
Hari ini Ane dan yang lainnya pergi menengok Almira anak Nur yang sedang sakit.
"Jadi sekarang Almira tinggal bersama Saka dan neneknya?" tanya Ane.
"Iya, sekarang Almira tinggal bersama Saka," jawab Wawa.
Tak butuh waktu lama kini Ane dan yang lainnya sampai di rumah Saka.
"Assalamu'alaikum," ucap Ane.
"Walaikumsalam, eh.. ada teman-teman Mbak Nur, silhkan masuk. Mbak Nur ada di dalam." ucap Tika saat membukakan pintu.
"Terima kasih, Tika. Kamu apa kabar, sudah lama sekali ya kita tidak bertemu," ucap Ane.
"Iya Mbak, sudah bertahun-tahun kita tidak bertemu, langsung masuk ke kamar Almira saja Mbak, Mbak Nur juga ada di sana," ucap Tika mempersilahkan.
"Assalamu'alaikum," ucap Ane masuk ke kamar Almira.
"Walaikumsalam," jawab Almira dan Nur bersamaan, Almira mencium tangan sahabat Mama nya.
"Kalian kok malah di sini? Bukan di tempat biasa kita kumpul?" tanya Nur.
"Tadi sudah dari sana, tapi mendengar Almira sakit, kita putuskan untuk melihat keadaan Almira ke sini," ucap Ane.
"Bagaimana keadaan Almira?" tanya Ane melihat Almira.
"Alhamdulillah Almira baik-baik saja, tante. Hanya sedikit tergores kemarin tidak sengaja jatuh dari motor," jawab Almira.
"Jatuh dari motor? udah di lakukan pemeriksaan menyeluruh belum? takutnya kalau ada luka di dalam," sahut Wawa.
"Iya, lebih baik di periksakan takutnya ada luka dalam yang kita tidak tau," timpal Yeni.
"Udah aku suruh ke Dokter, Tapi Almira tidak mau," jawab Nur.
"Anak tante Dokter lho, apa biar di periksa Amar saja?" ucap Ane.
"Anak kamu kan cowok, Ne. Mana mau Almira di periksa Dokter cowok," sahut Wawa.
"Oiya, aku lupa. Atau biar di rekomendasikan Dokter cewek sama Amar," timpal Ane.
"Tidak usah tante, Almira baik-baik saja. hanya lecet sedikit, tapi tidak apa-apa," ujar Almira.
"MasyaAlloh, Almira. Kamu cantik sekali," ucap Ane mengagumi kecantikan Almira, karena saat berada di kamar dan hanya bersama wanita Almira tidak menggunakan niqab yang biasanya digunakan untuk menutup wajahnya.
__ADS_1
"Terima kasih, tante." jawab Almira tersenyum.
"Iya benar, Almira sekarang kamu cantik banget ya, dari kecil sih memang cantik tapi tante tidak menyangka sekarang jauh lebih cantik," puji Yeni.
"Suami kamu di mana Nur?" tanya Wawa.
"Mas Guntur tadi keluar mau mencari salep untuk luka Almira," jawab Nur.
Setelah berbincang cukup lama, Ane dan yang lainnya pamit untuk pulang, di rumah Ane menceritakan tentang pertemuannya dengan teman-temanya termasuk bertemu dengan Almira.
"Almira itu cantik banget lho Bang, anaknya juga sopan banget, Ane benar-benar tidak menyangka. Kalau Almira akan tumbuh menjadi wanita sholihah seperti itu dan sekarang Almira jadi dosen juga di Universitas Islam A," ujar Ane.
"Alhamdulilah, semua itu tergantung didirikannya Bun, Alhamdulillah Nur dulu berjodoh dengan ustadz Guntur yang bisa membimbing dan mengarahkannya mereka jalan yang benar," ucap Arif.
"Eh, Bang. Bagaimana kalau kita jodohkan saja Amar dengan Almira, InsyaAlloh Ane rasa mereka cocok, Almira anak yang sopan, sholihah dan bunda rasa bisa menjadi penyejuk untuk anak kita Amar," ucap Ane antusias.
"Menjodohkan Amar dan Almira? Bunda yakin?" tanya Arif.
"InsyaAlloh bunda sangat yakin, wanita seperti Almira itu sangat langka di jaman sekarang ini, Bang, wanita yang pamahaman agamanya bagus." ucap Ane.
