Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
CH 252


__ADS_3

"Benarkah papa seperti itu Ra?"


"Iya, tapi ada apa sih pa? kok tumben papa bicara seperti ini?"


"Maafkan papa ya Ra, papa minta maaf. papa bukan papa yang baik untuk Rara" ucap Alan


"Pa, ini sebenarnya ada apa sih pa? papa baik-baik saja kan?" Rara yang bingung dengan sikap ayahnya yang tiba-tiba berubah


"Papa minta maaf ya sayang, papa tidak menyangka kalau ternyata selama ini sikap papa seperti itu" Alan merasa menyesal dengan sikapnya selama ini. Dirinya tidak menyangka kalau selama ini dirinya sudah tidak adil terhadap putrinya. lebih tepatnya, Alan merasa Nana lebih membutuhkan kasih sayang lebih karena ibu tidak ingin Nana sedih dengan masa lalu mamanya. tapi Alan lupa kalau Rara juga membutuhkan kasih sayang yang sama walaupun Rara tumbuh besar dengan kedua orang tuanya.


***


Satu bulan kemudian


"Amar tunggu, aku mau bicara sama kamu" ucap Vita berusaha untuk mencegah Amar pulang setelah semalaman berada dirumah sakit


"Ada apa?" Amar menghentikan langkahnya dan melihat kearah Vita


"Amar, ada yang mau aku bicarakan sama kamu, bisa tidak kalau kita pergi belakangan. aku mau ngomongin sesuatu sama kamu" Vita yang tidak pernah berhenti mengejar cinta Amar


"Kalau mau bicara sekarang saja disini. katakan ada apa? aku tidak punya banyak waktu, karena aku harus segera kembali ke Surabaya" tegas Amar yang tidak ingin membuang-buang waktu


"Amar, apa tidak bisa kalau kita bicara sebentar sambil minum atau sarapan dulu?" tanya Vita penuh harap, kali ini Amar mau menerima tawarannya. tapi lagi-lagi Amar menolak keinginan Vita


"Sorry Vit, Tapi aku harus segera mengemas barang-barangku dan segera kembali ke Surabaya" Jawab Amar tanpa menghiraukan Vita dan kembali melangkah. Tapi bukan Vita namanya kalau menyerah begitu saja. Vita terus mengekori Amar dan berusaha membujuk agar kali ini Amar mau pergi bersama dengannya.


"Sekali ini saja Mar, kita bicara dengan santai sebentar. kenapa kamu harus buru-buru sekali?" Vita curiga Amar ingin segera menemui wanita yang disukainya, walapun sebenarnya Vita tidak begitu yakin. pasalnya Vita tidak pernah melihat Amar bersama dengan seorang wanita kecuali gadis kecil yang rasanya tidak mungkin jika itu adalah wanita yang disukai Amar.


Karena Vita begitu gigih untuk membujuk Amar, akhirnya Amar menerima ajakan Vita untuk sarapan bersama dan menghirup sejuknya udara pagi di Malang.


Sambil menunggu makanan datang, Vita berusaha untuk bertanya tantang wanita yang dikabarkan dekat dengan Amar.


"Amar, apa benar kamu sedang dengan dengan seorang wanita?" tanya Vita


"Kenapa?" Amar yang tadi fokus dengan layar ponselnya tidak begitu jelas dengan pertanyaan yang diajukan Vita


"Ranu bilang kamu sedang mencintai seorang wanita, apa itu benar? atau hanya gosip?" Vita menatap Amar..

__ADS_1


"Kenapa memangnya? aku tidak harus menjawab pertanyaan kamu kan?" Amar dengan wajah datarnya


"Amar kamu tau kan? kalau aku memiliki rasa untukmu. aku menyukai kamu Mar" ucap Vita mengungkapkan isi hatinya karena tidak ingin menyesal


"Ini pesanannya" selak pelayanan mengantarkan makanan


"Terimakasih mbak" jawab Amar segera menyendok makanan dan memasukkan ke dalam mulutnya. tanpa menjawab pengakuan Vita


"Amar kamu dengar apa yang aku katakan kan?" kembali Vita bertanya pada Amar yang sangat asyik dengan makannya


