai sini?" tanya Dokter Sigit yang masih tampak acak-acakan setelah bangun tidur
"Nia mau bicara sama mas Sigit" jawab Nia menerobos masuk kedalam apartemen dan duduk disofa
"Mau bicara apa sepagi ini? bukankah sekarang ini seharusnya kamu berusaha mengambil hati suami kamu? kalau kamu pergi sepagi ini suami kamu akan semakin curiga kalau kamu memang ada main dengan laki-laki diluar sana" ucap Dokter Sigit
"Ada main dengan laki-laki? bukakan memang seperti itu kenyataannya?" Nia menatap dokter Sigit
"Nia, dengarkan aku. kamu jangan seperti ini, jangan menuruti emosi, kamu tenangkan pikiran kamu dulu, berpikir yang semestinya. kita ini kan harusnya bermain cantik" Dokter Sigit memegang kedua bahu Nia dan menatap Nia seolah menyakinkan Nia
"Sebenarnya maksud mas Sigit apa sih? jujur aku tidak mengerti dengan maksud mas Sigit. aku kesini ingin menanyakan sebenarnya mas Sigit ini mencintai aku atau tidak?" tanya Nia
"Tentu saja aku mencintai kamu, kamu tidak perlu menanyakan hal bodoh sepagi ini kan. kalau aku tidak mencintai kamu, untuk apa aku bersama kamu" jelas Dokter Sigit
"Kalau benar mas Sigit mencintai aku, dan jika suatu hari nanti suamiku meningggalkan aku. apa Dokter Sigit akan menikahi aku?" Nia memandang Dokter Sigit
"Nia, Nia. sudahlah jangan berpikir macam-macam. itu semua tidak akan terjadi. kamu dan suami kamu akan baik-baik saja, tidak akan ada perpisahan. karena itu sebaiknya mulai sekarang kita jangan sering bertemu dulu. kita jaga jarak dulu"Dokter Sigit memegang pipi Nia untuk menenangkannya
__ADS_1
"Kenapa sepertinya Nia merasa mas Sigit ini tidak berniat untuk menikah dengan Nia ya?"
"Husstt.. jangan berpikir macam-macam, aku mencintaimu karena itu aku tidak ingin melihat kamu menderita. konsekuensi yang kamu dapat jika berpisah dari suami kamu, kemungkinan kamu akan kehilangan hak asuh anak kamu, dan suami kamu pasti tidak akan mengijinkan kamu untuk bertemu dengan anakmu. dan aku tidak mau semua itu terjadi, aku tidak mau kamu menanggung konsekuensi sebesar itu jika bersamaku. hubungan seperti ini menurutku jauh lebih baik" Dokter Sigit menutup mulut Nia dengan meletakkan jari telunjuk dibibir Nia
"Aku siap, aku siap dengan segala konsekuensi yang aku terima. termasuk jika aku harus kehilangan hak asuhku terhadap anakku. tapi aku mau mas Sigit menikahi aku" tegas Nia menepis tangan Dokter Sigit
"Nia, saat ini kamu hanya sedang emosional. sebaiknya kamu sekarang pulang. kita bicarakan lagi semua ini ketika kamu sudah tenang"
"Tapi saat ini aku tidak sedang emosional, aku sadar dengan apa yang aku ucapkan. dan aku sadar kalau aku sangat mencintai mas Sigit. sekarang aku sudah tidak mau lagi jauh-jauh dari mas Sigit. aku mau kita menikah!" ucap Nia
"Huffftt.. " Dokter Sigit menghela nafas kasar dan memijit pelipisnya. tidak menyangka Nia akan mengatakan semua itu.
"Nia, kamu sadar tidak dengan apa yang kamu katakan? dari awal kita berhubungan kamu tau aku ini sudah punya istri dan anak, kamu pun punya suami dan anak. bagaimana bisa kamu berkata seperti itu? dari awal kamu harusnya tau, kita ini berhubungan hanya karena kita sama-sama kesepian. bukan berarti kita akan menikah. kalau kita menikah bagaimana dengan istri dan anak ku?"
"Mas Sigit, ja-jadi itu yang ada dalam pikiran mas Sigit? aku tidak menyangka mas Sigit akan berkata seperti itu. aku pikir mas Sigit benar-benar mencintai aku. ta-tapi apa? mas Sigit hanya ingin bermain-main dengan aku kan? tega kamu mas" mata Nia berkaca-kaca
"Aku mencintai kamu mas, aku mohon menikah denganku, kamu juga mencintai aku kan? kamu ceraikan istri kamu. nikahi aku!" ucap Nia menyeka air matanya
"Jangan berpikir konyol Nia, kamu tau itu jelas tidak mungkin. ingat Nia dari awal kita bersama, aku tidak pernah menjanjikan apa-apa ke kamu, aku pikir kita berdua sama-sama happy. aku tidak pernah berpikir sejauh itu, aku juga tidak mungkin meninggalkan istri dan anakku. kamu tau kan, saat ini anakku sudah remaja, kamu tau jiwa remaja itu sangat sensitif. aku tidak mau anakku membenciku. karena itu aku selalu bilang sama kamu, Hati-hati dengan hubungan kita. bagiku anakku adalah segalanya, aku tidak ingin dibenci anakku" ucap Dokter Sigit
"Egois kamu mas, tega kamu" Nia menangis, butiran kristal yang ada disudut matanya tak mampu lagi untuk ditahan. semaunya tumpah dengan kepiluan hati yang dirasakan Nia
"Bagaimana bisa kamu bilang aku egois, kamu juga punya seorang anak, tentunya kamu tau, anak itu lebih penting dari apapun juga yang kita miliki."
"Tapi demi kamu aku rela meninggalkan semuanya, demi kamu mas!"
__ADS_1
"Bukankah dari awal aku juga sudah mengatakan, jangan melakukan hal seperti itu, apa kamu lupa? aku selalu bilang kalau kamu harus memikirkan anak kamu. jangan sampai anak kita benci dengan kita." ucap Dokter Sigit
"Sudahlah Nia, jika kamu tidak bisa menjalani hubungan seperti ini. lebih baik kita akhiri saja hubungan kita, tidak ada gunanya melanjutkan hubungan ini, jika pikiran kamu seperti itu. sebaiknya sekarang kita hanya bertemu sebagai profesional kerja saja, selain masalah pekerjaan lebih baik kita tidak perlu bertemu"
Plak..
Nia menampar Dokter Sigit
"Setelah semua ini, mas Sigit mau mengakhirinya begitu saja? gampang sekali mas Sigit berkata seperti itu. tidak! aku tidak mau!" tegas Nia
Ting.. tong..
Suara bel pintu apartemen Dokter Sigit berbunyi
Tanpa melihat siapa yang datang, Dokter Sigit langsung membuka pintu apartemennya
Bug.. bug.. bug..
Alan menghajar Dokter Sigit tanpa ampun
Mendengar suara ribut didepan pintu, Nia segera berlari keluar.
"Mas Alan" ucap Nia tercengang membulatkan mata dan menutup mulut dengan tangannya
Melihat Nia yang keluar dari dalam apartemen Dokter Sigit sepagi ini membuat Alan semakin naik pitam, dan semakin semakin memukul Dokter Sigit
__ADS_1
"Sudah Alan, sudah, cukup Alan. sudah cukup" Arif berusaha menghentikan Alan
^Happy Reading^