Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
CH 272


__ADS_3

"Ra, kamu adiknya Nana. Tante mohon Ra, jangan hancurkan hati Nana dengan menikahi Amar! Nana sangat mencintai Amar, Nana tidak akan sanggup melihat Kamu bersama dengan Amar," Nia menyatukan tangannya di depan dada memohon agar Rara membatalkan acara pertunangan mereka.


"Kamu pikir pernikahan itu mainan? dan kamu pikir, cinta itu bisa dipaksakan? Jangan mengiba pada Rara, tapi kamu tanya sama Amar, apa Amar mau menikah dengan anak kamu?" sahut Anggun.


"Maaf tante, Nia. dari awal Amar sudah bilang, kalau Amar tidak mencintai Nana. Jadi mau seperti apappun Amar tetap. tidak akan merubah keputusan Amar. Amar hanya mencintai Rara, " tegas Amar.


"Assalamu'alaikum," ucap Alan.


*Walaikumsalam," Jawab semua dan berjalan menghampiri Alan.


"Nana bagaimana, Lan? " Tanya Nia khawatir.


"Pah, di mana kak Nana? Kakak baik-baik saja kan?" cerca Rara.


"Sebaiknya kita lakukan pertunangan antara kamu dan Juga Amar lebih dulu, masalah Nana akan bicarakan lagi nanti." jawab Alan.


"Bagaimana bisa kamu melanjutkan pertunangan mereka tanpa Nana Lan? Nana itu juga anak kamu, apa kamu tidak khawatir kalau terjadi apa-apa pada Nana?" ucap Nia.


"Sudahlah Nia, kamu tidak perlu ikut campur urusan keluargaku, kalau kamu tidak suka. Kamu boleh pulang," ucap Alan.


"Lan, aku ini mama nya Nana. Aku memikirkan Nana, bagaimana bisa kamu tidak kasian dengan Nana? Dan ingin terus melanjutkan pertemuan mereka," ucap Nia.


"Diam kamu, Nia." bentak Alan.


"Anakku bukan hanya Nana, Rara juga anakku, dan Rara sudah terlalu sering mengalah untuk Nana. Nana yang selalu egois tidak memikirkan bagaikan perasaan Adiknya," ucap Alan.


"Pah, sudah. Jangan lagi bertengkar." ucap Rara berusaha menenangkan Alan.


"Kak Amar, Tante Ane, Om Arif. Sebelumnya tolong maafkan Rara. Tapi sepertinya melanjutkan acara ini memang tidaklah baik" ucap Rara.


"Ra, apa maksud kamu?" tanya Anggun menatap Rara.


"Ma, Sepertinya Rara tidak bisa melanjutkan pertunangan Rara dan Amar, Rara tidak bisa menyakiti hati kakak, pernikahan bukanlah satu atau dua hari melainkan seumur hidup, bagaimana bisa Rara bahagia menjalani kehidupan dengan Amar jika kakak Rara bersedih." ucap Rara.


"Ra, selama ini kamu sudah cukup banyak mengalah untuk kakak kamu, sekarang pikirkan saja kebahagiaan kamu Ra," ucap Alan yang tau bagaimana selama ini Rara berkorban untuk kakaknya.

__ADS_1


"Pa, pernikahan itu seharusnya menjadi kebahagiaan untuk semua keluarga, bukan malah menghancurkan hati saudara seperti ini," ucap Rara.


"Ra, Terima kasih. Terima kasih kamu sudah mau memahami kakak kamu, kamu anak yang baik, kamu pasti bisa mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik," sahut Nia merasa beryukur dengan keputusan yang telah Rara ambil.


"Ra, Kamu anggap aku apa? Okay jika kamu tidak perduli dengan perasaanku, tapi apa kamu tidak memikirkan bagaimana malunya keluargaku karena hal ini Ra? apa kamu tidak perduli dengan nama baik keluarga ku?" timpal Amar merasa kecewa.


"Kita bicarakan semua ini setelah kak Nana kembali," jawab Rara.


"Tidak akan pernah ada pembicaraan lagi setelah ini. Sekarang kamu putuskan, melanjutkan pertunangan ini atau di antara kita selesai cukup sampai di sini dan aku akan melupakan kamu!" Tegas Amar.


"Amar," ucap Rara bingung.