"Kalau menurut kamu Almira cocok, abang sih ikut aja, yang penting Amar nya mau," jawab Arif.
***
"Amar, kamu masih ingin Bunda yang mencarikan jodoh untuk kamu?" tanya Ane.
"Kenapa bunda tiba-tiba bicara seperti itu, apa bunda ada yang mau di jodohkan sama Amar?" tanya Amar.
"Kalau kamu mau, bunda ada wanita yang InsyaAlloh cocok buat kamu," ucap Ane.
"Terserah bunda saja, Amar kali ini ingin menurut apa kata bunda dan ayah saja," ucap Amar.
"Kamu yakin? kamu tidak ingin bertanya dulu siapa orangnya dan seperti apa wanita ini?" tanya Ane.
"Tidak Bun, Amar percaya sama pilihan Bunda," jawab Amar.
Amar memang sudah tidak lagi menemukan gairah percintaan, hidupnya seolah tak lagi bergairah semenjak putus hubungan dengan Rara. Karena selama ini satu-satunya wanita yang mewarnai hidupnya dan membuatnya terasa memiliki arti hidup hanya Rara.
Bagi Amar saat ini, menikah juga hanya untuk membahagiakan kedua orang tuanya, Amar menyadari kalau selama ini kedua orang tuanya sedih memikirkan Amar yang tak bisa move on dari Rara.
***
"Assalamu'alaikum, Nur." Ane menghubungi Nur lewat telpon.
__ADS_1
"Walaikumsalam, Ane. Ada apa tengah malam begini telpon, tadi siang kan kita sudah bertemu," ujar Nur.
"Memang tidak boleh ya telpon lagi?"
"Hehe.. bercanda Ne, tentu saja boleh. Tapi ada apa sepertinya penting sekali sampai telpon tengah malam gini," ucap Nur, karena ini memang sudah cukup larut malam hampir jam 00 WIB.
"Maaf ya, Nur. Sepertinya aku terlalu bersemangat sampai tidak ingat waktu hehehe.. " ucap Ane.
"Iya, tidak apa-apa. Sebenarnya ada apa?" tanya Nur penasaran.
"Begini Nur, kamu tau kan Amar pernah gagal bertunang dengan Rara," ucap Ane.
"Huum, terus ada apa?" tanya Nur belum mengerti arah pembicaraan Ane.
"Jadi semenjak itu, Amar sepertinya takut salah memilih pasangan lagi, jadi kali ini Amar memintaku untuk mencarikan jodoh," ucap Ane.
"Oh, begitu. Lalu kamu sudah ada pandangan?" tanya Nur yang mengira Ane hanya curhat.
"Sebenarnya sudah ada, makanya aku menghubungi kamu," ucap Ane.
"Siapa?" tanya Nur.
"Kalau kamu setuju, aku ingin menjodohkan Almira sama Amar," ucap Ane.
"Hah.. Almira? kamu yakin ingin menjodohkan mereka?" tanya Nur.
"Iya, kalau aku yakin. Tapi bagaimana dengan kamu? Kira-kira setuju tidak?" tanya Ane.
"MasyaAlloh, ibu mana yang menolak mempunyai menantu seperti Amar, anak sholih tidak pernah neko-neko. Suatu kehormatan kalau bisa berbesanan dengan kamu, Ne. Tapi tetap aku harus berbicara dulu dengan Almira dan menanyakan persetujuan dari Almira." jelas Nur.
"Ya, iya dong Nur. Kalau itu harus. kan yang menjalani pernikahan ini mereka berdua. Bagaimana kalau kita atur saja pertemuan mereka berdua?" ucap Ane.
"Boleh, bagaimana kalau minggu depan kita ketemuan dan ajak mereka, biar mereka saling mengenal." jawab Nur.
"Okey, nanti aku akan bicara sama Amar agar mengosongkan waktunya minggu depan," ucap Ane.
"Ane, apa kamu yakin. Amar akan menerima Almira?" tanya Nur.
"Kenapa kamu berpikir seperti itu?" tanya Ane.
"Kamu tau kan, laki-laki jaman sekarang tinggal semuanya bisa menerima wanita yang bercadar seperti Almira?" ucap Nur.
^Happy Reading^
__ADS_1