
"Jadi Dokter Anggun ini?"
"Iya mami saya sudah meninggal saat saya masih kecil. jadi saya bisa merasakan apa yang Tasya rasakan saat ini" ucap Dokter Anggun
Sejak pertemuan itu, keduanya menjadi dekat dan sering berhubungan.
Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menjalin hubungan yang lebih serius. mengingat Tasya juga sangat menyukai Dokter Anggun.
Walaupun pak Firman menentang, akhirnya dengan bujuk raya dari putri satu-satunya, pak Firman akhirnya memberikan mereka restu. dan saat kesehatan pak Firman mulai menurun. Pak Firman mempercayakan rumah sakit yang selama ini diperjuangkan untuk dikelola oleh Dokter Sigit.
Sebenarnya tidak dengan tiba-tiba Pak Firman mempercayakan rumah sakitnya pada Dokter Sigit, itu semua juga karena bujukan dari Dokter Anggun untuk mempercayakan rumah sakit pada Dokter Sigit dengan alasan dirinya tidak bisa meninggalkan Tasya dirumah sendiri. Dokter Anggun ingin menjadi ibu yang baik untuk Tasya.
Dengan berat hati akhirnya Pak Firman mempercayakan rumah sakitnya pada menantunya ini.
Siap sangka setelah semau itu, sekarang putrinya ada dihadapannya bersama dengan menantunya untuk mengatakan ingin berpisah.
tentu saja Dokter Sigit tidak setuju dengan apa yang dikatakan oleh Dokter Anggun.
"Huh.. Papi ini sudah tua nduk, kenapa tiba-tiba kamu ingin bercerai dengan Sigit? apa kamu tidak ingat dari awal Papa ini sudah melarangmu bersama dengan Sigit. tapi kamu bersikeras untuk tetap menikah denga Sigit. lalu kenapa sekarang minta pisah dari Sigit? sebenarnya kalian ini ada apa?" tanya Pak Firman menghela nafas kasar
"Maafin Anggun pi, maafin Anggun" ucap Anggun bersimpuh dikaki pak Firman
"Nduk pada dasaranya papi memang kecewa, karena diusia papi yang sekarang dan kesehatan Papi yang sudah menurun. harus melihat anak Papi rumah tangganya hancur."
"Maafin Anggun Pi, karena Anggun dari awal tidak mendengarkan kata-kata Papi. tapi keputusan Anggun umur berpisah dari Mas Sigit sudah bulat pi. Anggun akan menerima takdir Anggun untuk menjadi seorang janda" tangis Anggun pecah
"Tolong beri aku satu kali kesempatan sayang, tolong maafkan ya
"Sebenarnya kesalahan apa yang sudah dilakukan Sigit, hingga membuatmu ingin bercerai dari laki-laki yang dulu kamu puja-puja ini?" Pak Firman menatap putrinya dan menggelengkan kepalanya. tapi pak Firman tau, putrinya ini tidak mungkin akan minta pisah jika kesalahan menantunya ini tidak kelewat batas.
"Papi, maafkan Sigit pi, Sigit salah. Sigit sudah menghianati Kepercayaan yang Anggun dan papi berikan" Sigit segera bersimpuh dikaki Mertuanya.
__ADS_1
Ya pak Firman adalah orang yang sangat menjaga pernikahan. itu yang selalu dinasehatkan pada dirinya dan Anggun. saat akhirnya beliau merestui pernikahan kami. untuk jangan sampai ada kata perpisahan saat keduanya sudah memutuskan menikah.
"Anggun putriku, kamu ingat pesan Papi sebelum kamu memaksa untuk menikah dengan Sigit"
"Iya Pi" jawab Anggun mengangguk dan air matanya menetes
Penyesalan karena dulu tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh papinya.
"Sekarang katakan alasannya" ucap Pak Firman datar
"Mas Sigit, mas Sigit sudah menghianati Anggun Pi" ucap Anggun lirih
"Hubm.. " pak Firman menghela nafas kasar
"Pi, maafkan Sigit,. Sigit khilaf karena perempuan itu terus menggoda Sigit. maafkan Sigit pi, Tolong beri satu kali kesempatan. Sigit janji tidak akan pernah mengulangi kebodohan Sigit"
"Anggun, Papi percaya dengan keputusan kamu. lakukan yang menurutmu baik. apapun yang kamu putuskan Papi mendukungmu" ucap pak Firman berdiri dan meninggalkan Dokter Anggun serta menantunya.
