Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
KEJELASAN


__ADS_3

Nia yang berusaha menghubungi Saka untuk memperjelas hubungan mereka namun panggilan dari Nia selalu ditolak.


Membuat Nia berpikir untuk menyudahi hubungan yang tanpa arah ini, hanya dengan mengirimkan pesan singkat.


"(Saka, aku tau kamu sengaja menghindari aku karena marah. tapi maaf Saka, aku juga punya alasan sendiri kenapa aku bisa pergi dengan cowok lain. okay aku akui mungkin aku salah pegi dengan cowok lain tapi apa kamu pernah berpikir kalau hubungan yang kita jalani selama dua tahun ini juga hanya buang - buang waktu tanpa kejelasn yang pasti. jangan salahkan aku jika saat ini aku aku sudah merasa lelah dengan hubungan kita. sudah berkali - kali aku meminta kejelasan hubungan kita tapi kamu selalu memberi alasan dan alasan. ini akhir dari penantian hubungan kita yang tidak jelas, aku sudah tidak bisa melanjutkan hubungan seperti ini. semoga kelak kamu mendapatan wanita yang lebih baik dari aku. terimakasih sudah ada untukku selama dua tahun ini)" chat Nia yang meminta putus


Membaca chat dari Nia membuat Saka marah, dirinya tidak menyangka Nia akan memutuskan hubungan mereka.


"Harusnya saat ini dia meminta pengampunanku karena telah pergi dengan cowok lain tapi kenapa malah seolah dia yang marah?" gumam Saka dan segera mengambil kunci moge nya, melajukan mogenya dengan kecepatan tinggi menuju kos Nia.


Tok..tok..


"Assalamualikum"


"Walaikumsalam" ucap Nia membuka pintu


"Apa maksud chat kamu barusan? kamu mau kita putus?" ucap Saka


"Duduk dulu" ucap Nia menyuruh Saka duduk diteras


Setelah keduanya duduk Nia kembali membuka suara.


"Iya aku mau kita akhiri hubungan ini" ucap Nia yakin


"Apa sebenarnya meminta kejelasan soal hubungan kita itu, cuma alasan kamu untuk putus dari aku?" tanya Saka


"Aku memang mau kejelasanan Ka, aku capek pacaran gak ada ujungnya gini" ucap Nia menahan emosi mendengar tuduhan Saka


"Hubungan kita jelas kok, aku mencintai kamu" tegas Saka


"Kenapa sih Ka, kamu gak ngerti juga, aku mau hubungan yang serius bukan hanya pacaran kayak gini" ucap Nia

__ADS_1


"Aku pasti nikahi kamu kok, tapi aku harap kamu sabar dulu. beri aku waktu! lagian kita juga masih muda kan? pernikahan itu bukan hal yang main - main. harus benar - benar dipikir kedepannya. jangan hanya menuruti ego semata!" ucap Saka


"Ego semata?" Nia geleng - geleng mendengar pernyataan Saka


"Kamu bilang meminta kejelasan dari hubungan kita ini ego semata? kamu keterlaluan ya Ka. aku ini cewek, usiaku sudah cukup untuk menikah. kalau kamu masih mau main - main jangan sama aku" ucap Nia dengan mata berkaca - kaca


"Siapa yang main - main? aku tidak pernah main - main. aku hanya mau kita benar - benar siap saat nanti kita menikah. aku tidak ingin ada masalah nantinya setelah kita nikah." jelas Saka


"Setidaknya bawa aku ketemu orangtuamu untuk menyakinkan aku kalau kamu tidak sedang main - main! aku tidak ingin membuang - buang waktuku hanya untuk pacaran tanpa kejelasan" ucap Nia


"Aku sudah pernah bilang kan? Mama ku melarang aku pacaran dulu. Mamaku akan marah kalau tau aku pacaran" ucap Saka


"Sudah - sudah Ka, mau dibahas kayak apa juga percuma ujung - ujungnya, kamu suruh aku ngertiin kamu, sabar dulu, selalu saja seprti itu. udah lah kita akhiri saja semua sampai disini." ucap Nia yang ingin putus dari Saka