"Sabar sayang, jangan emosi. Kita pikirkan lagi dengan pikirkan tenang ya Nak," ucap Ane mengusap punggung Amar.


"Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan Bun, Jika memang Rara membatalkan pertunangan ini, Amar tidak akan lagi berharap dari Rara. Dan Amar akan melupakan Rara." tegas Amar, kali ini Amar bersungguh-sungguh akan melupakan Rara jika samapai Rara membatalkan pertunangan mereka.


"Ra, kamu pikirkan kebahagiaan kamu, sudah cukup kamu selalu mengalah untuk Nana, Nak." ucap Anggun.


Dret.. dret..


"Assalamu'alaikum," jawab Alan.


"Walaikumsalam, apa benar ini dengan nomer telpon keluarga dari saudari Nana?" tanya seseorang dari sebrang telpon.


"Iya, benar. Saya ayahnya. Ini dengan siapa? tanya Alan.


"Saya perawat dari rumah sakit Permata kasih, ingin memberitahu kalau saat ini pasien sedang ada di rumah sakit, karena kecelakaan." ucap perawat.


"Nana, kecelakaan? bagaimana kondisinya?" tanya Alan panik.


"Kondisi pasien tidak terlalu parah, kamu juga sudah melakukan pemeriksaan menyeluruh. Alhamdulillah tidak ada yang terlalu mengkhawatirkan," jawab perawat.


"Baik, Terima kasih. Saya akan segera menjemput Nana ke sana," ucap Alan.


"Nana kenapa Lan?"tanya Nia saat Alan menutup telpon.

__ADS_1


"Nana kecelakaan, tapi perawat bilang kondisinya baik dan tidak ada yang perlu di khawatirkan." ucap Alan.


"Sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang," ucap Nia.


"Lalu bagaimana dengan pertunangan ini?" tanya Anggun pada Alan.


"Ma, Rara sudah mengambil keputusan. Rara tidak bisa melanjutkan pertunangan ini, maafkan Rara kak Amar," ucap Rara berlari menahan tangis.


"Rara..! Rara.." panggil Anggun namun Rara tak menghiraukan.


***


Di rumah Arif.


"Amar, mungkin Rara bukan jodoh kamu. Jangan terlalu dipikirkan, kamu harus percaya. Ketetapan Alloh adalah yang terbaik. Jika Rara bukan jodoh kamu, InsyaAlloh Ayah yakin, Pasti Alloh sudah menyiapkan jodoh yang terbaik untuk kamu," ucap Arif menghibur Amar yang sedang duduk termenung di tepi ranjangnya.


Ane yang melihat putranya bersedih pun ikut merasakannya kesedihan di dalam hatinya.


Ane tau pasti, Amar begitu mencintai Rara sejak dulu, namun Ane pun sedikit bersyukur dengan kegagalan pertunangan Amar dan Rara.


Bukan Ane tidak menyukai Rara, tapi menurut Ane menikah dengan Rara juga pasti akan ada masalah di kemudian hari mengingat Nana yang juga mencintai Amar.


"Bunda rasa batalnya pertunangan ini juga bukan hal yang buruk," sahut Ane.


"Apa maksud bunda?" Amar melihat Ane karena tidak mengerti dengan apa yang bundanya ucapkan.


"Kamu bayangkan saja, jika tetep menikah dengan Rara sementara Nana ternyata juga mencintai kamu, bukankah tidak menutup kemungkinan kalau Nana tetep akan menggangu rumah tangga kalian dengan segala upadayanya. Mengingat hubungan Rara dan Nana adalah kakak adik, ini pasti juga akan sulit untuk Rara, jika sewaktu-waktu Nana membuat kekacauan." ucap Ane.


"Bunda benar, Amar. Kamu lupakan saja Rara. cobalah buka hati kamu untuk wanita lain, mungkin tidak mudah tapi Ayah yakin kamu pasti bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari pada Rara." ucap Arif


Amar hanya diam tak menjawab, Amar bahkan tidak yakin bisa mencintai wanita lain, selama bertahun-tahun, hanya ada Rara di hatinya.


Bukan hanya satu atau dua orang wanita cantik yang selama ini ingin dekat dengan Amar, namun semau wanita itu, nyatanya tidak bisa membuat Amar jatuh cinta dengan mereka. hanya Rara yang ada di hati Amar.


^Happy Reading^

__ADS_1


__ADS_2