"Pi tolong kasih Sigit kesempatan Pi" ucap Firman berusaha mencegah pak Firman pergi
"Mas, sekarang sebaiknya kamu pulang. aku yang akan mengurus perceraian kita." ucap Anggun kembali duduk tanpa melihat Dokter Sigit
"Sayang tolong beri aku kesempatan, aku akui saat itu aku sempat tergoda. kesepian membuat aku tidak bisa berpikir dengan jernih saat wanita mencoba menggodaku"
"Kesepian? kesepian kamu bilang? itu yang kamu jadikan alasan untuk menghianatiku mas?" apa kamu tidak berpikir istri mana yang mau jauh dari suaminya? tapi aku kesampingkan itu semua. demi apa? demi Tasya! aku memikirkan anak kamu mas. kamu tau sendiri Tasya tidak pernah mau kita ajak pindah ke Semarang. dan kamu juga tau bagaimana aku menyayangi Tasya seperti anak kandungku sendiri. aku kira kamu melihat semua itu mas, tapi aku salah."
"Sayang, tolong maafkan aku! tolong sayang beri aku kesempatan untuk memperbaiki diri. aku mohon sayang. demi Tasya!" ucap Dokter Sigit bersimpuh dikaki Anggun
Dokter Sigit tau pasti bagaimana sayangnya Anggun pada Tasya putrinya. dan Dokter Sigit juga tau, Dokter Anggun tidak akan bisa jauh dari putrinya.
"Sebaiknya kamu pulang sekarang" ucap Dokter Anggun berusaha menguatkan hatinya dan tidak menangis lagi dihadapkan Dokter Sigit
__ADS_1
"Sa_" ucap Dokter Sigit terputus
"Keluar sekarang!" timpal Dokter Anggun dengan Nada tinggi mengusir laki-laki yang masih berstatus sebagai suami itu.
Dokter Sigit yang tidak berhasil membujuk istrinya untuk kembali ke rumah merasa sangat frustasi, ditambah Tasya yang terus saja merengek menanyakan keberhasilan mamanya
"Pa, kenapa papa pulang sendiri? mama kemana pa? sudah berapa hari ini kenapa mama tidak pulang? mama juga tidak mengangkat telpon dari Tasya. sebenarnya ada apa dengan mama pa?" cerca Tasya
"Tasya, besok saja tanyanya ya! kepala papa pusing, Tasya keluar dulu ya!"
"Tapi Pa, Tasya ingin tau mama dimana? Tasya merindukan mama"
"Tasya sudah, cukup Tasya. papa bilang papa ingin istirahat. sekarang Tasya keluar!" ucap Sigit dengan nada tingginya.
"Papa, apa barusan papa bentak Tasya?" Tasya menggelengkan Kepala dan air matanya membasahi pipi mulus gadis yang baru menginjak remaja ini.
"Tasya, maafkan papa nak, Tasya" panggil Dokter Sigit melihat putrinya menangis dan lari menuju kamarnya.
Berkali-kali Dokter Sigit mengetuk pintu kamarnya tapi Tasya tidak menjawab dan menanggapi
"Sial, kenapa jadi berantakan seperti ini?" Dokter Sigit mengusap wajahnya dengan kasar
****
Nia mencoba menghubungi Ane berkali-kali menekan tombol panggil pada sahabatnya itu, tapi sepertinya Ane juga sudah tidak mau menjawab panggilan darinya.
"Kenapa tidak diangkat sayang? siapa yang menelpon?" Arif yang baru keluar dari kamar mandi berjalan mendekati istrinya yang masih memegangi ponselnya yang masih berdering
"Nia" Jawab Ane singkat
"Gak mau diangkat?" Arif melihat istrinya
__ADS_1
"Tidak bang, Ane masih sakit hati dituduh ada main sama Alan" jawab Ane
"Kamu itu sahabat yang baik, dan tidak salah jika kamu kecewa sama Nia. abang pun sama. tapi sebaiknya kita bersikap biasa saja. jangan membenci juga jangan terlalu dekat. faham maksud Abang?" Arif melihat istrinya