"Iya aku dengar" jawab Amar santai


"Lalu?" kembali Vita bertanya


"Lalu apa maksud kamu? kamu mau menyukai siapa saja itu hak kamu, tidak ada hubungannya dengan ku?" jawab Amar tidak perduli


"Amar hati kamu ini terbuat dari apa sih sebenernya? kamu kan tau aku itu menyukai kamu, bagaimana bisa kamu bilang tidak ada hubungannya dengan kamu?" Vita kesal


"Maaf, tapi aku tidak menyukai kamu. aku sudah menyukai seseorang" jawab Amar


"Siapa? siapa orang yang kamu sukai? apa aku mengenalnya?" kembali Vita bertanya


***


Sesampainya diSurabaya yang pertama kali Amar tuju adalah menemui Rara


Setelah hampir satu jam menunggu didepan sekolah akhirnya yang ditunggu keluar sekolah


"Rara" Panggil Amar dan Rara mencoba mencari kearah sumber suara


"Kak Amar" Rara senang dan segera berlari menghampiri Amar


"Kak Amar sudah selesai prakteknya?" tanya Rara yang tidak bisa menyembunyikan kebahagiaanya melihat Amar berdiri di hadapannya. satu bulan lebih tidak bertemu dengan Amar membuat Rara sadar kalau ada yang kurang saat tidak ada Amar. dan entah kenapa Rara merasa bahagia saat melihat Amar


"Kangen ya sama kakak?" goda Amar


"Ck.. apaan sih kak, siapa juga yang kangen" kilah Rara yang masih malu mengakui perasaannya

__ADS_1


"Naik?" Amar memberikan helm pada Rara


"Kita mau kemana kak?" tanya Rara


"Ayo naik aja dulu"


Rara pun menurut dan kini Amar melajukan moge kesayangannya kesebuah taman yang ada dipinggiran kota


Keduanya turun dari motor dan berjalan menuju bangku yang ada ditaman.


"Tumben kakak ngajak Rara ke taman?" tanya Rara


"Iya kakak ingin bicara serius sama Rara" Amar menatap lekat


"Kok Rara jadi deg-degkan gini ya kak?" ucap Rara memegang dadanya, Amar pun tersenyum melihat tingkah lucu Rara dan mengusap pucuk rambut Rara tanpa mengalihkan pandangannya


"Ra, sebenarnya selama ini kakak sudah membohongi kamu? tante Anggun dan Om Alan tidak pernah menyuruh kakak untuk menjaga kamu" ucap Amar yang kini jantungnya sudah berdenyut cepat seakan ingin loncat dari tempatnya


"Maksud kakak? kakak berbohong sama Rara? tapi kenapa kakak harus berbohong sama Rara?" Rara menatap Amar menungu alasan Amar berbohong


"Kakak menyukai Rara" ucap Amar mengakui perasaannya


Deg..


Tiba-tiba saja, Rara merasa jantungnya tidak aman karena berdenyut cepat. Untuk pertama kalinya didalam hidup Rara ada laki-laki yang mengungkapkan perasaannya untuk Rara.


Rara yang bingung tidak tau harus menjawab apa, seketika otaknya dipenuhi banyak pertanyaan


"Kakak pasti bercanda kan? Rara merasa tidak percaya dengan apa yang telah didengarnya


"Kakak serius dan kakak tidak bercanda. kakak menyukai kamu" tegas Amar menatap mata Rara


"Em.. Rara bingung kak" jawab Rara polos karena dirinya memang bingung harus menjawab apa, di sisi lain Rara merasa ada yang kurang saat tidak melihat Amar, tapi disisi lain Rara tidak mengerti apa ini cinta atau hanya rasa kebiasaan yang tiba-tiba menghilang.


"Kamu tidak perlu menjawab sekarang, kakak tidak buru-buru kok" ucap Amar mengacak-acak rambut Rara untuk mengurai ketegangan. Amar tau saat ini Rara sangat bingung dengan pernyataan yang tidak dilontarkan oleh dirinya


Dirumah Rara merenung memikirkan apa yang baru saja disampaikan Amar tentang perasaannya.

__ADS_1


^ Happy Reading ^


__ADS_2