"Semudah itu kamu bilang putus setelah dua tahun kita pacaran?" Saka membulatkan matanya


"Dan selama itu kamu jalan sama aku tanpa kepastian yang jelas?" sahut Nia


"Sabar? sampai kapan lagi aku harus sabar? sampai adik kamu selesai sekolah terus kuliah? berarti aku harus sabar berapa tahun lagi? em..lima tahun eh, bukan ya enam tahun atau berapa?" Ucap Nia menghitung pakek jari - jarinya


Saka memegang kepalanya dan nengacak - acak rambutnya


"Sudahlah Ka, kalau kamu tidak bisa memberi kepastian jangan egois. aku perempuan sekrang usiaku sudah dua puluh empat apa iya aku harus menunggu kamu selama itu? keburu tua dong aku nya" ucap Nia


"Tapi aku yakin kamu seperti ini pasti karena laki - laki tempo hari kan? ucap Saka menatap tajam mata Nia


"Bisa juga seperti yang kamu katakan, Alan memang bilang sama aku. kalau dia mau serius sama aku. Saka perenpuan itu butuh laki - laki yang mau segera menghalalkan. bukan laki - laki yang hanya sekedar bilang cinta." ucap Nia


Mendengar Alan mau serius dengan Nia, membuat Saka meberanikan diri untuk meminta ijin menikah pada Mamanya. walaupun kecil kemungkinan Mamanya akan memberi restu.


****

__ADS_1


Dirumah Gilang yang mulai sadar kalau istrinya sengaja menghindarinya.


"Nin, kita ini sudah suami istri lho, tapi kenapa aku lihat kamu sengaja menghindari aku?" tanya Gilang mulai kesal


"Tidak kok, siapa yang menghindari kamu?" jawab Nina ketus


"Sebenarnya untuk apa sih kamu menikah denganku?" Gilang protes


"Kenapa sih kamu itu, bukannya selama ini kamu ingin menikah denganku? kenapa sekarang protes?" ucap Nina


"Ya Alloh Nin, kamu itu sadar tidak. kamu mengabaikan aku sebagai suami kamu. umurku mungkin lebih muda dari kamu tapi aku tetaplah suami yang harus kamu hormati. dan karna kita sudah menikah aku mau kamu tinggal dirumahku" ucap Gilang


"Tidak, aku tidak mau pindah. aku mau kita disini" jawab Nina yang tak ingin pindah kerumah Gilang


"Tapi kita ini sudah menikah, tidak baik kalau kita masih satu rumah sama orangtua kamu. biar tidak sebesar rumah ini tapi aku sudah punya rumah sendiri."


"Pindah saja sendiri, aku tidak mau pindah dari sini"


"Baik, terserah kamu. kalau itu mau kamu. tapi aku tatap mau pindah" ucap Gilang menggusap wajahnya dengan kasar karena emosi melihat sikap keras kepala istrinya.


Gilang membereskan baju - bajunya dan memasukan kedalam koper, Gilang serasa tidak punya harga diri dirumah itu bahkan sehari setelah pernikahannya sudah ditinggal sendiri dirumah itu bersama mertuanya karena Nina yang beralasan kerja.


Melihat Gilang yang membereskan barang - barangnya hendak pindah dari rumah itu, pun tidak membuat Nina bergeming dan hanya melihat suaminya.


"Ma, Pa, Gilang minta maaf Gilang harus pindah kerumah Gilang sendiri tapi sepertinya istri Gilang belum mau pindah dari sini" pamit Gilang pada mertuanya


"Nak Gilang bertengkar sama Nina?" tanya Bu Retno Mamanya Nina


"Bukan Ma, cuma Gilang merasa sudah waktunya kami mandiri. dan Alhamdulillah Gilang juga sudah punya rumah sendiri Pa, Ma, jadi Gilang ingin tinggal bersama istri Gilang dirumah sendiri sebenarnya. tapi Nina sepertinya belum mau tinggal dirumah Gilang" ucap Gilang


Mohon dukungan dari teman - teman dengan Like, coment dan Vote ya.Terimaksih dukungan dari teman - teman sangat berarti bagi Author.

__ADS_1


__ADS_2